
Terlihat sepasang suami dan istri sedang menidurkan anak mereka di box baby yang ada di dalam kamar yang sama dengan mereka. Pasangan itu selalu tersenyum dengan bahagia setiap kali melihat putri mereka yang tertidur.
Semenjak kelahiran putrinya, Cilla. Hari-hari Velia hanya dipenuhi oleh celotehan bersama putrinya sembari menunggu suaminya pulang bekerja.
Fikri sendiri merasa senang, ia begitu tenang ketika istri dan anaknya selamat setelah apa yang Velia miliki. Jika saja Fikri dulu tidak tegas dengan Velia, mungkin tidak tahu jalannya akan seperti apa.
Kini Velia benar-benar sudah tidak bekerja, ia fokus mengurus anak dan suaminya saja di rumah mewah yang minimalis.
Fikri memang sengaja memboyong anak dan istrinya keluar dari apartemen, ia tidak mau jika pertumbuhan putrinya terhambat karena terbatasnya lingkungan.
"Mas, lihat deh. Cantik banget ya anak aku." Celetuk Velia tiba-tiba.
Fikri menatap Cilla, lalu beralih menatap istrinya yang tidak kalah cantik. Tentu saja Cilla cantik, Velia dan dirinya bibit unggul.
"Anak kita." Ralat Fikri dengan gemas.
Velia menoleh, ia menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar ucapan suaminya barusan. Ia memang kebiasaan sekali selalu menyebut 'anakku' saja.
"Iya, anak kita. Anak mama Velia sama papa Fikri." Jelas Velia terkekeh.
Fikri memeluk Velia, sejak melahirkan bobot tubuh istrinya itu sedikit bertambah dan hal itu justru semakin membuat Fikri betah berlama-lama memeluk dan mencium istrinya.
"Masa nifas kamu udah selesai kan, Sayang?" tanya Fikri sembari mengusap-usap perut istrinya.
Velia tertawa, bisa sekali memang suaminya ini mencari kesempatan. Tapi sayangnya masa nifas Velia itu masih jauh, baby Cilla saja baru dilahirkan kurang lebih 1 bulan lalu.
"Baru satu bulan, Mas. Belum dong," jawab Velia sambil mengusap-usap wajah Fikri yang ada di bahunya.
Fikri mendesahh kecewa, ia bertumpu pada bahu Velia dengan pelukan yang semakin erat. Entah kenapa masa nifas itu lama sekali, ia kan sudah tidak sabar berbuka.
"Sabar ya, satu bulan lagi kok." Bisik Velia ketika sadar akan ekspresi lesuh suaminya.
Fikri berdecak pelan, ia pun lalu menggendong tubuh istrinya tanpa permisi sama sekali. Fikri membawa tubuh Velia ke atas ranjang dan merebahkannya disana.
__ADS_1
"Yaudah, kita bobok aja. Kamu usap-usap kepala aku ya," pinta Fikri dengan manja.
Velia menunduk, ia lalu menghadiahi wajah suaminya dengan kecupan penuh kasih sayang.
Velia kasihan, tapi ia masih belum bersih untuk melakukan hubungan suami istri. Velia sangat ingat, ketika usia kandungannya besar, Fikri sama sekali tidak berani untuk menyentuhnya karena khawatir akan penyakitnya. Fikri tidak mau sesuatu terjadi padanya dan bayi dalam kandungannya, sehingga suaminya itu memilih untuk menahan diri.
Fikri selalu mengatakan bahwa keinginannya ada di nomor kesekian, sementara kesehatan, dan kebahagiaan anak istrinya itu di nomor satu.
Velia sangat bersyukur karena memiliki suami siaga yang super pengertian seperti Fikri. Setelah apa yang telah ia lakukan di kehidupan ini, ternyata Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan pasangan hebat seperti Fikri.
Meskipun demikian, ada hal yang harus Velia tanggung seumur hidupnya. Velia akan kesulitan untuk mengandung lagi karena kondisi rahimnya.
Bukan mustahil untuknya hamil lagi, namun dokter bilang akan sedikit sulit. Hal itu harus Velia terima dengan lapang, apalagi suaminya pun sudah menerima semua ini.
"Jangan pikirkan apapun, tidur Sayang." Bisik Fikri saat merasakan jika istrinya belum tidur lagi.
"Kalo aku sampai nggak punya anak–" ucapan Velia terhenti karena Fikri meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Kita sudah punya Cilla, dan itu lebih dari cukup. Lagipula dokter bilang, bukan mustahil untuk kamu. Kita hanya perlu berdoa, dan hika memang Tuhan mengizinkan kita pasti punya anak lagi." Potong Fikri dengan cepat.
"Makasih banyak, Mas." Bisik Velia semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara itu di tempat lain, di daerah lain. Tampak sepasang suami istri yang bergelung di bawah selimut setelah melakukan olahraga yang menguras tenaga mereka.
Pasangan itu tentu saja Rheana dan Cakra. Mereka berdua mengendap-endap melalui pintu belakang resort dan masuk ke dalam kamar mereka, sementara yang lain masih ada di pinggir pantai untuk bakar-bakar.
Kedua orang tua Cakra, Abel dan Ryan tentu saja tidak tahu jika mereka berdua sudah masuk ke kamar begini.
Ide gila ini muncul karena Cakra yang katanya sudah tidak tahan, ia bahkan mengajak Rheana masuk ke dalam resort diam-diam seperti pencuri..
"Nakal banget. Takut diganggu ya, sampai kita kaya pencuri gini." Celetuk Rheana seraya mencubit hidung mancung suaminya.
Cakra terkekeh, ia mencium kening sang istri lalu turun ke bibir. Ingin lanjut ronde dua tapi Rheana menolaknya.
__ADS_1
"Sana ambil Ayla dulu, kasihan Abel sama Ryan. Takut Ayla nya rewel," tutur Rheana seraya mendorong tubuh suaminya.
"Ronde dua dulu, Sayang. Biar anak kita Made in Bali." Sahut Cakra membuat Rheana melototkan matanya.
Cakra meringis, ia buru-buru turun dari ranjang dan memakai bajunya saja karena celana sudah ia pakai sejak tadi.
Cakra pun keluar dari kamar mereka dan menghampiri semuanya yang masih asik duduk di tempat ia tinggalkan tadi.
"Ayla, bobok yuk sayang." Ajak Cakra langsung.
Semua orang sontak menoleh ke arah Cakra, mereka semua tampak kebingungan karena tiba-tiba Cakra sudah ada disana dengan pakaian yang berbeda.
"Kak Cakra, kapan kau kembali?" tanya Ryan aneh.
Cakra tersenyum misterius seraya menaik turunkan alisnya. Tanpa menjawab pertanyaan adik iparnya itu, Cakra langsung menggendong Ayla.
Tiba-tiba Cakra merasakan pukulan di bahunya, sampai-sampai Cakra meringis kesakitan.
"Apaan sih, Ma." Protes Cakra kepada sang mama.
"Kamu benar anak saya Cakra kan, bukan dedemit atau apa gitu?" tanya mama Mila.
Cakra berdecak. "Mama sembarangan sekali," sahut Cakra kesal.
"Lalu kak Rheana mana?" tanya Abel yang tidak mendapati calon kakak iparnya.
"Di kamar, dia sudah tidur." Jawab Cakra.
"Kalian lewat mana, kok kami nggak lihat?" kali ini papa Wawan bicara, sejak tadi hanya planga-plongo penuh kebingungan.
Cakra hanya tersenyum, ia lalu membawa Ayla masuk tanpa memikirkan kebingungan semua orang saat ini.
PAPA CAKRA NAKAL YAAA🤣😫
__ADS_1
Bersambung.............................