Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Cium aku


__ADS_3

Pulang dari acara makan bersama keluarga Chandrama, Rheana langsung diserang oleh rasa mual. Bahkan saat baru saja sampai dirumah, Rheana langsung melompat dan berlari ke kamar mandi.


Cakra dan Ayla yang panik lantas mengejar Rheana, namun Rheana enggan membuka pintu kamar mandi, sehingga hanya suara mual-mual Rheana yang bisa mereka dengar.


"Hiks … mama kenapa, mama …" Ayla menangis sambil menunjuk-nunjuk kamar mandi.


Cakra berlutut di depan putrinya, ia mengusap air mata Ayla kemudian mengajaknya keluar dari kamar.


"Ayla main sama bibi dulu ya, mama nggak apa-apa kok. Mungkin mama cuma masuk angin," kata Cakra dengan lembut.


Ayla tetap menangis, gadis kecil itu tampak khawatir dengan mamanya sekarang ini.


Cakra menatap pengasuh Ayla dan memberinya isyarat agar mengajak Ayla bermain dulu.


"Non, kita main ke belakang yuk. Nanti kita main boneka sama mamang juga." Ajak bi Iyem.


Ayla akhirnya mau, ia pun pergi meninggalkan kamar kedua orang tuanya dengan tujuan bermain, melupakan rasa khawatirnya kepada sang mama tadi.


Cakra lega melihat Ayla sudah diam, kini ia kembali masuk ke dalam kamar nya, dan ternyata istrinya sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang." Cakra mendekat, ia merengkuh pinggang istrinya pelan.


"Kamu kenapa?" tanya Cakra dengan nada begitu khawatir.


Rheana mendongak, ia melempar handuk yang ia gunakan untuk menyeka air di mulutnya ke sofa.


Rheana menatap sang suami, lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Mas. Mungkin masuk angin biasa," jawab Rheana.


Cakra menangkup wajah Rheana, ia merapikan rambut panjang istrinya kemudian melabuhkan sebuah kecupan di kening Rheana, istrinya.


"Yakin masuk angin? Nggak mau cek ke dokter?" tanya Cakra, ia tampak penasaran apakah Rheana sedang hamil atau tidak.


Rheana terdiam sesaat, ia menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya. Rheana lelah, ini sudah yang kesekian kalinya begini.


Terakhir kali Rheana memeriksa kondisinya yang mual muntah seperti ini dengan harapan bahwa dia akan hamil, tapi nyatanya dia tidak hamil dan hanya masuk angin biasa.

__ADS_1


Kali ini Rheana akan menolak, ia tidak mau nantinya ucapan dokter malah membuatnya dan Cakra sedih akibat harapan mereka yang belum terpenuhi.


"Tapi aku khawatir sama kamu, Sayang. Belakangan ini kamu sering pusing, mual dan muntah." Ucap Cakra lagi.


"Aku nggak apa-apa kok, mungkin hanya kurang istirahat." Balas Rheana tersenyum manis.


Cakra memeluk istrinya, ia mengusap punggung Rheana dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, aku nggak akan kecewa kok kalo kita cek dan hasilnya masih negatif. Aku malah nggak tenang sebelum kamu di periksa." Ujar Cakra dengan usapan yang tidak berhenti.


Rheana kembali mendongak, ia mengusap rahang tegas sang suami lalu mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Mas. Tapi aku benar-benar baik, aku nggak apa-apa kok." Jelas Rheana.


Cakra menghela nafas, ia memilih untuk mengalah saja. Ia tidak mau memaksa Rheana pergi ke dokter, karena Cakra sangat tahu bahwa istrinya pasti jauh lebih sedih darinya setiap kali dokter mengatakan hasilnya negatif.


Rheana melepaskan pelukannya. "Ayla kemana, Mas?" tanya Rheana.


"Main di taman belakang sama bibi, mau kesana?" tawar Cakra dan dijawab anggukkan kepala oleh Rheana.


Cakra manggut-manggut, ia pun mengajak Rheana untuk berganti pakaian dulu sebelum mengajak anak dan istrinya berenang.


Karena Ayla dibawah, maka Rheana membawa pakaian putrinya ke bawah agar Ayla tidak perlu bolak-balik ke atas lagi.


Sampai di taman belakang, Rheana dan Cakra melihat anak mereka sedang asik bercerita dengan pengasuhnya dan juga tukang kebun dirumah mereka.


"Ayla sayang." Panggil Rheana dengan tangan melambai-lambai.


"Mama!!" Ayla segera berlari mendekati sang mama lalu memeluknya.


Rheana mengusap rambut putrinya yang ia kuncir. "Senang banget kayanya main sama bibi dan mamang?" tanya Rheana.


"Iya, mamang lucu." Jawab Ayla sambil tertawa.


"Bibi dan mamang boleh istirahat, kami bertiga mau berenang dulu disini." Ucap Cakra pada dua orang pekerja di rumahnya.


"Siap, Tuan. Permisi, Nyonya." Pamit bibi dan mamang kepada majikan mereka.

__ADS_1


Setelah mengganti pakaian Ayla, mereka bertiga pun masuk ke dalam kolam renang dan mulai berenang.


Ayla yang sudah biasa diajarkan oleh sang papa sehingga gadis kecil itu tampak sudah pandai berenang.


"Ayla, kesini sayang!!" Pinta Rheana di ujung kolam.


"Ayo lomba sama papa, yang duluan sampai dapat ciuman mama ya." Kata Cakra memberikan penawaran.


"Setuju!!" Sahut Ayla dengan yakin.


Sementara Rheana yang mendengar hanya bisa geleng-geleng kepala, ia hanya bisa pasrah dijadikan objek hadiah perlombaan anak dan ayah itu.


"Siap? Mama hitung sampai tiga ya?" kata Rheana lalu ia menghitung sampai tiga.


Cakra dan Ayla pun segera berenang, namun Cakra membiarkan putrinya duluan yang berenang. Sampai di tengah kolam, barulah Cakra mulai berenang mendekati istrinya.


Walaupun di awal Cakra mengalah, tapi kali inu tidak. Demi ciuman dari istrinya, Cakra terpaksa membuat anaknya menjadi kalah.


"Yahh kamu kalah, jadi harus semangat belajar ya biar berenangnya semakin lancar." Tutur Cakra pada putrinya.


"Iya, Papa." Balas Ayla mengangguk.


Ayla pun mulai berenang sendiri, tentu saja dalam pengawasan kedua orang tuanya. Saat Ayla sedang fokus berenang, Cakra justru menoel-noel tangan Rheana.


"Apa sih, Mas." Tegur Rheana sembari geleng-geleng kepala.


"Aku menang lomba, cium aku!" pinta Cakra dengan tidak sabar.


"Nggak ah, aku maunya cium Ayla." Tolak Rheana mentah-mentah.


Cakra melongo, namun bukan ia namanya jika menyerah begitu saja. Cakra memeluk Rheana dan belakang lalu melabuhkan banyak kecupan di pipi dan curuk leher Rheana.


Rheana hanya bisa tertawa mendapat perlakuan dari suaminya yang tidak pernah berubah ini, selalu saja bisa mengambil kesempatan.


MBAK RHEANA, SUAMI KAMU BISA DI BAGI DUA NGGAK??


Bersambung.....................................

__ADS_1


__ADS_2