Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Sebuah rencana


__ADS_3

Rheana terdiam seperti patung, ia membiarkan tangan Cakra yang melingkar di perutnya dengan apik.


Rheana tidak berani membalik badan, hanya bisa diam sambil memejamkan matanya.


"Rheana, aku merindukanmu.” Bisik Cakra tepat di telinga istrinya.


Rheana semakin tegang, dan menutup matanya rapat. Suara Cakra yang berat, dan deru nafas yang mengenai pipi Rheana membuat wanita itu gemetaran.


“K-kak.” Ucap Rheana terbata-bata.


Cakra mengusap-usap tangannya ke perut Rheana, lalu naik ke tangan sampai ke bahu wanita itu.


Pelan-pelan, Cakra membalik badan Rheana, dan istrinya itu menurut saja. Kini Rheana menghadap ke arahnya dengan mata yang masih terpejam.


“Rhea.” Panggil Cakra seraya mengangkat wajah istrinya agar mereka bisa saling menatap.


Mata Rheana perlahan terbuka, menatap wajah suaminya dengan pandangan antara malu dan takut.


“Makan dulu, Kak.” Tutur Rheana dengan lembut.


Cakra tersenyum simpul, ia menggeleng pelan lalu menyusupkan wajahnya ke leher Rheana.


“Aku menginginkanmu, Rhea.” Ujar Cakra seraya mencium leher Rheana.


Bulu kuduk Rheana merinding semua, ia ingin sekali menghindar, namun ia sadar bahwa Cakra adalah suaminya, dan berhak untuk melakukan ini.


Rheana menarik nafas, ia memberanikan diri untuk menyentuh punggung Cakra dan mengusapnya pelan.


“Tapi makanan nya akan dingin lagi,” bisik Rheana dengan tangan yang masih mengusap punggung Cakra.


Cakra menjauhkan wajahnya dari leher Rheana. Dipikir akan makan dan melepaskan Rheana, ternyata salah. Cakra malah kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Rheana dan menyatukan bibir mereka.


Rheana menutup matanya, tangan yang ada di punggung Cakra mulai naik dan melingkar di leher suaminya. Membalas tiap decak bibir yang Cakra ciptakan, sampai membuat suara merdu Rheana terdengar merdu di telinga Rheana.

__ADS_1


Tarian bibir masih berlanjut, keduanya terlihat saling menikmati  apa yang kini sedang mereka lakukan.


Tanpa permisi, Cakra langsung menggendong Rheana dan membawanya ke kamar Cakra. Mereka siap melakukan sebuah olahraga yang nantinya menciptakan banyak peluh.


“Kak, tapi makanannya?” tanya Rheana dengan menatap suaminya.


“Nanti bisa, tapi sekarang aku ingin memakanmu.” Jawab Cakra seraya merebahkan Rheana di ranjang miliknya.


Ranjang yang sebelumnya belum pernah Rheana singgahi. Tempat yang paling dilarang Cakra untuk disentuh oleh Rheana, namun hari ini ia justru menidurinya.


“Kamar ini?” tanya Rheana sambil menatap ke sekitar kamar.


Cakra mengangguk. “Kamar kita.” Jawab Cakra.


Rheana mengerutkan keningnya, ia ingin bertanya namun bibirnya sudah kembali di bungkam oleh suaminya.


Rheana hanya bisa pasrah, ia membalas perlakuan suaminya sekarang. Bahkan Rheana ikut melakukan apa yang Cakra perbuat padanya.


Cakra pun mencium wangi yang semerbak dari tubuh Rheana, terutama di bagian leher dan dadanya, tempat yang paling disukai oleh Cakra.


“Ahhh … Kak!!!” Rheana mengeluarkan suaranya tatkala merasakan lehernya digigit oleh Cakra.


Cakra tampak tersenyum simpul, ia tidak menghentikan apa yang sedang dilakukannya, sehingga kini leher Rheana telah dipenuhi oleh banyak tanda.


“Jangan banyak-banyak, Kak. Besok aku kuliah,” ucap Rheana sedikit terengah-engah.


“Iya, Sayang.” Balas Cakra dengan suara yang begitu berat.


Rheana menelan salivanya dengan sulit, untuk pertama kalinya Cakra memanggilnya dengan sebutan seperti itu, dan percayalah bahwa ia merasa sangat bahagia.


Kegiatan panas itu semakin berlanjut dengan Cakra yang memimpin, sementara Rheana hanya pasrah saja.


Kamar yang dingin itu kini berubah panas, suara-suara lenguhan terdengar memenuhi kamar. Baik Cakra maupun Rheana tampak sudah sama-sama berkeringat, namun mereka seakan enggan menyudahinya.

__ADS_1


“Kakhh …” suara Rheana terdengar begitu lemah karena kelelahan.


“Sebentar lagi.” Ucap Cakra seraya mencium kening sang istri.


Dan akhirnya permainan itu diakhiri dengan erangan Cakra yang baru saja mendapatkan pelepasannya.


Cakra menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Rheana yang hampir pingsan, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, lalu memeluk Rheana dan mereka tidur bersama.


Dalam tidurnya, Rheana tersenyum, ia merasa begitu bahagia karena akhirnya bisa merasakan pelukan hangat Cakra seperti ini. Ia hanya berdoa, semoga selamanya ia bisa merasakan kehangatan dan sikap lembut suaminya.


Keesokan harinya, Cakra bangun lebih dulu daripada Rheana. Pria itu beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Butuh waktu 15 menit untuk Cakra selesai mandi, dan sepertinya hari ini ia akan terlambat datang ke kantor.


Cakra keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya, berniat untuk mengambil pakaian di lemari terhenti saat mendengar ponselnya berdering.


Cakra mengambil ponselnya, dan mengangkat panggilan dari nomor yang begitu dikenalnya.


“Ya, ada apa?” tanya Cakra dengan suara yang dingin.


“Bagaimana dengan rencanamu,Kak.  Apakah lancar?” 


“Hm, aku menyiksanya dengan cinta dan kasih sayang. Kau benar, seharusnya sejak lama aku melakukan ini,” jawab Cakra disertai senyuman, lalu melirik ke arah Rheana.


Setelah beberapa saat, Cakra menutup panggilan nya dan meletakkan kembali ponselnya di meja.


Cakra menatap Rheana dengan tangan yang terlipat di dada, ia tersenyum jahat lalu berdecak.


“Kau membunuh kakakmu demi cinta ‘kan? maka akan aku berikan cinta yang kau inginkan, sebelum kau tiada.” Ucap Cakra diakhiri tawa kecil.


JAHAT KAMU YA :(


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2