Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Pelaku kejahatan


__ADS_3

Kabar tentang meninggalnya ibu Abel telah didengar oleh keluarga Chandrama, termasuk Ryan. Saat ini semua orang sedang berada di pemakaman untuk mengantarkan almarhumah ibu Abel ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Di pusara itu, terlihat seorang gadis cantik berpakaian serba putih dengan jilbab yang menutupi kepalanya sedang menangis sambil memegangi batu nisan yang bertuliskan nama sang mama tersayang.


Gadis itu menangis dan menolak untuk meninggalkan pusara karena tidak mau membuat ibunya sendirian.


"Abel, ayo kita pulang. Mama kamu sudah tenang disana." Ucap Velia yang berjongkok di sebelah Abel.


"Nggak, Kak. Aku nggak bisa ninggalin mama sendirian, kasihan mama." Tolak Abel menggelengkan kepalanya.


"Abel, mama kamu tenang disana. Kasihan mama kamu jika melihat putri semata wayangnya hancur begini. Kamu anak yang kuat, Abel." Ucap Mama Erina seraya mengusap bahu teman dari putranya.


Abel semakin menangis, ia mengusap batu nisan itu dengan tangan yang gemetaran.


"Ma, apa mama berpikir bahwa aku sekuat ini sampai mama pergi ninggalin aku untuk selamanya? Nggak, Ma. Aku nggak kuat jika harus hidup tanpa kehadiran mama, aku nggak sanggup, Ma." Lirih Abel seraya meremat tanah merah di bawahnya.


Mama Erina ikut berjongkok, ia memeluk bahu Abel yang masih terguncang akibat kepergian ibunya.


"Sssttt … udah jangan sedih lagi ya, kasihan mama kamu. Sekarang kita pulang ya," ajak Mama Erina lembut.


Abel menyeka air matanya, ia menatap Mama Erina dan semua keluarga Ryan yang masih setia menemaninya di pusara itu.


"Tante, Om dan semuanya. Makasih ya udah berkenan hadir di pemakaman mama aku, makasih juga kalian sudah mendoakan yang terbaik untuk almarhumah dan juga aku." Ucap Abel dengan suara yang berbeda akibat terlalu sering menangis sejak kemarin.


"Sama-sama, Abel. Jika butuh apa-apa, katakan saja pada kami." Balas Rheana lembut.


"Ryan minta maaf tidak bisa datang ya, dokter belum memperbolehkan nya untuk banyak bergerak." Ucap Papa Rama mewakili.


"Iya, Om. Nggak apa-apa, nanti aku ke rumah sakit buat temui Ryan." Balas Abel sopan.


Setelah merasa lebih baik, Abel akhirnya mau untuk diajak pulang. Velia dan Fikri yang mengantar gadis itu pulang, sebab Rheana tiba-tiba saja kram perut, sementara mama papa harus kembali ke rumah sakit.


Setelah sampai di kostan Abel, Velia dan Fikri pun meninggalkan gadis itu. Mereka harus mengurus berkas yang akan dibawa ke persidangan Minggu depan.


"Sayang, aku kasihan sama Abel. Dia sekarang nggak punya siapa-siapa lagi," ucap Velia sedih.


"Iya, makanya kita harus restui dia sama Ryan. Lagipula Abel kayanya gadis baik." Balas Fikri sambil sesekali melirik istrinya.

__ADS_1


"Tapi aku bingung, beberapa hari lalu kondisi ibunya Abel masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba drop dan meninggal." Cetus Velia, ia ingin mengatakan ini sejak tadi namun tidak enak karena ada Abel.


"Ternyata kamu peka ya, Sayang." Sahut Fikri pelan.


"Maksud kamu?" Velia menatap wajah suaminya dengan tatapan bingung.


"Rizi yang membunuh mamanya Abel." Jawab Fikri dengan tenang.


"APA?!!" Pekik Velia terkejut bukan main.


"Ya, Sayang. Dia pelakunya, aku dan Cakra sudah mendapatkan rekaman yang akan menjadi saksi kejahatan pria itu." Jelas Fikri.


"Tapi bukankah dia di penjara, bagaimana caranya dia melakukan itu?" tanya Velia semakin tidak mengerti.


"Dia menyuruh seseorang, entah cairan apa yang disuntikkan ke dalam infus ibunya Abel sampai membuat nyawanya melayang." Jawab Fikri.


Velia benar-benar tidak menyangka bahwa Rizi akan bertindak sejauh ini. Remaja yang seusia adiknya itu dengan bermain mengambil tindakan yang menghilangkan nyawa orang lain.


Sementara itu di rumah Dharmawan, Rheana tidak kalah terkejut mendengar cerita dari suaminya barusan tentang kebenaran di balik meninggalnya ibu Abel.


"Aku nggak nyangka dia sejahat itu, Mas. Abel tidak memiliki salah apapun, tapi Rizi itu dengan kejam malah menghilangkan nyawa ibunya Abel." Ucap Rheana sampai memegangi dadanya.


"Belum, Pa. Aku dan Fikri belum bisa memberitahunya, aku takut dia semakin terpukul." Jawab Cakra menjelaskan.


"Mama nggak nyangka ada orang sejahat itu di dunia ini." Ujar Mama Mila tidak habis pikir.


Rheana mengambil air putih di atas meja, ia benar-benar syok setelah tahu bahwa pria bernama Rizi lah yang telah melenyapkan ibunya Abel.


"Sayang, tenang. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kasihan dedek bayinya." Tutur Cakra dengan lembut.


Rheana tidak membalas, ia hanya menatap suaminya sekilas sambil manggut-manggut.


"Baby peachyyy tahu mamanya pusing, jadi nggak rewel." Balas Rheana terkikik.


Cakra dan semua yang mendengar hanya bisa geleng-geleng kepala. Ada-ada saja memang kelakuan ibu hamil satu ini.


Di rumah sakit, Ryan tampan ingin pergi dari rumah sakit dan menemui Abel. Ia tidak mau Abel sampai sedih dan tidak ada yang menemani.

__ADS_1


Namun papa Rama dan mama Erina selalu melarangnya untuk pergi, sebab anjuran dokter agar Ryan tetap istirahat sampai beberapa hari kedepan demi pemulihan lukanya.


"Ma, Abel kasihan. Dia pasti sangat sedih dan terpukul saat ini." Ucap Ryan dengan pelan.


"Iya, Ryan. Mama tahu, tapi kamu juga nggak bisa pergi. Kamu nggak ingat sama luka kamu sekarang." Tukas Mama Erina mencoba memberi pengertian.


Ryan menghela nafas, ia tidak bisa melawan sang mama, apalagi tatapan papa Rama sudah sangat membuatnya harus menurut.


Ryan hanya berharap semoga Abel baik-baik saja, ia tidak mau jika Abel sampai sedih dan tidak memikirkan kondisi dirinya sendiri.


Ryan juga sebenarnya sangat sedih, ia seharusnya datang ke acara pemakaman ibunya Abel, tapi karena kondisinya yang belum benar-benar pulih membuatnya harus mengurungkan niatnya.


"Ma, Pa. Aku mencintai Abel." Ucap Ryan tiba-tiba.


Mama Erina dan Papa Rama saling pandang, mereka berdua serempak menghela nafas setelah mendengar ucapan dari putra mereka.


"Kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Mama Erina memastikan.


"Aku sangat yakin, Ma." Jawab Ryan langsung.


"Kami tidak masalah jika kamu ingin berhubungan dengan Abel, tapi untuk pernikahan rasanya belum. Kalian masih sama-sama menimba ilmu, dan Papa nggak mau kamu menikah muda." Tambah Papa Rama.


Ryan mencerna kata-kata sang papa, memang benar jika dilihat dari kedua kakaknya, mereka menikah saat sudah lulus dari kuliah mereka.


Ryan ingin menuruti kata-kata sang papa, tapi apa dirinya dan Abel akan sabar untuk menunggu sampai mereka lulus.


"Pa, tapi aku masih lama untuk lulus kuliah." Ucap Ryan mencoba bernegosiasi.


"Itulah, maka selama waktu yang kalian punya, kalian bisa gunakan sebaik-baiknya. Entah untuk saling mengenal lebih jauh, dan memikirkan kembali keputusan kalian atau apapun." Balas Papa Rama dengan tenang.


Ryan menarik nafas lalu membuangnya perlahan.


"Baik, jika memang begitu asal mama dan papa setuju, aku menerima. Aku akan menikahi Abel saat kami sama-sama sudah lulus dari kuliah." Ujar Ryan dengan sungguh-sungguh.


Mama Erina dan Papa Rama akan menjadi pengamat putranya, jika memang Ryan sudah memutuskan pilihannya adalah Abel, maka apa yang bisa mereka lakukan. Yang utama adalah kebahagiaan anak mereka.


YANG UTAMA ADALAH RESTU, KALIAN UDAH DAPAT JADI TENANG 🤣

__ADS_1


Bersambung.............................


__ADS_2