
Rheana tersenyum lebar ketika orang tua Fikri menyapanya dengan ramah. Cakra juga membalas sapaan kedua orang tua calon kakak iparnya dengan tidak kalah ramah.
"Velia sering cerita tentang kamu, Rhea. Katanya kamu pintar memasak," ucap Mama Ani seraya mengusap lengan Rheana.
Rheana tersenyum, ia tidak tahu jika kakaknya itu akan menceritakan dirinya kepada calon ibu mertuanya.
"Benar begitu, Tante? Bagus lah, ku kira Kak Vel ceritanya yang buruk-buruk." Celetuk Rheana bergurau.
"Dan anda Cakra ya, suaminya Rheana?" tanya Papa Amar.
"Betul, Om. Saya Cakra, suaminya Rheana." Jawab Cakra sopan.
"Saya banyak mendengar tentang kehebatan kamu, nak Cakra." Ujar Papa Amar jujur, bahkan tidak jarang ia ingin Fikri seperti Cakra yang sukses dengan perusahaannya.
"Terima kasih, Om. Saya juga tahu bagaimana Om menjalankan perusahaan hingga berkembang seperti sekarang." Balas Cakra balik memuji.
"Usia kandungan kamu sudah berapa bulan, Rhea?" tanya Mama Ani kini mengusap perut besar Rheana.
"Enam bulan, jalan tujuh, Tante. " Jawab Rheana ikut mengusap perutnya sendiri.
"Wahh, sebentar lagi lahir ya. Duhh … jadi nggak sabar mau lihat baby nya, pasti kalo perempuan cantik kaya mamanya, kalo laki-laki pasti mirip papanya." Ujar Mama Ani tersenyum.
"Iya, amin. Aku juga nggak sabar anakku lahir, Tante." Sahut Rheana tersenyum.
Cakra menatap istrinya yang terlihat begitu bahagia, tanpa sadar ia juga jadi ikut tersenyum, apalagi mendengar soal kelahiran anak mereka yang sebentar lagi.
Cakra kehilangan senyumannya, Rheana akan segera lahiran, dan itu artinya permintaan Rheana waktu itu harus ia penuhi.
Sejujurnya Cakra tidak mau jika itu sampai terjadi, bahkan selama ini ia selalu berusaha untuk mengambil hati istrinya lagi, tetapi sampai hari ini Cakra belum tahu bagaimana perasaan Rheana.
Rheana selalu berubah-ubah, terkadang dia akan membalas sikap manisnya, tapi juga kadang menunjukkan tanda-tanda tidak suka dengan segala bentuk perlakuannya.
Jauh dalam hati Cakra, ia tidak menginginkan perpisahan, tetapi ia tidak mau melanggar janjinya.
Cakra tidak akan mengatakan bahwa dirinya tidak mau pisah, tetapi ia akan berusaha sampai Rheana sendiri yang mengatakan bahwa wanita itu tidak ingin adanya perceraian di antara mereka.
"Sayang." Panggil Cakra lembut.
Rheana menoleh ke arah suaminya, ia membalas tatapan Cakra dengan hangat.
"Kenapa, Mas?" sahut Rheana lembut.
"Udah malam, pulang yuk. Nggak baik buat kamu kena angin malam lama-lama." Ajak Cakra seraya menggenggam tangan sang istri.
__ADS_1
Rheana menganggukkan kepalanya. Ia berpamitan kepada kedua orang tua Fikri untuk menemui kedua orang tuanya dan berpamitan pulang.
"Ma, Pa. Aku sama mas Cakra pulang ya." Ujar Rheana seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Mama Erina mengusap kepala putrinya lalu memeluknya erat. Rasanya ia sangat rindu dengan Rheana yang kini harus tinggal di rumah mertuanya.
Itulah resiko seorang ibu jika memiliki putri, kelak ia harus rela melepaskan putrinya untuk ikut kemanapun suaminya pergi.
"Mama kangen banget sama kamu tahu, Rhe." Ucap Mama Erina jujur.
Rheana tertawa, hal tersebut untuk menutupi rasa rindunya juga kepada sang mama. Padahal mereka tidak terlalu jarang bertemu, tapi rasanya tetap saja rindu.
"Maaf ya, Ma. Nanti aku sering-sering main kesini kok, sama cucu mama juga." Ucap Rheana seraya mengusap perutnya.
Mama Erina mengangguk. Ia lalu beralih menatap Cakra dan papa Rama yang sedang berbincang sebentar.
Rheana mendekati sang papa. "Papa, aku pulang dulu ya." Pamit Rheana juga mencium punggung tangan sang papa.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya, dan jangan lupa jaga kandungan kamu." Balas Papa Rama lembut.
Rheana mengangguk paham. Cakra dan Rheana pun pamit kepada orang tua Cakra yang masih betah mengobrol di rumah besan, sehingga memutuskan pulang belakangan.
Rheana tidak sempat pamit kepada Velia dan oma opanya karena sudah malam. Lagipula seminggu lagi mereka akan bertemu di acara pernikahan.
"Tadi kenyang nggak, apa mau nyari makanan lagi?" tanya Cakra menawarkan.
"Nggak, aku mau langsung pulang." Jawab Rheana menggeleng pelan.
Cakra mengusap puncak kepala sang istri. Entah mengapa ia selalu suka melihat Rheana yang mengusap-usap perutnya sendiri.
"Sayang, gimana kalo kita liburan?" tanya Cakra mengusulkan.
"Liburan gimana sih, Mas. Kan seminggu lagi acara pernikahan kak Vel." Jawab Rheana heran.
"Ya nggak masalah kan, lagian cuma 2 hari kok, itu juga ke Bogor." Ujar Cakra menjelaskan.
"Memang ada apa di Bogor sampai kamu mau ajak aku kesana?" tanya Rheana menaikkan kedua alisnya.
"Nggak ada apa-apa, cuma aku mau menghabiskan waktu berdua sama kamu." Jawab Cakra jujur.
Rheana mengusap wajah sang suami. Ia tidak memberikan jawaban langsung, dan hanya tersenyum. Mungkin Rheana harus memikirkan ide dari Cakra barusan.
"Eh Sayang, aku baru ingat mau tanya sama kamu. Dari tadi di acara aku nggak ketemu Ryan?" tanya Cakra yang teringat adik ipar laki-lakinya.
__ADS_1
"Tadi ada kok pas acara tukar cincin, tapi aku juga nggak lihat lagi setelahnya." Jawab Rheana yang juga bingung dimana sang adik setelah acara tukar cincin.
Cakra menyadari perubahan raut wajah sang istri. Cakra mengambil tangan Rheana lalu menciumnya.
"Jangan dipikirkan, Ryan sudah dewasa, bahkan lebih pintar dariku. Aku yakin Ryan bisa menjaga dirinya." Tutur Cakra menenangkan.
Rheana menghela nafas, ia mengangguk paham mendengar ucapan dari suaminya barusan.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah danau yang ada di taman kota. Terlihat pemuda tampan tengah duduk sambil menatap ke arah yang tidak menentu.
Ryan sengaja pergi dari acara pertunangan kakaknya, sebab saat ini hatinya masih belum benar-benar beres. Intinya tadi ia sempat menyaksikan kakaknya tukar cincin.
Ryan menghela nafas, ia membenci situasi dirinya yang seperti ini. Harusnya ia itu tetap bersikap dingin dan cuek, bukan malah galau begini.
"Ck sial, gadis itu benar-benar membuatku frustasi." Gerutu Ryan seraya mengacak-acak rambutnya.
"Ryan."
Ryan yang masih menggaruk kepalanya lantas menoleh ke asal suara, ia terkejut melihat gadis yang mengacaukan isi otaknya ada disana.
Gadis itu tidak sendiri, melainkan bersama pria yang diyakini sebagai kekasih garis itu.
"Abel." Sahut Ryan seraya bangkit dari duduknya.
Ah sial sekali dirinya, niat ingin menghibur diri dengan kesunyian taman malah membuatnya bertemu dengan gadis ini.
"Kenapa kamu disini, bukannya kamu bilang di rumah ada acara pertunangan?" tanya Abel, gadis cantik berambut sebahu.
Ryan memasang wajah secuek mungkin.
"Hmm, gue kesini mau cari angin." Jawab Ryan datar.
"Sayang, beli minum dulu yuk. Kamu pasti haus kan habis makan jagung," ajak pria yang digandeng mesra oleh Abel.
Abel pun pamit kepada Ryan untuk pergi, dan Ryan hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
"Ahh sialannn!!" umpat Ryan menonjok udara dengan penuh kekesalan.
Hari ini adalah hari bahagia Ryan karena pertunangan kakaknya, tapi juga hari tersialnya karena bertemu gadis itu disini.
RYAN, SAMA AKU AJA AYOO😚🤣
Bersambung............................
__ADS_1