
Sesuai janji Cakra pada anak dan istrinya, hari ini ia akan mengajak Rheana dan Ayla pergi berlibur ke Bali. Mereka tidak pergi bertiga saja, melainkan mengajak Ryan, Abel dan kedua orang tua Cakra.
Velia dan Fikri terpaksa tidak ikut karena baby mereka masih kecil, sementara kedua orang tua Rheana harus tetap ada disana untuk membantu Velia mengurus babynya.
Rheana bersama seluruh keluarganya baru saja tiba di Bali. Mereka menyewa resort yang memiliki banyak kamar.
Ryan dan Abel tentu saja tidur di kamar berbeda. Awalnya Rheana menawarkan agar Abel tidur dengannya, namun tentu saja ada yang menolak.
Cakra, siapa lagi orangnya jika bukan dia. Pria beranak satu yang manja itu mana mungkin mau tidur terpisah dengan istrinya.
Kalo kata Cakra, bagai pantai tanpa pasir. Ya, tidak mungkinlah.
"Kasihan Abel, Mas. Kan kamu bisa tidur sama Ryan," ucap Rheana seraya melipat pakaian Ayla dan menyimpannya di lemari kecil yang ada disana.
Cakra yang sedang asik menciumi putrinya lantas menoleh, ia bangkit dari posisinya lalu mendekati sang istri yang bicara tanpa menatapnya.
Tanpa berkata apa-apa, Cakra langsung melingkarkan tangannya di perut Rheana yang rata.
Cakra heran, kebanyakan busui itu akan mengalami kenaikan berat badan, tapi istrinya tidak. Rheana tetap pada porsi tubuhnya yang ramping dan mungil.
"Sayang." Panggil Cakra dengan manja.
Kepalanya sudah mendusel dileher sang istri, sembari tangannya mengusap-usap perut rata sang istri.
"Hmm." Sahut Rheana sambil merapikan pakaian Ayla.
"Kamu minum pelangsing ya?" tanya Cakra, kepalanya sedikit ia miringkan agar bisa melihat wajah Rheana yang cantik.
"Nggak lah! Buat apa aku minum, nggak baik buat busui kaya aku." Jawab Rheana sewot.
Cakra semakin mengeratkan pelukannya, ia senang jika Rheana tidak meminum suplemen penurun badan apapun. Sebab itu tidak baik untuk kesehatan jangka panjang.
"Sayang, Ayla kan lagi bobok. Mandi bareng yuk?" Ajak Cakra dengan alis yang naik turun.
Rheana menyipitkan matanya, ia lantas melepaskan pelukan suaminya lalu membalik badan, sehingga kini ia berhadapan dengan Cakra.
Rheana mencubit hidung mancung Cakra dengan gemas.
__ADS_1
"Pintar ya, ajak mamanya mesra-mesraan saat anaknya tidur." Cibir Rheana.
Cakra melepaskan cubitan di hidungnya, ia menggenggam tangan sang istri, lalu menciumnya berulang-ulang.
"Yaiya dong, masa Ayla lagi nen aku ajak kamu bikin adek." Sahut Cakra dibarengi tawa.
Rheana mendengus, namun ia tidak menolak saat tangannya sudah ditarik oleh suaminya ke arah kamar mandi.
Rheana akan pasrah kali ini, toh sudah beberapa hari mereka tidak memadu kasih dengan keringat yang membanjiri.
Cakra sendiri bersorak kegirangan, ia yang tadi lelah setelah perjalanan berubah jadi semangat karena sudah membayangkan banyak kegiatan panas bersama Rheana nanti.
Cakra sudah membuka kancing pakaian Rheana dan membuat istrinya itu polos. Rasanya Cakra selalu terpesona pada setiap lekukan tubuh sang istri.
Rheana sendiri tidak malu lagi, ia sudah memiliki satu anak, jadi tidak akan semalu dulu jika polos depan suaminya.
Cakra menangkup wajah Rheana, ia baru saja ingin mencium bibir istrinya, namun sayangnya harus terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu.
Cakra mengerem kesal, sementara Rheana hanya tertawa, ia mengusap wajah suaminya yang sudah sangat bernapsu dengan lembut.
Dengan malas Cakra keluar dari kamar mandi untuk membukakan si pengganggu kegiatannya bersama sang istri.
Jika itu Ryan, maka ia akan memarahi remaja itu. Lihat saja nanti.
Cakra membuka pintu kamar, ia hendak mengeluarkan segala bentuk ocehannya, namun tidak bisa karena yang datang adalah kedua orang tuanya.
"Cakra, kami mau main sama Ayla." Ucap Mama Mila dengan antusias.
"Main kan bisa nanti, Ma. Mama nggak tahu, aku mau–" Cakra segera menghentikan ucapannya saat dirinya nyaris keceplosan.
"Mau apa? Rheana mana?" tanya Mama Mila celingak-celinguk.
Papa Wawan menyipitkan matanya, ia tidak menemukan menantunya di dalam kamar, sementara putranya tampak sudah berkeringat di wajahnya.
"Rheana kemana, Cakra?" tanya papa Wawan mengulangi pertanyaan sang istri.
"Di kamar mandi." Jawab Cakra dengan cepat.
__ADS_1
Keduanya mengangguk, mereka pun hendak masuk, tetapi di tahan oleh Cakra.
"Ayla tidur, Ma. Mainnya nanti aja sih," ucap Cakra melarang.
"Ayla tidur apa Rheana yang mau tidurin kamu?" tanya papa Wawan menaik turunkan alisnya.
Cakra berdecak. "Papa." Tegur Cakra pelan.
Mama Mila akhirnya paham. Ia tidak mau mengganggu putranya yang sedang berproses untuk memberikannya cucu lagi.
"Yaudah deh, mama mau istirahat. Yuk pa," ajak Mama Mila menggandeng tangan suaminya manja.
"Iya, Sayang." Balas Papa Wawan dengan mesra.
Cakra geleng-geleng kepala, namun tidak ayal ia merasa bahagia melihat keharmonisan kedua orang tuanya. Dan Cakra yakin bahwa dirinya dan Rheana juga akan seperti itu.
Cakra menutup pintu kamar kembali, tidak lupa ia juga menguncinya. Cakra tidak akan peduli lagi jika nanti ada yang mengetuk kamarnya.
"Sayang, aku datang!!" teriak Cakra dengan semangat.
Suara teriakan Cakra seketika membuat Ayla menangis. Bocah kecil itu terbangun dari tidurnya dan langsung mencari Rheana.
Cakra rasanya ingin melompat saja ke laut ketika melihat putrinya bangun, ditambah lagi Rheana keluar dan langsung fokus pada Ayla.
Cakra mengacak-acak rambutnya, kini ia akan benar-benar gagal untuk bermain bersama sang istri.
"Sayang!!!" Rengek Cakra dengan penuh rasa frustasi.
Rheana menatap suaminya sinis, ia tentu saja tahu kenapa Ayla tiba-tiba menangis.
"Makanya jangan teriak-teriak, kaya di hutan aja. Sukur, nggak ada lagi jatah!" sahut Rheana kesal.
Cakra berteriak dalam hati, ia menjatuhkan dirinya di sofa sembari terus mengacak-acak rambutnya kesal.
PAPA CA, SABARđŸ˜«
Bersambung.....................
__ADS_1