Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Bakar-bakar atau ciuman?


__ADS_3

Rheana yang saat itu baru saja keluar dari kamar untuk minum terheran ketika melihat adiknya pulang bersama Abel dalam keadaan basah kuyup.


Rheana sengaja mencegah langkah mereka berdua untuk sekedar bertanya. Bisa-bisanya mereka main ke lantai tanpa mengajak dirinya.


"Eh, Kak." Sapa Ryan tersenyum lebar.


"Kok ke pantai nggak ajak aku sih, kalian ini tega." Kata Rheana menekuk wajahnya.


Abel tersenyum lembut. "Nanti malam kan jadwal kakak bermesraan sama kak Cakra, nah tugas kita jagain Ayla biar kalian bebas." Jelas Abel.


Maksudnya adalah, ia dan Ryan pergi sekarang karena nanti malam akan menjaga Ayla dan membebaskan Rheana serta Cakra untuk bermesraan.


Abel dan Ryan juga paham jika kakaknya itu ingin bermesraan, sehingga mereka berpikir untuk menjaga Ayla nanti malam.


Rheana tersenyum lebar mendengar ucapan adiknya. Ia yang tadi menekuk wajahnya kini berubah menjadi senang.


Ternyata Ryan dan Abel memahami dirinya.


"Yaudah, sana mandi. Kalian nanti masuk angin jika tidak bersih-bersih sekarang." Tutur Rheana pada keduanya.


Ryan dan Abel pun pergi ke kamar mereka masing-masing untuk bersih-bersih diri dan mengganti pakaian mereka yang sudah basah kuyup.


Rheana pun pergi ke dapur, ia membuka kulkas dan mengambil jus kemasan yang ada disana. Tentu saja itu dia yang membawanya.


Rheana menuang jus ke dalam gelas, ia lalu menenggak jus itu hingga tandas. Ditengah rasa menikmati manisnya jus, tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Eh Rheana, sudah bangun?" tanya mama Mila tiba-tiba.


Rheana menoleh, ia meletakkan gelas bekasnya minum jus lalu menatap kedua mertuanya yang sepertinya baru saja keluar.


"Mama, papa. Kalian dari mana?" tanya Rheana mengerutkan keningnya dengan senyuman di wajahnya.


"Jalan-jalan, Rhe. Mama kamu mau mengulang masa-masa bulan madu katanya." Jawab papa Wawan.


Mama Mila melototkan matanya mendengar ucapan suaminya barusan. Bisa-bisanya sang suami bicara begitu, padahal mereka keluar untuk membeli bahan-bahan.


"Bohong, Rhe. Nih, mama beli ini buat bakar-bakaran nanti malam." Ujar mama Mila seraya menunjukkan belanjaannya.

__ADS_1


Rheana menerima kantong kresek yang mertuanya berikan, ternyata isinya ada bermacam-macam seafood dan bahan lain yang dibutuhkan.


"Papa dan mama beli dimana?" tanya Rheana.


"Di pasar dekat sini." Jawab papa Wawan.


"Kami ini sudah hafal daerah Seminyak. Di awal menikah dulu, kami sempat tinggal disini selama 3 bulan," jelas mama Mila ketika mengerti raut heran dari menantunya.


Rheana manggut-manggut, pantas saja kedua mertuanya sampai tahu pasar di sekitar sana. Ternyata mereka pernah tinggal di daerah ini dulu.


"Aku cuci dulu deh, sebelum aku simpan di kulkas." Ucap Rheana kemudian segera membawa macam-macam seafood itu ke wastafel.


"Kamu duduk, Pa. Mama buatin teh," tutur mama Mila kepada suaminya.


Rheana dan keluarganya itu berlibur bukan asal berangkat dan sampai. Mereka membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan, termasuk minuman kulkas, teh dan banyak lagi.


"Cakra tidur, Rhe?" tanya mama Mila.


Rheana menggelengkan kepalanya, ia meninggalkan Cakra untuk minum jus saja. Kini suaminya sedang bermain dengan Ayla yang sudah terbangun sejak tadi.


"Nggak, Ma. Lagi main sama Ayla," jawab Rheana tanpa menatap ibu mertuanya.


"Ma, aku tengok Ayla dulu ya." Ucap Rheana pamit kepada mertuanya.


"Iya, Nak." Balas mama Mila.


"Mau kemana, Rhe?" tanya papa Wawan ketika melihat menantunya hendak pergi.


"Lihat Ayla, Pa." Jawab Rheana dan dibalas anggukan kepala oleh papa Wawan.


Malam harinya, di depan resort itu. Keluarga Cakra berkumpul untuk bakar-bakaran bersama. Mereka semua menggelar karpet untuk duduk yang juga sudah dilengkapi dengan banyak makanan disana.


"Ayla, sini sama Oma. Ya ampun nanti kamu kedinginan," kata mama Mila seraya mengambil alih untuk menggendong cucunya.


Rheana tersenyum, putrinya itu tampak sangat menempel dengan mama Mila. Bukan hanya mama Mila, dengan mama Erina pun dekat.


Ayla terus berceloteh seraya menunjuk-nunjuk Cakra yang sibuk mengurus bakaran bersama Ryan.

__ADS_1


"Siapa, Nak? Papa, iya itu papa kamu. Nggak ada yang mau ngakuin juga." Celetuk Rheana seraya tertawa.


"Ayla, pipinya tumpah sayang." Ujar Abel tidak kalah gemas dengan calon keponakannya itu.


Ayla memukul-mukul tangan neneknya pelan. Bukan sakit, malah seperti sebuah usapan bagi mama Mila.


"Cucu Opa yang paling cantik, udah mam belum?" tanya papa Wawan memegang sebelah tangan cucunya.


"Udah dong, Opa." Jawab mama Mila menirukan suara anak kecil.


Rheana bangkit dari duduknya, ia mendekati sang suami disaat anaknya sibuk bermain dengan kakek neneknya.


Rheana ikut berdiri di sebelah suaminya, sebab panggangan yang mereka gunakan itu berada diatas meja, sehingga tidak mungkin melakukannya sambil duduk.


"Ya ampun suami aku sampai keringetan." Ucap Rheana seraya menyeka keringat di dahi suaminya.


Padahal pantai banyak angin, tapi Cakra tetap saja berkeringat. Aneh sekali memang suaminya ini, Cakra itu mudah sekali untuk berkeringat.


Cakra menoleh, ia memajukan bibirnya dengan maksud minta dicium oleh sang istri.


Rheana menurutinya, ia mencium bibir suaminya dengan cepat. Semua itu tentu saja dilakukan tepat di depan wajah Ryan yang sudah misuh-misuh.


Ryan melempar pelan kipas di tangannya.


"Urus lah panggangan nya sambil bermesraan, nggak kuat aku." Ucap Ryan ngambek.


Rheana dan Cakra tertawa melihat wajah adiknya yang benar-benar masam.


"Marah dia, Mas." Celetuk Rheana sambil tertawa.


Cakra bukannya membalas ucapan istrinya, pria itu malah mencium pipi dan rambut istrinya.


"Kalian mau bakar-bakar apa mau ciuman?" Celetuk papa Wawan.


Rheana dan Cakra sontak terkejut, mereka membalik badan sambil tertawa tidak jelas. Kirain tidak akan ada yang lihat, tetapi ternyata ada.


"Jadi malu." Gumam Rheana.

__ADS_1


KEBIASAAN IHH KALIAN INI, AKU GUMUSHH😰


Bersambung....................................


__ADS_2