
Rheana terdiam menatap wajah Cakra yang seakan sedang menunggu jawaban darinya. Ada rasa bimbang dalam hati Rheana untuk mengiyakan permintaan Cakra.
Rheana tidak keberatan melakukan pekerjaan rumah, namun ia kebingungan untuk mengatur jam nya, apalagi setelah ia kuliah nanti.
Tapi jika menolak pun bukanlah jalan yang benar, ia ingin tetap bisa melanjutkan kuliah dan jalan satu-satunya adalah mengiyakan ucapan Cakra tadi.
“Bagaimana? kau sanggup?” tanya Cakra dengan tatapan yang mendelik tajam.
Rheana menarik nafas, ia terdiam dengan kepala tertunduk sebentar.
Melihat hal itu membuat Cakra tersenyum puas, ia yakin bahwa Rheana akan menolak persyaratan yang ia ajukan.
“Ya, aku sanggup Kak. Aku akan kuliah, dan mengerjakan semua tugasku sebagai seorang istri di rumah ini.” Jawab Rheana dengan yakin.
Cakra terdiam. Ia kira istrinya itu akan menolak, namun siapa sangka bahwa Rheana malah mengiyakan persyaratan darinya.
"Kau yakin?" Kedua alis Cakra terangkat.
Rheana menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
"Sangat yakin, Kak. Aku bisa melakukannya, dan ini semua demi pendidikanku." Jawab Rheana.
Cakra manggut-manggut, ia harus berpura-pura biasa saja meskipun dalam hatinya ia masih sedikit terkejut.
"Mulai malam ini, kita pindah!" Ujar Cakra dengan tegas, lalu berlalu pergi begitu saja.
Rheana mengikuti Cakra yang keluar dari apartemen. Ia sejenak menatap ruangan yang kini menjadi tempatnya berdiri.
Kelak, ia yang akan mengurus apartemen itu dan hanya seorang diri.
"Tenanglah, Rhea." Gumam Rheana mengusap dadanya sendiri.
***
__ADS_1
Rheana dan Cakra sampai di rumah. Keduanya langsung masuk dan bersiap untuk pindah.
Ralat, hanya Rheana yang bersiap-siap dan mempacking barang-barang mereka, sebab Cakra enggan melakukannya.
"Nyonya, biar saya bantu ya." Ucap salah satu art yang melihat Rheana sedang merapikan pakaian sendiri.
"Jangan coba-coba membantunya jika kau masih ingin bekerja." Ancam Cakra yang sedang duduk santai di sofa sambil memakan buah-buahan.
Rheana menatap suaminya sebentar, dan ancaman yang Cakra katakan sukses membuat art tadi ketakutan.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Saya permisi," art itu langsung pergi dari kamar Rheana dan juga Cakra.
Sepeninggalan art tadi, Rheana melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai packing, sementara Cakra tetap setia di sofa nya.
Cakra mengigit potongan buah apel dengan mata yang tertuju pada Rheana.
Ia berpikir beberapakali, mengapa dulu ia sangat baik kepada Rheana yang begitu jahat, bahkan sampai tega melenyapkan Velia.
Mengingat itu semua membuat Cakra mendadak emosi. Ia melempar pisau buah yang ada disana ke arah yang asal.
"Ap–" Rheana yang hendak bertanya mendadak syok saat Cakra tiba-tiba menghampirinya.
Cakra mendekati Rheana. Entah setan dari mana yang merasuki Cakra sampai ia mencekik Rheana.
"Kau, dasar perempuan jahat! Berani sekali kau melenyapkan kakakmu!" Umpat Cakra tanpa melepaskan cekikan nya.
Rheana batuk-batuk, ia memukul dada Cakra berulangkali karena tidak bisa bernafas.
"K-kak …" panggil Rheana terbata dan tercekat.
Cakra makin menguatkan cekikan nya, namun setelah beberapa saat ia akhirnya melepaskan dengan dorongan sebagai penutup.
Rheana memegangi lehernya yang berubah merah dengan terbatuk-batuk. Ia tidak menyangka bahwa Cakra akan melakukan tindakan tadi, apalagi secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Kak?" tanya Rheana sambil batuk.
Cakra menatap Rheana dengan begitu tajam. Ia segera keluar dari kamar dan tidak lupa membanting pintu seperti biasanya.
Setelah kepergian Cakra, Rheana masih di posisinya. Wanita itu mengusap lehernya yang benar-benar meninggalkan bekas tangan Cakra.
"Aku tidak menyangka kau tega melakukan ini, Kak." Lirih Rheana seraya menundukkan kepalanya.
2 jam Rheana habiskan untuk mempacking pakaian, sementara untuk barang-barang mereka tidak membawa, sebab di apartemen sudah lengkap.
Cakra dan Rheana ingin pergi dari rumah untuk langsung ke apartemen, namun Mama Mila datang.
"Kalian pindah kemana?" tanya Mama Mila, lebih bertanya kepada Cakra dan bukan Rheana.
"Apartemen, Ma." Jawab Cakra singkat, dan tidak lupa wajahnya yang datar.
"Ya kenapa, bukankah rumah ini sudah nyaman?" tanya Mama Mila lagi.
"Ada hal yang harus ku lakukan disana." Jawab Cakra kemudian menatap Rheana.
Rheana membalas tatapan Cakra, ia hanya diam saja saat di tatap oleh Cakra.
"Nanti siapa yang mengurus kamu, Cakra." Mama Mila tampak tidak setuju jika Cakra pergi.
"Aku punya wanita ini, Ma. Dia yang akan mengurusku dengan baik," jawab Cakra menunjuk Rheana.
Mama Mila ikut menatap Rheana, namun ia tidak bicara sama sekali.
"Ma, jangan khawatir. Aku akan menjaga kak Cakra," ucap Rheana pelan.
Mama Mila hanya menghela nafas. Tidak menjawab ucapan Rheana sama sekali, dan hal itu tentu saja membuat Rheana sedih.
"Kau memang tidak akan memiliki tempat di hati mereka, Rhea." Batin Rheana sendu.
__ADS_1
HUAAAA .... MAAF JARANG UPDATE, BESOK DOUBLE DEHH😫😫
Bersambung......................