
Tiara?
Ya, Nath yakin itu Tiara. Dia ingat, Tiara pernah memakai jaket itu saat bekerja.
Nath ikut masuk dan syukurnya kursinya juga ada di gerbong ini.
Nath melihat nomor kursi, menyamakan yang ada di tiketnya. Dan dia tersenyum puas. Saat melihat seorang gadis dengan kaos putih dilapis denim jaket duduk di sebelah kursinya.
Kereta akan segera berangkat, dan Nath langsung duduk di sebelah Tiara. Tiara terus menatap ke jendela dengan wajah sendunya.
Kereta perlahan mulai bergerak dan semakin lama semakin cepat. Tiara tak terganggu sama sekali meskipun Nath duduk mengubah posisi demi bisa melihat wajahnya. Entah apa yang menarik di luar sana tapi Nath tahu pikiran gadis itu sedang melayang entah kemana.
Hampir 15 menit, Tiara tak mengubah posisinya. Nath bersandar di kursinya. Nath mulai lelah menunggu Tiara selesai melamun dan meratapi hidupnya yang hancur karena ulah Nath.
Nath menatap lurus kedepan. Kalau aku pakai parfum seperti milik Reyga. Mungkin kamu sudah menatapku sejak tadi, Ra
Cukup membuktikan kalau hanya pria itu di hatimu. Aku tak tahu harus senang atau sedih.
Satu sisi, menikah denganmu bukan impianku. Bagaimana mungkin kita hidup bersama jika kita bagai air dan api?
Dan disisi lain, aku harus tanggung jawab atas anak itu, Ra. Anak yang hadir karena kesalahanku. Aku terjebak bujuk rayu setan.
Ck! Nambah dosa aja. Pake memfitnah setan segala.
Nath merasakan bahwa Tiara bergerak dari posisinya. Kini gadis itu menyandarkan kepalanya di kursi. Matanya mulai terpejam.
"Mau apa ke Jogja?" Pertanyaan pertama keluar dari mulut Nath.
"Sejenak, mau melupakan semuanya." Jawab Tiara tanpa membuka mata.
Sedari tadi ia hanya memikirkan anak dalam kandungannya. Anak ini butuh ayah. Anak ini butuh pengakuan. Sepulang dari Jogja, Tiara sudah memantapkan dirinya untuk berbicara pada Nath.
Bahkan saat seperti ini, suara bang Nath seperti nyata. Padahal aku hanya sedang membayangkan dia ada disini karena aku takut pergi sendiri keluar kota.
Maaf Bu, Yah, Tiara bohong.
Tiara pamit pada orang tuanya dan mengatakan pergi beramai-ramai dengan teman sekolahnya dulu. Padahal tidak, ia pergi sendiri.
"Harusnya diselesaikan, bukan dilupakan."
Aku akan menyelesaikannya, tapi gak untuk sekarang. Aku belum siap melihat orang tuaku hancur. Batin Tiara.
"Aku sudah berkali-kali datang. Dan kamu menolak, Ra."
"Mau kamu bawa kemana calon anakku?"
Deg!
Kenapa suaranya nyata. Ini bukan mimpi? Batin Tiara.
Tiara perlahan membuka matanya dan melihat ke sisi kananya.
"Bang Nath?" Tiara terkejut saat melihat Nath bersandar di kursi dengan tangan terlipat di dadanya.
__ADS_1
Nath menoleh dan pandangan mereka bertemu. Entahlah, mengapa bola mata itu terasa begitu teduh di mata Nath.
Biasanya yang ia lihat hanya kilatan amarah dan pandangan mengejek dan meremehkan.
"Kenapa disini?" Tiara melihat kebelakang dan ke sisi kiri Nath. Ia berusaha mencari orng lain yang ia kenal disini selain Nath.
Nihil. Hanya ada Nath dan orang di kursi lainnya tidak ia kenal.
"Duduk tenang, Ra." Nath bicara penuh kelembutan.
Tiara menurut dan duduk dengan tenang.
"Mau cerita, atau aku yang introgasi kamu." Tanya Nath masih dengan kelembutan.
Sebulan gak ketemu, kenapa dia jinak begini? Tiara melirik Nath sekilas.
"Gak ada yang harus diceritain." Jawab Tiara tanpa menatap Nath.
Nath menghembuskan nafas berat. "Untuk apa ke Jogja?"
Tiara menatapnya sekilas tanpa niat menjawab. Menurutnya tidak penting Nath tahu atau tidak. Dan yang terpenting baginya saat ini adalah, bagaimana bisa Nath ada disebelahnya.
Kebetulan luar biasa dan itu tidak mungkin. Tiara mulai berfikir, Nath memata-matainya.
"Jawab, atau kita turun di stasiun berikutnya." Ancam Nath karena Tiara tetap diam membisu.
"Mau menghadiri pernikahan sahabat." Jawabnya acuh.
Nath tak percaya begitu saja. Alisnya saling bertautan tanda ia ragu atas jawaban Tiara.
Tiara memberikan undangan itu pada Nath. "Ini undangannya, dan ini kebaya bridesmaid."
Nath membaca undangan yang resepsinya besok malam.
"Lalu ini." Tanya Nath sambil menunjukkan Tespack yang baru ia ambil dari kantong sweaternya.
Mata Tiara mendelik, membulat sempurna. Dalam sekali gerakan, benda itu sudah berpindah ke tanganya. Tiara menatap sekeliling dan menghembuskan nafas lega karena tak ada yang melihat benda yang kini ada di tangannya.
"Dapat dari mana?" Tanya Tiara ketus.
"Dari rumah kak Zoya."
Perasaan, aku sudah membuang semua benda itu dengan baik dan sebisa mungkin tidak ada yang bisa menemukannya. Lalu kenapa satu benda ini ada di tangan bang Nath? Batinnya.
"I... ini..." Tiara bingung harus jawab apa.
"Ini mungkin punya kak Zoya! Ya, ini punya kak Zoya." Jawabnya sejurus kemudian.
Tiara bukan tidak ingin mengaku. Ia hanya takut Nath memintanya menggugurkan janin ini. Apalagi mereke berdua sedang keluar kota. Tiara takut Nath menjadikan situasi ini sebagai kesempatan baginya.
Nath mulai jengah, bagaimana mungkin kak Zoya menggunakan tespack lagi setelah hamil 7 bulan. Ucap Nath dalam hati.
"Kenapa diam? Gak percaya?" Tiara mulai menunjukkan jati dirinya. Mulai memancing emosi Nath dengan pertanyaan dan wajahnya yang seolah menantang itu.
__ADS_1
Nath suka bagian ini. Dia akan dengan senang hati meladeni. "Enggak!"
Ck! Tiara berdecak kesal. "Up to you sih. Percaya atau gak, bukan urusanku." Tiara memejamkan matanya. Moodnya naik turun belakangan hari ini. Ditambah lagi kehadiran Nath, si penguji kesabaran.
"Okey." Nath mengangkat bahunya acuh. Ia memejamkan mata dan bersandar di kursinya. "Satu hal yang pasti. Jaga anakku."
Deg!
Kata-kata sederhana yang membuat hati Tiara menghangat. Tiara tak menduga Nath justru memintanya menjaga janin ini.
Tiara menatap wajah yang tenang dengan mata yang terpejam itu. Dia tampan. Hanya saja Tiara tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tak berdebat dengan ayah dari janinnya.
"Awas jatuh cinta. Jangan lama-lama menatapku." Nath berucap masih dengan menutup matanya.
Sial! Ketangkap basah! Tiara mencebikkan bibirnya.
Dan Nath tersenyum melirik Tiara yang tampak kesal.
Malam merangkak Naik. Perjalanan 7 jam masih tersisa 3 jam lagi. Masih sangat lama. Tiara berulang kali memperbaiki posisinya. Dia sulit tidur dalam posisi duduk seperti ini.
Nath menarik kepala Tiara untuk bersandar di bahunya. Tiara menolak dengan kembali menjauhkan kepalanya dari bahu Nath.
"Jangan bandel." Nath kembali membawa kepala Tiara bersandar di bahunya. "Atau mau tidur dipangkuanku?" tawar Nath dengan senyum jahil.
"Gak usah mimpi!"Cibir Tiara.
Nath tertawa tanpa suara. Dan setelahnya, Tiara menyandarkan kepalanya di bahu Nath. Lebih nyaman memang posisi seperti ini.
Tiara mengancingkan denim jaketnya karena semakin malam udara semakin dingin. Tiara menutup matanya.
"Aku tahu kamu belum siap, Ra. Belum siap menikah dan menjadi ibu." gumam Nath saat ia melihat Tiara sudah tidur. Suaranya ia buat sepelan mungkin agar tak ada orang lain yang mendengarnya.
"Tapi ku mohon, tetaplah hidup bersama janin ini." Dengan ragu Nath perlahan menyentuh perut Tiara yang tertutup jaket.
"Atau aku akan menyesal untuk kedua kalinya."
Tiara bisa mendengar semua perkataan Nath karena sebenarnya Tiara belum tidur. Ada perasaan haru bercampur sedih saat ini.
Dia terharu atas permintaan untuk tetap hidup yang Nath ucapkan. Dan dia sedih karena Nath juga menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku tidak pernah mencintai gadis manapun apalagi kamu."
Sama, aku juga tidak mencintaimu. Aku masih mencintai Reyga. Jawab Tiara dalam hatinya.
"Tapi aku akan berusaha mencintai anak ini." Ra."
Haruslah. Ini anakmu. Batin Tiara kesal.
"Kalau mama bisa menerima kak Zoya. Makan aku yakin mama akan menerima anak ini."
Semoga saja. Sahut Tiara dalam hatinya.
"Tetap sehat, Nak. Walau belum terbayang kehidupan seperti apa yang akan papa, mama jalani nanti." bisik Nath lagi.
__ADS_1
Dia akan tetap hidup meski aku harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun. Tekad Tiara dalam hatinya.