EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (18)


__ADS_3

Rion kembali menemui Ray setelah makan malam itu. Ia duduk di samping papinya di sebuah kursi santai di pinggir kolam renang.


"Rion gak yakin cara papi berhasil," kesal Rion karena papinya malah mengundang Rahardi di acara dadakan itu.


"Papi kenapa gak ngomong langsung sama om Rahardi. Terus ceritain kebaikan dan kelebihan Nair dan keluarga papa Akhtar."


"Supaya om Rahardi bisa nerima Nair jadi menantunya."


"Cara itu justru terkesan papi ngebelain Nair banget, Yon!"


"Udah deh. Cara papi itu udah paling bener dan terkesan natural."


"Ck!" Decak Rion. "Yang ada papi kayak ngejebak om Rahardi di acara itu, Pi. Kalau om Rahardi jadi merasa ini akal akalan Nair sama papi gimana?"


"Lah...! Ini kan memang akal-akalan papi," jawab Ray santai.


"Uusssh!" Rion mendengus kesal. "Susah ngomong sama papi."


Rion meninggalkan Ray dan masuk ke dalam. Tapi di depan pintu ia hampir bertabrakan dengan Bi yang sedang menggendong Prince.


"Bi...."


"Gantian, sayang." Bi menyerahkan Prince padanya. "Aku mau makan dulu."


"Ya Allah sayang. Ini udah yang ke empat kalinya loh kamu makan." Protes Rion pada istrinya.


"Kenapa? Kamu takut aku gendut?"


"Gak tau sih kamu gimana rasanya nyusuin Prince." Bintang berbalik dan meninggalkan Rion yang menatap kepergiannya.


"Ya Allah, gini amat. Baru ngomong sebaris jawabannya berbaris-baris. Pake dibonusin ngambek lagi."


Rion mengangkat Prince tinggi tinggi dan menciumi perut bayi berusia hampir enam bulan itu.


"Kamu banyak banget sih nyusunya. Bunda sampe makan terus itu."


Prince tertawa riang. "Yaaah! Pake ketawa nih bocah."


"Ayah cium lagi nih?" Rion mencium putranya dan kembali membuatnya tertawa.


****


Pelukan Naira masih terasa di tubuhnya. Rahardi merasakan pelukan Naira begitu erat tadi. Pelukan penuh kebahagiaan yang Naira berikan padanya.


Rahardi menemui Rahman di halaman belakang. Kakak laki-lakinya itu sedang menyiram tanaman di kebun belakang rumah.


Rahardi duduk disebuah kursi kayu. "Mas!"


Rahman menoleh. Ia mematikan kran air dan ikut duduk bersama Rahardi yang jelas terlihat tengah gelisah.


"Ada apa, Di?" Rahman ikut duduk di samping adiknya itu.


"Bisa minta bantuan kamu, Mas."


"Berikan ini pada, Nair."


Rahman melihat sebuah amplop coklat di tangan Rahardi. Ia menerimanya dan mulai membuka amplop itu.

__ADS_1


Rahman terkejut saat menemukan nama Naira ada di kertas itu. "Jadilah perantara antara putriku dan Nair."


***


Nair baru selesai mandi sore ini. Sepulang dari rumah sakit, ia memutuskan untuk lari sore di kawasan komplek. Tujuannya hanya satu yaitu agar tubuhnya tetap sehat meski pikirannya tak pernah berhenti untuk terus memikirkan Naira.


Nair baru keluar dari kamar mandi dan suara ponsel yang bergetar mencuri perhatiannya. Nair melihat layar ponsel yang menunjukkan nama Pakde Rahman disana.


"Pakde? Ada apa?" gumam Nair bertanya-tanya karena sangat jarang Pakde Rahman menghubunginya jika bukan untuk hal penting.


Pakde Rahman biasanya akan mengirimkan informasi penting mengenai acara di mesjid atau yang berhubungan dengan kegiatan di sana melalui grup di WA.


"Hallo, Assalamualaikum Pakde?"


"Waalaikumsalam, Nair. Sedang sibuk?"


"Oh, enggak Pakde. Ada apa ya?" tanya Nair penasaran. Ia duduk di ranjang hanya dengan selembar handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya.


"Magrib nanti bisa datang ke mesjid, Nair? Ada hal penting yang harus Pakde sampaikan."


"Hal penting apa pakde?"


"Tidak bisa melalui telpon Nair."


"Oh, Ya Pakde. InsyaAllah Nair datang."


Setelah panggilan diakhiri, Nair terus memikirkan apa yang akan disampaikan Pakde Rahman? Apa mungkin ada acara yang mereka rencanakan di mesjid?


"Nair, mau kemana?" tanya Lintang yang melihat Nair turun dari lantai dua dengan berpakaian rapi. Celana panjang hitam serta kurta putih dan peci ada di tangannya.


"Iya Ma. Nair mau ke mesjid yang biasa Nair datangi."


Lintang dan Akhtar saling pandang. Keduanya terheran karena ini kali pertama Nair kesana setelah berbulan-bulan lamanya.


Nair mencium punggung tangan kedua orang tuanya. "Nair pergi dulu, ma, Pa. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab keduanya.


Nair mengendarai mobilnya. Ya, sejak tidak diizinkan bertemu lagi dengan Naira, Akhtar memberikan mobil sebagai hadiah untuknya. Sebagai salah satu cara untuk mengalihkan fikiran Nair tentang Naira. Namun sayang, sepertinya cara itu belum berhasil karena Nair sangat jarang menggunkan mobil itu.


Nair sampai di mesjid tujuannya. Waktu magrib masih sepuluh menit lagi. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Matanya tertuju pada laci mobil.


Nair mengulurkan tangan membuka laci mobil itu. Dimana ia menyimpan sebuah benda yang menurutnya punya kenangan buruk.


Nair mengambil sebuah kotak cincin. Dimana terdapat dua cincin, untuknya dan untuk Naira. Cincin yang ia persiapkan berbulan-bulan lalu saat ia ingin melamar gadis itu.


"Heeh!" Nair tertawa sinis. "Dulu aku yakin banget bakalan di terima sampai udah beli cincin duluan." Nair menggeleng pelan.


"Tetap aja rencana Allah yang akan terjadi. Kenapa dulu tingkat kepercayaan diriku bisa setinggi itu? Mendahului kehendak Allah." Nair kembali menyimpan cincin itu di laci mobil.


"Ayo Nair! Rion bener, papa juga benar. Tetap tegakkan kepalamu meski Abi terlihat seperti akan melahapmu sekalipun." Nair menyemangati dirinya sendiri sebelum turun dari mobil.


Nair ikut sholat Magrib. Ia hanya sekedar menyalami Pakde Rahman dan ada juga Abinya Naira disini.


Selesai sholat Magrib, Nair mengikuti arahan Pakde Rahman. Keduanya duduk di sudut mesjid, tepat di sebelah kain batas antara jamaah laki-laki dan perempuan.


"Nair..."

__ADS_1


"Ya, Pakde..."


"Apa kabarmu?"


"Alhamdulillah sehat, Pakde."


"Kenapa tidak pernah datang lagi kesini?" tanya Rahman basa-basi. Sebenarnya ia tahu betul mengapa Nair tidak lagi datang kesini.


"Hehehe... Sedang sibuk, Pakde. Kadang waktu terlalu mepet untuk ke sini. Jadi sholatnya di rumah atau di mesjid komplek."


Rahman ikut tertawa. "Makin kesini makin sukses ya, Nair. Mobil baru?" Rahman menunjuk kearah luar dengan dagunya.


Nair tersenyum kecil. "Masih pemberian papa, Pakde."


"Nair... Pakde ingin mengatakan sesuatu padamu." Nair mengangguk kecil.


"Ada seorang gadis yang mengirimkan CV ta'aruf melalui Pakde agar disampaikan padamu."


Nair membulatkan mata. "Maaf Pakde, tapi aku tidak pernah meminta siapapun untuk mengirimkan CV ta'aruf."


"Tapi ada seorang gadis yang sangat mencintaimu, Nair."


"Tapi aku juga punya seseorang yang aku cintai, Pakde. Dan ku yakin Pakde pasti tahu siapa gadis itu."


"Nair, tidakkah kamu ingin melihat wajah gadis itu terlebih dahulu?" tawar Rahman pada Nair.


Pembicaraan dua arah itu bisa di dengar dengan jelas oleh gadis dibalik kain pembatas. Gadis yang duduk dengan meremas ujung jilbabnya. Gadis yang menunggu jawaban iya dari pria yang ia harapakan jadi suaminya itu.


"Tidak, Pakde." Jawab Nair pasti. "Aku tidak ingin membuat gadis itu berkecil hati. Aku tidak ingin gadis itu terluka harga dirinya karena penolakanku."


"Aku tidak ingin suatu saat ia malu saat bertemu denganku karena penolakanku ini."


"Jadi, lebih baik aku tidak pernah melihat wajahnya, Pakde."


"Sampaikan maafku pada gadia itu." Ucap Nair penuh kelembutan.


"Bagaimana jika gadis itu adalah putriku, Nair?" tanya Abi Rahardi yang tiba-tiba datang dan duduk bersila di samping Nair.


Nair berdebar, tapi ia sempatkan mencium punggung tangan pria itu. Pria yang menjadi benteng antara ia dan Naira.


"Bagaimana, Nair?" ulang Rahardi karena Nair tidak menjawab pertanyaan.


"Abi, tentu Abi tahu jawabannya karena sampai detik ini perasaan itu masih sama, Abi." Jawab Nair yakin. Ia teringat kata-kata Rion. Ia harus menerobos benteng bernama Rahardi ini.


"Kamu yakin bisa membahagiakan putriku jika seandainya aku memberikannya padamu."


"InsyaAllah yakin, Abi."


"Kapan kamu siap menikahi putriku?"


"Kapanpun Abi izinkan, saya siap." Nair menatap pria itu dan menunjukkan ekspresi tenang. Ia tidak ingin terlihat gugup atau takut lagi.


"Baiklah kalau kamu siap kapanpun."


"Bisakah kamu hubungi orang tua kamu, Nair? Akad nikah akan kita laksanakan setelah sholat Isya."


Nair terperangah tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2