
Nair perlahan mendekatkan wajahnya. Jangan tanya debaran jantungnya, sudah pasti bak lari marathon.
Alih-alih mencium kening istrinya, ia malah berinisiatif meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Naira dan membacakan doa yang telah ia hafal jauh-jauh hari.
Naira menghembuskan nafas lega. Bagaimanapun ia belum terbiasa bersentuhan fisik dengan Nair. Ditambah debaran jantungnya yang tak lagi bisa ia kendalikan.
"Wah, lebih milih mendoakan dari pada mencium nih suaminya," ucap pak penghulu membuat semua orang mengulum senyum. "Gak apa-apa. Ciumnya ngumpet di kamar aja ya, Mas."
Nair mengangguk malu.
Selanjutnya keduanya berkeliling menyalami orang tua mereka terlebih dahulu.
"Maafkan kesalahan Nair selama ini, Pa. Maaf membuat papa repot." Nair tak mampu membendung air matanya lagi.
"Kamu anak baik, Nair. Kamu tidak pernah merepotkan papa." Akhtar memeluk putranya yang terisak dengan bahu bergetar itu.
"Papa bahagia, Nair. Selamat, Nak. Selamat atas hasil dari semua perjuangan kamu." Akhtar memeluk putranya erat. Ia sangat bahagia atas pernikahan dadakan ini.
"Nai, terima kasih masih terus mencintai Nair, meski sulit sekali untuk bisa sampai pada titik ini, Sayang." Lintang terisak memeluk menantunya.
"Terima kasih, Ma." Naira balas memeluk Lintang dengan air mata yang juga tak dapat ia bendung.
"Terima kasih telah melahirkan pria sebaik Nair."
"InsyaAllah, Nai akan terus berada disamping Nair, Ma."
Nair memeluk Rahardi. "Terima kasih, Abi..." Nair lagi-lagi berguncang bahunya.
Nath sampai memalingkan wajah, tak sanggup melihat kembarannya menangis sebegitu pedihnya. Padahal tangis itu tangis bahagia.
Namun, Nath melihatnya sangat berbeda. Nath mengartikan itu adalah luapan rasa lelah Nair mengejar putri dari pria yang ia peluk itu. Sebuah perjalanan panjang dan perjuangan keras hingga akhirnya restu itu ia dapat.
"Nair, Abi titip Naira..." Rahardi memeluk menatu yang selama ini coba ia pungkiri kehadirannya.
Menantu yang dengan sabar menunggu kata Ya darinya. Menantu yang berulang kali ia tolak hanya karena alasan waktu.
Rahardi sadar, sekokoh apapun benteng yang ia bangun, akhirnya akan tetap roboh oleh kekuatan dan keyakinan cinta mereka.
"Bimbing dia, Nair."
"InsyaAllah, Abi. Nair dan Nai akan menggapai surganya Allah bersama-sama, Abi."
"Jangan sakiti dia, Nair. Dia berlian yang selama ini Abi jaga bahkan hanya dari sebutir debu."
Nair mengangguk berulang kali. "Nair akan jaga dia, Abi. Nair akan memperlakukannya sebaik mungkin, Abi."
Naira memeluk Uminya. "Jadi istri yang baik, Nai."
"Layani dan mengabdilah pada suamimu."
__ADS_1
"Turuti kata-katanya dan jadikan dia suami paling beruntung karena memiliki istri sepertimu, Nak."
"Iya... umi..."
"Terima kasih untuk dukungan Umi selama ini. Nai sayang Umi. Sehat-sehat, umi." Naira terisak dalam pelukan Uminya.
"Selamat kak." Tiara memeluk Naira. "Tandai milik masing-masing ya, Kak." Tiara terkekeh pelan demi mencairkan suasana yang sedari tadi terus mengharu biru.
"Nair! Ah! Abangku akhirnya!" Nath memeluk erat kembarannya.
"Sekarang baru inget manggil abang, ya Nath."
"Dari dulu gak pernah mau!" Nair meninju pelan lengan Nath saat keduanya saling melepas pelukan.
"Heheheh... Biar nanti anak-anak kita gak ribut pada nanya, siapa yang jadi abang, Pa?"
"Mereka akan faham dengan sendirinya saat kita pakai panggilan abang-adik."
"Ih, kok geli ya dengernya." Rion bergidik ngerih mengejek keduanya.
Nair dan Nath langsung menatap Rion tajam. Tapi anehnya ia malah merentangkan kedua tangannya. Sontak Nair dan Nath menubruk Rion dan ketiganya saling peluk.
"Nair, Selamat. Aku turut bahagia."
"Aku ikut!" Caraka tiba-tiba memeluk mereka dari belakang.
"Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa melihat keanehan mereka, kok."
Naira mengangguk malu. "Iya kak. Kayaknya harus mulai membiasakan diri, nih."
"Nai." Sambutan hangat datang dari Zoya. Orang yang beberapa hari lalu sudah membuat perasaannya terasa diaduk-aduk hanya dengan pertanyaan singkat Apa kamu merasa tenang selama menunggu waktu, Nai?
Naira menyambut pelukan itu. Selama ini ia tidak punya kakak ataupun adik. Tapi melalui Nair, ia punya dua kakak perempuan dan satu adik, yaitu Tiara.
Ya Allah, pelukan ini terasa begitu hangat. Naira kembali menumpahkan air matanya. Ia bisa melihat ketulusan dan keakraban teramat luar biasa dari keluarga ini.
"Kakak tau, kamu pasti berjuang untuk adikku."
"Selamat sayang."
"Abimu hanya manusia biasa."
"Hatinya akan luluh jika kamu memintanya dengan ketulusan, sayang."
"Iya kak. Terima kasih banyak kak."
Sementara itu, Akhtar dan Rahardi baru saja saling melepas pelukan mereka. "Maaf, Pak Akhtar. Saya terlalu lama membiarkan Nair menunggu."
Akhtar tersenyum lebar. "Tidak masalah Pak Rahardi. Biarkan itu menjadi ujian kesabaran bagi Nair. Biarkan itu menjadi bukti perjalanan rumah tangga mereka yang luar biasa."
__ADS_1
"Maaf juga karena mendadak memberi restu dan meminta mereka menikah dalam waktu sekitar satu jam."
"Saya harus benar-benar melakukan ini. Karena saya harus kembali ke Semarang besok pagi, Pak."
"Saya akan lebih tenang meninggalkan Nai dalam keadaan halal bersama Nair dari pada saya memberi restu tapi mereka belum halal, Pak."
"Saya mengerti, Pak. Terima kasih telah menerima Nair yang sangat keras kepala itu."
Rahardi tertawa. "Lebih tepatnya bertekad kuat, Pak."
"Wah, kalau itu saya setuju. Dulu saya juga begitu saat akan meminang mamanya anak-anak." Akhtar membuat Lintang tersipu malu. Padahal istrinya itu tengah berbincang dengan Uminya Naira.
Perhatian semua orang tertuju pada deretan mobil box dan beberapa sepeda motor dengan box dibelakang mereka.
"Alhamdulillah, makanan sudah sampai." Kalimat yang Zoya ucapkan membuat Akhtar menoleh pada putrinya itu.
"Zoy?" Akhtar tak tahu apapun perihal makanan yang datang saat ini.
Zoya mengangguk. "Sebagai rasa syukur, kita bagi-bagi rezeki, Pa."
Akhtar berdiri dan melihat sekeliling dimana orang-orang sedang tercuri perhatiannya oleh kendaraan yang baru saja masuk ke kawasan mesjid.
"Bapak, Ibu, adik-adik sekalian. Ini diluar sepengetahuan dan rencana saya. Tapi ada sedikit rezeki yang bisa kita nikmati bersama."
"Pak, mohon izin kita pakai teras samping mesjid sebagai tempat duduk untuk menyantap hidangan yang baru saja datang?" Akhtar meminta izin kepada Pakde Rahman.
Setelah diberi izin dan beberapa karyawan dari Arumi Resto serta EnZoy Your Kebab menurunkan puluhan box berisi makanan.
Sebelum berangkat, Zoya meminta kesemua cabang restorannya yang paling dekat untuk mengusahakan mengirim makanan ke tempat berlangsungnya akad nikah selambat-lambatnya 1 jam setelah azan Isya berkumandang.
Ternyata semua datang tepat waktu. Meski hanya makanan yang cepat untuk disajikan karena masalah waktu yang terbatas.
"Kak..." Nair memeluk Zoya saat wanita berhijab syar'i itu hendak keluar dari mesjid.
"Bahagia selalu, adikku." Mata Zoya mulai berkaca-kaca. Bagaimana bisa ia tidak menangis haru jika seorang adik yang ia sayangi akhirnya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.
Nair, Nath, dan Bi, entah apa perbuatan yang bisa Zoya lakukan demi membalas kerelaan mereka karena tidak sedikitpun keberatan kasih sayang orang tua mereka terbagi untuknya. Dari sanalah, Zoya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk keluarganya.
***
Othor, minta maaf gak bisa up teratur 😅
Tetangga sedang hajatan guys Jdi Othor ada disana, bantu2 sedikit 😂 Kalau disini bahasanya rewang 😂😂
Kalau di daerah kalian apa namanya guys😂
Dan jangan tanya emak bantu apa!
Cuma bantu pisahin lengkuas sama daging, biar yang kondangan gak pada kena Prank 😂
__ADS_1