EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 22 Kehilangan


__ADS_3

Rumah sakit.


Hampir semalaman Tiara terjaga. Ia tak bisa tidur hanya karena memikirkan nasip Nath, ayah dari calon anaknya yang telah tiada.


Nath, entah kemana dan dimana pria itu sekarang. Pria yang ngotot ingin tanggung jawab tapi menghilang bak di telan bumi.


Tiara menunggu pesannya, tapi tak kunjung datang. Dugaan demi dugaan justru datang silih berganti dalam pikirannya.


Semalaman orang tuanya serta Naura-adiknya tidur di rumah sakit, demi menjaganya. Tidak ada yang berbicara menyangkut masalah janin sedikitpun. Begitu pun Tiara yang masih ragu untuk bertanya.


Sesekali Tiara menangisi kepergian janin yang belum diakui itu. Ia semakin yakin janinnya tidak bisa di pertahankan karena ada rasa lembab dan tak nyaman dibalik celananya seperti saat ia tengah datang bulan.


Pagi ini, suster mengantarkan sarapan. "Selamat pagi, Mbak?"


"Pagi, Sus," balasnya sambil tersenyum.


"Sudah lebih baik nih kelihatannya."


"Alhamdulillah."


"Ini sarapannya. Ini obatnya. Jangan lupa diminum, ya."


"Terima kasih, Sus."


Dengan telaten Ibunya menyuapi Tiara makan. Keduanya masih saling diam. Ayah sudah pergi mengantar Naura ke sekolah. Kemarin malam, adiknya itu di jemput oleh Ezra dan di bawa ke rumah sakit.


Tiara mengunyah makanan dalam mulutnya dengan perasaan campur aduk.


Bagaimana bisa ayah dan ibu tetap bersikap seolah tidak terjadi apapun? Kenapa kalian masih begitu menyayangiku? Kenapa kalian tidak menunjukkan rasa marah sedikitpun.


"Obatnya, Ti." Ibunya memberikan beberapa butir obat untuk ia minum.


Hening...


Tiara terus memperhatikan ibunya yang membereskan nampan bekas makannya.


"Bu ... "


"Maaf." Tiara menunduk. Ia tak sanggup harus mengakui kesalahannya.


Bu Nurul menghela nafas. "Kamu sadar kamu salah, Ti?"


Tiara langsung mengangkat wajahnya. Menatap wajah wanita yang melahirkan dan merawatnya sampai detik ini.


Tiara menggigit bibir bawahnya dengan air mata yag membasahi pipi. "Tia salah, Bu. Tia salah. Tia minta maaf."


"Kamu merahasiakannya sampai akhirnya Allah kembali mengambilnya." Tiara melihat arah pandang ibunya. Ia mengerti yang dimaksud adalah janin dalam kandungannya.


"Itu artinya, kamu belum bisa mendapatkan kepercayaa besar itu."

__ADS_1


Tiara semakin terisak. Apa karena ini Nath pergi? Apa karena Nath kecewa sebab ia tak bisa menjaga calon anaknya? Bukankan Nath memang telah berpesan untuk menjaga calon anaknya?


Tiara menangis senggugukan. Ia tak lgi kuasa membendung air mataya. Kalau saja ia tak memancing amarah Reyfan, tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.


"Maka, mulai detik ini, perbaiki semua yang ada pada dirimu, Ti. Berusahalah menjadi manusia yang jauh lebih baik dan jangan mengulang kesalahan yang sama."


"Ibu memaafkanku?"


Bu Nurul mengangguk. "Ibu kecewa, Ti. Ibu marah. Ibu merasa gagal sebagai orang tua. Tapi, biar bagaimana pun melihat Nath yang tampak terpuruk, membuat Ibu yakin, dia benar benar tulus padamu."


Tiara tercenganga. Bang Nath terlihat terpuruk dimata ibu?


Tiara kembali menangis. Dia terpuruk karena calon anaknya, Bu. Bukan karena Tia.


Tiara teringat ucapatan Nath di kereta api beberapa hari lalu.


*Tetaplah hidup bersama janin ini, Ra.


Atau aku akan menyesal untuk ke sekian kalinya*.


"Bu, kami tidak saling mencintai, Bu. Bang Nath pasti terpuruk karena janin di rahim Tiara sudah tidak ada lagi," ucap Tiara lirih.


Bu Nurul mengelus kepala putrinya. "Ibu gak tau Ti, bagaimana kamu bisa mengandung anak dari pria yang tidak kamu cintai."


"Apa hanya demi menghindari Reyfan, Ti?"


Tiara menggeleng. Ia tak sengaja melakukan semua itu. Justru setelah kejadian itu ia baru kepikiran menjadikan tanggung jawab Nath sebagai alasan untuk menolak.


"Iya Bu."


****


Sementara itu, Nath tengah berjalan memasuki area rumah sakit. Ia datang sendirian, ia tak sangguo lagi menunggu lebih lama. Jadi, pagi ini ia segera meluncur ke rumah sakit setelah meminta izin pada orang tuanya.


Nath sempat bertemu ibunya Tiara di parkiran, dan ia diizinkan untuk bertemu Tiara.


"Tolong jaga dia sebentar, Ya Nath. Ibu mau beli sarapan dulu."


Nath melihat kantong plastik bawaannya, ia menyesal kenapa tidak membawa makanan untuk sarapan ibunya Tiara. Ia malah hanya membawa buah.


"Saya belikan saja, Bu. Ibu balik lagi aja ke kamar Tiara."


"Gak perlu, Nak. Sekalian ada yang mau ibu beli di sana." Tunjuknya pada salah aatu minimarket.


Nath akhirnya masuk ke dalam dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah, sedih dan marah kembali menyelimuti hatinya.


Ia sempat bertanya pada Bu Nurul di mana ruangan rawat Tiara. Dan ia bisa menemukannya dengan cepat.


"Ceklek."

__ADS_1


Nath membuka pintu dan ia bisa melihat Tiara tengah berbaring setengah duduk, karena posisi ranjangnya diatur sedemikian rupa.


Tiara bisa melihat Nath datang. Padahal ia baru minum obat dan mulai mengantuk. Tapi melihat Nath yang datang, rasa kantuk itu hilang begitu saja.


Tiara berusaha untuk duduk. Nath yang melihatnya kesulitan langsung berlari dan membantunya. "Hati-hati, Ra."


Hembusan nafas Nath terasa hangat menyentuh pelipisnya. Tiara menatap pria yang sejak beberapa hari lalu membuat perasaannya menjadi tak menentu.


Dia sejenak melupakan Reyga demi membayangkan hidup berumah tangga dengan


pria yang tidak ia cintai.


Dia juga membayangkan bagaimana rasanya menjadi ibu muda yang menggendong bayi.


Mata Nath mulai berkaca-kaca, melihat pelipis Tiara yang di perban, melihat pipinya yang terluka akibat goresan aspal. Dan matanya tertuju pada perut Tiara yang sudah tak ada lagi janin di dalamnya.


Tiara juga mulai berkaca, melihat wajah Nath yang penuh luka lebam. Siapa yang menghajarmu, Bang? Apa orang-orang salah faham padamu hingga kamu dihajar begini?


"Bagaimana keadaanmu, Ra?" tanya Nath dengan penuh kelembutan. "Maaf aku tidak bisa menjagamu dan mereka..."


Tiara diam, dan dia mulai mencerna ucapan Nath. "Mereka?"


"Twin." Nath menatap perut Tiara. "Mereka..." Nath meneteskan air matanya tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Twin?" Tiara mengulang perkataan Nath.


Nath mengangguk dan Tiara menunduk memegang perutnya. Bahunya bergetar, ia memumpahkan segala kesedihannya.


Pantas saja bang Nath terlihat terpuruk, dia tidak hanya kehilangan satu calon anaknya, tapi dua. Maafkan mama yang tidak bisa menjaga kalian, sayang.


"Aku membunuh mereka... Hiks... hiks... Maafkan aku, Bang. Aku ... aku tidak ... bisa menjaga ... mereka," ucapnya di tengah isak tangisnya.


"Ssst!" Nath mengelus pucuk kepala Tiara. "Bukan salah kamu, Ra. Semua ini adalah takdir, semua sudah diatur sama Allah."


Tiara menatap Nath dengan mata sembabnya. "Kamu gak marah?"


Nath tersenyum, "Aku marah pada diriku sendiri, karena tidak bisa menjagamu dan mereka."


"Maaf kan aku, Ra."


"Semua ini gara-gara kak Reyfan. Iya! Gara-gara dia. Dia yang mendorongku, Bang. Aku benci dia. Aku benci dia." Tiara berteriak histeris.


Nath memeluk Tiara erat. "Ra, tenang Ra. Tenangkan dirimu. Dia memang salah, tapi fikirkan kesehatanmu, Ra. Jangan membuatnya bahagia dengan kondisimu yang semakin terpuruk, Ra."


"Ikhlaskan, Ra. Ikhlaskan," bisik Nath pelan.


Tiara mulai tenang. Dan Nath terus memeluknya.


"Maafkan aku," lirih Tiara.

__ADS_1


"Kamu gak salah, Ra."


__ADS_2