
Ceklek...
Pintu dibuka dan sepasang insan beda usia masuk dalam ruang rawat Tiara.
"Pelukan teruuuuus!" Suara Rion membuat Nath dan Tiara melepas pelukan mereka. Tiara langsung menyeka air matanya.
"Ck!" Nath berdecak. "Ngapain? Gak pada ngampus?" tanyanya pada kakak dan abang iparnya.
"Libur dong," jawab Rion sambil memberikan parcel buah yang ia bawa.
Dengan wajah masam, Nath membawa parcel Rion dan buah yang ia bawa tadi, yang masih tergeletak di atas ranjang Tiara ke meja dekat sofa. Rion menyusulnya dan mereka duduk berdua di sofa yang letaknya tak terlalu jauh.
"Bagaimana keadaanmu, Ra?" tanya Bi yang duduk di kursi sebelah ranjang Tiara.
Tiara yang menunduk langsung mengangkat wajahnya menatap Bintang. "Sudah lebih baik, Kak." Tiara kembali menunduk. Ia malu untuk menatap orang-orang. Karena aib yang ia sembunyikan pasti sudah di ketahui oleh mereka semua.
Hening...
Tak ada obrolan lagi, Rion dan Nath bahkan fokus pada ponsel mereka masing-masing.
"Maafkan Nath, ya Ra." Bintang memecah keheningan dengan permintaan maaf, membuat Tiara langsung menantapnya.
"Kak ... "
"Nath yang salah."
"Aku juga kak," balas Tiara. Bagaimana mungkin semua keluarga Nath meminta maaf.
Kebisuan kembali mendominasi. "Kakak tau, kamu belum siap untuk situasi seperti ini."
Tiara menatap Bintang dengan mata berkaca-kaca karena keluarga Nath sama sekali tidak memojokkan dan menuduhnya seperti yang ia takutkan selama ini.
"Kak, maaf karena Tia semuanya jadi-"
"Ssst! Jangan salahkan dirimu," potong Bintang.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan dan semua orang pernah berbuat dosa, Ra."
"Tapi ingin memperbaiki keadaan atau membiarkannya tetap salah, itu pilihan."
"Dan kamu harus memilih. Bangkit dan melanjutkan hidup serta memperbaiki segalanya atau terus terpuruk dan membiarkan masalah ini berlarut-larut." Bintang mengelus lengan Tiara.
Tiara meneteskan air mata. "Kamu masih muda, Ra. Masa depan kamu masih panjang."
Tiara mengangguk berkali-kali. Bintang berdiri dan memeluknya. "Terima kasih, Kak."
"Terima kasih atas kebaikan keluarga kalian, Kak."
Bintang mengurai pelukannya dan menatap Tiara lekat-lekat. "Sudah siap masuk dalam keluarga Alvarendra?"
Tiara diam saja. Ia belum faham maksud perkataan Bintang.
"Kok diem?" tanya Bintang. "Sudah siap belum, jadi menantu di keluarga Alvarendra?"
Tiara melihat Nath yang juga sedang menatapnya. Sedari tadi Nath memang mendengarkan pembicaraan mereka.
Bintang melihat arah tatapan Tiara. "Bicara lewat mata, Nath?"
__ADS_1
Pertanyaan Bintang berhasil membuat Nath dan Tiara memutus tatapan mereka. Nath terkesiap.
"Kak ... "
"Kalian akan tetap menikah." Ucapan Tiara lagi-lagi terpotong oleh Bintang.
"Kami ..."
"Tidak saling mencintai?" tanya Bintang dan Tiara mengangguk, menandakan jawabannya adalah iya.
Bintang tersenyum. Ia kembali duduk di kursinya. "Cinta itu bisa datang karena terbiasa bersama, Ra."
Tiara diam dan menyimak apa yang akan Bintang katakan. "Zoya jatuh cinta pada Ezra karena apa? Karena mereka bertemu setiap hari."
"Kamu tanya Rion, dia mencintaiku karena apa?" Bintang menunjuk Rion.
"Karena cantik," jawab Rion cepat tanpa beralih dari ponselnya.
"Ck! Sayang!"
Rion meletakkan ponselnya dan menatap Bintang. "Karena terbiasa melihatmu dari bayi, Yang."
Bintang tersenyum puas. Nath bahkan tertawa tanpa suara. Bayi udah ngerti jatuh cinta?
"Tapi, kisah kami terlalu rumit, Kak."
Bintang tertawa pelan. "Bicara soal rumit, Ra. Keluarga kami jauh lebih rumit bahkan saat Nath belum dilahirkan." Bintang menunjuk Nath dengan telapak tangannya yang terbuka.
Bintang mengambil ponselnya. Ia menunjukkan foto keluarga besarnya.
"Ini mama dan papa." Bintang menunjuk foto Lintang dan Akhtar. Tiara mengangguk mengerti.
"Ini dan ini siapa? Kamu kenal kan?"
Tiara berfikir sejenak. "Om ... Satya dan tante Bunga. Orang tua Shaka?" Tiara kenal karena beberapa kali bertemu mereka pada beberapa acara keluarga.
"Yes... Kamu tau? Ayah Satya adalah kakak dari mantan istrinya papa." Tiara kembali mengangguk. "Bunda Bunga, adalah adik dari mantan suami mama."
Tiara mendelik tak percaya. Selama ini ia hanya tau Satya adalah kakak dari mamanya Zoya. "Jadi mama kak Zoya itu mantan istri om Akhtar tapi kak Zoya bukan anaknya?"
Bintang mengangguk. "Karena kesalahan, papaku dan Zoya adalah orang yang sama."
"Kayak tukaran pasangan gitu kak?" tanya Tiara antusias.
Bintang tertawa pelan. "Bisa dibilang gitu sih."
"Kamu tau? Berapa lama ayah Satya menunggu untuk bisa bersama bunda Una?"
Tiara menggeleng. "Tujuh tahun."
Tiara mendelik. Bintang malah tertawa. "Perjalanan panjang kan?"
"Kamu tau mereka?" Bintang kembali menunjukkan dua orang dalam foto itu.
"Om Langit dan tante ... Rara?"
Bintang mengangguk. "Om Langit, adiknya mama. Tante Rara dulu adalah karyawan mama. Mereka juga cinta karena sering bertemu."
__ADS_1
"Kamu perlu tau, Om Langit menunggu tante Rara lebih dari lima tahun, loh." Bintang mengangkat satu tangannya dan membuka kelima jarinya.
"Lima tahun?"
"Ya, lima tahun. Om Langit menunggu tante Rara mulai kuliah, sampai bisa punya butik sendiri."
Tiara menatap Bintang tak percaya. Keluarga mereka hidup dalam kisah yang tidak biasa jauh dari yang ia kira.
"Jadi, Ra. Intinya adalah keluarga kami, kisah kami, jauh lebih rumit dari kalian."
"Tapi kisah kami berawal dari kesalahan."
Rion tertawa. "Kenapa sayang?" tanya Bintang pada suaminya.
"Dia gak tau aja, Yang. Kita juga dulu begitu. Hahaha." Rion tertawa mengingat perjalanan cintanya yang sama sekali tidak mulus.
"Kamu lihat, Ra? Rion bahkan sampai tertawa mengingat bagaimana kisah kami dulu."
"Ada apa dengan kisah kalian, kak?" tanya Tiara. Dia justru melihat Bintang dan Rion sebagai couple goals. Pasangan romantis seperti yang ia dambakan selama ini.
Bintang tertawa. "Udah deh, kakak gak mau cerita. Iya kali bongkar aib sendiri."
"Kamu kalau mau tau, tanya Nath. Dia itu the best prajurit. The best bodyguard, dan the best tembok penghalang antara aku dan Bintang, Ra," sambar Rion.
"Ya, walaupun kerja sama sih sama Nair."
"Dan kamu tau? Tadi malam aku terus-terusan senyum."
"Kenapa, bang?"
"Ya karena dia dulu menghajarku habis-habisan. Dan sekarang dia dihajar sama bang Ezra. Puas aku tuh. Hahahah."
"Hap." Rion dengan cepat menangkap jeruk yang Nath lempar.
"Ketawa terus! Ejek terus!" gerutu Nath.
Jadi, bang Ezra yang membuat wajahnya babak belur begitu. Batin Tiara.
"Mumpung ada kesempatan, Nath. Hahahah."
"Ceklek."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Lintang, Akhtar, Zoya dan Ezra masuk kedalam.
"Pada ngetawain apa, sih? Berisik banget," tanya Lintang.
"Tuh." Tunjuk Bi pada Nath dengan bibirnya.
"Wiiih, make up dimana Nath?" tanya Ezra bercanda. Ia sudah tau akar masalahnya. Ia sudah tau kondisi yang sebenarnya. Hingga hanya menyalahkan Nath bukanlah merupakan hal bijak. Karena kesalahan juga ada pada Tiara.
"Dih, MUAnya pura-pura lupa," cibir Nath pada abang iparnya itu. Semua orang tertawa saat Nath menyebut Ezra sebagai make up artisnya.
****
Siapkan kebaya buat kondangan guys 😘
__ADS_1
Jejak kalian jangan lupa 😚😚😚