
Beberapa hari berikutnya, Nath dan Tiara sedang berada dalam mobil Akhtar. Keduanya baru saja mampir di sebuah toko untuk membeli balon dan beberapa perlengkapan penyambutan baby Zi yang akan pulang ke rumah hari ini.
Nath dan Tiara tiba di rumah baru Ezra. Sangat mewah dan letakknya tak jauh dari komplek perumahan tempat Akhtar dan Lintang tinggal.
"Pasang disana, Nath!" perintah Bintang pada Nath untuk memasang spanduk besar bertuliskan Welcome home baby Zi.
"Tiara! Kamu duduk disana! Jangan kemana-mana!" Bukannya melakukan yang kakaknya perintahkan, Nath malah menghampiri Tiara yang berjalan kearah dapur.
Tiara sedari tadi duduk di sebelah Bintang. Membantunya memompa balon untuk dekorasi.
"Aku mau minum," sahut Tiara memasang wajah cemberut. Ia sangat jengah melihat Nath yang terlalu membatasi ruang geraknya. Padahal lukanya sudah sembuh dan kondisi rahimnya sudah membaik. Bahkan darah nifas yang keluar hanya sedikit.
"Nath! Jangan pacaran terus!" Teriak Bintang.
"Iya kak. Iya." Nath kembali melakukan tugasnya, memasang spanduk.
"Tiara cuma ke belakang, gak ada buaya darat sepanjang ruang tamu hingga ke dapur." Sindir Bintang pada adiknya.
"Kakak kamu benar Nath!" Rion ikut-ikutan. "Dia udah terlanjur terjebak dengan buaya rawa. Hahahahah."
Nath tak menanggapi candaan Rion. Ia malah sibuk memasang spanduk di dekat tangga. Ia tahu, buaya rawa yang Rion maksud adalah dirinya.
Bintang, Rion, Nair, Shaka, Lovely dan papa Akhtar dan ayah Satya terbahak melihat Nath yang merasa tersindir.
"Bersiap!" Perintah Bintang pada semua orang saat ia sudah mendapatkan pesan dari mamanya bahwa mereka sudah hampir sampai.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu, pintu terbuka.
"Welcome home baby Ziiiiii....."
Zoya dan Ezra membulatkan mata tak percaya. Zoya menggendong baby Zi seperti kangguru dan segera menutup telinganya saat mereka bersorak.
"Sssttt! Volume kita kurangin dikit." Bintang terkekeh. "Yang mulia Baby Zidane Ganendra bin bapak Ezra Ganendra sedang bobok ganteng rupanya."
"Lengkap banget, Bi." Ezra terkekeh.
"Harus dong!"
Bintang mendekat dan mengintip wajah baby Zi yang tersembunyi di antara dada dan baju Zoya. "Boboknya anteng banget sayang."
"Imut banget sih. Kayak kangguru." Lovely gemas melihat baby Zi yang tenang dalam dekapan mamanya.
Baby Zi di gendong di dalam gamis yang Zoya gunakan, tujuannya adalah agar ia tetap hagat karena suhu tubuh mamanya.
"Lihat dong, masih ganteng kayak om Shaka gak?" Shaka dengan penasaran ikut mengintip wajah baby Zi.
"Shaka... Biar baby Zi sama kak Zoy istirahat di kamar!" Suara bunda Una bak aba-aba pemimpin barisan.
Semua minggir memberi jalan pada Zoya dan Ezra. "Udah mirip bapaknya lagi, Ka." Ucap Ezra saat melewati Shaka.
"Alhamdulillah! Om Shaka gantengnya gak ada yang nyamain." Shaka berlagak sujud syukur.
"Dih! Udah narsis, norak lagi!" Sindir Nath. "Pemenang kuis dua milyar aja gak begitu banget reaksinya."
"Ah, buaya rawa. Ikut campur aja!" balas Shaka membuat mereka tertawa senang.
"Bisa diganti gak, buaya rawa kurang pas aja gitu! Buaya emol kek, buaya aparteme kek!" Tawar Nath tak tahu diri. Cocoknya ia disebut buaya kurang pengalaman.
"Buaya komplek," potong Tiara cepat, dan mereka semua kembali terbahak.
"Semoga kalian berjodoh sampai lansia." Doa Bintang tulus.
__ADS_1
"Amiiiiiiiiiiinnnnnn!" Bintang terkejut saat dengan kompak seisi ruangan ini mengaminkan doanya.
Nath mengantar Tiara pulang, sepanjang perjalanan keduanya saling diam.
"Hari minggu nanti, kita pergi ya. Aku mau tepati janjiku sama Naura."
"Janji apa?"
"Ada deh." Nath mengerling.
"Sok ganteng," cibir Tiara.
"Kalau gak ganteng kamu gak mau. Wleeeh," Nath menjulurkan lidahnya.
Tiara membuang muka. Ia ingin marah tapi juga ingin tertawa.
"Lihat sini, Ti. Titi, lihat sini. Aku tau kamu mau ketawa." Nath tertawa di akhir kalimatnya.
"Isssh! Kamu ngeselin banget sih, Bang!" Tiara memukul lengan Nath berkali-kali sampai ia capek sendiri. Sedangkan Nath terus tertawa.
Tiara duduk diam melihat jalan raya setelah penyerangannya justru membuatnya kelelahan.
"Tiara ...."
"Hem ...."
"Satu lagi, Ti."
"Apanya?" Tiara menatap Nath.
Nath menyugar rambutnya sambil mengerling. "Dan mempesona."
"Kan, ngeselin lagi!" Tiara cemberut dan tak menatap Nath lagi.
"Ku aduin papa baru tau rasa. Biar beneran di tambah nama tengah kamu, Bang."
"Cieee.... yang udah panggil papa."
Tiara menunduk dan tersipu malu. Setelah lamaran itu, Tiara sudah diharuskan memanggil Akhtar dan Lintang dengan sebutan papa dan mama. Supaya ia terbiasa setelah menikah nanti.
****
Hari minggu ...
Tiara sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja putih yang ia gulung sampai kesiku.
Naura memakai jeans selutut dan kaos yang juga berwarna putih. Keduanya menunggu Nath di teras rumah. Nath berjanji akan membelikan sesuatu untuk Naura.
Nath berjalan memasuki gang rumah Tiara. Sebenarnya mobil bisa masuk kedalam hanya saja sulit mencari tempat parkir karena lokasinya sangat sempit.
"Kok jalan, bang?" tanya Tiara.
"Iya, bawa mobil soalnya," jawab Nath, pria yang memakai kaos putih dan jenas berwarna senada dengan yang Tiara pakai.
Mereka tidak janjian memakai pakaian dengan warna yang sama seperti ini. Tapi karena warna kesukaan mereka yang sama. Tiara suka putih dan biru. Nath suka atasan putih dan hitam.
"Kita pamit ayah sama ibu, dulu."
"Udah pada pergi, Bang," jawab Naura.
"Kemana, Ra?" tanya Nath pada Naura.
__ADS_1
"Gak tau, katanya mau beli sesuatu."
"Kita berangkat sekarang?"
Mereka bertiga berjalan menelusuri gang. Naura sudah lebih dulu berjalan di depan mereka. Hanya 50 meter, tidak terlalu jauh tapi para tetangga tak henti menggoda Tiara. Membuat gadis itu tersipu malu tapi tetap menanggapi candaan mereka.
"Gak salah pilih, ya Ti."
"Gak milih mbak. Tapi kepilih."
Kepilih takdir. Batin Nath.
"Kayak artis ya, Ti."
"Alhamdulillah mpok. Foto bareng, sepuluh rebu kalau mau." Tiara membuat wanita yang ia panggil mpok itu tertawa.
Nath tersenyum mengangguk menyapa lawan bicara Tiara. Ada aja, dia jadiin aku lahan bisnis. Batin Nath lagi.
"Baek-baek Ti, musim pelakor nih."
Tiara menatap wajah Nath sekilas. "Makasih Nyak, udah ngingetin."
"Katanya kembar ya. Awas salah masuk kamar, Ti."
"Paswordnya beda, mbak." Tiara tertawa pelan.
Ada aja jawabannya nih anak.
Menurut Nath melewati gang sepanjang 50 meter saja rasanya seperti artis yang dikelilingi wartawan. Dan Nath bisa bernafas lega karena ia saat ini sudah duduk di balik kursi kemudi.
Ting!
Notifikasi dari bank masuk ke ponselnya.
Deretan angka dengan jumlah nol yang cukup banyak membuatnya terheran.
Papa transfer uang sebanyak ini?
Ting!
Pesan Wa masuk ke ponselnya.
Papa
Pilih cincin yang Tiara suka.
^^^Terima kasih pa.^^^
Nath melajukan mobilnya kesalah satu pusat perbelanjaan. Naura yang duduk di kursi belakang tampak ceria. Ia terus menatap jendela yang manyajikan pemandangan gedung-gedung bertingkat.
"Seneng banget, dia?" Nath mengajak Tiara bicara.
"Dia emang begitu. Suka banget kalau diajak jalan naik mobil."
"Biasanya diajak siapa?"
Pertanyaan dengan tujuan lain. Yaitu memastikan tidak ada pria lain sebelum dirinya.
"Bang Ezra, doang." Nath bernafas lega.
"Pernah juga sama kak Zoya."
__ADS_1
"Kak Zoy?"
Tiara mengangguk. "Cuma sama Naura doang sih. Sekalian jemput bang Ezra di mall."