
Sementara itu di rumah keluarga Dirgantara.
"Mama tidak mengerti, kenapa kamu tega melakukannya, Fan," ucap Reni tegas yang tengah berdiri di samping suaminya.
Saat ini, mereka sedang berada di ruang kerja Rendi Dirgantara - ayah Reyfan dengan Reyfan yang tengah duduk menunduk di depan mereka.
Siang tadi, kasus kecelakaan Tiara diselesaikan secara baik-baik oleh beberapa pihak, yaitu pengemudi mobil yang tanpa sengaja menabrak Tiara, Nath dan juga Reyfan.
Jalan damai dipilih Nath dengan alasan, jika kasus dilanjutkan maka kabar Tiara keguguran akan menyebar luas. Hal itu ia takutkan akan menambah tekanan psikis bagi Tiara.
Reyfan, sulit memang memaafkannya. Tapi Nath dan Tiara harus ikhlas karena keputusan damai sudah dipilih.
Reyfan tidak datang, ia diwakilikan oleh pengacaranya, sementara Nath datang bersama Langit dan pengacaranya.
Sejak di rumah sakit dan mendadak harus pergi, Reyfan tidak lagi menemui Tiara. Ia belum punya nyali untuk itu.
"Reyfan gak sengaja, Bun," ucapnya lirih.
"Bunda gak mau tau. Kamu harus minta maaf dan temui mereka."
Reyfan langsung mengangkat wajahnya menatap wajah ibu sambungnya itu.
"Kamu sudah mengambil dan merusak kebahagiannya, Fan. Dia sampai kehilangan janin dalam kandungannya."
Reyfan menatap bundanya lekat-lekat. Jadi dia benar benar hamil dan sekarang sudah keguguran?
"Janin itu hasil zina, Bun."
"Reyfan cukup," bentak Rendi. "Mau bagaimana pun, itu bukan urusan kita."
"Tapi Tiara sudah berjanji pada almarhum Reyga, Yah. Dia sudah berjanji akan menjadi menantu di keluarga kita."
"Dengarkan Ayah, Fan."
"Tiara berhak memilih masa depannya. Dia berhak menentukan dengan siapa dia akan menikah."
"Tapi janji itu?" tanyanya pelan.
"Kamu ingat? Reyga selalu mengutamakan kebahagiaannya. Dan jika dengan pria itu dia bahagia. Maka bunda yakin, Reyga akan mengerti."
Reyfan diam dan berfikir. Bagaimana caranya agar Tiara tetap menikah dengannya. "Janinnya sudah tidak ada kan, Bun? Dan pasti pria itu sudah meninggalkannya dan tidak akan menikahinya."
Reni dan Rendi saling padang. Keduanya berfikir, mungkin saja hal itu terjadi, bukan?
"Lamar dia untuk Reyfan, Bun. Hanya keluarga kita yang bisa menerima kondisinya," minta Reyfan pada bundanya.
"Kamu bisa menerima dirinya yang sudah tidak gadis lagi?" tanya Reni.
Reyfan mengangguk. Demi warisan Reyga, Bun. Aku tidak akan membiarkan hartanya yang sebanyak itu diserahkan kepada yayasan amal.
"Kita akan kesana besok malam," ucap Rendi memberi keputusan.
Reyfan tersenyum senang. Menurutnya, Tiara tidak mungkin menolak kedua orang tuanya yang sudah berbaik hati pada Tiara.
***
Pagi harinya, di rumah keluarga Alvarendra.
"Nath, mau kemana pagi-pagi?" tanya Lintang saat melihat Nath sudah berpakaian rapi dan duduk di meja makan bersama Nair dan Akhtar.
"Mau ke rumah sakit, Ma. Hari ini Tiara udah bisa pulang."
__ADS_1
Akhtar dan Nair menatapnya penuh selidik. Papa dan kembarannya itu sedang mencari tau, apakah Nath melakukannya karena cinta atau terpaksa.
"Kenapa menatap Nath, begitu?" tanya Nath pada kedua orang pria di meja makan.
"Nyari cinta," sambar Akhtar.
"Cinta? Ngaco!"
"Cinta yang bersembunyi dibalik topeng tanggung jawab dan masih berkelahi dengan prinsip anti bucin," ucapan Nair membuat semua orang menatapnya. Ia tak pernah banyak bicara, dan pagi ini?
"U ... waw ..." seru Nath. "Seorang Nair bicara tentang cinta?" ucapnya penuh antusias. "Emejing Nair, emejing." Nath tersenyum miring.
"Memangnya ada apa? Apa cuma Rion dan Ethan yang boleh menyebut kata cinta, Nath?"
Nath menatapnya remeh, ia menghabiskan segelas susu dan langsung berdiri dari kursi.
Nath berjalan meninggalkan ruang makan. Ia berbalik dan berjalan mundur menatap kembarannya itu. "Nair, ayolah. Kamu dan Naira juga masih stuck di friend zone. Hahahaha."
Nair menunduk saat Akhtar menatapnya. Ia memang tidak pernah membahas masalah Naira-gadis yang membuatnya belajar banyak ilmu agama.
"Gak sarapan, Nath?"
"Nanti aja, Ma di rumah sakit," teriak Nath sebelum menghilang di balik pintu.
"Sarapan di rumah sakit? Dia mau makan buburnya Tiara, Mas? Anak kamu tuh, kelakuannya ada-ada aja," gerutu Lintang pada suaminya yang masih fokus pada Nair.
"Kamu mau nikah juga, Nair?" Pertanyaan Lintang membuat Nair terkesiap.
"Kalau iya, biar papa urus sekalian berkasnya. Biar gak bolak balik," sambung Lintang sedikit menahan marah. Bagaimana bisa, urusan Nath belum selesai dan Nath malah membahas hubungan Nair yang masih stuck.
"Eng... enggak Ma."
"Jangan enggak-enggak. Nanti sebulan Nath nikah, awas kamu kalau minta nikah juga," omel Lintang.
"Janji, mama. Nair janji mau lulus kuliah dan kerja dulu, Ma."
"Bagus. Calon dokter gak boleh jadi playboy, Nair. Jangan main-main sama yang namanya perempuan, Nair. Lulus kuliah dulu, dan jadi pria mapan. Jangankan Naira, abi sama uminya juga bakal jatuh cinta sama kamu."
"Cukup Nath saja yang membuat mama kecewa, Nair. Kamu jangan."
"Lin ...." Akhtar meminta istrinya untuk berhenti membahas Nath karena Lintang mudah sekali terbawa emosi saat mengingat kesalahan Nath.
"Ma... " Nair bangun dan memeluk Lintang yang duduk di kursinya. "Nair janji, Ma. Dan mama maafkan Nath ya, Ma."
"Ridhoi dia, Ma. Doakan dia, karena doa mama pasti akan Allah kabulkan, Ma."
Lintang meneteskan air mata. "Mama kecewa sama Nath, Nak. Tapi mama gak bisa marah sama dia. Mama takut dia semakin terpuruk dan kembali melakukan kesalahan."
"Lin, tenang ya. Kita doakan dan bimbing Nath terus." Akhtar ikut memeluk Lintang.
Sementara itu, diluar, dibalik pintu besar itu, Nath terpaku mendengar semua pembicaraan mereka. Ia dengan jelas mendengar bagaimana Lintang mengungkapkan semua perasaannya.
Nath sebenarnya ingin kembali masuk untuk mengambil jaket di kamarnya. Namun, ia urungkan dan langsung berangkat menuju rumah sakit menggunakan mobil Akhtar yang sudah dipanaskan lebih dulu oleh mang Joko.
Nath tiba di rumah sakit. Ia membuka pintu dan melihat Tiara sedang duduk di atas ranjang.
Tiara yang mendengar pintu dibuka langsung menatap kearah pintu. Ia tersenyum canggung saat melihat Nath yang tampak keren meski hanya dengan balutan jeans panjang dan kaos berwarna hitam.
"Sendirian, Ra?" tanya Nath yang baru masuk dan langsung duduk di kursi sebelah ranjang Tiara.
"Iya, ayah sedang mengurus berkas menyangkut kepulanganku."
__ADS_1
"Ibu kemana?" tanya Nath.
"Ibu pulang, katanya mau bersih-bersih rumah sama kamarku."
Nath mengangguk kan kepala. "Bosen ya disini?"
"Banget." Tiara mencebikkan bibir.
Pintu dibuka dari luar dan ayah Tiara masuk kedalam. "Nath, sudah sampai?" Ayah Tiara sedikit terkejut.
"Iya, Pak. Baru aja kok."
"Ayah mau ke kantin dulu, Ti. Kamu baru bisa pulang satu jam lagi."
"Loh, gak sekarang, Yah?"
"Enggak..."
"Ini Nath bawa bubur, Pak. Makan disini aja." Nath menunjukkan tiga porsi bubur ayam yang sempat ia beli di jalan.
Ayah Tiara mendekat dan mengambil sekotak bubur. "Ayah bawa ke kantin, ya Nath."
"Loh, gak makan disini aja, Pak?"
"Tadi udah janjian sama teman, gak enak. Titip Tia sebentar ya."
Nath mengangguk dan tersenyum.
"Siapa yah? Teman sekolah yang ayah ceritakan? Yang istrinya dirawat disini yah?"
"Iya, Ti." Ayah Tiara segera keluar dari ruangan ini, meninggalkan Nath dan Tiara berdua.
"Kamu udah sarapan?" Tiara mengangguk.
"Aku sarapan dulu, ya."
Nath membuka seporsi bubur ayam dalam kotak styrofoam. Ia tetap makan di kursi itu, karena di nakas sudah ada minuman botol yang juga ia bawa.
"Mau?" tawarnya pada Tiara yang sedari tadi memperhatikannya memakan bubur.
Tiara diam. Dia ingin, tapi tidak lapar. Kalau seporsi yang tersisa ia buka, maka sisanya pasti akan terbuang.
Nath menyodorkan sesendok bubur kedepan mulutnya. Tiara menatap Nath. Dan Nath mengangguk. "Buka mulutnya."
Tiara menuruti perintah Nath, dan suapan pertama masuk ke mulutnya. Rasanya enak dan cocok di lidahnya.
"Udah gak mual lagi, Ra?" tanya Nath disela-sela makannya.
"Udah gak lagi. Kan pemicunya udah gak-"
"Udah, jangan diingat-ingat lagi kalau cuma buat sedih," potong Nath.
Meski tidak tau tentang perasaannya pada Nath dan juga tidak tau tentang perasaan Nath padanya, Tiara tetap bersyukur. Nath mengerti posisinya, Nath tidak pernah menyalahkannya dan Nath sama sekali tidak mengurangi perhatian untuknya.
Sama seperti saat di Jogja, saat masih ada janin yang Nath harapkan tumbuh dengan baik. Saat ini pun perlakuannya terhadap Tiara masih sama.
"Jangan melihatku lebih dari lima detik."
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Entar jatuh cinta."
__ADS_1
Tiara langsung membuang muka dan mencibirnya. "Always pede berlebihan."
Dan Nath tertawa pelan.