EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 9 Hamil


__ADS_3

Rumah Danadyaksa.


Acara tujuh bulanan Bintang baru saja selesai. Mereka semua duduk berkumpul di dalam rumah besar itu. Ada keluarga Bintang dan keluarga Rion.


Nair, Nath dan sepupu mereka, Shaka dan Caraka memilih bermain game. Nair duduk diatas karpet dengan kedua tangan memegang ponsel. Caraka bersandar di dinding dengan satu kaki diluruskan dan satu lagi menekuk lututnya keatas. Nath, telungkup dengan bantal sofa di dadanya. Sementara Shaka telentang disebelah Nair.


"Tiara kemana, Zoy? Kok gak ikut? Hari ini rumah baca kan tutup." tanya Bintang pada Zoya saat tak melihat sosok Tiara. Nath diam-diam mendengarkan ucapan kakaknya itu.


Tiara saat ini menjadi prioritasnya tanpa ia sadari. Seluruh pikiran dan hatinya kini terfokus pada Tiara karena gadis itu pelit informasi dan kabar padanya.


Pesan dan panggilannya jarang direspon. Tiara bahkan lebih cocok jika dikatakan menghindarinya.


"Gak enak badan dia, Bi. Tiduran terus dari pagi."


Deg!


Dia sakit? Batin Nath.


"Anterin makanan sana, Nath!" Perintah Bintang pada Nath.


"Nanti kak," sahutnya singkat. Padahal pikirannya melayang entah kemana.


"Iya, Bi. Sore ajalah, sekalian anterin dia ke rumah orang tuanya. Soalnya aku mau menginap di rumah mama."


"Dia sempat bilang tadi, kepengen pulang ke rumaha ayah, Ibunya. Tapi katanya nunggu sore aja."


Nath masih. setia mendengarkan obrolan mereka meski mata dan tangannya terfokus pada layar ponsel.


"Kamu gak antar, Zra?" tanya Bintang.


"Dia gak mau, Bi. Kamu tau sendirikan, Tiara gimana. Dia mandiri dan suka gak enakan, padahal sama aku loh."


"Oh, ya Nath. Kamu udah lama juga loh gak ke rumah baca." Tanya Bintang yang menyadari tak pernah bertemu Nath di rumah baca, padahal ia biasanya tergolong sering ada disana.


"Kamu berantem sama Tiara?" sambung Bi lagi.


"Iya, hampir sebulan, kak." potong Rizal.


"Sok tau." Nath bersungut kesal.


Untuk apa aku kesana? Menemui orang yang dengan sengaja menghindariku? Batin Nath.


"Tau lah. Aku kan lihat data sama cctv. Hahahaha." Rizal terbahak.


"Kenapa Zal? Ngecek nih anak pacaran sama Tiara?" Pertanyaan Rion membuat keduanya terbahak.


"Iya bang. Takut ada yang cinlok. Hahahahah."


"Cemburu?" tanya Nath mengangkat sebelah alisnya.


"Gak lah. Kak Ti udah klop banget sama abang."


Semua orang terbahak melihat ekspresi Nath yang sulit tertebak.


Sehabis magrib, Nath pergi ke rumah Zoya. Ia mencoba mencari Tiara disana karena nomornya tidak aktif saat ia hubungi tadi.


Nath masuk kedalam dengan kunci cadangan yang Zoya berikan.


"Tiara!"


"Ra...!" Teriaknya mencari keberadaan Tiara.


Nath mencari ke dapur tapi tidak ada. Nath mengetuk kamarnya juga tidak ada sahutan.

__ADS_1


Dia udah pulang kerumah orang tuanya?


Nath memutuskan untuk ke rumah orang tua Tiara karena makanan yang ia bawa jumlahnya sangat banyak.


Saat Nath akan keluar dari pintu, kakinya menginjak sesuatu. Apa ini?


Nath mengambil benda tipis yang mengganjal di kakinya. Jantung Nath hampir copot saat mengetahui benda apa yang terinjak olehnya.


Tespack? Jangan-jangan...


Nath membalik bagian depan benda itu. Dan dalam sekejap, bumi yang ia pijak terasa runtuh.


Ga... garis dua.


Nath berpegangan pada bahu sofa. Kepalanya berdenyut hebat. Jantungnya jangan di tanya lagi.


Ini pasti milik Tiara. Tiara? Dimana dia?


Nath bergegas keluar dari rumah itu dan menguncinya. Meninggalkan kunci rumah dengan menanamnya di tanah di dalam pot ke tiga dari pintu. Dan itu adalah perintah Zoya.


Nath langsung menuju rumah orang tua Tiara. Hatinya berkecamuk hebat.


Kenapa kamu gak bilang sama aku, Ra?


Kenapa kamu gak cerita?


Kenapa kamu tanggung sendiri?


Jangan-jangan kamu berniat menggugurkan anakku, Ra.


Enggak! Ini gak boleh terjadi.


Nath seperti setan yang kerasukan jin. Ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Padahal di punggungnya, tepatnya di dalam ransel itu ada makanan yang jumlahnya tidak sedikit. Ya, ia memilih membawa makanan itu dengan ransel agar bisa melajukan kuda besinya.


Nath tiba di rumah sederhana itu. Ibu, ayah dan adik Tiara sedang duduk di teras rumah.


"Assalamualaikum, Bu, Pak."


"Waalaikumsalam." Sahut keduanya.


"Nak Nath? Ada apa Nak?" Tanya Ibu Tiara yang berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Nath untuk duduk. "Duduk dulu."


Nath bingung harus mengatakan apa. "Tiara sudah pulang kesini ya, Bu?"


"Oh, iya. Siang tadi dia minta jemput ayahnya."


Nath menghembuskan nafas lega. "Kenapa? Mau ketemu?" tanya ayah Tiara.


Nath dengan sedikit ragu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Tapi Tiara batu aja pergi."


"Pergi?" Ulang Nath.


"Iya. Dia mau ke Jogja. Baru aja naik taxi onlinenya tetangga depan rumah." Ayah Tiara menunjuk rumah tetangga mereka.


"Jogja?" Nath bingung.


Untuk apa Tiara kesana? Mendadak pula. Kalau ini sudah ia rencanakan, maka kak Zoya dan Rion pasti sudah cerita padaku.


Jangan-jangan dia mau abors*.


"Naik apa pak?" Tanyanya cepat.


"Naik kereta."

__ADS_1


Nath langsung pamit pada orang tua Tiara. Ia segera menuju stasiun kereta. Sepanjang jalan Nath selalu merapalkan doa. Berharap Tiara tidak bertindak gegabah.


Di otak Nath saat ini adalah Tiara. Ia takut Tiara bunuh diri ataupun mengugurkan kandungannya.


Jika bukan karena itu, untuk apa dia ke Jogja? Orang tuanya juga tampak tenang dan tak menghajarnya.


Ini berarti ayah sama ibunya belum tahu kalau dia hamil.


Tiara! Kenapa kamu kekanakan sih. Aku sudah bilang akan tanggung jawab.


Jadi kemungkinan yang ada di otakku benar. Mungkin saja dia berbohong, pamit pada orang tuanya untuk liburan.


Nath sampai di stasiun. Ia menitipkan motornya di parkiran. Ia mencari keberadaan Tiara. Nath berlari seperti orang gila.


Tiara. Ayolah, Ra. Muncul di depanku.


Nath mencari informasi dari pihak stasiun. "Mbak. Kereta ke Jogja berangkat jam berapa, mbak?"


"Masih 20 menit lagi, mas." Nath menghembuskan nafas lega.


"Itu satu-satunya kereta yang ke Jogja malam ini mbak?"


"Ada 3 kereta, dan kereta terakhir berangkat 20 menit lagi."


"Yang terakhir berangkat jam berapa, mbak?"


"Setengah jam yang lalu."


Astaga! Aku harus apa? Siapa tahu Tiara belum berangkat. Dia mungkin saja masih terjebak macet.


"Mbak, masih ada kursi kosong untuk kereta berikutnya?"


"Sebentar ya, saya cek dulu."


Dan petugas mengatakan masih ada 5 kursi lagi untuk kelas ekonomi.


Nath pesan 1 tiket untuk dirinya. Ia hanya antisipasi jika saja Tiara belum pergi dan Nath harus ikut dia ke sana apabila Tiara tidak bisa dibujuk saat ini.


Nath tau, Tiara pasti sedang kacau saat ini. Dan Nath tidak akan membiarkan Tiara kesusahan sendiri, terlebih ini semua akibat ulahnya.


Suara kereta datang, seketika stasiun terasa ramai.


Semua orang berebut ingin masuk. Nath masih setia mencari Tiara. Matanya memandang kesagala penjuru untuk menemukan gadis itu.


Orang tuanya gak mungkin bohong kan? Atau jangan-jangan Tiara yang meminta mereka membohongiku? Atau Tiara yang membohongi orang tuanya? Dia tidak ke Jogja dan malah pergi ke tempat lain.


Nath meninju udara sangking kesalnya.


Kenapa pergerakan Tiara tidak terbaca sama sekali. Kenapa dia selalu menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku.


Nath masih berusaha mencari gadis itu dan matanya membulat sempurna saat ia melihat gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir kuda dan memakai denim jaket.


Tiara?


***


Hari ini aku up 2 bab. demi menemani minggu ceria kalian 😚


padahal disini hujan 😂


Jejak di tinggal ya...


senin kita 2 bab lagi 😊

__ADS_1


__ADS_2