EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (16)


__ADS_3

"Ayo, Nair! Cepat!" Jerit Akhtar pada putranya yang masih berada di dalam kamar.


Akhtar yang memakai kemeja batik dominasi warna navi selaras dengan gamis syar'i istrinya sudah menunggu Nair lebih dari sepuluh menit di ruang tamu.


"Sabar dong, Mas! Nair juga baru pulang dari masjid." Lintang protes pada suaminya yang suka sekali membuat putraya itu terburu-buru.


Nair turun dari dari lantai dua sambil mengancingkan lengan kemejanya yang juga berwarna navi. Rambutnya sudah rapih dan tak lupa ia sudah memakai sneakersnya.


Malam ini, Ray mengundang mereka ke sebuah acara istimewa. Ulang tahun pernikahan Ray dan Sania yang ke 25 tahun. Makan malam yang hanya di hadiri keluarga, di sebuah restoran mewah milik Zoya.


Setibanya di restoran, mereka langsung menuju ruang VIP di lantai dua. Semua keluarga diundang, termasuk Sora dan Abimanyu yang tak lain adalah adik besannya alias adiknya Akhtar.


Satya dan Bunga, serta Josep dan Nathalia yang timnya berhasil menyulap ruangan ini dalam waktu kurang dari 24 jam.


Akhtar langsung berbaur dengan yang lain. Rion dan Bi duduk di sofa karena Bi membawa baby Prince yang tampak senang karena terus menggerakkan tangan dan kaki saat Zi dan Queen menggoda bayi berusia hampir enam bulan itu.


Nair juga bergabung dengan Shaka, Caraka dan Ethan serta Marisa-tunangannya.


"Nair...!" Shaka mengadu kepalan tangannya dengan Nair. "Selalu tampan ya pak Ustadz." Sapa Shaka pada pria yang sedang tersenyum kecil itu.


"Nair!" Caraka memeluknya. "Siap ambil spesialis?" Ck! Selalu soal pendidikan. Caraka baru saja resmi menyandang gelar dokter bedah mulut.


"Masih internship, Cak."


"Gak terasa tuh!" Bibir Caraka mencebik. "Ayolah, kita buat rumah sakit dan saingi Rumah sakit Danadyaksa."


"Nji***r! Ada penyusup!" Maki Rion yang tiba-tiba ikut bergabung.


"Emang zaman kerajaan!" Cibir Shaka.


"Lah, ini apaan namanya? Diundang malah punya niat buat menusuk pemilik acara dari belakang!"


"Nih lagi!" Rion meninju Caraka. "Kalau ditolak, jangan gitu dong!"


"Pake acara mau menyaingi rumah sakit milik mantan gebetan."


Caraka mengernyitkan kening. Dia baru sadar bahwa Chiara adalah penerus rumah sakit Danadyaksa.


"Belum ditolak, Yon!" Balas Caraka pede.


"Jadi?"


"Digantung!"


"Buahahahahahah...." Rion terbahak. "Kayak botol infus ya Bang!" ejeknya pada Caraka.


"Sialan lu."

__ADS_1


"Eeiit! Berani maki?" Rion siap mengancam. "Pecat nih, jadi calon adik ipar."


"Hahahah... Adik iparku tuiir guys!"


Semua orang hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah Rion.


"Assalamualaikum..." Suara lembut seorang pria dewasa memasuki ruangan VIP tersebut.


Nair menoleh kearah sumber suara dan ia terpaku cukup lama disana. Semua orang pun ikut menatap.


"Waalaikumsalam, selamat datang, Di." Ray menyambut keluarga Rahardi yang tak lain adalah Abinya Naira. Naira dan Umi juga diam terpaku melihat semua orang yang ada di ruangan itu.


Ray menyalami Rahardi dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Naira dan Nair sempat bertemu tatap. Keduanya lantas saling menunduk dalam saat menyadari kedua pasang bola mata itu mulai berkaca.


Rahardi seperti merasa tidak nyaman karena ada Nair di sana. Dan Ray langsung melakukan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya.


Ia yang mengundang Rahardi. Saat itu Ray menghubungi Rahardi melalui panggilan telepon.


Ray menanyakan kapan Rahardi akan ke Jakarta. Lantas Rahardi mengatakan akan ke Jakarta 2 hari lagi untuk mengunjungi putrinya.


Sebuah kesempatan yang Ray tidak sia-siakan. Ia membuat acara dadakan sebagai perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke 25. Harusnya masih beberapa hari lagi, tapi karena sebuah misi, Ray membuat rencana yang merepotkan banyak orang. Ini murni rencana Ray, tanpa ada yang tahu seorang pun.


Acara makan malam sederhana hanya alibi karena acara sebenarnya sudah Ray siapkan minggu depan di sebuah hotel mewah dengan ratusan tamu dari berbagai kalangan. Mulai dari orang-orang di perusahaan, rumah sakit, sekolah, kerabat bahkan rekan bisnis.


"Terima kasih sudah datang, Di."


"Kalian mungkin sudah pernah bertemu ya..."


Rahardi mengangguk. "Dulu, di pernikahan Rion."


"Wah, lama ya Om. Udah 5 tahunan."


"Anakku udah dua om."


"Oh, ya? Selamat ya Yon."


"Makasih, om."


"Batik aman nih?"


"Aman!" sahut Rahardi yang mulai terlihat santai. Awalnya ia mencurigai sesuatu, tapi sambutan Ray dan Rion yang begitu hangat membuatnya membuang fikiran itu jauh-jauh.


"Bisa nih kayaknya merambah masuk ke butik tante Rara."


Rara menatap Rion sekilas. "Oh, Beliau pemasok batik Cahaya Bangsa, Yon?"


"Iya tante..."

__ADS_1


"Nah, Om... tante Rara ini sering jadi langganan para guru dan staf sekolah yang beli batik ke om. Tante Rara punya sentuhan ajaib yang jadikan selembar batik om jadi pakaian yang apik."


Obrolan terus berlanjut sampai acara makan malam itu selesai. Semua orang tampak berbagi cerita, bercanda bersama. Tapi ada dua insan yang paling tersiksa diantara mereka, yaitu Nair dan Naira.


Mereka ada di ruangan yang sama tapi untuk saling bicara rasanya berat, bahkan untuk saling memandang pun rasanya tak berani.


Nair merasa ruangan ini begitu menyesakkan. Ia memutuskan untuk keluar dari sana. Nair berjalan menuju halaman belakang Arumi Resto. Ia duduk dibangku taman dan mengusap wajahnya kasar.


Om Ray keterlaluan! Om Ray sebenarnya tau atau tidak sih masalah antara aku dam Naira? Kenapa om Ray mengundang keluarga Abi Rahardi? Ya Allah, harusnya aku gak perlu ikut tadi.


Semantara itu, di ruangan yang masih sangat ramai orang-orang bercengkrama, Naira mengedarkan pandangan dan tidak menemukan Nair.


"Mencari adikku?" bisik Bintang di sebelahnya.


Naira terkejut. Ia langsung menoleh kearah Bintang. Naira tersenyum kecil.


"Kadang memang seperti ini rasanya, Nai."


"Melihat orang yang kita cintai tapi tidak bisa kita miliki ada di hadapan kita."


"Melihat senyumnya sungguh menyiksa, apalagi senyum itu terbit karena orang lain disampingnya."


Bintang berdiri dan membawa Prince kearah Rion yang sedang berkumpul dengan yang lain.


Mata Naira berkaca. Dan itu tidak luput dari perhatian Abinya. Rahardi yang tengah duduk bersama dengan Akhtar, Ray dan Josep, Langit, Satya dan Abimanyu.


"Tar, ku dengar, Nair mau lanjut ambil spesialis ya?" tanya Ray mencoba mengendalikan situasi.


Akhtar mengangguk. "Aku sih terserah dia, Ray. Kemana pun, aku turuti selama itu hal positif."


"Meski keluar negeri?" tanya Satya.


Akhtar mengangguk. Ia tertawa pelan. "Bi aja ku relain ke London, Sat.Padahal waktu itu aku tau, dia pergi karena mau ngobatin luka di hatinya gara-gara Rion."


Josep tertawa. "Alaaah, sok tegar! Dulu aja, hampir mewek kalau cerita tentang hal itu."


"Hahaha... Berat soalnya Sep."


Candaan tanpa direkayasa dan direncanakan itu menohok hati Rahardi. Ia mulai berfikir bagaimana jika Naira melakukan hal yang sama?


Selama ini, jelas ia tahu tentang perasaan Naira pada pria bernama Nair itu. Istrinya sudah menceritakan semuanya, bahkan Rahman-kakak laki-lakinya juga.


Rahardi hanya ingin Naira fokus pada pendidikan dan karirnya. Setelah internship ia bebas menentukan pilihan. Ia tidak ingin Naira kesulitan menjalani pendidikan dan statusnya sebagai istri. Tapi sepertinya semua pihak salah mengartikan keputusannya ini.


****


Siapa yang kemarin sewot sama Abi?

__ADS_1


Sini majuuu 😂


__ADS_2