EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (11)


__ADS_3

Malam ini, Nair ikut dengan keluarganya je rumah Nath. Kembarannya itu mengundang mereka untuk makan malam disana sekaligus akan membicarakan hal penting ya ia sendiri tidak tahu tentang apa.


Suatu kabar gembira, Nath dan Tiara akan segera memiliki momongan. Sebuah kebahagiaan tak terkira bagi keluarga mereka.


Alhamdulillah. Selamat Nath! Batin Nair saat ia melihat foto hasil usg di tangannya.


Acara selesai, hatinya yang masih terus diselimuti rasa bimbang membuatnya tidak terlalu bersemangat.


Nath menghampiri Nair yang duduk di teras rumah. Nair sedang memandang langit terang dengan cahaya bulan dan bertabur bintang.


Nath ikut duduk di lantai marmer yang mengkilap itu. "Kenapa Nair?" Pertanyaan langsung keluar dari mulut Nath.


Ia menoleh sekilas. Lalu menggeleng. "Gak kenapa-kenapa?"


"Heem!" Nath menyeringai. "Kalau bohong jangan di depanku, Nair! Percuma!" Cibiran kembarannya itu membuat Nath itu langsung menatap kearahnya.


"Tanpa lihat muka kamu, aku tau ada sesuatu denganmu."


Nath menunjuk dada dengan telunjuknya. "Disini pasti terasa Nair."


"Sama seperti saat kamu merasakan sesuatu yang janggal ketika awal permasalahanku dengan Tiara dulu."


Nair menautkan alisnya. Dia tau aku merasakan sesuatu kala itu?


"Gak usah gitu mukanya!" Nath tertawa.


"Kelihatan banget kamu khawatir sama aku, Nair. Saat pulang dari Jogja, wajah kamu jelas berbeda Nair. Kamu merasakan apa yang ku rasa kan?"


Nair kembali menatap lurus ke depan. Ia rasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang Nath sudah tahu jawabannya.


"Ada masalah sama proses ta'aruf kamu sama Naira?" tanya Nath tepat sasaran.


Ia menoleh dan tersenyum miris. "Tepat sasaran banget Nath."


Nath terkekeh pelan. "Ku bilang apa? Terasa disini, Nair." Nath kembali menunjuk dadanya.


Nath meluruskan kaki meletakkan telapak tangannya di belakang bertumpu pada lantai. "Kalau yakin, maju Nair."


"Aku tahu perasaanmu sangat dalam pada Naira."


Naira juga punya perasaan yang sama padaku Nath.


"Dia baik, cantik dan pasti cocok denganmu."


Semoga saja.


"Aku mendukungmu, Nair. Menikahlah dengan cara baik-baik." Nath tertawa pelan mengingat pernikahannya dulu dengan Tiara.


"Sedang ku usahakan, Nath," jawab Nair menatap langit. "Tapi sepertinya Allah belum buka kan jalan."


Nath langsung menatap kembarannya itu. "Maksudnya gimana?"


"Naira udah nikah? Atau kalian gak direstui?" Nath memberondong Nair dengan pertanyaan yang mengganggu fikirannya.


Nair tertawa pelan. "Dia belum nikah, Nath."


"Huuuh!" Nath menghembuskan nafas lega. "Kirain kamu lagi mikir buat ngerebut istri orang, Nair!"


"Astaghfirullah, Nath. Ya gak lah," balas Nair cepat. Nath tertawa melihat ekspresi wajah Nair.

__ADS_1


Dia fikir segitu frustasinya aku sampai harus merusak rumah tangga orang lain?


"Jadi, apa masalahnya Nair?" tanya Nath lagi.


"Aku harus mengirim CV ta'aruf ke orang tua Naira, Nath?"


"CV? Kayak ngelamar kerja, Nair?" tanya Nath heran. Ia memang tidak faham mengenai proses ta'aruf yang akan Nair jalani.


Nair mengangguk. "Sebenarnya aku ingin langsung menemui orang tua Naira langsung Nath."


"Tapi orang tuanya sedang di luar kota untuk beberapa bulan ke depan."


Maksud luar kota adalah rumah mereka. Karena mereka hanya akan ke Jakarta pada saat-saat tertentu.


"Haaah!" Nath menghela nafas. "Batal dong?" tanya Nath lagi.


Nair mengangkat bahu. "Belum tahu nih. Doain lancar aja deh."


"Soalnya Abinya Naira juga sedang berusaha menjodohkannya dengan ustadz muda penerus sebuah pondok pesantren."


"Ya Allah!" seru Nath mengusak rambutnya. "Saingan kamu berat, Nair."


Nair tertawa miris. Ia menyeringai. "Banget Nath." Nair melihat bintang yang bertabur di langit malam.


"Aku baru lulus ujian sertifikasi, masih ada setahun lagi untuk magang dan 4-6 tahun untuk lulus pendidikan dokter spesialis."


Ya, Nair memang baru beberapa bulan ini magang disalah satu rumah sakit kecil di kota.


"Huuuh! Ya Allah! Lama banget Nath!" Nair hampir putus asa.


Nath terkekeh. "Keburu yang nikung sampe duluan Nair."


Sementara Nath seorang arsitek yang sudah mendapatkan posisi bagus di kantornya.


"Cita-citaku, Nath!" balas Nair tak mau kalah. Ia memang ingin menjadi dokter. Karena kelak ia ingin berbuat banyak untuk orang tuanya. Jika mama papanya sakit, setidaknya ia mengerti langkah apa yang perlu diambil.


"Jadi, gimana Nair?"


"Pasrah!"


"Ck! Jawaban seorang looser." Cibir Nath pada kembarannya yang cuma bisa pasrah.


"Gitu aja udah nyerah."


"Ingat kata bang Shaka, rezeki sudah tertakar dan jodoh takkan tertukar!" Nath mengatakan kalimat yang Shaka ucapkan pada pesta anniversarrynya waktu itu.


Nair tertawa. "Aku akan tetap berusaha Nath! Dan kalau hasilnya gak sesuai harapan, yaaaa harus ikhlas! Yang penting udah usaha!"


Plak! Nath menepuk bahu Nair kuat sampai Nair terkejut. "Ini baru Alvarendra! Pantang menyerah!"


"Jadi, kirim CV ta'arufnya gimana?"


"Naira menyarankan langsung mengirim ke email abinya."


"Tunggu apa lagi! Segera kirim, Nair!" Nath merangkul bahu kembarannya itu. "Ku bantu doa semoga berhasil."


"Thanks, Nath!" Nair memeluk Nath yang sudah bersedia menjadi tempatnya berbagi cerita.


***

__ADS_1


Tengah malam, Nair duduk bersimpuh di atas sajadah. Ia mengungkapkan semua kebingungan dan kegundahan hatinya.


Nair berdoa pad Sang Pencipta agar diberi petunjuk dan segala kemudahan. Nair juga meminta diberikan ketenangan hati dan fikiran guna untuk mengambil langkah kedepannya.


Nair tidur dengan perasaan lumayan tenang. Ia memang belum mengirim CV ta'aruf itu. Entahlah, rasanya ia ingin kesana langsung. Tapi hari minggu masih beberapa hari lagi.


Nair duduk di meja makan bersama Lintang dan Akhtar.


"Kenapa lagi?"


"Masalah Naira?" Akhtar menebak tepat sasaran seperti Nath.


Nair mengangguk lemah. "Dia akan dijodohkan sama Abinya."


Akhtar tersenyum kecil.


Plak!


Tepukan mesra mendarat di bahunya dari Lintang. "Anak lagi gelisah malah disenyumin," tegur sang istri karena Akhtar malah tersenyum.


"Nair..."


Nair menatap Akhtar. "Kalau kamu mau mendapatkan sebutir mutiara, kamu harus menyelam ke dasar laut."


"Pasti sulit, tapi hasil yang didapat bernilai tinggi."


Nair masih mendengarkan papanya. "Kalau kamu ngambinya di pinggir jalan, yang kamu dapat cuma kerikil, Nair."


"Terlalu biasa dan tak bernilai."


"Begitu juga seorang gadis. Semakin bagus akhlaknya, sifatnya dan martabatnya, maka akan semakin sulit kamu mendapatkannya. Kamu akan bersaing dengan orang-orang hebat lainnya."


"Dan sebagai seorang ayah, papa mengerti posisi Abinya Naira, Nair."


"Dia ingin pria terbaik yang menjadi pendamping putrinya."


"Papa juga memikirkan hal yang sama pada kedua kakak kamu, Bi dan Zoy saat akan menikah dulu."


"Hanya saja, papa dan Abinya Naira punya spek yang berbeda. Kami punya kriteria menantu idaman yang berbeda."


"Saran papa, selama janur kuning belum melengkung, selama saksi belum bilang sah. Masih bisalah kamu kejar."


"Datang langsung pada orang tuanya. Alvarendra itu gentleman."


Lintang tertawa. "Gentle banget malah."


"Tuh, mama aja udah buktikan sendiri, Nair." Akhtar menunjuk istrinya.


"Rumahnya di Semarang, Pa."


"Waktu libur Nair masih beberapa hari lagi."


"Semarang cuma 5 jam naik mobil, dan sejam naik pesawat Nair."


"Perlu papa antar?"


Nair terenyuh, papanya saja siap menempuh perjalanan jaih itu demi dirinya. Lalu mengapa ia tidak bisa melakukannya demi Naira?


***

__ADS_1


Nah, next bab Nair akan benar-benar berjuang guys 😚


__ADS_2