
"Nath!" Teriak Lintang saat melihat Nath duduk dilantai dalam keadaan kacau. Ia perlahan mendekati putranya. Hatinya hancur melihat Nath seperti ini.
"Ya Allah, Nak."
"Mama... Tiara, Ma." Nath langsung bangkit dan memeluk mamanya. Tidak peduli pakaian kotor dan tubuhnya yang bau.
"Tenang, Nath. Mama disini, Papa sama Nair. Semua akan ikut mencari."
"Nath gak bisa jaga dia, Ma."
"Nath gak bisa jaga dia."
"Tante, duduk Tan. Nath udah lemes banget dari tadi." Ethan menuntun Lintang dan Nath untuk duduk di sofa.
Akhtar dan Nair masuk dan langsung memeluk, Nath. "Seorang Alvarendra harus kuat, Nath," bisik Akhtar di telinga putranya.
"Kamu gak boleh kacau begini. Bangun dan berfikir jernih untuk bisa menemukan Tiara."
"Pa... Ini salah Nath yang ajak dia kesini."
"Gak salah siapa-siapa, Nath. Tenang dan berdoa."
Nath duduk di sofa dan tak berselang lama, rombongan Ray dan Satya tiba. Mereka masuk ke kamar Nath dan membicarakan hal penting bersama seorang detektif yang Satya sewa.
Kasus ini jelas merupakan masalah serius. Karena dengan jelas Nath melihat Tiara di bawa orang yang tidak di kenal. Tiara bukan hilang saat di dalam hutan yang kemungkinan dia tersesat.
Dalam kasus ini, Tiara memang benar-benar diincar.
"Tidak ada bekas darah, atau benda tumpul yang digunakan untuk melukai. Jadi kemungkinan korban diberi obat bius dengan sapu tangan atau sejenisnya."
"Ini murni penculikan karena tidak ada benda berharga yang hilang."
"Target memang sudah jelas, istrinya. Bukan dia." Seorang pria berkemeja rapi itu mengutarakan apa yang ia fikirkan.
"Jadi, bagaimana ini, Pak?" tanya Akhtar.
"Dugaan saya. Ini ada keterlibatan dengan warga sekitar. Mereka jelas memahami bahwa di balik kebun teh ada jalan raya dan mereka memilih jalan itu daripada harus lewat jalan utama dan membawa kendaraan pribadi."
"Ini perencanaan yang matang."
"Bagaimana bisa mereka berjalan di antara pohon teh dengan begitu cepat hingga jejaknya sulit di temukan? Bahkan hujan malam tadi, tidak membuat mereka kesulitan."
"Apa lagi jika bukan karena mereka menguasai medan?"
Nath terus memegang keningnya. Ia lemas, ia pusing karena tak ada makanan yang masuk hingga pagi menjelang siang ini. Ditambah fikirannya yang sudah memikirkan banyak hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Ponsel pria berkemeja rapi itu berbunyi. "Baik. Awasi terus. Dan pastikan target ada di sana dan dalam keadaan baik-baik saja."
"Jangan gegabah."
__ADS_1
Panggilan diakhiri. "Orang-orang kita menemukan jejak namun belum pasti."
"Ini..." Pria berkemeja rapi bernama Robert itu menunjukkan sebuah foto.
"Kalung Tiara, Ma." Pekik Nath saat mengenali kalung yang Lintang berikan saat lamaran.
Kalung yang selalu Tiara pakai selama mereka menikah.
Semua orang menatap Nath. "Kamu yakin?" tanya Robert.
"Yakin, Pak. Dia pakai kalung ini setiap hari."
"Nath!" Lintang memeluk putranya yang seolah menemukan harapan besar.
"Tiara pasti akan ditemukan, Nath. Tim ayah Satya dan om Ray sedang berusaha, Nak." Lintang terus memberikan energi positif pada putranya.
"Kamu makan dulu, ya Nath. Mama cari makanan di dapur."
"Kamu belum makan kan?"
"Tiara mana, Zra?" Suara yang Nath kenali berasal dari ruang depan.
Nath segera berlari dan saat ia melihat ayah dan ibu mertuanya tampak kebingungan Nath langsung menjatuhkan diri di kaki keduanya.
"Ayah, Ibu, maafkan Nath yang gak bisa jaga Tia, Bu."
"Nath gak bisa jaga dia." Nath yang kacau membuat Lintang tak kuasa melihatnya.
****
Di tempat lain, sebuah gudang bekas penyimpanan pupuk di tengah hutan kecil yang sangat jauh dari jalan raya.
Tiara terkulai lemas di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan terikat di bahu kursi dan kaki yang juga terikat. Mulutnya ditutup selembar kain berwarna hitam.
Tiara perlahan mulai sadarkan diri. Ia merasa sulit bergerak dan perlahan membuka matanya.
Aku, aku dimana? Batin Tiara.
Ia menegakkan kepala dan matanya terbuka sempurna. "Mmmmp... mmmmp..." Tiara berusah berteriak tapi tidak bisa.
Ia terus berusaha berontak dan menggerak-gerakkan tangannya berharap tali itu terlepas.
Ya Allah, aku dimana? Bang Nath, tolong Tia, Bang. Tiara menangis pilu.
Ia mengingat apa yang telah terjadi padanya. Terakhir kali ia ada di dapur sedang memanaskan air untuk membuat coklat panas. Tapi tiba tiba...
"Braakk." Pintu didobrak dan Tiara yang terkejut langsung menyenggol panci air panas di atas kompor. Ia juga menjerit karena sedikir air panas menyiram punggung kakinya.
Seseorang menempelkan sapu tangan di hidung dan mulutnya, seketika Tiara tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Apa aku diculik? Lalu siapa pelakunya? Apa tujuannya.
"Kriiet."
Pintu reot di depan Tiara terbuka. Seorang pria yang tidak Tiara kenali masuk ke dalam. Tiara menatapnya sinis sekali gus waspada.
"Hai, cantik... Sudah bangun?" Pria itu meletakkan telapak tangannya di baju kursi sehingga tangan Tiara tertimpa tangannya. Ia mengukung Tiara dan membungkuk.
"Cantik sekali."
"Tugasku belum jelas, aku hanya perlu membawamu. Tapi biasanya sepaket dengan menikmati dan menghabisi," bisik pria itu dengan seringainya.
Pria bertubuh besar dan berwajah sangar dengan brewok panjang itu semakin mendekat. Ia perlahan membuka kain di mulut Tiara. "Tanpa perintah aku bisa melakukan apapun."
Tiara bergetar, air matanya menerobos keluar. "Kamu siapa?"
"Apa maumu?" Teriaknya.
"Sssttt...!" Pria itu menempelkan telunjuk besarnya di bibir Tiara.
Tiara membuang muka, tak sudi jemari kotor itu menyentuhnya.
Tali di tangan dan kakinya sudah dibuka. "Bangun lah." Perintah pria yang berdiri di depan Tiara itu.
Tiara perlahan berdiri dan dia tetap waspada. "Jangan takut!" Pria itu menggiringnya ke sudut tempat ini, dimana ada sebuah meja usang teronggok di sana.
Otak Tiara mulai mencerna, ini seperti saat Reyfan berusaha memperkos*nya. "Jangan mendekat!" Tiara memajukan telapak tangannya ke depan pria itu sebagai peringatan untuk tidak mendekat.
"Aku akan terus mendekat." Pria itu terus maju dan Tiara sudah di sudut ruangan. Ia sudah terpojok di meja itu.
"Tolong! Tolong! Tolong!" Tiara berteriak kuat sampai suaranya serak. Ia berharap siapapun datang untuk menolongnya.
"Jangan mendekat, tolong!" rancau Tiara. Ya Allah, selamatkan aku. Siapapun itu, tolong aku.
"Jangan mendekat!" Tiara bergetar hebat. Pria itu sudah sangat dekat dan mengangkat tubuhnya diatas meja.
Tiara menendang pria itu tapi sayang, gerakannya sangat mudah terbaca hingga pria itu bisa menghindar dengan mudah.
"Aku suka yang bisa melawan sepertimu."
"Tolong!" Teriak Tiara kuat saat pria itu mendekatkan wajahnya.
"Brak!"
"Bajing*n!" Seseorang datang dan menarik pria yang berada sangat dekat dengan Tiara itu. Pria berjaket kulit yang menghajar pria itu habis-habisan.
"Dia bagianku! Tugasmu tidak lebih dari sekedar membawanya!"
Deg!
__ADS_1
Suara itu. Setelahnya gelap. Tiara kembali tidak sadarkan diri.