
"Byuuurrr."
"Aaaahhhh."
Nath melompat ke dalam kolam renang, sementara Tiara yang masih duduk di pinggirnya sudah basah kuyup terkena cipratan air kolam yang meluap karena ulahnya.
"Basah, Bang!" rengek Tiara pada suaminya. Ia juga menyeka air yang mengenai wajahnya.
Nath terkekeh. Ia perlahan menepi dan bersandar di dinding kolam. Tiara duduk dengan menjuntaikan kakinya ke dalam air kolam yang jernih itu. Ia sudah berganti pakaian renang, hanya saja ia belum ingin masuk ke dalam kolam.
Nath menumpukan dagu di kaki istrinya. Keduanya lagi-lagi saling tatap. Tiara memutus tatapan mereka. Ia sampai saat ini tidak sanggup terlalu lama saling tatap dengan suaminya.
"Kenapa?" tanya Nath saat Tiara berhenti mematap matanya.
Tiara tersenyum dan menggeleng. "Gak apa-apa." Tiara mengusap rambut Nath yang sudah basah.
"Gak sanggup menantapku lebih dari 5 detik?" Tanya Nath yang kini malah sudah melingkarkan tangannya di pinggang Tiara.
"Terlalu banyak cinta yang terlihat." Tiara mengguyur kepala Nath dengan air kolam yang ia ambil dengan telapak tangannya.
Nath tertawa pelan. "Empat tahun, belum terbiasa juga?"
Tiara mengangguk. "Empat tahun, masih kurang untuk bisa memahami kamu, Bang."
"Soal hati kamu, aku lumayan peka sekarang. Tapi tingkah kamu, gak tertebak."
"Seperti ini?"
Tiba-tiba Nath membawa Tiara ke dalam kolam. Tiara memeluk erat leher suaminya.
"Dalam, Bang!" Jerit Tiara karena kakinya belum menyentuh dasar kolam.
"Memang, 1,5 meter, Ti."
"Astaga, Bang! Tinggiku 150 lebih dikit." Tiara semakin takut. Ia tidak bisa berenang dan dalamnya air kolam pasti sampai melewati dagunya.
Nath tertawa dan masih memeluk pinggang Tiara. Ia tidak tega melepaskan istrinya itu. Kaki Tiara terus bergerak mencari dasar kolam.
"Kaki kamu gak usah gerak-gerak, Ti. Dasar kolam masih jauh." Kekeh Nath. Karena memang percuma saja Tiara mencari dasar kolam sebab Nath mengangkatnya tinggi hingga tubuh mereka sejajar tingginya.
Tiara perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi bersembunyi di leher Nath. Ia menatap suaminya yang jahil itu.
"Jangan dilepasin, Bang!" Perintah Tiara yang sedang ketakutan itu.
"Kalau menyelam bisa, Ti?" Tanya Nath.
"Gimana bisa menyelam kalau berenang aja gak bisa." Tiara cemberut memukul bahu Nath yang terbuka dengan sebelah tangannya.
Nath lagi-lagi tertawa. "Bukan menyelam kayak diving sama snorkling, Ti."
"Cuma tenggelamin kepala dan tahan nafas dibawah air," lanjut Nath. "Bisa gak?"
__ADS_1
Tiara berfikir sejenak. "Bisa, dulu pas sekolah cuma bisa begitu doang." Tawa kecil Tiara membuat Nath ikut tertawa.
"Memangnya ada les berenang di sekolah?"
"Gak ada, pas lagi main sama temen di water park dan aku cuma bisa gitu doang."
"Evelyn sama Ajeng?" Tanya Nath dan diangguki oleh Tiara.
"Kita coba, ya."
"Tarik nafas, hitungan tiga detik kita mulai." Nath memberi instruksi. Entah apa tujuannya mengajak Tiara menyelam ke dalam kolam.
Keduanya menarik nafas dan dalam tiga detik, Nath sedikit berjongkok agar tubuhnya dan Tiara masuk keseluruhannya ke dalam kolam. Nath masih memegangi tubuh Tiara, tapi tidak terlalu kuat, karena ia khawatir Tiara tidak bisa menahan nafas selama dirinya.
Benar saja. "Huuh!" Tiara mengangkat wajahnya ke permukaan air lebih dulu dengan tangan yang bertumpu di bahu Nath agar bisa mendapatkan posisi lebih tinggi dari Nath.
Nath muncul setelah beberapa saat. Ia mengusap wajahnya dengan sebelah tangan dan tangan satunya masih mengapit tubuh Tiara agar menempel di tubuhnya.
"Lemah!" Ejek Nath.
"Biarin!" Tiara mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang masih memeluk leher Nath.
Nath menyambar bibir tipis itu. Menyentuh dengan lembut dan menuntut. Menyalurkan rasa cinta yang tak terhitung lagi jumlahnya.
"Udah, ah," ucap Nath setelah melepaskan tautan di bibir mereka.
"Kenapa?" Tanya Tiara.
"Emang masih sore."
"Makanya aku berhenti. Kalau gak, kita akan berakhir disana." Tunjuk Nath ke arah ranjang dengan dagunya.
"Dasar mata keranjang," cibir Tiara pada suami yang kini ikut duduk di sampingnya.
"Emang iya, arah mataku emang ke ranjang," balas Nath. "Emangnya kamu, menggoda iman teruss!."
"Penggoda bawa pahala, ini." Tiara tersenyum bangga. Bukankah melayani suami juga menjadi pahala bagi istri? Begitu juga suami yang bisa menyenangkan istri.
"Berlebel halal dan aman!"
"Bersertifikat dan diakui negara." Maksudnya adalah buku nikah yang membuat hubungan mereka sah dimata hukum.
Nath menggesekkan hidung mereka. "Pinter banget ngomongnya sekarang, ya."
Tiara tertawa. "Dari lahir udah pinter, Bang!"
"Tapi kamu pernah bodoh, sayang." Ucapan Nath membuat Tiara mengernyitkan dahi.
"Kapan?" Tanyanya heran.
"Ketika kamu minum minuman dari Ethan dan bodohnya gak tahu kalau itu mengandung alkohol."
__ADS_1
Tiara tertawa bersama Nath. "Memang! Itu kebodohan terfatalku."
"Dan kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan." Tiara mencubit dada Nath.
Nath menatap Tiara. "Khilaf terindah."
Tiara mencubitnya lagi. "Dulu, penyesalan terindah, sekarang khilaf terindah besok apa lagi?"
"Kenikmat*n tak terlupa," sambar Nath lalu tertawa.
Tiara menatap lurus ke depan. "Sayang banget, lepas peraw*an tapi gak ngerasain sensasinya."
"Ck! Nasip diperk*sa!" Lanjutnya dengan nada kesal.
Nath diam. Ia menunduk dan sesekali menatap arah lain. Dan Tiara menyadari diamnya Nath seolah tersinggung atas ucapannya. Tiara sadar kalimatnya tadi memang keterlaluan.
"Ma-maaf, Bang! Tia gak bermaksud." Tiara mendekat dan memeluk Nath.
"Makasih dulu abang mau bertanggung jawab."
"Makasih dulu tetap berusaha menemuiku meski aku belum mau bicara."
"Jangan marah lagi, ya." Bisik Tiara mengecup dagu Nath.
Nath menunduk dan mengangguk. "Aku yang harusnya minta maaf."
"Udahku maafin sejak dulu."
Keduanya menikmati pelukan di dalam air itu. "Kamu tahu, Ti?"
Tiara mengurai pelukannya dan menatap Nath. "Tahu apa, bang?" tanyanya.
"Saat itu juga yang pertama untukku." Tiara tersenyum mengangguk.
"Dan rasanya menembus milikmu, sulit sekali." Nath menangkup pipi Tiara dengan telapak tangannya yang besar itu.
Tiara mencoba mengingat masa lebih dari empat tahun lalu itu. Tapi percuma, karena dulu dia juga tidak mengingat kejadian itu secara detail.
"Tapi, saat kamu menyebut namaku, aku jadi semangat untuk mendobrak pertahanan terakhirmu."
Tiara mengerutkan kening. "Tia manggil nama abang?"
Nath mengangguk. "Baaang Naaathhhhh!" Nath seolah menirukan suara Tiara malam itu dengan sangat berlebihan. Padahal Tiara tidak memanggilnya dengan nada ero*tis begitu.
Tiara memasang wajah jijiknya. "Segitunya?"
Nath mengangguk yakin. "Kamu bahkan mende*sah. Mau ku tirukan?"
"Begini. Aaa.... mmmpppp." Belum selesai Nath membuat suara desa*han Tiara sudah menutuo mulut Nath dengan tangannya.
"Jangan dilanjutin, Bang! Aku gak kuat dengernya!"
__ADS_1