EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 54 Manekin Butik


__ADS_3

Tiara menatap gadis yang Bela sebut sebagai manekin butik. Tiara menelisik gadis kurus, tinggi, berkulit putih dengan rambut lurus sepunggung dengan warna agak coklat itu.


Tiara menatap dari atas sampai bawah. Apanya yang mirip manekin butik?


"Pulang bareng yuk, El."


"Atau mau makan dulu di cafe? Kita nongki-nongki cantik."


"Kamu nolak terus sih kalau ku ajak?" tanyanya dengan nada manja saat Nath tidak meresponnya.


"Apanya yang mirip manekin butik, Bel?" bisik Tiara.


"Lihat aja Ti, kulitnya putih bersih, topinya, kacamata hitam, kaos kaki sama sepatunya. Jam tangan sama syal dilehernya."


Tiara memperhatikannya. Memang semua yang disebut Bela menempel di tubuh gadis itu. Topi pantai, kacamata hitam, semuanya memang betul.


"Mirip manekin yang dipajang di butik, kan Ti? Yang diem aja di balik kaca."


Tiara baru faham maksudnya. Ia menutup mulut tak kuasa menahan tawanya. Bela juga melakukan hal yang sama.


"Eh, Bela tomboy sok feminim menyaingi Cloudy yang cantik jelita ini, ngapain lo ketawa-ketawa?" tanya manekin butik bernama Cloudy itu dengan sedikit membentak.


Oh, ini yang namanya Cloudy?


Tiara menatap Cloudy yang seperti hendak ke pantai tapi syal dileher lebih seperti hendak ke puncak. Tiara terus mengulum senyum.


Pantes aja bang Nath menghindar dari dia. Tampilannya berlebihan begitu.


"Dih, penting banget ngetawain elu. Gue lagi ngobrol sama temen baru gue ini." Cibir Bela menunjuk Tiara.


Cloudy menatap Tiara dari atas sampai bawah. Tersenyum remeh. "Anak baru lo?"


"Enggak."


"Jadi ngapain kesini?"


"Nunggu abang, kak?"


"Siapa abang lo?" tanyanya sedikit ngegas.


"Nih!" tunjuk Tiara pada Nath tanpa ragu. Bela sampai terkekeh melihat Tiara yang tampak santai.


Cloudy mendekat dan mencubit pipi Tiara. "Oh my God El, adik lo cantik banget? Ini ya yang kemarin di gosipin anak-anak? Yang ketemu Al Nair di gerbang, ya?"


"Aduh, manis banget." Tiara menatapnya jengah. Dih, muka dua.


"Udah kak. Pipiku bisa molor."


"Eh, iya. Maaf ya cantik." Cloudy melepaskan cubitan gemasnya yang hanya untuk mencuri perhatian Nath.


"Ayo, El. Kita ajak adik kamu juga. Udah panas banget ini, entar kulitku terbakar matahari. leher putihku bisa hitam, El." Cloudy berusaha menarik tangan Nath.


Nath melepaskan tangannya. "Duluan aja, Cloud. Aku mau langsung pulang."


"Ayolah El."


"Jangan memaksa, Cloud. Tolong hargai dia." Nath merangkul bahu Tiara.


"Aku hargai, makanya aku ajak juga, ya kan sayang. Eh, nama kamu siapa?" tanyanya lembut pada Tiara.


"Elva Tiara Alvarendra," sahut Tiara santai. Nath tersenyum karena Tiara menambahkan nama Alvarendra.


"Oohh...."


"Dia istriku," ucapan Nath membuat Cloudy dan Tiara menatapnya tajam.


Tiara tidak menyangka Nath mengatakan kebenarannya. Sementara Cloudy terbahak.


"Jangan ngaco, El. Ayo lah. Kamu itu gak perlu bohong sama aku."


Nath tersenyum miring. Ia meraih telapak tangan Tiara dan meletakkan diatas pahanya. Lalu Nath juga meletakkan tangannya disebelah tangan Tiara.

__ADS_1


Nath menunjukkan dua cincin di jemarinya dan Tiara. "Lihat baik-baik Cloud, ini cincin pernikahan kami."


Cloudy melihat dengan teliti cincin pernikahan di jari kiri mereka. "Ini?"


"Seperti yang kakak lihat."


"Dia suamiku kak."


"Gak mungkin." Cloudy menggeleng lalu tertawa pelan. "Kalian bercanda."


Tiara menghela nafas. "Apa yang gak mungkin, Kak?"


"El gak pernah pacaran?"


"Dari mana kakak tau?" Nath terpesona pada Tiara yang sama sekali tidak takut pada gadis yang saat ini berdiri di depannya.


"Dari sosial medianya."


Tiara menyeringai. "Dunia maya dipercaya. Ck... Ck..."


"Lain kali cari tahu ke rumahnya kak. Kalau perlu pas sebelum subuh."


"Kenapa gitu?"


"Ya karena kakak akan melihat sendiri sepasang suami istri yang tengah bergelung di dalam selimut."


Nath menarik hidung Tiara. "Masih kecil bahas masalah di dalam selimut." Tiara tertawa. Bela juga tertawa. Sementara Cloudy semakin kesal melihat sikap manis Nath yang tidak pernah di tunjukkan pada siapapun.


"Jadi harus bagaimana menjelaskannya, Bang? Kalau cincin nikah pun gak bisa buat dia percaya."


"Kita gak harus menjelaskan apapun, Ti."


"Harus bang! Karena aku gak suka berbagi suami." Tiara berdiri di depan Cloudy.


"Mulai sekarang, jauhi dia kak. Dia suamiku."


"Tapi aku suka sama dia." Cloudy belum menyerah. Ia malah melipat tangannya di dada.


"Itu resiko punya suami ganteng." Cloudy malah tertawa.


"Dan aku kasihan sama kakak." Ucapan Tiara membuat Cloudy memudarkan senyumnya.


"Ngejar dia terus tapi gak pernah ditanggepin." Tiara mengusak rambut suaminya.


"Gak capek kak?" Bela dan Nath menggigit bibir mereka menahan tawa.


"Sayang, udah ya..." Nath meraih tangan Tiara dan mengecupnya.


Cloudy menatap Nath. "Selama ini kamu gak menjauhi aku, Nath?" Tiara diam menunggu jawaban Nath.


"Gimana mau menjauh kalau kamu terus yang nyamperin aku, Cloud?"


Tiara mengulum senyum. "Udah ya kak. Berhenti. Aku kasihan kak, sama kakak."


"Melakukan hal yang sia-sia dan gak berfaedah."


"Kakak cantik, tajir dan sepertinya cukup famous disini."


"Banyak loh yang lebih ganteng dan lebih segalanya dari bang Nath." Cloudy diam tak menjawab Tiara.


Tiara menautkan jemari mereka dan menunjukkan pada Cloudy. "Jemari ini tidak akan terlepas sekuat apa kakak mencoba masuk dalam rumah tangga kami."


"Awalnya aku heran kenapa bang Nath seolah takut mempertemukanku dan kakak." Cloudy menatap Tiara seolah bertanya Tiara mengenal dirinya sebelum hari ini?


"Dan aku sekarang tahu, karena kakak pantang menyerah."


"Dan dia takut aku lepas kendali."


"Sayang...." Nath mengelus lengan Tiara.


Kurang asem. Manggil sayangnya cuma acting doang!

__ADS_1


"Udah dong, kamu kan janji gak akan adu cakar sama dia." Nath sengaja mengatakan ini, berharap Coudy tidak terus memancing amarah Tiara.


"Tapi aku gak janji buat gak menjambak rambutnya, kan Bang." Tiara menatap Nath dan melirik Cloudy sekilas.


Bela mengulum senyum. "Please! Do it now, Tiara. Gue mau lihat." Bela seperti seorang suporter yang mendukung Tiara.


Nath menarik rambut Bela. "Jangan kompor. Tiara ini tipe dibakar dikit langsung nyamber."


Cloudy bergidik ngeri. "Sorry, gu ... gue harus pergi sekarang. Disini panas banget udaranya." Cloudy meninggalkan mereka yang tengah terbahak.


"Lo beneran mau jambak dia, Ti?" tanya Bela saat Cloudy sudah pergi.


"Rencananya kamu yang mau dia acak-acak, Bel." Nath tertawa melihat Bela yang menaikan sebelah alisnya. "Gara -gara dia lihat aku boncengin kamu kemarin."


Bela hanya tertawa. "Tapi kan cuma salah faham. Sekarang udah clear kan Ti?" Tiara mengangguk mantap.


"Bang!" Tiara berdiri menghadap Nath.


"Stop! Uwu-uwuannya nanti dulu. Tunggu gue pergi!" Bela segera meninggalkan tempat itu. "Bikin baper aja kerjanya!" Bela mendumel dan masih bisa didengar keduanya.


"Bang!"


"Ya...." Nath menunggu kata-kata romantis yang mungkin akan Tiara ucapkan.


"Yang ngejar kamu gak ada yang lebih oke?" Nath menaikkan sebelah alisnya.


"Cantikan manekin di butiknya tante Rara, tau." Nath tersenyum.


"Putih, bersih, berhijab lagi."


Nath tertawa. "Tapi aku suka yang pendek." Nath berdiri dan menarik Tiara ke dekatnya.


"Kenapa?" tanya Tiara penasaran.


"Biar bisa diumpetin di ketek." Nath melingkarkan tangannya di leher Tiara dan mengarahkan wajah istrinya itu tepat di ketiaknya.


"Bau...." rengek Tiara.


"Sekali-sekali, Ti." Keduanya tertawa.


Keduanya pulang ke rumah dan langsung masuk ke kamar. Dan Nath memikirkan sesuatu. "Ti, masalah udah clear ya."


"Iya." Tiara menjawab singkat. Saat ini ia tengah membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.


Kedua tangan Nath bertumpu di sisi ranjang dan mencondongkan tubuhnya kearah Tiara. "Berarti udah boleh dong?"


Tiara menatapnya jengah. Mengapa otak Nath isinya selalu hal-hal mes*m.


"Boleh!" Tiara mengangguk dan Nath tersenyum puas menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Tiara.


Tiara langsung mencubit pinggang Nath membuat siempunya berpindah kesamping tubuh Tiara. "Boleh. Bukan berarti sekarang!" Tiara bangkit dan masuk ke kamar mandi.


"Brak... Brak... Brak..." Nath menggedor pintu kamar mandi.


"Jadi, kapan Ti?"


"Nanti malam."


"Sekarang boleh dong, kita coba di kamar mandi."


"Ogah!"


"Kenapa Ti. Ayolah sayang!"


"Aku gak mau. Kamar mandi ini saksi kebejatan kamu sama sabun!"


Nath terpaku dengan jawaban Tiara.


***


Flat banget ya 😥

__ADS_1


tapi aku tetap minta like kalian 😆 biar semangat. Apa perlu aku buat bab siang yang panas untuk ke dua kalinya supaya like tembus diangka ratusan 🤔


__ADS_2