EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 15 Pulang


__ADS_3

Dua hari bersama Tiara di Jogja, membuat Nath perlahan memahami kebiasaan gadis itu. Termasuk kebiasaan mual muntah karena hormon kehamilannya.


Harusnya pagi ini mereka pulang, tapi karena Tiara yang sudah tak bertenaga akibat terus muntah, akhirnya Nath menundanya hingga sore nanti.


"Kita ke dokter!" Perintah Nath yang baru saja selesai mandi. Pria itu sudah berpakaian lengkap.


Tiara tiduran di atas ranjang. Gadis yang tak gadis lagi itu tengah memejamkan matanya. "Gak mau," tolaknya cepat.


"Kamu terus muntah, Ra. Sampe lemes gitu. Kalau makin parah, bisa-bisa kita gak balik-balik ke Jakarta," omel Nath yang sekarang sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Kalau kamu mau balik, duluan aja. Aku masih sanggup bayar hotel."


Astaga! Keras kepala banget nih cewek. Batin Nath.


"Bukan gitu maksudku, Ra. Kamu kan juga bakalan mudah beraktivitas kalau gak mual terus. Kamu bisa makan apapun, kamu gak akan pusing-pusing kayak begini."


"Ck! Mau kamu bawa ke Amerika sekalipun, mual-muntahku gak akan sembuh," balas Tiara.


"Kan gak ada salahnya di coba, Ra."


"Coba kamu lihat di googl* bang, pasti semua artikel bilang kalau mual-muntah itu biasa di alami wanita yang hamil muda," perintah Tiara.


"Aku tau Tiara... Tapi kan kita bisa mengupayakan supaya gak separah ini, Ra." Nath terus memaksa. "Kita ke dokter, ya."


Nath bukan tidak tau kebiasaan ibu hamil yang satu ini. Punya dua kakak yang tengah hamil membuatnya sedikit paham tentang hal itu.


Tiara membuka matanya, menatap dalam kearah Nath. "Terus, nanti di sana kalau aku di tanya-tanya, siapa nama suamiku, bagaimana?"


"Ya, jawab aja El Nath."


"Kalau dia minta buku nikah?"


"Bilang aja kita lagi liburan, jadi gak bawa."


"Alamat kita di KTP beda bang! Ketahuan banget kita belum nikah."


"Bilang aja nikah siri. Ayo Ra, jangan banyak alasan." Nath menyibak selimut yang menutupi tubuh Tiara.


Tiara meringkuk memeluk guling. "Gak mau!"


"Ra..." bujuk Nath.


"Gak mau, bang! Kamu aja sana yang ke dokter!" Tiara sedikit berteriak.


"Laah! Untuk apa aku ke dokter? Aku gak sakit, Ra."


"Makanya jangan paksa."


Nath mengalah. Ia faham apa yang Tiara takutkan. Dia pasti merasa malu dan berkecil hati karena hamil sebelum menikah. Ia sadar hal ini adalah aib.


Aku harus segera mengatakan hal ini pada mama dan papa. Paling tidak, Tiara mau dibawa ke dokter setelah keluarga kami mengetahui hal ini. Tekad Nath dalam hatinya.


Setengah hari ini keduanya hanya berada di dalam hotel. Tidak saling bicara apalagi saling memadu kasih. Mustahil.


Tiara memilih tidur dan Nath terus menonton tv, kadang juga memainkan game di ponselnya.


Siang harinya, setelah sholat Zuhur, mereka bersiap. Mengemas pakaian karena sore ini mereka akan ke stasiun dan segera pulang.


"Jam berapa kereta berangkat bang?" Tiara menutup resleting tasnya.


"Jam dua." Nath juga sudah selesai berkemas. Pergi tanpa bekal dan pulang dengan pakaian seransel. Hebat Nath!

__ADS_1


Tidak ada hal istimewa yang terjadi selama perjalanan pulang. Tiara tidak tidur, ia hanya terus menatap ke arah jendela dan Nath juga berdiam diri.


Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Nath memikirkan kalimat pengakuan yang berusaha ia susun serapi mungkin.


Sementara Tiara sedang memikirkan bagaimana caranya untuk terus menyembunyikan kehamilannya selama Nath belum membicarakan hal itu pada orang tuanya.


"Bang, kalau ada yang suruh aborsi..."


"Jangan mikir yang aneh-aneh," potong Nath. "Pikirkan kesehatanmu dan dia." Nath melirik perut Tiara. "Selebihnya urusanku."


"Aku takut orang tua kamu marah."


"Tiara, marah sudah pasti. Pokoknya pikirkan kesehatan kamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menanggung semua resikonya."


"Jadi, apapun itu akan aku hadapi."


Termasuk bang Ezra. Sambung Nath dalam hatinya.


Mereka sampai di stasiun jam 9 malam. Keduanya turun, Nath memakai ranselnya dan menjinjing ransel Tiara.


"Kamu tunggu disini." Perintahnya saat mereka berada di depan tempat parkir. "Aku mau ambil motor dulu."


Tak butuh waktu lama, Nath sudah berada di depan Tiara dengan sepeda motornya. "Aku naik taxi aja bang."


"Gak boleh!"


"Aku gak pakai helm," balas Tiara.


"Kita beli di toko terdekat," ucap Nath pada Tiara.


Mereka pulang berdua, ini memang beresiko di ketahui orang lain. Tapi Nath tidak peduli, karena setelah ini semuanya akan benar-benar terbongkar.


"Stop!" pekik Tiara saat mereka sampai di depan gang rumahnya.


"Gak apa-apa bang! Aku jalan aja dari sini." Tiara sudah turun dari motor dan menyerahkan helmnya pada Nath.


"Bawa aja," tolak Nath. "Aku tunggu disini. Kalau sudah sampai, langsung telpon dan aku akan pulang."


Tiara mengangguk. Ia menatap Nath cukup lama. Mulai detik ini ia harus bersiap untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi diantara keduanya.


"Pulang! Jangan takut." Nath menepuk pucuk kepalanya.


Tiara segera berbalik dan berjalan kearah rumah. Tak butuh waktu lama, ia masuk ke teras rumah. Pintu rumahnya masih terbuka. Keluarganya menunggu kepulangannya, karena Tiara mengatakan akan tiba sebelum jam 10 malam.


"Assalamualaikum, Yah, Bu."


"Waalaikumsalam." Orang tuanya menjawab salam dari dalam rumah.


Setelah menyapa kedua orang tuanya, Tiara masuk ke kamar. Ia segera menghubungi Nath.


"Aku sudah sampai, bang."


"Langsung istirahat."


Tiara mengangguk, seolah Nath melihatnya. "Hati-hati di jalan."


Panggilan diakhiri. Tiara mengambil handuk bersih di dalam lemari. Ia berjalan menuju kamar mandi. Bukan untuk mandi, ia hanya ingin mencuci muka dan kakinya.


Saat kembali ke kamar, Ibunya memanggil. "Ti, kamu kelihatan kurang sehat. Kamu pucat, Ti."


Deg!

__ADS_1


Jantung Tiara seperti berhenti berdetak.


"Iya, Bu. Tiara cuma kecapekan."


"Kamu jalan-jalan terus, ya disana?" sahut ayahnya.


"Heheheh... iya." Tiara tersenyum canggung.


"Ya sudah. Masuk sana. Istirahat," perintah ayahnya.


"Kamu udah makan, kan Ti."


"Udah, Bu."


***


Rumah keluarga Alvarendra.


Nath pulang ke rumah. Masih ada mang Joko yang berjaga di depan.


"Assalamualaikum." Ucap Nath pelan saat membuka pintu yang belum di kunci itu.


"Waalaikum salam." sahut semua orang bersamaan.


Nath yang sedang menutup pintu itu sampai terjingkat karena terkejut.


"Pada disini semua?" Tanyanya mendekat. Nath melihat kak Bi dan kak Zoya serta suami mereka ada disini.


Tidak ada yang menjawabnya. Semua orang sibuk memandang wajahnya yang terlihat kelelahan.


"Duduk!" Perintah papa. Mereka semua duduk di sofa dan Nath, si tersangka harus duduk di sofa kecil tanpa sandaran.


"Beegh. Langsung masuk meja hijau nih?" Tanyanya saat menyadari setiap orang punya pertanyaan di otak mereka masing masing.


"Kamu kemana, Nath?" Suara lembut mama membuatnya menatap wanita yang melahirkannya itu.


Nath langsung menatap mamanya. Entahlah, rasa bersalah semakin memenuhi hatinya. Ia ingin menangis sekarang. Tapi untuk mengaku, Nath belum siap. Ia tidak ingin semua orang tidak tidur malam ini karena pengakuannya. Belum lagi keributan yang akan tercipta.


"Di Jogja, Ma," jawab Nath singkat. Ia tak mengubah jawabannya. Ia tak ingin menambah kebohongannya.


"Sama siapa?"


"Sendiri, ma." Jawabnya pelan dan ia menunduk. Ia tau ini salah, dan ia tak berani menatap orang tuanya.


"Kamu baik-baik aja kan, Nath?" Tanya papa.


Nath mengangguk. "Kalau ada apa-apa cerita sama mama papa."


"Kamu boleh masuk ke kamar." Perintah papa.


Nath yang kebingungan perlahan berdiri dan naik ke atas. Apa papa tau aku tengah resah. Apa papa tau aku butuh waktu? Atau papa percaya aku sendirian ke Jogja?


Sementara, di sini mereka masih bertanya-tanya. "Pa, kenapa?" tanya Bintang saat Nath sudah masuk ke dalam kamar.


"Dia punya masalah, tapi belum mau cerita. Biarkan dia istirahan dulu. Besok kita akan ajak dia bicara lagi," jawab papa Akhtar.


Mama Lintang mengangguk setuju.


"Pa, harusnya kemarin kita susulin dia ke Jogja. Supaya kita tahu dia disana sama siapa dan ngapain aja." Usul Nair.


"Gak apa-apa, Nair. Sekarang kalian istirahat ya. Nath sudah pulang dengan selamat, itu sudah sangat melegakan bagi mama papa."

__ADS_1


Akhtar dan Lintang, keduanya sangat mengenal anak-anak mereka. Mereka menyadari Nath tengah ada masalah, tapi keduanya memberikan waktu untuk Nath.


Mereka ingin Nath sendiri yang bercerita, bukan tak peduli, tapi mereka terlalu percaya pada Nath.


__ADS_2