
Beberapa hari berlalu, siang ini Lintang dan Tiara baru saja keluar dari universitas tempat Rion mengenyam pendidikan. Mereka baru saja mendaftarkan Tiara di universitas ini sesuai hasil keputusan bersama antara Tiara, Nath dan ayahnya.
"Kamu mau nunggu Nath dimana, Ra?" tanya Lintang pada menantunya itu. Sesuai rencana, Tiara akan pulang bersama Nath dan Lintang akan langsung pergi ke Auzora Boutique dan BL Shop.
"Abang bilang di cafe dekat sini, Ma." Keduanya sudah membuat janji. Nath meminta Tiara menunggu di cafe, karena ia baru akan keluar kelas sepuluh menit lagi.
Jika menunggu di kampus Nath, ia takut Tiara bosan. Jadi, Nath menyuruh istrinya itu untuk turun di Cafe dekat kampus Rion. Jaraknya hanya 1 km dari kampus Nath.
"Itu cafenya, Ma." Tunjuk Tiara pada sebuah yang terlihat nyaman.
"Kamu gak apa-apa nunggu Nath sendirian, Ra?"
"Gak apa-apa, Ma."
"Hati-hati, Ma. Assalamualaikum." Sebelum turun, Tiara mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Kalau Nath lama, hubungi mama ya Ra. Biar mamang yang jemput."
"Iya mama."
Tiara melenggang masuk di cafe. Ia memilih duduk di kursi luar. Sepertinya hanya dia yang datang sendirian karena semua orang datang bersama teman atau pasangan.
Tiara memesan jus buah untuk ia nikmati sambil menunggu Nath datang. Tiara mengirim pesan pada suaminya.
^^^Tia udah di cafe, Bang. Jangan lama-lama.^^^
Tiara mencroll sosial medianya. Tidak ada yang menarik. Mencoba memainkan game cacing. Juga tidak menarik.
Sampai pelayan mengantarkan pesananya Nath juga belum datang.
"Sendirian, Tiara?" Suara yang ia kenal membuatnya mendongak.
Pria tampan dengan kemeja warna navy dan jeans hitam itu kini duduk di sebelah Tiara.
"Seperti yang terlihat," jawabnya acuh setelah memastikan itu memang suara Reyfan. Tiara merasa urusannya dengan pria ini sudah selesai.
Reyfan menyeringai. "Pengantin baru galak bener," balasnya. "Kayak orang gak bahagia."
Tiara mengerutkan kening. Dalam hatinya, ia menertawakan Reyfan.
Apa hubungan antara galak dan gak bahagia? Kebanyakan clubbing jadi eror nih orang.
"Suami kamu gak bisa ngurus kamu ya?" tanyanya dengan nada menyindir.
"Iya kali nikah sama anak kuliahan. Cuma naik motor doang pula." Reyfan seperti mengejek Nath.
Tiara menatapnya tajam. "Maaf ya, Kak. Kamu boleh pergi sekarang, karena jika terus disini akan timbul fitnah."
Reyfan tersenyum miring. "Difitnah juga gak apa-apa. Kamu cerai sama suami kamu juga gak masalah, kan? Kamu kan nikah sama dia karena-"
"Cukup kak. Jangan melewati batas." Tiara mengacungkan jari telunjuknya.
Reyfan mengangkat kedua telapak tangannya. "Okey. Okey. Aku berhenti."
Tiara menatap layar ponselnya mencoba mengirim pesan pada Nath agar lebih cepat datang.
Reyfan melihat Nath sudah ada di parkiran. Otak liciknya mulai bekerja. Jika ia tak bisa mendapatkan Tiara maka Nath juga tidak bisa. Percuma menunggu Tiara menjadi janda, karena warisan Reyga sudah diberikan pada yayasan.
Reyfan berdiri dan Tiara sedikit lega. Namun, ternyata pria itu belum pergi. Ia malah berdiri di belakang Tiara sedikit membungkuk dan menumpukan satu tangannya di tepi meja.
"081 ......" Reyfan membacakan sebuah nomor ponsel. Dan Tiara sontak menatapnya karena suara itu terdengar sangat dekat dengannya.
"Ti...." Nath berdiri di jarak 5 meter dari Tiara dan Reyfan.
__ADS_1
Waktu terasa berhenti. Nath diam mematung dan Tiara juga diam di tempatnya menatap Nath.
Sementara Reyfan menegakkan tubuhnya, berjalan meninggalkan meja Tiara dengan jemari membentuk telpon dan ia tempelkan di telinganya. Seolah memberi kode Tiara untuk menelponnya. "Ku tunggu dan kamu yang pilih tempat."
Tiara semakin bingung. Apa yang Reyfan katakan membuatnya sungguh tak mengerti. Sementara Nath melihat hal yang begitu memancing emosinya.
Reyfan masih sempat menepuk bahu Nath. "Bersiap, dia akan meminta cerai darimu," bisik Reyfan pelan.
Nath menatap punggung Reyfan yang meninggalkan keduanya dengan senyum mengembang. "Ini hukuman karena kekalahanku," gumamnya.
Nath menatap Tiara yang masih melongo. Ia coba mencerna semuanya. Mulai saat Reyfan menyebutkan sebuah nomor ponsel yang sama sekali tidak ia minta dan tidak ia catat.
Nath maju dan menarik tangan Tiara. "Pulang!" Nath menahan marah, menahan geram karena merasa dicurangi.
Nath mengira beberapa hari yang penuh kebahagiaan ini akan terus berlanjut. Sedikit perdebatan dan saling mengerjai, ia fikir itu memang cara mereka mempertahankan rumah tangga.
Lalu untuk apa Reyfan mengatakan menunggunya? Apa Tiara berubah fikiran? Apa Tiara menyesal menikah dengannya yang tak sekaya Reyfan? Apa pernikahan ini hanya untuk membalas dendam? Untuk meninggalkan Nath disaat rasa nyaman mulai tercipta. Disaat bahagia mulai terasa dan disaat Nath sudah terbiasa bersamanya.
"Tunggu!" Tiara merogoh tasnya dan mengambil uang 50 ribu untuk membayar jus yang belum ia sentuh sedikitpun. Tiara meletakkan uang itu diatas meja.
Nath membawanya pulang. Membonceng Tiara dengan sepeda motornya. Janji untuk makan siang bersama batal sudah.
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Tiara tidak menjelaskan apapun. Ia takut jika saat ini belum tepat untuk menjelaskan karena Nath hanya diam, terlihat jelas tengah marah.
Tiara tidak tahu apa yang Reyfan bisikkan padanya. Yang pasti Nath tengah salah faham karena perkataan Reyfan pada Tiara.
Keduanya sampai di dalam rumah. Nath langsung menarik Tiara ke kamar. Membanting pintu dan menguncinya. Tiara sampai terkejut.
Nath merasakan emosinya sudah di ubun-ubun. Dia tidak tahu mengapa bisa semarah ini. Tiara sendiri yang menolak pria itu. Mengapa kini Reyfan kembali dengan begitu mudahnya.
"Apa tujuanmu mau menikah denganku, Ti?" Nath menghimpit tubuh Tiara di dinding. Tak ada jarak barang sesenti pun. Tiara mendongak dan Nath menunduk, keduanya saling menatap tajam.
"Tujuan apa? Aku menikah denganmu karena kamu yang memintanya." Tiara menjawab tanpa rasa takut. Dia merasa tidak salah dan yang paling membuatnya heran mengapa Nath menanyakan hal aneh seperti itu setelah pernikahan mereka berjalan lebih dari seminggu.
"Lalu untuk apa dia datang?" tanya Nath semakin memajukan wajahnya. Satu tangannya kini sudah di tengkuk Tiara.
"Untuk apa nomor ponselnya?"
"Gak tau. Aku juga heran kenapa dia menyebutkan nomor ponselnya."
"Untuk apa dia memintamu menghubunginya?"
"Aku juga gak tau, Bang!"
"Kamu mau bercerai dariku."
Tiara diam. Ia menatap ke dalam mata Nath yang jelas memancarkan amarah. Apa ini yang Reyfan ucapkan padanya?
"Tidak akan." Jawabnya mantap.
Nath tanpa izin menyatukan bibir mereka, menekan tengkuk Tiara sekuat mungkin. Ia takut. Takut Tiara menikahinya hanya untuk balas dendam. Takut Tiara meminta cerai darinya.
Aku tidak akan melepaskan apa yang telah menjadi milikku dan aku tak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku. Batin Nath.
Nath membawa Tiara ke atas ranjang, menuntunnya pelan tanpa melepas tautan. Melepas hijab istrinya dan semua kain yang menepel. Ia juga melakukan hal yang sama pada dirinya.
Tiara tak bisa berkutik karena Nath melakukannya dengan cepat. Entah kursus dari mana, tapi ia sangat lihai.
"Bang, masih siang!" bisik Tiara pelan.
"I don't care. Pebinor juga datangnya siang!" Nath membalas dengan nada kesal.
Tiara hampir tergelak mendengar jawaban Nath. Mungkin yang ia maksud pebinor adalah Reyfan.
__ADS_1
"Jendela, Bang!" Tiara melihat arah jendela yang lumayan besar masih terbuka.
"Ck!" Nath berjalan menutup jendela dan tirai besar berwarna abu-abu gelap itu dan seketika kamar ini menjadi sedikit lebih redup.
Tiara menahan tawa melihat tubuh polos dengan wajah kesal itu perlahan mendekat. "Silahkan ketawa karena sebentar lagi aku akan buat kamu tak bisa tertawa."
Memangnya dia mau apa?
Nath membaringkan Tiara dipinggir ranjang. Kembali menci*m tanpa ampun. Tiara bahkan sampai menjambak rambut Nath sangking lamanya ia menyatukan keduanya.
"Aku mau bayar hutang," bisik Nath pelan.
Hutang? Hutang apa? Kenapa saat mendebarkan begini dia malah bicara hutang?
Nath turun dari atas tubuhnya dan berpindah ke bawah. Membayar hutang maksudnya adalah membalas apa yang Tiara lakukan untuknya beberapa hari lalu.
"No Bang! Gak per-" terlambat. Nath sudah beraksi dibawah sana.
*Skip 😅
"Bagaimana?" tanya Nath melihat wajah Tiara semerah tomat. Keringat dikening menandakan begitu banyak energi yang terbakar bersama hasr*t.
Bagaimana apanya? Menurutmu bagaimana? Batin Tiara kesal.
"Puncak acara." Nath tersenyum puas. "Are you ready?"
Tiara membelalakan mata melihat Nath yang sudah mengatur posisi. "Slowly. Touch me slowly!" Sebuah peringatan keras dari Tiara.
Nath menyeringai. "Awas kalau nanti kata faster yang ku dengar."
"Tidak akan." Tiara memejamkan matanya. Inikah saatnya.
Benar saja, ini saatnya. Saat p*mbantaian tanpa ampun. Nath membuatnya gila. Ini yang kedua kali. Masih sakit tapi mampu membawanya terbang ke angkasa.
"Aku belum boleh hamil. Cari pengaman!" Perintah Tiara menatap arah lemari. Ia ingat membawa dan menyimpan hadiah dari Ethan di lemari pakaian.
"Gak perlu. Aku bisa!"
Tiara membelakakan mata. "Bisa apa? Aku yang bisa! Bisa hamil lagi."
Nath tertawa. Permainan santai ini sudah membuat tenaganya banyak berkurang. Tapi belum ada tanda-tanda akan selesai.
"Just relax."
Nath melanjutkan misinya untuk mencapai puncak. Membawa Tiara kembali terbang bersamanya meski tanpa cinta.
Tanpa cinta? Tapi mengapa rasanya membahagiakan. Aku tidak yakin ini tanpa cinta. Batin Nath.
Aku tau aku jatuh cinta. Entah sejak kapan tapi yang pasti rasa itu ada. Batin Tiara.
Nath ambruk diatas tubuh Tiara. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Mereka sama-sama mengatur nafas yang masih saling berkejaran.
Nath menghirup aroma tubuh Tiara dan memejamkan matanya. Bertanya pada hatinya. Apa yang dia inginkan.
"Tetap bersamaku, dan jadilah satu-satunya milikku," bisik Nath pelan.
Tiara mendekap tubuh Nath. Mencoba merasakan apa yang hatinya jawab atas permintaan Nath.
"Aku milikmu dan akan terus begitu."
****
Demi kalian 😂 Aku menulis bab menggelikan 😂
__ADS_1
Konflik berujung manis 😂
Jejak kalian, plis 😁