
Tiara bergetar, ia ketakutan dan saat ini hanya ada satu orang yang ia harapkan kedatangnya.
Bang, Tia disini. Tolong selamatkan Tia Bang, Tia takut. Abang dimana?
"Dan kau tau? Semua harta Reyga yang lenyap itu bisa membeli tubuhmu, seluruh hidupmu bahkan keluargamu, Tiara!" Bentakkan Reyfan yang kesekian kalinya yang membuat Tiara sangat ketakutan.
Ia takut Reyfan membunuhnya, saat ia belum benar-benar mengakui perasaannya pada Nath.
Bang Nath, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Rasanya aku ingin berteriak memanggil namamu dan memeluk tubuhmu, meminta perlindungan darimu.
"Terbanyang sebanyak apa?" Reyfan membuka tali di tangan dan di seluruh tubuh Tiara. Ia menggendong mantan pacar adiknya itu ke sudut meja.
Tiara berontak dan memukul dadanya. "Lepaskan, Kak. Aku mohon." Tiara sudah kehabisan tenaga, sejak pagi ia bahkan belum makan apapun.
"Jangan harap. Jika Reyga pernah merasakan tubuhmu, maka aku juga akan merasakannya."
"Dan jika kau tidak ingin bersamaku, maka kau juga tidak akan bisa bersama suami miskinmu itu."
"Brak!"
Reyfan membanting kasar tubuh Tiara. Ia menyerangnya, menci*m bibirnya dengan kasar. Membuat Tiara semakin memberotak. Tiara merapatkan bibir agar Reyfan tidak bisa menci*mnya. Tiara menahan dada Reyfan sekuat yang ia bisa.
"Bang Naaaath!" Jerit Tiara putus asa.
"Brak!"
Pintu reot yang ditendang dari luar itu terbuka lebar. Membuat Reyfan menghentikan aksinya. Nath dengan cepat berlari dan menarik kerah baju Reyfan dan menghimpitnya ke tembok. "Baj*ngan!"
"Bang. Hiks... hiks... hiks..." Tiara semakin menangis melihat Nath datang. Ia senang suaminya datang disaat yang tepat.
Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengirimkan suamiku ke tempat ini.
"Bught."
Satu pukulan di wajah Reyfan. "Untuk kelancanganmu membawa istriku."
"Bught."
Satu pukulan lagi mengenai hidungnya. "Untuk kebejatanmu terjadapnya."
"Bught... Bught... Bught..."
"Hajar dia, Bang. Tampar dia. Tarik rambutnya, lakukan apa yang dia lakukan padaku." Jeritan Tiara begitu mengiris hati Nath. Ia menatap istrinya yang terlihat berantakan. Rambutnya acak-acakan, pipinya merah dan sudut bibirnya berdarah.
"Bugth." Reyfan memukul perut Nath membuat Nath mundur selangkah, Reyfan segera menendang perut Nath. Membuat Nath jatuh terduduk.
Tim penyelamat datang. Reyfan menyeringai dan menertawakan Nath. "Dasar banc*! Bisanya kroyokan!" maki Reyfan. "Cih!"
Nath segera berdiri dan memberi isyarat pada mereka untuk tidak ikut campur. "Kita duel satu lawan satu!" tantang Nath.
"Siapa takut." Reyfan langsung menyerang Nath.
Nath menghindar dan menarik tangan Reyfan lalu menendang kakinya membuat Reyfan terduduk di lantai kotor itu.
Nath menedang wajah Reyfan dan tepat mengenai dagunya membuat Reyfan jatuh telentang. Nath kembali menghajarnya, duduk diatas tubuhnya dan memukulnya bertubi-tubi.
Reyfan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Nath yang puas menghajar Reyfan langsung meninggalkan pria bej*t yang sudah tak berdaya itu.
"Ti ..." Ia mendekat dan memeluk istrinya. "Maaf aku gak bisa jaga kamu, Ti."
"Tia takut bang! Tia takut! Jangan jauh-jauh dari Tia bang." Nath semakin mengeratkan pelukannya.
"Abang gak akan jauh-jauh dari kamu, Ti."
"Bang! Awas!" Tiara mendadak panik melihat Reyfan berusaha berdiri di belakang Nath dengan membawa pisau yang ia ambil dari kantong jaketnya.
Nath menoleh kebelakang dan ...
__ADS_1
"Dor ... Dor ..." Dua timah panas langsung melumpuhkan kaki Reyfan. Empat orang tim penyelamat langsung meringkusnya.
Polisi sedang menuju lokasi karena pemberitahuan dari Satya soal peringkusan pelaku yang sudah di lakukan oleh orang-orangnya.
Nath membuka jaketnya dan menutupi kepala Tiara. Ia menggendong istrinya di depan tubuhnya seperti bayi koala. "Kita keluar dari sini."
Tiara memeluk erat leher Nath, melingkarkan kakinya di tubuh suaminya dan menyembunyikan wajahnya di bahu bidang itu.
Di luar, yang lain bisa bernafas lega karena Nath dan Tiara baik-baik saja.
"Aku bawa dia ke mobil dulu." Ucap Nath pada yang lain. Rion langsung memberikan kunci mobil pada Nath.
Meski kesulitan Nath berhasil membuka pintu mobil. Ia mendudukkan Tiara di kursi penumpang.
Nath memeluk Tiara. Ia lega akhirnya istrinya selamat dan dalam keadaan yang tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Bang!" Tiara masih terisak.
"Tiara! Katakan sayang, kamu gak diapa-apain kan sama dia? Kamu gak ada yang luka kan?" tanya Nath memeriksa tubuh Tiara yang memakai baju tidur lengan panjang itu.
Ia menggemertakkan giginya, geram melihat tangan Tiara penuh luka lecet akibat tali yang terlalu kencang mengikatnya.
Nath merapikan anak rambut Tiara dan menyelipkannya di belakang telinga. Keduanya saling tatap meluapkan kelegaan dan kerinduan serta kesadaran akan rasa cinta yang begitu besar.
Nath beralih pada wajah Tiara. Ia menyentuh pipi yang masih merah itu. Ia turun beralih pada bibir yang berdarah di sudutnya itu.
"Dia... Dia menyentuh di sini." Isak Tiara dengan air mata yang mengalir deras. Tidak rela Reyfan mencium bibirnya.
"Dia menyentuh disini." Tiara mengelap bibirnya dengan lengan bajunya yang kotor karena debu di gudang itu yang lumayan tebal.
Nath menahan tangan Tiara. Mendekatkan wajahnya dan menci*m bibir merah muda itu. Cukup lama, ia menyapu seluruh permukaan bibir itu dengan bibirnya.
Nath mengecup singkat bibir Tiara. "Sudah ku hapus jejaknya dan saat ini hanya ada jejak bibirku disini." Nath mengusap bibir Tiara dengan ibu jarinya.
"Jangan jauh-jauh lagi, Ti. Aku hampir gila melihatmu dibawa mereka pagi tadi."
"Aku hampir gila saat kehilangan jejak mereka."
"Kamu benar, Ti. Kita tidak akan pernah tahu sedalam apa perasaan itu sebelum kita kehilangan."
Nath kembali memeluk Tiara. "Dan sekarang aku tahu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Nath berulang kali mencium pucuk kepala wanita dalam dekapannya itu.
Tiara juga semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga. Sekarang Tia tau, siapa yang Tia butuhkan, siapa yang Tia harapkan dan Siapa yang Tia cintai. Tia sayang, cinta sama abang."
"Jangan jauh-jauh, Bang. Tia takut."
"Jangan tinggalkan Tia sendirian."
"Gak akan pernah lagi, Ti." Bisik Nath ditelinga istrinya.
"Dulu, aku pernah menyesal menyetuhmu, karena kesalahan itu kamu harus menikah dengan pria sepertiku."
"Tapi saat ini aku merasa, itu adalah penyesalan terindah dalam hidupku. Cara salah yang membuatmu menjadi istriku," lanjut Nath.
"Aku tidak pernah menyesal jatuh dalam pelukan pria seperti kamu, Bang." Tiara mendongak mengecup dagu Nath.
"Karena kamu seribu kali lipat lebih baik dari Reyfan." Kalimat pengakuan yang membuat Nath berbunga-bunga.
Mereka kembali ke Villa, setelah polisi membawa keempat penjahat itu ke kantor.
Tiara langsung disambut pelukan haru oleh orang tuanya.
"Kamu baik-baik aja kan, Ti. Ibu khawatir, Nak."
"Ayah juga khawatir. Ayah takut kamu..."
"Tiara baik-baik aja, Yah, Bu." Tiara tahu itu, ayah dan Ibunya pasti sangat mengkhawatirkannya.
__ADS_1
Nath juga mendapat pelukan hangat dari Lintang. "Dia baik-baik aja, Ma. Terima kasih atas doa terbaik mama."
"Semoga bahagia Nath." Bisik Lintang pada putranya. Lintang beralih memeluk Tiara.
"Ma..." Tangis Tiara kembali pecah saat ia berhasil memeluk mertuanya. Ia tak menyangka akhirnya bisa kembali memeluk seluruh keluarganya. Ia terharu melihat semua keluarga Nath datang kesini.
"Kamu gak apa-apa kan, Ti? Mama bahagia akhirnya kamu bisa kembali bersama kami."
"Maaf merepotkan semuanya, Ma."
"Ssst... Mama yang harusnya minta maaf karena Nath belum bisa menjaga kamu."
"Kita obati dulu luka kamu, Ya. Sore nanti kita kembali ke Jakarta sama-sama." Tiara mengangguk.
Mereka membawa Tiara masuk ke dalam. "Mau mandi dulu, Ti," ucap Nath yang tak pernah menjauh dari sisi Tiara.
Tiara mengangguk. "Boleh."
"Mau Ibu bantu, Ti?" tawar bu Nurul pada putrinya.
Tiara menatap Nath sekilas lalu menatap Ibunya. "Tia sama abang aja, Bu."
Nath menuntun Tiara masuk ke kamar. Ia menyiapkan air hangat di bathtube lalu menuntun Tiara ke kamar mandi. Ia juga membantu membuka semua pakaian Tiara.
Sedikit memar di punggung, serta luka lecet di tangan dan kakinya membuat Tiara meringis saat masuk ke air.
"Pedih, Ti?"
"Sedikit."
"Cepat mandi, setelah ini makan. Kamu belum makan, kan?" Tiara menggeleng.
Nath sekalian saja mandi, karena tubuhnya juga kotor akibat berkelahi menghajar Reyfan tadi. Nath membasuh tubuhnya dibawah guyuran shower.
Tidak ada hal lain yang terjadi, hanya mandi. Nath ingin, tapi tidak mungkin. Ia tidak akan melakukan hal itu saat Tiara dalam keadaan seperti ini.
Nath mengangkat tubuh Tiara yang sudah dililit handuk dan meletakkannya di atas ranjang.
"Aku pakai baju, sebentar." Nath mencari baju yang sudah Tiara pindah ke lemari dan segera memakainya.
Lalu ia mengambil pakaian Tiara. Dengan telaten Nath mengurus Tiara yang tubuhnya terasa lemas dan remuk.
Nath mengeringkan rambut istrinya dengan Hairdryer yang sengaja Tiara bawa.
"Basah, nih." Sindir Rion saat Nath dan Tiara keluar dari kamar.
"Mandinya pake air, Yon! Bukan tayamum!" jawab Nath asal.
Di ruang tamu rumah itu hanya ada beberapa orang saja. Semua tim sudah meninggalkan Villa, sementara Akhtar, Satya, Zainal, Robert dan beberapa orang tim pergi ke kantor polisi mengurus kasus ini.
Nath langsung mendudukkan Tiara di sofa dan segera menyuapi Tiara dengan makanan yang sudah Lintang dan Ibu mertuanya siapkan.
Semua lega melihat Tiara kembali dengan keadaan baik-baik saja. Lebih dari cukup dari yang Nath dan yang lain minta.
Nath menatap Tiara yang makan dengan lahap. Sesekali ia juga menyuapkan makanan ke mulutnya.
Berpisah kurang dari 12 jam saja membuatnya hampir gila. Dan saat ini ia sangat bahagia karena Tiara juga mencintainya, perasaannya terbalas.
Entah sejak kapan, tapi yang pasti Nath saat ini sadar, ia mencintai istrinya. Istri yang ia pinang karena kesalahan.
Tamat 😂
Enggak kok 😂
Happy new year and happy ending.
Bukan ending cerita, tapi ending bab/konflik 😂
__ADS_1
Tau ah. Pokonya happy dah buat kita semua 😊
Buat othor happy dong, dengan like dan komen kalian 😍