EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 21 Mama Izinkan


__ADS_3

"Sore itu, saat kak Zoy memintaku mengantarkan kunci rumah ke rumahnya, aku terjebak hujan dan tidak bisa segera pulang hingga malam tiba." Nath kembali menatap ke bawah.


"Aku mendengar Tiara menangis, kak. Aku takut terjadi sesuatu dan aku mencoba masuk ke kamarnya." Nath menatap Bi berusaha meyakinkan kakaknya bahwa yang ia katakan adalah kebenarannya.


"Aku melihat dia minum minuman beralkohol. Dia mabuk, Kak."


Bintang membulatkan matanya tak percaya. Ia tak percaya Tiara yang ia kenal sebagai gadis baik-baik meminum minuman mengandung alkohol.


"Aku merampas minuman itu darinya, dan aku ikut minum." Nath menghela nafas berat.


"Semua terjadi begitu saja kak. Aku melakukannya dengan sadar meskipun aku minum." Ia terisak, pandangannya kosong ke depan.


"Lalu soal kehamilan?" tanya Bintang padanya. "Sejak kapan kamu tau?"


"Malam itu, saat aku mengatar makanan di acara 7 bulanan kakak, aku tidak menemukan Tiara di rumah kak Zoy."


"Aku malah menginjak sebuah tespack dengan dua garis merah kak."


Bi mendengarkan dengan baik tanpa ingin menyela atau menghakimi Nath.


"Aku tau itu pasti milik Tiara." Nath menyeka air matanya. "Aku langsung mencarinya ke rumah orang tuanya."


"Benar saja. Tiara sudah pulang siang itu. Dan aku terkejut setengah mati saat orang tuanya mengatakan bahwa ia ke stasiun untuk segera berangkat ke Jogja."


Bi terkejut luar biasa. "Jadi, kamu ke Jogja sama dia?"


Nath menatapnya sambil mengangguk. "Aku takut dia kesana untuk abors* kak," lirih Nath.


Benar juga. Biasa saja dia kesana karena berniat untuk abors*.


"Aku mencarinya di stasiun, tapi tidak menemukannya. Untung saja aku sempat membeli tiket, Kak. Dan saat kereta akan berangkat aku melihatnya masuk ke salah satu gerbong."


"Akhirnya aku ikut dia ke Jogja."


"Benar dia mau abors*?"


Nath menggeleng. "Teman sekolahnya menikah, kak. Dan dia diundang."


"Dia mungkin juga butuh menghibur diri, kak. Sebulan, dia tidak ingin menemuiku. Dia tidak ingin membahas masalah kami."


"Untuk itu aku tidak berani mengatakan pada mama papa dan kalian. Aku takut memaksa bertanggung jawab dan menikahinya justru membuatnya semakin tidak bahagia kak."


"Disana aku tahu satu hal." Nath menatap Bi. "Aku dan dia menyayangi janin itu. Aku dan dia sepakat untuk meneruskan kehamilannya dan memberikan keluarga utuh untuk anak kami."


Bintang menghembuskan nafas lega.


"Malam itu, aku ingin bicara kak. Tapi aku takut membuat keributan dan menyebabkan semua orang tidak bisa tidur nyenyak."


"Saat baru pulang dari Jogja?"


Nat mengangguk. "Esoknya malah kak Zoya masuk rumah sakit. Aku terus menunda untuk bicara, Kak. Karena waktu dan pikiran mama masih fokus pada kak Zoy dan baby Zi."


Bintang mengelus bahu Nath. Ia tahu beban berat yang dipikul oleh adiknya itu. Nath tetap gentle dan berusaha menyelesaikan masalahnya, hanya saja waktunya yang memang belum tepat.


"Dan sore tadi, seseorang bernama Reyfan datang. Pria yang tidak Tiara cintai tapi memaksa untuk menikahinya."


Bi membulatkan matanya. Ini pertama kalinya ia mendengar nama Reyfan.

__ADS_1


"Pria itu marah saat Tiara mengatakan sedang mengandung anakku. Kami berkelahi hingga Reyfan mendorong Tiara dan ia tertabrak mobil."


Bintang menarik Nath dalam pelukannya. "Jadi bukan kamu yang menyebabkan Tiara celaka, Nath?"


Nath menggeleng. "Anak kami sudah tidak ada, Kak," isaknya dalam pelukan Bintang.


"Ikhlaskan, Nath, " bisik Bintang. "Allah pasti punya rencana lain dibalik kejadian ini."


"Kak ...." Nath menarik diri dari pelukan Bi. "Kakak lihat Tiara ya kak, besok. Kasih tau aku keadaanya. Karena aku gak tau sampai kapan papa melarangku bertemu dia."


Bintang menyeka air mata Nath. "Pasti, Nath." Bi mengangguk pelan.


"Kamu akan tetap menikahinya?"


Nath mengangguk. "Aku harus tetap tanggung jawab, Kak."


"Kamu mencintainya?" Nath diam dan tidak menjawab. Selama ini tujuannya untuk menikahi Tiara hanyalah sebagai penebus rasa bersalah dan sebagai bentuk pertanggung jawaban.


"Lalu Reyfan? Bagaimana jika dia terus maju?"


Nath mengangkat bahu. "Keputusan ada pada Tiara kak."


"Kamu menyesal, Nath?" tanya Bi.


Nath mengangguk mantap. "Tapi aku tetap gak boleh jadi pengecut, Kak."


Bintang tersenyum dan kembali merangkul Nath. "Kamu hebat, Nath. Berani bertanggung jawab dan menanggung semua resiko."


Sementara itu, di balik pintu yang tak jauh letaknya dari tempat Bintang dan Nath, ada empat pasang mata yang melihat mereka. Ya, Rion, Nair, Lintang dan Akhtar.


Saat ini wajah Lintang sudah banjir air mata. Akhtar membawanya ke kamar meninggalkan Rion dan Nair.


"Mas ...."


Akhtar kembali menarik Lintang dalam pelukan. "Tenang lah, Lin."


"Kita melupakan Nath, Mas," ucapnya lirih.


"Kita tau dia sedang ada masalah, tapi kita malah membiarkannya dan tidak merangkulnya."


"Lin, dengarlah, Sayang!" Akhtar menangkup wajah Lintang dengan telapak tangannya.


"Kita melakukan itu, bukan karena melupakannya, tapi kita terlalu percaya padanya. Kita percaya dia akan baik-baik saja. Kita percaya dia mampu melewati semua."


"Dia putraku, Lin. Bagaimana mungkin aku melupakannya?" Tatapan mata mereka bertemu.


"Nath melakukan kesalahan, Mas. Dan kamu mengusirnya tadi. Dia pasti merasa dibuang, Mas."


"Aku tahu dia salah, Lin. Dan aku menyuruhnya pulang, bukan tanpa alasan."


"Aku khawatir, Ezra terus menghajarnya jika dia masih disana. Aku takut orang tua Tiara semakin tersulut emosi karena kehadirannya. Aku takut keadaan semakin memanas sebelum kita memperbaikinya."


Akhtar menghapus air mata Lintang. "Kesalahan kita cukup sekali, Sayang."


"Yaitu saat kamu sempat salah mengambil sikap pada Bi, Zoya dan Rion dulu."


"Kamu mendiamkan anak-anak kita. Dan sekarang tidak boleh terulang lagi."

__ADS_1


"Kita rangkul Nath, ya." Lintang mengangguk. Dan pelukan hangat suaminya adalah obat terbaik untuk menghilangkan kegelisahannya.


"Mas, bagaimana rumah tangga Nath dan Tiara nanti? Nath belum bekerja dan mereka sepertinya tidak saling mencintai?"


"Itu adalah tugas dan tanggung jawab kita, Sayang. Mencukupi kebutuhan mereka dan menumbuhkan cinta diantara mereka."


Lintang menatap suaminya. "Terima kasih papa terbaik."


"Sama-sama istri terhebat."


***


Cklek...


Hampir tengah malam, Lintang masuk ke kamar dua anak bujangnya. Ia tersenyum melihat si kembar dengan baju koko, sarung dan kopiahnya tengah duduk bersila diatas sajadah.


Lintang masuk ke dalam dan langsung mendapat pelukan hangat dari keduanya. Mata Nath mulai berkaca. "Maaa...."


Lintang duduk di lantai dan Nath bersujud dipangkuannya. Nair, dia duduk merangkul bahu mamanya.


"Nath!" Lintang mengelus kepala putranya.


"Nath menyesal?"


Nath mengangkat wajahnya dan mengangguk berkali-kali. "Iya, ma..."


"Maaf kalau mama kurang memperhatikan kalian berdua." Ia menatap Nath dan Nair bergantian. Dan kedua putranya langsung memeluknya.


"Nath, mama tau, melawan hawa nafs* itu sulit, Nak. Dan kamu pernah gagal."


"Jadi, untuk kedepannya, belajarlah untuk mengendalikannya. Bukan mama atau Nair yang bisa, melainkan diri kamu sendiri."


"Dan jadikan ini sebagai pelajaran untuk kamu, Nair."


"Insya Allah, Ma."


Nath mengangguk. "Maaf mengecewakan mama dan papa."


Lintang tersenyum. "Tapi mama bangga, anak mama mengerti akan arti tanggung jawab."


"Mama bangga, kalian tidak ingin melakukan dosa lebih besar dengan menggug*rkan janin itu. Meskipun Allah akhirnya mengambil mereka kembali dengan cara-Nya."


Hening....


"Ma ... tolong izinkan Nath menikahi Tiara."


"Mama izinkan, Sayang. Belajarlah untuk menerima dan mencintainya."


Nath gak tau Ma, Nath bisa atau enggak. Tapi akan Nath coba.


****


Besok, minggu manis 😍


Kita akan pertemukan Nath ama Tiara ya 😀


Tinggalkan jejak kalian 😚

__ADS_1


__ADS_2