EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 78 Dua lagi menyusul


__ADS_3

Rion masuk bersama Queen dan baby sitternya. Bukan tidak percaya pada pengasuhnya, Rion hanya tidak tenang meninggalkan Queen hanya dengan pengasuh tanpa pengawasan keluarga.


Rion terkadang meminta mami dan papinya untuk datang ke rumah dan ikut mengawasi putrinya. Dan Ray serta Sania akan dengan senang hati datang ke rumahnya. Terkadang mereka yang mebawa Queen ke rumah Danadyaksa.


"Pas banget, Queen. Mommy Titi sama daddy Nath ada di sini," ucap Rion pada Queen, gadis dalam gendongannya yang saat ini sedang memasang wajah cemberut .


Tiara baru saja kembali dari dapur dengan setoples nastar yang ia bawa dengan kedua tanganya. Ia langsung duduk dan meletakkannya di atas meja. Disusul oleh asisten rumah tangga yang membawakan teh dan air putih diatas nampan.


Nath mengambil Queen dari gendongan Rion. "Ratunya daddy kenapa cemberut, nih?"


Queen langsung menatap sebal pada Nath yang sering mengganti namanya. "Queen, Daddy! Bukan Ratu!"


Nath terkekeh karena Queen langsung protes. Gadis kecil itu seperti Bi waktu kecil, ia tidak suka namanya diubah-ubah.


"Ayah ke rumah sakit dulu ya, Sayang. Kasian bunda udah kesakitan di mobil." Rion mencium kening putrinya. "Jangan nakal. Okey!"


"Doain bunda sama dedenya sehat dan selamat ya, Nak." Queen mengangguk.


"Ayaaah..." rengek Queen tidak mau di tinggal. Sedari tadi, ia memang tidak ingin di tinggal bersama Nath dan Tiara. Ia ingin ikut ayah dan bundanya ke rumah sakit.


"Sayang, kakak gak boleh nakal ya, Nak. Nanti kalau dedenya udah keluar, kakak ke rumah sakitnya sama mommy sama daddy."


"Sama mbak, sama Zi juga," lanjut Rion.


Queen menatap Nath dan Tiara bergantian. Tiara mengangguk pelan, "Nanti sama mommy ya, Nak. Kita kesana sama-sama."


Queen akhirnya mengerti juga. Rion tidak ingin membawa Queen kerumah sakit karena pasti akan sangat merepotkan dan Queen juga pasti akan merasa bosan.


Lintang ikut dengan mobil menantunya karena Akhtar tidak kunjung kembali. Biar suaminya itu menyusul nanti.


Nath membawa Queen duduk di pangkuannya. Sementara baby sitternya di persilahkan meletakkan barang-barang Queen yang dibawa dari rumah seperti susu dan makan siang Queen yang sudah dibawa dari rumah.


Tiara membuka toples dan ia langsung menyantap kue nastar buatan mertuanya itu.


Nath terkekeh melihat Tiara yang tampak menikmati tiap gigitan. "Segitunya banget, Ti."


"Ini enak banget, Bang! Cobain deh!" Tiara memberikan setengah kue nastar yang sudah ia gigit ke mulut suaminya.


Nath mengunyah dengan penuh perasaan. Mencoba meresapi rasa dan aroma kue berselai nanas itu.


Perasaan biasa aja. Sama kayak kue buatan mama biasanya. Dan lagi pula, gak ada aroma yang mirip sama parfumku. Batin Nath.


"Queen mau?" tawarnya pada keponakan cantik yang kini dipangku suaminya itu.


Queen mengambil sendiri kue di toples yang saat ini sedang Tiara pegang. "Enak kan, sayang?" tanya Tiara pada Queen.


Queen mengangguk pelan.

__ADS_1


"Nah, kan! Queen aja bilang enak, Bang!" Tiara meletakkan toples setelah makan 3 butir nastar lalu menutupnya kembali.


"Udah?" tanya Nath heran karena Tiara tidak seperti dirinya yang ingin makan kelengkeng dan bisa menghabiskan buah itu dalam jumlah banyak sedangkan Tiara sangat ingin tapi makan hanya sedikit.


"Udah." Tiara mengangguk dan meminum air putih yang dibawakan bibi beberapa saat lalu.


Nath terheran. Ini beneran udah? Astaga, Ti! Kamu minta segera kesini dan saat sudah disini kamu makan hanya tiga butir? Ajaib sekali kamu, wahai istriku.


****


Sore ini, Tiara sedang duduk di gazebo sendirian. Ia melihat bagaimana Nath mengajari keponakannya itu berenang.


Queen dan Zi sudah sangat pandai dalam urusan berenang. Mungkin ini adalah bukti dari pribahasa buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Bintang dan Zoya, dulu mereka juga pintar berenang dan kini anak-anak mereka mewarisi bakat itu.


Tiara kagum, karena dia yang sudah berusia 23 tahun saja tidak bisa berenang meskipun Nath sering mengajarinya.


"Udah dong, Bang! Kasihan anak-anak nanti masuk angin."


"Sebentar lagi mommy Titi," sahut Queen dan Zi kompak. Keduanya kini sedang berdiri di pinggir kolam sementara Nath berada di dalam kolam di sudut lainnya.


Keduanya akan segera berlomba untuk mencapai posisi Nath berdiri. "Are you ready guys!"


"Yes, Daddy!"


"Three, two, and ... go!"


Tiara sampai berdiri di pinggir kolam dan bertepuk tangan. "Zidane! Queen! Zidane! Queen! Ayo sayang! Semangat!" teriak Tiara menyemangati.


"Yeeaaaayyyy!" Queen berteriak saat ia terlebih dulu muncul ke permukaan dan berpegangan pada sisi kolam.


Zidane tertawa. "Aku mengalah, Queen!" ucapnya santai dan langsung duduk disisi kolam. "Pesan papa selalu begitu. Aku lahir lebih dulu dan aku abang! Dan abang harus mengalah dari adiknya."


Queen bersungut kesal. "Kamu kalah, Zi!" Teriaknya kemudian dan berhasil memekakan telinga Nath yang berada diantara keduanya.


"Kamu kalah!" Teriaknya menjulurkan lidah. "Ngaku aja deh!"


"Aku mengalah!" ucap Zidane. Ia memang mewarisi sifat Ezra yang santai dan tenang.


Nath melihat sisi kanan dan kiri bergantian. Ia sampai pusing sendiri. Ia juga bingung harus membela yang mana.


Tiara melihat ponselnya bergetar. Ia segera mengambilnya di gazebo dan melihat sebuah panggilan masuk dari mama Lintang.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumsalam, Ti. Mama mau ngabarin kalau Bi sudah melahirkan. Semuanya sehat. Bawa Queen kesini ya, Ti."


"Alhamdulillah, Ma. Iya Ma. Kami segera kesana." Nath, Queen dan Zidane langsung melihat Tiara yang sedang bicara melalui ponsel.

__ADS_1


Tiara mendekat. "Ayo bilas! Bunda Bi sudah melahirkan. Kita ke sana sekarang."


Ketiganya bersemangat dan segera membilas tubuh dan berganti pakaian. Tiara meminta bantuan baby sitter mereka masing masing karena ia juga harus mengurus bayi besarnya.


Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di ruangan besar tempat Bi dan bayinya di rawat.


Ray, Sania, Lintang, Akhtar dan Chiara, adik Rion sudah disana. Bahkan Nair yang sedang bertemu dengan temannya langsung datang kesana setelah dikabari oleh mamanya.


"Selamat kak." Tiara memeluk Bintang yang sedang berbaring di ranjang dan Queen yang sudah ikut duduk di ranjang bundanya. "Sudah lengkap kebahagiaannya sekarang."


"Belum, Ti. Dua lagi segera menyusul." Candaan Rion membuat Bi mencebikkan bibir.


"Ngebut banget bang Rion!" Tiara tertawa. Ia beralih pada box bayi yang sudah lebih dulu di dekati suaminya. Nath menatap kagum ciptaan Allah yang satu ini. Dulu Queen, dan sekarang adiknya Queen. Ia turut bahagia atas apa yang dititipkan pada kakak dan sahabatnya itu.


"Namanya siapa kak?" tanya Tiara saat melihat bayi tampan yang sedang terlelap itu.


"Prince Altair Danadyaksa," Rion yang menjawab.


Tiara tersenyum bahagia. "Kakaknya Queen, adiknya Prince."


"Entar dua lagi King sama Princess," sambung Nath bercanda.


Rion dan yang lainnya terkekeh. "Nah, pas kan Nath?" ucap Rion.


"Nath aja ngerti kenapa ku bilang dua lagi, sayang!" Rion mengerling pada istrinya.


Nath menatapnya tak percaya. "Jadi beneran? Dua lagi untuk mengisi nama King sama Princess?"


Rion tertawa. "Enggak lah. Kalau semuanya cewek, iya kali tetap paksain pake nama King."


"Kali aja, bapaknya sableng!" cibir Nath.


"Sableng-sableng gini ekorku udah dua, Nath!" Rion seolah membanggakan kemampuannya untuk memproduksi anak.


"Terus? Kamu fikir aku gak bisa nambah ekor?" Nath cemberut dan duduk di sofa bergabung dengan yang lain.


Rion mengangkat bahu. Seolah mengatakan, Mana ku tahu?


"Semua ada masanya, Nath." Ucapan Lintang membuat keduanya berhenti berdebat.


"Kalau belum, bukan berati tidak akan. Sebagai manusia, kita hanya perlu berdoa dan berusaha."


"Selebihnya serahkan sama yang diatas."


Tiap malam usaha terus, Ma. Batin Tiara geli. Ia merasa senang karena mertuanya itu tidak pernah mendesaknya untuk segera punya anak.


***

__ADS_1


Setelah ini kita fokus lagi pada Tiara dan Nath yaaa 😊


__ADS_2