EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap -Nair (1)


__ADS_3

Ini adalah kisah Nair dan Naira.


Latar waktunya akan aku mundurin beberapa tahun kebelakang. Jadi semoga aja gak bingung bacanya yaa 😊


Dan karena ini hanya bonus Chapter, aku akan percepat waktunya.


Semoga gak bosan yaaa 😊 selamat membaca 😍


****


Salah satu Universitas Negeri di Jakarta, tanggal xx, Agustus xxxx ( 7 tahun yang lalu)


Suara azan Zuhur berkumandang. Nair melihat jam di pergelangan tangannya. Ia sedang di kantin kampus, baru saja selesai menikmati makan siang karena jadwalnya masih ada beberapa jam lagi.


Nair langsung berjalan menuju masjid yang masih berada dalam kawasan kampus tempatnya mengenyam pendidikan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang.


Nair tiba di masjid dan ikut sholat berjamaah. Setelah Sholat ia tak lantas pergi meninggalkan masjid. Ia memilih tetap duduk sambil menunggu kelasnya dimulai.


Nair pindah duduk di dekat tirai pembatas antara jamaah lelaki dan perempuan. Saat ia tengah memeriksa ponselnya, sayup terdengar suara merdu seorang wanita tengah membaca Al-Qur'an.


Suara yang membuatnya merasa tenang. Meski suaranya sangat pelan tapi tetap saja sampai ke telinga Nair.


Ingin rasanya Nair menyibak kain pembatas dibelakangnya dan melihat siapa wanita yag membaca Al-Qur'an dengan begitu merdu dan menyentuh.


"Shadaqallahul 'adzim." Wanita itu telah selesai membaca Al-Qur'an.


Nair langsung bersiap dan ia segera keluar, berharap bisa mengintip wanita itu dari jendela.


Dan Nair melakukannya, melihat siapa yang ada dibelakangnya tadi. Namun sayang, Nair melihat beberapa wanita bersiap keluar dari masjid. Hingga ia tidak tahu wanita mana yang membaca Al Qur'an tadi.


"Belum rezeki," gumamnya pelan sambil tertawa. Nair bahkan menggaruk tengkuknya karena menyadari dirinya yang berlebihan. Jatuh cinta hanya dari suara, uh?


Nair turun dari teras masjid. Ia masih melihat beberapa orang wanita yang baru saja keluar dari masjid. Entah ada perasaan apa, tapi ia berharap bisa menemukan gadis itu.


"Astagfirullahal 'adzim."


"Eh, maaf ya kak. Gak sengaja, aku buru-buru soalnya," ucap seorang gadis yang tidak sengaja menabrak gadis yang baru saja keluar dari Masjid.


"Ya, tidak apa-apa, kak," ucap gadis berhijab yang tidak segaja tertabrak.


"Maaf ya kak. Saya buru-buru." Gadis itu langsung berlari kearah tempat wudhu khusus wanita.


Nair melihat sesuatu terjatuh di tanah saat keduanya bertabrakan tadi. Nair berlari mengambil apa yang ia temukan dan berusaha mengejar gadis berhijab itu.


"Hei tunggu!" panggilnya. Namun gadis itu sudah terlanjur pergi.


"Nair!" suara yang ia kenal memanggil namanya.


Nair melihat kebelakang dan menemukan Nath disana. "Ada apa?" Nair berjalan mendekat ke saudara kembarnya itu.


"Aku pulang duluan!"


Nair mengangguk. "Aku masih ada kelas sampai jam 3."


"Cepat pulang!" Nath meninggalkan Nair.

__ADS_1


Hari ini, Bintang akan berangkat ke Negara Inggris demi melanjutkan S2nya. Juga demi mengobati luka di hatinya. Karena ulah Rion, sahabat mereka yang merusak nama baik Bintang dengan menyatakan cinta tanpa melihat situasi.


Nair melihat benda yang ia pegang. Benda yang seukuran telapak tangannya.


"Al-Qur'an?" ucap Nair penuh tanya. Ia membuka reslating benda yang tampak seperti dompet itu.


"Benar, Al-Qur'an." gumam Nair.


"Bagaimana aku mengembalikan ini?" tanyanya karena ia tidak mengenal gadis itu, dia juga tidak tahu gadis itu ada di fakultas apa.


"Oke Nair, gak ada waktu lagi untuk mikirin ini, kelas akan dimulai 10 menit lagi." Nair segera berjalan menuju kelasnya.


***


Nair tiba di rumah saat semua orang telah bersiap. Beberapa koper tampak ada di ruang tamu. Serta sebuah mantel tebal ada di atasnya.


Setelah sholat Asar, Mereka pergi mengantarkan Bintang ke bandara.


"Hati-hati di sana, Bi." Lintang sudah tidak bisa lagi membendung perasaan sedihnya.


Putrinya berbulan-bulan hanya mengurung diri di rumah. Merasa malu karena apa yang anak sahabatnya lakukan memang sangat keterlaluan.


"Papa dan mama akan kesana dalam waktu dekat." Akhtar memeluk putri sambungnya dengan penuh lasih sayang.


"Bi cuma setahun ma, pa."


"Kamu jahat!" Zoya memeluk dan memukul punggung Bintang. "Meninggalkan aku sendirian, Bi."


Bintang berusaha tertawa meski dengan air mata yang mengelir deras. "Setahun, Zoy! Duit kamu banyak, sekali-kali jenguk aku disana!"


"I'm okey, Nair!" Ucap Bi saat memeluk Nair. Selama ini Nair memang tidak mengutarakan rasa sayangnya tapi Niar lebih banyak menunjukkannya lewat perhatian dan sikap.


"Semoga selalu bahagia, kak."


"Cepat lulus dan cepat pulang."


"Semoga keputusan ini bisa jadi obat buat kakak."


"Maaf, Nair telah menjadi benteng pembatas yang terlalu kuat kak."


"Kamu melakukan yang seharusnya kamu lakukan, Nair."


Selama ini Nair dan Nath menjadi benteng pembatas antara Bi dan Rion. Selama beberapa bulan, Keduanya menghalangi Bi dan Rion untuk bertemu.


***


"Nair! Bangun!" Nath mengguncang tubuh Nair.


Nair membuka matanya. Ini masih jam 10 tapi Nath membangunkannya secara tiba-tiba.


"Apa Nath?" jawab Nair lesu karena ia memang kelelahan.


"Rion kecelakaan Nair!"


"Apa! Jangan becanda Nath!" Nair langsung terduduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Serius! Aku baru buka hp. Ethan kasih kabar dari jam 8 malam tadi."


"Kapan kecelakaannya?" tanya Nair.


"Abis magrib."


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Nair langsung melompat dari ranjang.


Hubungannya dan Rion memang kurang baik, tapi biar bagaimanapun Rion adalah sahabat mereka dari kecil.


Kesalahan Rion memang tidak bisa di maklumi, tapi Lintang selalu menasehati kedua putranya. Hubungan mereka tidak boleh terputus hanya karena masalah pribadi antara Bintang dan Rion.


***


Esok harinya, Nair menunggu gadis yang sama di depan masjid. Ia tidak melihat dengan jelas wajah gadis itu, tapi ia bisa mengingat postur tubuhnya dan cara berpakaiannya yang sedikit berbeda. Ya, hijab gadis itu sangat besar, bahkan hingga menutup pinggangnya.


"Sepertinya dia gak datang." Nair segera pulang karena jadwalnya sudah selesai sebelum waktu Zuhur tiba.


Di rumah, Nair yang duduk di meja belajarnya terus membolak balik benda ditangannya itu. "Ini cuma Al-Qur'an, Nair. Gak akan dicariin juga. Mungkin aja gadis itu punya lebih dari satu." Nair bermonolog.


Nair membuka resletingnya dan tanpa ia duga sebuah kertas kecil jatuh di atas meja.


"Apa ini?" gumamnya pelan.


Nair membaca sebuah tulisan tangan di kertas kecil itu.


AL NAIRA RAHARDIAN


"Kayak gak asing namanya." Nair merasa pernah mendengar nama itu. Dan seketika ia menyadari sesuatu.


Nair langsung keluar menuju lantai satu dimana Lintang menyimpan fotonya saat TK dulu.


Nair membuka laci lemari di ruang TV. Ia mencari album foto yang tidak terlalu besar.


"Cari apa, Nair?" tanya Nath yang sedang menonton tv dengan Akhtar.


"Gak apa-apa." jawabnya sambil terus mencari.


"Gak apa-apa kok sibuk banget?" tanya Lintang.


"Gak apa-apa ma, gak penting penting banget kok."


Nair duduk di lantai setelah menemukan album foto bertuliskan. Al Nair dan El Nath 3-6 tahun.


Punya papa dan kakak yang hobi fotografi membuat setiap momen selalu terabadikan.


Nair membuka setiap lembar dan akhirnya ia menemukan kumpulan beberapa foto saat TK dulu.


Disana ada foto teman-teman Nair dan Nath beserta nama mereka masing-masing.


Nair menunjuk satu persatu foto dan matanya membulat sempurna saat menemukan foto gadis kecil memakai hijab. Gadis kecil yang terlihat manis dan lucu. Di bawah foto tertulis sebuah nama Al Naira Rahardian.


Mata Nair berbinar. Ternyata kita kembali dipertemukan setelah sekian tahun, Nai. Batin Nair.


Ia kembali memasukkan album foto itu ke dalam lemari dan segera masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2