
Rumah Pakde Rahman.
"Nai, Umimu tadi nelpon, bude."
"Ada apa Bude?" tanya Naira yang tengah membantu mengupas bawang di dapur. Setelah sholat Zuhur, ia dan Nair segera pulang ke rumah masing-masing.
Bukan diantar Nair dengan mobil atau motornya, tapi dengan ojek wanita langganannya.
"Umimu nanya sama bude, apakah ada pria yang tengah dekat denganmu saat ini, Nai." Kalimat Bude yang tengah memetik kangkung dan duduk di bangku kecil membuat Naira langsung menatap wanita yang merupakan kakak ipar ayahnya itu.
"Bude jawab apa?"
"Ya bude bilang, gak ada. Kamu kan memang gak dekat sama siapapun, Nai."
"Diantar pulang sama lelaki aja gak pernah, ya kan?"
Naira mengangguk dengan senyum tipis. Ia menundukkan pandangan sambil kembali mengupas bawang.
"Marwah, belum pulang Bude?" tanya Naira mengalihkan pembicaraan. Ia menanyakan sepupunya yang masih kuliah semester 6 itu.
"Belum, Nai. Dia biasanya habis Asar baru pulang. Kamu tahu sendiri, dia nyusun skripsi tapi sibuknya kayak pegawai kantoran, Nai." Bude sedikit kesal pada putrinya yang memang selalu pulang terlambat itu
Naira tertawa pelan. "Bude ada-ada aja."
***
Dua hari berlalu...
Nair dan Naira sama sekali tidak pernah pergi hanya berdua lagi. Ia hanya sesekali menemui Naira di rumah sakit tempatnya magang.
Bukan untuk mengucapkan kata cinta dan menyampaikan betapa beratnya menahan rindu, tapi hanya ingin mengingatkan untuk makan siang.
Malam ini, selepas pulang dari masjid Naira membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Perlahan, ia mulai mengerti arti rasa rindu pada makhluk Allah yang ia cintai itu.
Sudah dua hari ini, Nair tidak ke masjid di dekat rumah Naira. Pria itu ke masjid dekat rumahnya karena aktivitasnya yang melelahkan membuat Nair memilih sholat di masjid terdekat.
Kadang, Nair hanya sholat di musholah rumah bersama keluarganya.
Drrtt.. Drrttt... Ponsel Naira bergetar.
Sebuah panggilan masuk.
"Umi?" ucap Naira kaget. Ini sudah jam 10 malam, mengapa uminya menghubungi? Apakah ada hal penting?
"Hallo Assalamualaikum, Umi."
"Waalaikumsalam, Nai?"
"Lagi apa?"
"Baru pulang dari masjid, Umi. Ini Nai masih rebahan di ranjang. Ada apa Umi?"
"Loh, apa gak boleh Umi menelpon putri Umi yang jauh disana?"
Naira tertawa. "Tentu boleh, Umi. Nai kangen Umi."
"Sama sayang... Umi juga kangen."
__ADS_1
"Nai?"
"Ya, Umi."
"Apakah kamu sudah siap menikah, Nak.?"
Deg!
Naira tertegun. Apa ini yang disebut perasaan dan ikatan batin antara Ibu dan anak itu sangat kuat?
Kenapa Uminya bertanya seperti ini saat ia telah mengakui perasaannya pada Nair?
"Ma... maksud Umi?" tanya Naira gugup.
"Kamu belum siap ya, Nak?"
Naira diam saja, ia menggigit bibir bawahnya merasa bimbang harus menjawab apa.
Ia mencintai Nair, dan kelak ingin mengikat janji sehidup semati dengan pria itu. Tapi tidak untuk saat ini, seperti yang ia katakan pada Nair tempo hari.
"Kenapa Umi bertanya seperti ini?" tanya Naira.
"Begini, Nai."
"Umi sebenarnya takut mengatakan ini."
"Tapi tolong jawab jujur ya, Nak?"
Kalimat Uminya membuat perasaan Naira tidak enak. Ia merasa ada hal yang besar sedang berusaha Uminya sampaikan. Tapi Naira sendiri tidak tahu ini soal apa.
"Atau ada pria baik yang menaruh hati padamu?"
Naira perlahan mulai mengerti arah pembicaraan Uminya.
"Umi ingin Nai menikah?"
"Apa Umi sudah sangat ingin menimang cucu?" tanya Naira sambil tertawa pelan. Padahal jantungnya berdebar hebat.
"Nai... bukan begitu sayang."
"Abimu, beberapa hari lalu datang ke pesantren. Dan putra pertama Kyai sudah pulang dari Arab Saudi."
"Abi dan Kyai berencana untuk menjodohkan kalian."
Deg!
Jantung Naira rasanya berhenti berdetak. Ia tak menyangka akan seperti ini takdirnya. Menolak permintaan Abi rasanya berat, lalu bagaimana dengan Nair dan hatinya.
Dan yang paling membuat Naira kecewa adalah rencana Abinya.
Apa ini alasan Abi tidak pernah mengatakan jika ada pria yang memintaku? Apa Abi sudah mempersiapkan pria pilihannya untuk menjadi pendampingku? Apa selama ini Abi memang menunggu kepulangan pria itu?
"Nai? Kamu gak apa-apa Nak?"
Astagfirullah, aku gak boleh su'udzon sama Abi.
"Nai gak apa-apa, Umi."
__ADS_1
"Nai, Umi tahu kamu kaget, tapi Umi mengatakan ini supaya kamu gak bereaksi berlebihan saat Abi mengatakannya padamu nanti, Nak."
"Selama ini Abi selalu melakukan yang terbaik untukmu, Nak."
"Dan Umi yakin, kali ini juga sama."
Air matanya luruh seketika. Ya Allah, maaf telah mencintai umat-Mu begitu dalam. Tapi selama ini memang hanya Nair yang benar-benar mengerti hamba.
Kenapa jalan ini terasa sulit. Kenapa harus ada pilihan antara Abi dan Nair.
"Iya, Umi." Naira berusaha menahan dirinya agar tangisya tidak terdengar oleh Umi.
"Terima kasih, Umi selalu memikirkan Nai."
"Terima kasih, Umi."
"Umi menyayangimu, Nai."
"Katakan pada Umi jika ada seseorang yang kamu cintai, Nai."
"Ti... tidak Umi."
"Nai istirahat ya... Besok harus ke rumah sakit kan?"
"Iya Umi."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan diakhiri. Naira menyeka air matanya. Bahunya berguncang. Ia menangis memeluk guling.
Selama ini ia menjadi anak yang selalu menuruti keinginan orang tuanya. Mulai dari belajar di pesantren hingga harus tinggal di rumah Pakde Rahman selama kuliah di Jakarta.
Naira yang ingin kos dan hidup mandiri, harus menuruti keinginan Abinya. Tujuannya hanya satu, agar ada yang mengawasi dan menjaganya.
Kehidupan kota besar yang rawan tindak asusila membuat Rahardi tidak tenang membiarkan putrinya tinggal sendiri, meskipun di kosan khusus wanita.
Naira mulai terlelap. Ia kelelahan menangisi hatinya yang baru saja merasakan cinta kini harus hancur berkeping.
Naira terbangun saat waktu menunjukkan pukul 2 malam. Ia segera mengambil wudhu . Ia niat sholat Istikharah demi meminta petunjuk Allah. Apakah ia harus menerima keputusan Abinya atau mengatakan pada keluarganya bahwa ada seorang pria yang ia inginkan untuk jadi suaminya.
Naira duduk diatas sajadah dengan tangan menengadah tanda ia tengah berdoa. Doa tulus dalam hatinya, murni meminta petunjuk dari Allah.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu. Aku mohon berikan petunjuk-Mu dengan segala Kuasa-Mu.
Ya Allah, Jika niat Nair untuk menikahiku adalah lebih baik untuk agamaku, lebih baik untuk diriku kedepannya, maka mudahkanlah jalannya. Mudahkanlah langkah kami untuk bersama kemudian berkahilah kami semua.
Ya Allah, Jika niat dan kehadiran Nair membawa bahaya dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya pada diriku, maka ku mohon, singkirkanlah dan jauhkanlah aku daripadanya. Takdirkan kebaikan padaku dimanapun kebaikan itu berada dan kemudian berikanlah kerelaanMu kepadaku.
Ya Allah, Jika pilihan Abi jauh lebih baik, maka mudahkanlah diriku untuk menerima semuanya keinginannya. Mudahkanlah aku untuk mencintainya. Dan berikanlah keberkahan pada kami.
Jika pilihan Abi tidak baik bagiku, bagi agamaku dan bagi kehidupanku, maka ku mohon, jauhkanlah pria itu daripadaku tanpa menyakiti perasaan Abi.
***
Mulai terasa tegangnya belum? 😂
__ADS_1