EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 29 Lamaran dadakan 2


__ADS_3

Tiara tengah berdiri di depan cermin. Ia melihat bayangan dirinya dengan gamis warna biru muda dan hijab berwarna senada. Make up tipis ia aplikasikan diwajahnya. Dengan modal tutorial dari media sosial ia belajar dengan sendirinya.


Pagi tadi Rion dan Langit datang dengan membawa kabar bahwa keluarga Akhtar akan datang malam ini.


Keluarga Tiara sedikit keberatan karena terlalu mendadak dan tidak punya persiapan apapun.


"Tidak perlu menyiapkan apapun, Pak. Keluarga mas Akhtar hanya ingin bersilahturahmi saja." Begitulah kata Langit pada ayah Tiara.


Dan siang tadi, seseorang mengantarkan beberapa paper bag ke rumah Tiara. Orang tersebut mengatakan bahwa itu adalah kiriman dari Bu Lintang.


Tiara perlahan membuka setiap paper bag bertuliskan Auzora Boutique. Di dalamnya ada kemeja batik untuk ayahnya, gamis untuk ibunya, dan gaun simple untuk adiknya.


Kiriman ini jelas menandakan kedatangan mereka bukan hanya sekedar untuk silahturahmi.


Dan satu paper bag bertuliskan untuk Tiara membuatnya penasaran. Ia melihat isinya. Ia terkejut saat ada sebuah kebaya dengan bawahan rok batik dan sebuah gamis berwarna sama dengan kebaya lengkap dengan hijabnya.


Sebuah surat kecil ia dapatkan di dalamnya.


^^^*Pakai yang manapun kamu suka, Ra.^^^


^^^From : Mama Lintang*.^^^


Tiara tersenyum bahagia. Bukan karena pakaian mahal yang ia terima, tapi karena perhatian dan ketulusan calon mertuanya.


Tiara tau mereka orang baik. Dari cara mereka memperlakukan keluarga tiara di setiap moment. Baik saat lamaran atau pernikahan Zoya dan Ezra.


Dan sore menjelang magrib beberapa orang kembali datang bersama Ezra. Mereka membawa banyak makanan dari Arumi Resto.


Keluarga Tiara sampai kebingungan, kenapa semuanya dipersiapkan begini.


"Ayah, ini dari Ezra dan Zoya. Jangan sungkan, Yah."


"Jangan berfikir buruk sedikitpun, Yah. Papa dan keluarga tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan ayah."


"Mereka hanya tidak ingin Tiara lelah karena harus ikut mempersiapkan acara ini. Biar bagaimanapun kondisi Tiara belum sembuh benar."


"Tapi untuk menunda acara ini sepertinya tidak mungkin, Yah. Beberapa hari lagi, bayi kami akan dibawa pulang. Mama dan papa akan fokus pada acara syukuran baby Zi."


"Dan pengurusan berkas pernikahan juga harus segera dilakukan. Dan pernikahan harus berlangsung sebelum Bintang melahirkan."


"Kami sudah membicarakan ini tadi malam, Yah. Ezra harap ayah mengerti kondisi keluarga kami."


"Gak apa-apa, Zra. Ayah mengerti. Lagi pula jika pernikahan lebih cepat dilaksanakan, akan lebih baik."


"Ra, jangan terlalu banyak beraktifitas yang berat-berat. Ini perintah langsung dari mama Lintang."


"Iya, bang."


"Kamu beruntung, Ra. Kamu akan menjadi bagian dari keluarga yang luar biasa."

__ADS_1


"Sama seperti abang yang begitu beruntung bisa merasakan kehangatan keluarga itu."


"Jangan kecewakan siapapun. Nath dididik dengan sangat baik. Satu kesalahan fatal yang ia buat bukan berarti, dia brengs*k."


Tiara mengangguk berkali-kali. "Terima kasih banyak, Bang."


****


"Assalamualaikum ...." Suara beberapa orang yang ia kenal membuatnya semakin berdebar.


Nath dan keluarganya sudah datang.


Tiara bergegas keluar dari kamar setelah memastikan penampilannya sudah rapi.


Di ruang tamu berukuran 3x7 meter ini telah dibentang karpet besar. Kursi yang biasanya ada di dalam sudah dipindahkan di luar untuk sementara.


Tiara menyalami Lintang dan Akhtar. "Cantik, calon mantu mama," bisik Lintang membuatnya tersipu.


"Sudah lebih baik, Ra?" tanya Akhtar.


"Alhamdulillah, sudah om."


Tiara menyalami Bintang. "Subhanallah, ontynya dede cantik banget."


"Terima kasih, kak." Tiara kembali berkaca saat melihat perut buncit Bintang yang membuatnya kembali mengingat calon anaknya yang sudah tiada.


Bintang memeluknya. "Kamu wanita hebat, Ra. Semoga bahagia selalu." Bintang terlihat menyeka ujung matanya, dimana air matanya juga hampir menetes.


Nath terpaku dengan penampilannya yang terlihat sangat berbeda dalam balutan hijab segi empat itu.


"Issh. Lama." Tiara meraih tangan Nath dan menciumnya membuat Nath langsung terkesiap.


Dan orang-orang disana yang memperhatikan mereka hanya bisa menahan tawa.


"Terpesonanya nanti aja. Timingnya gak pas," bisik Nair pada Nath.


Nath berdecak kesal. Keluarga Tiara mengundang seorang pemuka agama di lingkungan sekitar dan beberapa orang tetangga sebagai saksi supaya tidak ada berita simpang siur yang akan membuat tetangga bertanya-tanya.


Beberapa parcel dan bingkisan sudah di letakkan di tengah-tengah mereka. Dan di ujung ruangan sudah ada meja besar dimana diatasnya sudah tersedia hidangan yang di datangkan dari Arumi Resto.


Keluarga Nath dihidangkan teh hangat dan beberapa jenis kue sebagai pelengkap.


Nath sedari tadi tak henti melihat kearah Tiara yang duduk bersimpuh di sebelah ayahnya. Dan Naura beberapa kali terlihat berbisik di telinga gadis bergamis biru muda itu dan berhasil membuat senyumnya terbit.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... "


Akhtar mulai berbicara, menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini.


Aktar sedikit berdebar, ia sungguh tidak ingin mewakilkan tugasnya ini pada orang lain. Dia akan melakukannya untuk putranya. Hal yang tak pernah ia bayangkan akan ia lakukan di umur putranya yang baru 20 tahun.

__ADS_1


"Apakah ananda Elva Tiara puspita, putri bapak sudah ada pria yang mengikatnya?"


"Belum, Pak," jawab ayah Tiara.


"Jika memang ananda Elva Tiara puspita, belum ada yang mengikat maka kedatangan kami sekeluarga saat ini dengan niat tulus untuk melamar putri bapak."


"Saya ingin menjadikan Tiara sebagai menantu di rumah kami, sebagai istri dari anak bungsu kami, El Nath Alvarendra."


"Apakah bapak sekeluarga menerima lamaran kami ini?"


Ayah Tiara menatap istrinya dan beralih pada Tiara. "Kamu siap, Ti?" bisik ayah Tiara.


Tiara mengangguk. Sedari tadi ia hanya menunduk mendengar penuturan calon papa mertuanya.


Ia gugup karena suasana penuh khidmat ini begitu mendebarkan baginya. Belum lagi ia harus menatap Nath yang ada di depannya. Nath yang terlihat sesekali menatapnya.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Kami menerimanya."


"Alhamdulillah," seru semua orang.


"Sebagai wujud ikatan, anak kami memberikan ini."


Lintang maju dan ibu Tiara juga maju menerima pembarian dari Lintang. Sekotak perhiasan berisi kalung dan cincin yang Lintang beli bersama Bintang siang tadi.


"Mohon untuk tidak melihat nilainya tapi lihat niat tulus anak kami untuk melamar putri bapak."


Akhtar menutup sambutannya dengan meminta doa kepada semua orang yang hadir untuk turut mendoakan putra putri mereka agar kelak bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohma.


Akhtar juga meminta maaf jika ada penuturanya yang kurang berkenan di hati orang-orang yang hadir disini.


"Nath, pasangkan cincin dan kalungnya," Nath terkesiap atas permintaan mamanya.


"Atau mama aja yang pasang."


Nath maju kedepan dengan menggeser duduknya tanpa berdiri. Bagitu juga Tiara yang maju dari posisinya saat ini.


Ibu Tiara membuka kotak perhiasan di sebelah mereka. Nath mengambil kalung terlebih dahulu, dan memasangkan dileher Tiara. Ia melingkarkan tangannya ke belakang leher Tiara.


Posisi yang sangat dekat membuat Nath berdebar. Tapi dia sempat memperhatikan Tiara yang seperti menahan nafas karena ia tak merasakan hembusan nafas Tiara di sekitar wajahnya.


"Nafas, Ra," bisiknya pelan dan berhasil membuat Tiara mengulum senyum.


Dia tau aku nahan nafas. Batin Tiara.


Nath memundurkan wajahnya dan mengambil sebuah cincin dari kotaknya. Nath memasangkan di jari manis Tiara.


"Pas," gumam Nath pelan.

__ADS_1


"Mas, sama mbaknya lihat kesini sebentar dong." Nath dan Tiara menatap kearah sumber suara. Seorang fotografer bersiap membidik mereka.


Fotografer yang merupakan salah satu dari karyawan Josep. Nath terharu dengan apa yang ia dapatkan hari ini. Keluarganya mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


__ADS_2