EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 57 Menginap


__ADS_3

Nath dan Tiara pergi ke R cafe setelah sholat magrib di rumah Zoya dan Ezra. Keduanya memutuskan untuk makan malam di sana dan telah mengabari Lintang bahwa mereka akan pulang terlambat.


Nath memilih duduk di luar cafe dengan kursi kayu. Mereka duduk berhadapan.


Nath dan Tiara memesan makanan dan minuman mereka. Sambil menunggu, Nath mencroll beranda akun media sosialnya.


"Lumayan banyak juga followers abang." Kalimat yang terlontar dari bibir Tiara membuat Nath langsung menatapnya.


"Stalking nie yeee," Nath mengejek Tiara dengan wajah jenakanya.


"Lakik sendiri, ini. Bajak juga gak apa-apa kali," jawab Tiara sambil ikut menscroll layar ponselnya. Ia bahkan tak menatap suaminya yang pasti sedang menertawakan jawabannya.


"Diakui nih ceritanya."


Tiara menatap Nath. "Dari kata sah terucap, Bang. Emangnya situ, udah nikah masih tebar pesona."


Nath tertawa. "Gak ditebar, pesonanya keluar dengan sendirinya, Ti."


"Gak usah senyum!" ketus Tiara.


"Kenapa? Udah jatuh cinta? Berdebar, uh?"


Kok tau?


"Pede banget, Bang. Waktu hamil kamu mama ngidam apa sih?"


Nath mengangkat bahu. "Darah papa mengalir deras dalam nadiku. Hahahah."


"Perasaan bang Nair gak gini amat."


"Heem." Nath berdehem. "Nair itu dari kecil lebih sering sama ayah Satya. Makanya sikap dan sifatnya mirip-mirip dikit."


"Kalau kamu?" tanya Tiara.


"Aku lebih deket sama papa sama om Langit."


"Oh. Pantes. Sablengnya sama kayak om."


Nath tertawa. "Pas kecil aku manggil momy daddy loh ke tante Rara sama om Langit."


"Oh, ya?" Tiara sedikit terkejut. "Kenapa sekarang enggak?"


Nath mengangkat bahu. "Lebih nyaman manggil om tante aja."


"Hahahah... lagian sok bule. Pake mommy daddy segala."


"Haiii pengantin baru." Sapaan dengan suara yang tak asing terdengar jelas. Dan orang itu langsung duduk di sebelah Nath.


"Hai, Tiara."


"Hai bang Ethan."


"Ngapain?" tanya Nath.

__ADS_1


"Hai Nath." Pertanyaan Nath belum di jawab tapi suara wanita lebih dulu terdengar. Dialah Marisa yang langsung duduk disebelah Tiara. Dia juga menyapa istri Nath itu.


"Saling kenal, Ti?" tanya Nath.


"Pas pernikahan kak Bi sama kak Zoy pernah ketemu ya kak." Marisa mengangguk.


"Ada acara apa pengantin baru makan di cafe. Kayak lagi pacaran aja," ejek Ethan.


"Emang lagi pacaran. Pacaran after married," jawab Nath santai.


"Ti ... Maaf ya." Marisa menatap Tiara dan Tiara juga langsung menyantapnya. "Gara-gara dia." Marisa melirik Ethan. "Kalian jadi begini."


Tiara tersenyum kecil. "Udah jalannya begini, kak."


"Sorry juga gak bisa hadir di pernikahan kalian."


Tiara dan Nath mengangguk.


"Apa ku bilang, Sa. Mereka udah maafin aku," ucap Ethan membuat Marisa menatapnya tajam.


"Kalian tau? Dia baru bilang kemarin kalau pernikahan kalian itu ada campur tangannya." Marisa mengatakan itu dengan nada geram.


"Dan kalian tau? Aku langsung hukum dia 2 jam menghadap tembok di dalam kamar mandi sambil pegang telinga."


Nath dan Tiara menahan tawa melihat wajah Ethan yang biasanya santai dan tengil kini menunduk cemberut.


"Aku udah ingetin sama dia, Nath. Jangan bawa minuman alkohol."


"Ini memang akal-akalannya aja, ngaku gak merokok, tapi suka mabuk."


"Aku gak mabuk meski minum 6 kaleng, Sa."


"Masih berani jawab, lagi." Ethan langsung diam.


"Udah, kak. Kita juga udah happy jalani pernikahan ini," ucap Tiara agar perdebatan Ethan dan Marisa selesai.


Marisa memeluk Tiara. "Sekali lagi, maaf ya Ti. Semoga kalian bahagia."


*****


Tiara dan Nath sampai di sebuah hotel mewah. Gedung pencakar langit yang biasanya hanya Tiara lewati saat sedang melintasi jalan di depannya, kini Tiara menginjakkan kaki di halaman depannya.


Nath telah kembali menghubungi orang tuanya bahwa malam ini keduanya tidak pulang. Sebuah ide yang tiba-tiba muncul dalam otaknya untuk membawa Tiara pada suasana berbeda.


"Malam minggu, sekali-sekali nginap di hotel ya, Ti," ucap Nath setelah memarkirkan motor sportnya.


"Emang punya duit?" bisik Tiara agak ragu. Dia tahu ini hotel mewah, permalamnya bisa jutaan.


"Voucher ayah Satya belum kita pake." Nath mengerling.


"Ayo!" Nath menggandeng tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam hotel dengan jumlah lantai hingga puluhan ini.


Tiara terpukau dengan kamar luas dan jendela besar yang langsung menyajikan pemandangan kota yang sangat indah.

__ADS_1


Tiara berdiri di depan jendela besar itu. "Bang, tapi Tia gak bawa baju," ucapnya tanpa menoleh kearah suaminya.


Nath perlahan mendekat dan memeluknya dari belakang. Tiara tidak terkejut lagi dengan perlakuan Nath yang seperti ini. Ia perlahan mulai terbiasa. Nath memenuhi janjinya, bersikap lebih romantis dan membuatnya bahagia.


"Kamu gak perlu pakai baju, Ti," bisik Nath membuatnya meremang. Perlahan darahnya berdesir hebat dan debaran jantungnya mulai tak terkendali.


"Selalu, ya. Fikiran kamu." Tiara menyandarkan kepalanya di dada Nath. Perasaan nyaman itu tidak Tiara pungkiri. Ia terbiasa pada aroma parfum, dan aroma tubuh Nath. Setiap malam selalu ia hirup saat ia masuk dalam pelukan dada bidang itu. Bahkan parfum Reyga sudah tidak lagi istimewa saat ini.


"Heheheh... Sesuatu yang halal gak boleh di mubazirin, Ti."


Tiara menatap wajah Nath dengan mendongak. Dan dengan semangat Nath menyambut wajah cantik itu, memberi kecupan bertubi-tubi di pipi dan keningnya.


"Kesempatan dalam kesempitan," gumam Tiara sambil terkekeh.


Entahlah, dia tidak pernah merasakan ciuman seperti ini sebelumnya. Dan bersama Nath dia sangat cepat untuk terbiasa. Mungkin karena Nath tidak pernah memaksanya jika ia tidak ingin.


Nath semakin memeluknya erat. "Kapan-kapan, kita nginep di villa kak Zoy, yuk. Kamu belum pernah kesana, kan?"


Tiara menggeleng. "Yang waktu itu pada kesana rame-rame bang?"


"Iya. Kita cari yang satu kamar aja. Jangan yang terlalu luas." Nath mengangguk.


"Sekalian bulan madu yang tertunda." Nath tertawa pelan.


"Bulan madu? Berarti kita cuma berdua, Bang?"


"Mungkin akan begitu, Ti. Kak Bi dan kak Zoy punya baby. Ajak Nair sama pacarnya? Gak mungkin, Ti."


"Bang Nair punya pacar?"


"Bukan pacar sih, cuma gadis idaman yang mau dia ajak taaruf."


"Oh... Bang Shaka sama Carakan kan ada bang. Lovely, Chiara, Kak Syakilla, mungkin mereka mau ikut."


Nath tertawa. "Yang ada mereka ngerecokin bulan madu kita, Ti." Tiara ikut tertawa.


Hening...


Keduanya menikmati pemandangan kota dengan jutaan lampu yang terlihat seperti bintang.


"Kamu mau gak kalau kita mandiri. Aku kayaknya tertarik sama penawaran bang Ezra soal rumah itu, Ti." Tiba-tiba Nath mengatakan apa yang ia fikirkan sejak tadi.


Tiara melepaskan pelukan Nath. Ia berbalik dan menatap suaminya itu. "Tia juga mikirnya gitu, Bang."


"Kita butuh privasi. Kita butuh menghabiskan waktu berdua tanpa keterbatasan," lanjut Tiara.


"Maksudku, kalau di rumah mama, kan kita harus lebih sering jaga sikap."


"Jadi, kamu gak keberatan?" Nath meletakkan tangannya di pinggang Tiara. Tiara menggeleng sambil tersenyum.


Nath menarik Tiara dalam pelukannya. "Semoga kehidupan dan hubungan kita semakin lebih baik di sana."


"Aku akan menghapus luka yang ku cipta di rumah itu, menggantikannya dengan kebahagiaan. Dengan senyum dan tawa." Tiara mengangguk dan membalas pelukan Nath.

__ADS_1


__ADS_2