EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 75 Rumah ayah


__ADS_3

Sebulan kemudian ....


"Hoek... hoek... hoek..." Nath sedang memuntahkan isi perutnya di depan washtafel di kamar mandi di dalam kamarnya.


"Kebanyakan begadang, nih kamu, Bang! Masuk angin kan jadinya." Tiara setia memijat tengkuk Nath dan sesekali memberikan minyak angin lalu memijatnya lagi.


Pagi ini, hari ke 3 Nath terus merasa mual dan muntah. Setiap bangun tidur, perutnya terasa di aduk-aduk.


Memang beberapa malam ini ia terus bergadang untuk mendesain taman belakang rumah yang rencananya akan ia buat gazebo serta lahan hidroponik untuk menanam beberapa jenis sayuran yang bisa mereka konsumsi sendiri.


Hidroponik adalah sistem budidaya tanaman yang menggunakan air sebagai media tanamnya.


Aktivitas Nath hanya ke kantor dan sesekali menagih uang sewa. Terkadang penyewa rumah malah mentransfer uang sewa langsung ke rekening Nath hingga ia punya sedikit waktu untuk merawat tanaman pagi dan sore. Walaupun pasti akan dibantu oleh asisten rumah tangganya.


Nath duduk di atas closet dengan wajah yang memerah. Tiara merasa kasihan melihatnya.


"Kita ke dokter yuk, Bang!" ajak Tiara kesekian kalinya karena Nath terus menolak.


"Siangan dikit sembuh, Sayang. Jangan khawatir." Nath sempat-sempatnya menghibur istrinya agar tidak khawatir.


Untung saja hari ini hari libur. Jadi Nath tidak pergi ke kantor. Nath berdiri lagi dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Ia mencuci seluruh wajahnya dan Tiara sigap mengambilkan handuk kecil di lemari yang menggantung di atasnya.


Nath mengelap wajahnya dan menatap bayangan mereka di cermin. Ia bisa melihat raut wajah khawatir yang Tiara tunjukkan.


Nath melihat ke samping. "I'm okay sayang! Jangan khawatir berlebihan." Nath meletakkan tangannya di kepala Tiara yang tidak tertutup hijab. Ia tersenyum kecil pada istrinya itu.


"Tia takut abang...." Tiara ragu melanjutkan ucapannya. "Tia takut abang punya suatu penyakit."


Nath memeluk istrinya. "Abang gak apa-apa, Ti."


Nath berusaha jujur dan meyakinkan istrinya bahwa dia baik-baik saja. Karena memang ia merasa baik-baik saja. Memang sedikit aneh karena tiga hari ini ia terus mual tapi herannya hanya di pagi hari.


Ia juga tidak merasakan sakit di bagian tubuh lainnya. Hanya perut yang seperti diaduk-aduk dan sedikit pusing. Hal biasa yang dialami orang muntah.


"Kamu jangan terlambat makan, dan istirahat yang cukup."


"Kebanyakan bergadang bikin asam lambung naik, tau!" Tiara cemberut dalam dekapan suaminya.


Nath terkekeh. "Tau dari mana kamu, Ti."


"Lihat di googl*," sahut Tiara cepat.


Nath diam masih memeluk istrinya. Tiba-tiba ia ingin sekali makan sesuatu.


"Ti, ke rumah ayah, yuk!" Ajaknya tiba-tiba.


Tiara melepas pelukan dan menatap suaminya lekat-lekat. Nath memang sering mengajaknya ke rumah orang tuanya. Tapi kali ini sangat tiba-tiba.

__ADS_1


"Ngapain?"


"Aku pengen makan kelengkeng yang langsung dipetik dari pohonnya."


Tiara tercengang mendengar keinginan aneh suaminya. Kelengkeng di rumah orang tuanya sedang berbuah, memang. Tapi apakah sudah bisa dipetik atau belum, Tiara tidak tahu.


Belakangan ini, mereka lebih sering datang ke tempat laundry yang sudah dijalankan orang tuanya sejak empat tahun lalu. Sebuah ruko dua lantai kini mereka sewa karena usaha yang semakin maju tiap tahunnya.


Ibu dan ayah selalu ke tempat laundry untuk sekedar mengawasi dan kadang ayahnya membantu untuk mengantar pakaian yang sudah selesai dilaundry.


***


Jam 9 pagi mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Tiara. Nath sengaja mengendarai sepeda motor demi menghindari berjalan kaki hingga ke dalam gang.


Rumah yang masih sama sejak empat tahun terakhir. Hanya saja, sudah dilakukan pengecatan ulang dan beberapa atap yang bocor sudah diganti.


Nath dan Tiara masuk ke dalam. Nath langsung menuju halaman belakang dimana ayah sedang berkebun, membersihkan pekarangan rumah dari rumput liar.


"Loh, tumbenan pagi-pagi udah ke sini, Ti?" tanya Bu Nurul, mertua Nath. Ia memang mendengar suara yang ia kenalai mengucap salam dan disambut oleh Naura, putri bungsunya. Tapi tidak menduga bahwa benar Tiara yang datang.


"Gak tau tuh, abang pengen makan kelengkeng pagi-pagi gini," jawab Tiara.


Tiara meletakkan sling bagnya diatas meja makan. Ia mencuci tangannya di washtafel lalu duduk dengan bangku kecil di lantai dan membantu ibunya yang sedang memasak soto ayam untuk makan siang.


Tiara membantu membentuk perkedel yang akan disajikan sebagai pelengkap.


Ibunya yang sedang mengaduk kuah soto tertawa pelan. "Heboh banget datang pagi-pagi cuma perkara mau makan kelengkeng doang, Ti."


"Padahal belum makan nasi tuh dari pagi. Cuma nge-teh sama makan biskuit doang!" lanjut Tiara agak sebal.


Bu Nurul sampai melihat wajah putrinya yang jelas menunjukkan ekspresi kesal.


"Kenapa gak makan nasi, Ti?" tanya ibunya penasaran.


"Tiga hari ini, dia muntah terus, Bu. Asam lambung sih kayaknya. Tapi kalau pagi susah banget disuruh makan. Maunya teh, sama biskuit atau roti doang, Bu."


"Lama-lama suami Tiara tingkahnya kaya bule," lanjutnya sambil tertawa kecil


"Coba ke dokter, Ti. Sebelum makin parah penyakitnya!" Perintah ibunya.


"Udah, Bu! Cape nyuruh ke dokter. Tapi abang gak mau, nolak terus."


Bu Nurul merasa sesuatu yang janggal terjadi pada Nath. Tapi ia mencoba menampik fikiran itu. Ia takut jika hal yang ia fikirkan tidak sesuai kenyataannya. Ia takut anak dan menantunya kecewa.


"Ini udah selesai, Bu." Tiara meletakan perkedel yang siap untuk di goreng keatas meja dekat kompor.


"Telurnya belum dikupas, Ti." Bu Nurul menunjuk telur rebus yang sudah direndam air dingin di dalam mangkuk.


Tiara mengambilnya dan kembali duduk lalu mengupasnya. Empat butir telur yang juga akan disajikan sebagai pelengkap saat makan soto nanti.

__ADS_1


"Naura gimana sekolah kamu, Ra?" tanya Tiara pada adiknya yang baru saja selesai mengepel lantai dan mengembalikan alat pel ke belakang.


"Lancar sih, kak. Cuma kadang pusing karena pelajarannya aku gak faham," sahut Naura yang ikut duduk di lantai bersamanya.


Gadis kelas 2 SMP itu hanya menonton kakaknya yang sedang mengupas telur rebus.


"Coba private deh, Ra. Kayaknya perlu tuh! Kalau kamu mau masuk SMA favorit." Saran Tiara kepada adiknya.


"Ura pengen masuk Cahaya Bangsa, kak!"


"Sekolah bang Rion?" Naura mengangguk pelan.


Bu Nurul yang sedang menggoreng perkedel mendengarkan keinginan putrinya. "Sekolah mahal itu, Ra."


"Tau, Bu! Makanya itu, pasti sebanding lah sama cara belajar mengajarnya, Bu."


"Alumni sana juga banyak yang berhasil masuk ke universitas negeri, Bu."


Tiara mengangguk mengerti. "Kamu private deh saran kakak. Disana persaingan ketat banget. Dan ada beasiswa untuk siswa berprestasi loh!."


"Lumayan kalo kamu bisa dapet beasiswa, Ra. Meringankan pengeluaran ibu sama ayah."


"Gimana, Bu?" tanya Naura pada ibunya.


"Ya, kalau kamu mau, gak masalah sih, Ra. Tapi kamu jangan kebanyakan main. Ibu gak mau sia-sia pengeluaran ibu bayar guru private kalau kamu gak serius belajarnya."


"Iya, Bu."


"Dengerin, Ra. Guru private itu gak murah. Tapi nanti kakak bicara sama abang untuk ikut bantu bayar guru private buat kamu." Tiara berdiri meletakkan telur yang sudah di kupas di atas meja makan. Disana juga sudah ada soun, tauge dan kol yang sudah siap disantap.


"Ibu masih sanggup, Ti. Jangan sedikit-sedikit bantu kami. Kamu punya suami dan mertua, Ti. Ibu takut mereka mikir macem macem."


"Tia bantu ibu juga dengan persetujuan suami Tia, Bu. Tia sadar dulu gak bawa apapun dan semuanya kini Tia punya karena menikah dengan abang."


"Kakak beruntung, kak. Bang Nath sayang sama kakak."


Tiara menatap adiknya lalu memicingkan matanya. "Kamu suka sama suami kakak? Jangan coba-coba ngerebut!"


Tiara membuat Naura terbahak. "Ya Allah. Astagfirullah, kak!"


"Ini nih, Bu. Kalo bucinnya udah sampe ke sumsum tulang! Hahahaha."


"Cemburunya buta!" Naura memegangi perutnya yang terasa tegang karena terlalu semangat tertawa. "Iya kali mau ngerebut lakinya. Cowok banyak kali, kak. Yang lebih ganteng dan muda juga banyak."


Bukannya sakit hati, Naura malah menertawakan kakaknya yang menurutnya berfikir terlalu jauh.


"Udah, ah. Sakit perut Ura, Bu." Naura bangun dan hendak masuk ke kamarnya.


"Kak, jangan kebiasaan nonton sinetron ikan terbang!"

__ADS_1


"Aduh, tau ah. Halu kakak kejauhan." Naura sudah menghilang dari dapur menyisakan Tiara yang kesal karena di tertawakan.


Apa salahnya jika ia memperingatkan agar tidak benar-benar kejadian. Ia hanya takut kehilangan suami yang menurutnya sangat luar biasa itu.


__ADS_2