
Nair berlari semampunya. "Tolong, Pak! Siapapun, tangkap mereka!" teriak Nair membuat beberapa orang sempat kebingungan melihatnya berlari sambil berteriak.
"Pencuri!" Teriak Nair lagi dan lansung membuat beberapa orang mengejar dua orang pria berjaket hitam itu.
Nair hampir kehabisan nafas, karena ia sudah berlari cukup jauh. Keduanya sepertinya sudah menguasai medan hinga dengan mudah menghindar dari kejaran beberapa orang yang membantu Nair. Keduanya sangat mudah untuk melompati kursi atau pun pagar pembatas.
"Bug!"
"Bug!" Akhirnya ada empat orang warga yang bisa menghentikan kedua pelaku kejahatan itu. Keduanya langsung dihajar massa hingga meringkuk di tanah.
Nair langsung menghentikan pengeroyokan itu. Ia segera mengambil tas milik Naira yang sudah tergeletak di tanah.
"Berhenti, Pak." Nair menghalangi keempatnya yang sudah berhasil membuat dua orang pencuri itu meringkuk lemah. "Tolong serahkan saja kepada pihak berwajib."
"Coba di cek dulu, Pak." Seorang pria meminta Nair memeriksa isi tasnya.
Nair membuka resleting tas dan memeriksa isinya. "Masih aman, Pak."
Ia lantas mengucapkan terima kasih kepada 4 orang pria yang bersedia menolongnya itu. Nair membuka tas selempang di dadanya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini untuk rasa terima kasih saya, Pak."
Keempat orang pria itu kompak menolak. "Tidak perlu, Pak."
"Kami akan melakukan hal yang sama pada siapapun karena tindakan mereka membuat wilayah ini dikenal sebagai wilayah yang rawan pencuri."
"Tidak apa-apa, Pak. Terima saja."
"Untuk beli minum." Nair menyerahkan uang itu dengan memasukkan ke saku kemeja salah satunya.
Nair berjalan cepat. Ia harus segera menemui istrinya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Nair menyebrang jalan dan "Tiiiinnnn!"
"Braaakk!!"
"Astagfirullah!" bertepatan dengan terpentalnya tubuhnya yang berbalut kaos putih berlengan panjang itu ke tengah jalan.
Benturan di kepala membuat Nair merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya terasa berputar dan pandangannya mulai kabur.
Beberapa orang langsung mendekatinya, berusaha untuk menolong.
"Bantu dia..."
"Panggil ambulance."
"Cepat, Pak!"
"Tidak perlu! Cari saja tumpangan!"
"Sepertinya bukan orang sini."
"Dia wisatawan."
__ADS_1
Ia masih bisa mendengar kepanikan kerumunan orang yang berdiri mengelilinginya. Ia merasakan keningnya sudah basah. Ya, darah dari luka di kepalanya.
Namun, bukan itu yang penting baginya saat ini. Yang terpenting baginya adalah Naira yang tengah menunggunya.
"Naira... Naira..." gumamnya pelan. Ia berusaha bangun namun sulit. Tapi ia masih ingat dimana istrinya. Ia tidak ingin Naira menunggunya lama.
"To...long!" Nair menarik lengan baju pria yang berusaha membantunya bangun. "Istri... saya... disana!" Nair menunjuk arah dimana Naira berada.
"Gamis... coklat susu... dan pakai... jaket." Seketika semua terasa gelap dan Nair kehilangan kesadarannya.
"Pak, tolong beri tahu istrinya. Mas ini biar kita bawa ke rumah sakit terdekat," ucap seorang pria yang tadi menolong Nair, pria yang menerima uang darinya.
Dua dari empat pria itu menyerahkan dua orang pencuri ke pihak berwajib, dan yang dua lagi menolong Nair karena mereka melihat Nair tertabrak mobil.
***
"Mas..." Lintang merasa terganggu melihat Akhtar yang mondar mandir di hadapannya. Lintang tengah menonton televisi dan suaminya itu beberapa kali menghalangi pandangannya. "Kamu kenapa mondar-mandir terus, sih?"
"Aku gak tau, Sayang."
"Aku merasa cemas gak menentu," jawab Akhtar membuat Lintang bingung.
"Kamu udah coba hubungi Nair? Aku kok kayak khawatir banget sama dia."
Lintang diam sejenak. Ia juga punya perasaan aneh. "Tadi udah, Mas."
"Nair baru aja mau menyebrang dari pulau ke kota, terus mereka akan ke bandara. Mungkin sampai kesini 4 jam-an lagi."
"Itu pun kalau pesawatnya gak menunda keberangkatan."
Lintang mengambil ponselnya diatas meja, tapi entah mengapa tangannya malah tak sengaja menyenggol segelas air putih dan menyebabkan gelas itu jatuh di karpet.
"Astaga, Lin!" Akhtar semakin panik. Ia membantu Lintang mengambil gelas yang jatuh. Untung saja tidak sampai pecah karena jatuh diatas karpet yang lumayan tebal.
"Kamu buat aku jadi ikut-ikutan khawatir, Mas. Aku sampai buru-buru ngambil hp." Lintang beralasan.
Lintang menghubungi nomor Nair. "Gak diangkat, Mas."
Akhtar menghembuskan nafas lega. Setidaknya ponselnya masih aktif.
"Masih di laut mungkin, ya Mas." Lintang tidak dapat membohongi perasaannya. Jujur, ia juga merasa khawatir berlebihan.
"Mungkin, Lin."
"Atau mungkin dia udah di pesawat."
"Mungkin juga hpnya di sillent, Lin." Akhtar mencoba berfikir positif.
"Iya, mas. Kita coba lagi, nanti."
Akhtar diam diam mencari tahu kondisi cuaca di mana Nair berada. Ia hanya memastikan tidak ada cuaca buruk yang menyebabkan perjalanan Nair terganggu.
"Alhamdulillah," gumamnya tenang karena cuaca disana sangat bagus.
__ADS_1
Lintang juga berusaha menghubungi Naira, namun tetap sama. Tidak ada jawaban.
****
Hampir lima belas menit Naira menunggu suaminya kembali. Ia duduk di sebuah kursi dengan koper besar yang ia pegang erat. ia takut ada orang jahat yang mencuri kopernya.
Naira melihat kesegala arah, namun tanda-tanda kedatangan Nair belum ada.
Ia merapatkan jaket suaminya yang ia pakai sejak berada di boat. Angin berhembus sangat kencang hingga ia merasa kedinginan.
"Kak..." Naira melihat dua orang pria yang memanggilnya. Naira mundur sedikit dari duduknya. Ia takut keduanya adalah orang jahat.
"Ya..." jawabnya menahan ketakutan.
"Suami Kakak yang pakai kaos putih lengan panjang, bukan?" tanya salah satunya.
Naira mengingat pakaian yang Nair pakai. Ya, kaos putih berlengan panjang dan ia lapis jaket. Tapi jaketnya sudah berpindah ke tubuh Naira.
"Pakai tas didepan dada." Pria itu lanjut menjelaskan. Mereka yakin yang dimaksud adalah Naira. Karena hanya dia yang terlihat seperti menunggu seseorang. Lagi pula jaket dan gamis coklat susu sudah cukup membuktikan bahwa ia yang dimaksud Nair.
"Pakai celana coklat."
"Ganteng, putih dan pakai sepatu putih."
Naira membulatkan mata. Ya, itu ciri-ciri suaminya. "Ya, benar. Dia... dia suami saya. Tadi mengejar pencuri yang membawa lari tas saya."
"Masnya tau dimana suami saya sekarang?" tanya Naira.
"Suami, Kakak mengelami kecelakaan, Kak. Di ujung jalan sana." Pria itu menunjuk arah kemana Nair berlari tadi.
"Ya Allah!" pekiknya sambil menutup mulut. "Mas gak bohong kan?"
"Dimana suami saya sekarang, Mas?" Naira berdiri dari duduknya. Rasa pusing sudah tidak terasa lagi saat ia mendengar kabar buruk tentang suaminya.
"Saya mau lihat. Saya mau pastikan kalau itu bukan suami saya."
"Sudah dibawa ke rumah sakit terdekat, kak. Suami kakak pingsan."
"Darah keluar dari kepalanya."
Naira tak sanggup lagi mendengar penjelasan pria itu. "Bantu saya cari taxi, Mas."
"Naik ojek saja, Kak. Lebih cepat."
Naira menurut saja. Sambil dua pria itu mencari dua ojek. Naira juga mencari uang yang ia simpan di koper. Untung saja masih ada uang pecahan yang ia masukkan kedalam koper. Ternyata akhirnya berguna juga disaat seperti ini karena dompetnya ada di dalam tas yang ia tak tahu nasibnya seperti apa sekarang.
Naira segera menuju rumah sakit saat dua sepeda motor membawanya beserta kopernya.
Naira lansung mencari Nair dan ternyata suaminya itu masih di ruang IGD untuk ditangani.
Rasanya tubuh lemah itu ingin sekali mendobrak ruang IGD dimana suaminya tengah di tangani. Ia ingin tahu bagaimana kondisi Nair saat ini.
Ya Allah, kali ini hamba mohon. Selamatkan suami hamba...
__ADS_1
Naira menunduk dan meneteskan air mata. Mas, semoga kamu baik-baik aja.