EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (17)


__ADS_3

Naira keluar dari ruangan itu. Ia pamit pada Uminya untuk ke toilet. Naira sebenarnya berniat mencari Nair dan dari jendela besar yang menghadap ke halaman belakang itu ia bisa melihat siluet seorang pria yang ia kenali sedang duduk dalam kegelapan.


Nair...


Naira cukup lama memandang pria tersebut. Ia berdiri di depan kaca besar itu. Sebenarnya Naira ingin turun dan menemuinya. Tapi keberaniannya tidak sebesar itu.


Rahardi juga berpamitan untuk keluar sejenak. Ia juga punya tujuan untuk mencari putrinya dan Nair. Ia ingin memastikan sesuatu.


Dari sudut ruangan, Rahardi bisa melihat Naira berbalik dari sebuah jendela kaca berukuran besar sambil menyeka air matanya. Naira segera berjalan menuju toilet.


Rahardi mendekat ke jendela itu dan ia tahu pasti siapa yang dipandangi dan ditangisi oleh putrinya.


Sementara itu Nair dikejutkan dengan tepukan pelan di bahunya. Ia melihat sekilas dan kembali menatap kedepan setelah tahu siapa yang datang. Rion.


"Kenapa lari dari kenyataan Nair?"


"Hadapi saja."


"Supaya pria bernama Rahardi itu tahu bahwa kamu gak akan kalah meski ia jadi bentengnya."


"Kamu bisa menghancurkan tameng yang bersembunyi di balik status Abi itu."


"Kamu bisa berdiri meski ia menjatuhkanmu berkali-kali."


"Tunjukkan padanya kalau kamu masih punya nyali untuk mengambil putrinya meski ia mendekap seerat apapun."


"Aku bukan kamu, Yon!" Balas Nair pelan.


"Tapi kamu laki-laki."


"Terobos saja kalau kamu yakin." Ucap Rion menyemangati.


Nair tertawa miris. "Ngaco nih penasehatnya! Sesat!"


Rion tertawa. "Kalau aku dan Nath pasti satu server. Kalau ada dia disini, dia pasti setuju sama ucapanku. Apalagi Ethan. Huuh! Supporter kamu pasti banyak Nair kalau ikut nasehatku."


"Nath yang udah jelas-jelas diusir papa dari rumah sakit, di hajar Bang Ezra, bahkan didiamkan orang tua Tiara aja masih bertekad kuat."


"Kamu, terlalu naif!" Nair menatap Rion tajam. "Terlalu menghargai orang tua."


"Terlalu berprinsip dan terlalu lurus!" cecar Rion pada sahabat sekaligus adik iparnya.


"Nakal sedikit gak apa-apa, Nair!" Rion mengerling.


"Astaghfirullah! Bener-bener nih, sarannya setan." Nair malah terkekeh.


"Loh, kamu belum tahu? Aku kan salah satu personil Tiga Setan Serangkai." Rion terkekeh pelan.


"Dih, Bangga?" Cibir Nair. "Gini banget sahabatan dari orok sama ipar."


"Punya aib bukan di sembunyiin, tapi malah dibangain!" Nair bersungut kesal jadinya.


Rion tertawa. "Enggak bangga sih Nair, cuma kayaknya profesi itu berguna juga. Untuk menggoda orang-orang beriman yang terlalu lurus kayak kamu. Hahahahah."


Nair makin kesal. "Balik, yuk!" Ajak Rion sambil merangkul bahunya.


"Udah pada balik yang lain?" tanya Nair.

__ADS_1


"Belum sih. Kamu gak pengen salim sama calon mertua?"


****


Rahardi yang duduk di depan bersama supir sesekali menatap putrinya yang terus melihat ke arah luar jendela. Naira sama sekali tidak tertarik untuk menatap lurus kedepan.


*Aku melihat luka di wajah putriku, apa semua itu karena Nair? Mengapa dia tidak mengerti sedikitpun tujuanku melarang Nair untuk menemuinya.


Aku hanya ingin keduanya jauh dari dosa zina terlebih saat ku tahu perasaan keduanya sama*.


"Nai..."


"Ya, Umi." Naira melihat Uminya sambil tersenyum kecil.


"Wanita yang menggendong bayi tadi bicara apa denganmu, Nai?"


Naira tersenyum kecil. "Gak bicara apa-apa Umi. Cuma sekedar basa basi."


Maaf Umi kalau Nai gak jujur sama Umi.


Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya apa yang Bintang katakan karena itu menyangkut hatinya yang tidak baik baik saja.


"Keluarga mereka sepertinya orang-orang terpandang ya Nai?"


Naira mengangguk pelan. Sedikit banyak ia tahu tentang keluarga itu dari cerita Nair. Selama bertahun-tahun bernama Nair pastilah sudah banyak cerita yang mereka saling bagi.


"Ada yang punya butik, toko, ada yang punya perusahaan besar."


Naira mengangguk pelan.


Naira mengangguk. "Benar Umi."


Pakaian Tiara yang tergolong longgar memang sekilas berhasil menyembunyikan perut buncitnya.


"Pak Ray juga sepertinya sangat menghargai mereka sebagai keluarga besan sekaligus sahabat."


Naira tersenyum hambar. Rahardi menghela nafas berat melihat sesuatu dalam diri Naira yang tidak ia sadari selama ini, yaitu keputus asaan.


Selama beberapa hari di Jakarta, Rahardi melihat Naira seperti robot yang tampak kaku. Ia hanya bekerja, beribadah dan mengurung diri di kamar sambil membaca Al-Qur'an.


Malam nanti, malam terakhir Rahardi ada di Jakarta. Esok pagi, Ia dan istrinya akan kembali ke Semarang.


Rahardi menemui Naira yang baru saja selesai Sholat Asar di ruang sholat rumah Pakde Rahman.


"Nai..." Rahardi mengejutkan Naira.


"Abi..."


Keduanya duduk berhadapan tapi saling diam cukup lama.


"Nai... Boleh Abi bicara sesuatu?"


Naira berdebar. Apakah ini soal perjodohan antara aku dan anak pak Kyai?


"Silahkan Abi." Naira mengangguk lemah.


"Nai, sebenarnya Abi belum siap melepasmu untuk berumah tangga."

__ADS_1


Naira menatap Abinya lekat-lekat. Lalu kenapa Abi punya rencana untuk menjodohkan Nai?


"Meskipun banyak yang datang memintamu menjadi istri atau menantu."


"Kamu putri Abi satu-satunya."


"Abi ingin yang terbaik untuk kamu. Abi tidak ingin terburu-buru. Abi tidak ingin kamu kesulitan menjalankan semuanya secara bersamaan Nai."


"Siapa yang tidak ingin melihat putrinya menikah?"


"Siapa yang tidak ingin melihat putrinya hidup bahagia dengan pria pilihannya?"


"Abi ingin Nai, tapi Abi takut kamu belum bisa menerima tanggung jawab sebagai istri."


Naira hanya bisa menunduk. Ia menahan rasa gemuruh hebat di dadanya. Ia ingin sekali mengatakan, Nai bisa Abi. Nai bisa.


Tapi, ia tahu harapan orang tuanya ada padanya. Seorang anak tunggal yang memang sudah berkewajiban membanggakan kedua orang tuanya.


"Nai, boleh abi tanya sesuatu?" Naira menatap Abinya dan mengangguk pelan.


"Kamu sangat mencintainya, Nak?"


Naira langsung menatap Rahardi lekat-lekat. Mencintai siapa yang Abinya maksud?


"Nair." Ucap Rahardi saat melihat Naira kebingungan.


Naira langsung menunduk. Ia diam cukup lama. Tangannya yang bersembunyi dibalik mukenah itu saling bertautan.


"Jawab, Nai."


Naira menatap Rahardi dengan mata berkaca. "Sa...ngat Abi..." Tanpa terasa air mata itu lolos begitu saja.


"Kamu ingin bersamanya Nai?"


Naira mengangguk pasti. "Ya, Abi."


"Kamu yakin bisa menjalankan pendidikan, karier dan kehidupan berumah tangga secara bersamaan, Nai?"


Naira menatap tak percaya pada Abinya. Air mata yang sudah membanjiri pipi dan rasa sesak di dada, dan rasa mengganjal di tenggorokan menyatu membuat Naira hanya bisa mengangguk sambil mengigit bibir bawahnya. Ia tak ingin tangisnya pecah.


"Yakin abi. Nai yakin, Nai bisa menjalankan semunya Abi." Naira mengangguk berkali kali di tengah isak tangisnya.


Rahardi langsung memeluk putri tercintanya itu. "Maafkan Abi yang egois terhadapmu, Nai."


"Abi sayang padamu."


"Abi ingin yang terbaik untukmu."


"Maafkan Abi yang tidak peka pada hatimu."


***


Setan-setan begitu, Rion ada benernya ya kan guys 😁


Yang setuju ide Rion dan mendukung Nair di belakang Rion, Nath dan Ethan plis tunjuk tangan. ☝☝☝☝


Biar namanya othor ubah jadi Segerombolan setan 😅

__ADS_1


__ADS_2