EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap Nair (25)


__ADS_3

"Ck!" Decak Nair. "Pengantin baru masih malu-malu." Godanya.


Wanita langsung menatap tajam kearah suaminya itu. Ia tak pernah mendengar Nair berdecak, apa lagi sampai menggodanya dengan kalimat sederhana namun mengusik telinganya.


"Heheheh... maaf ya sayang!" Nair tertawa kecil.


Naira makin mendelik dan sekilas melihat sekeliling, khawatir ada yang mendengar ucapan suaminya.


Nair tersenyum lebar. "Kita halal, Nai." Nair merangkul bahu wanita yang semakin berdebar itu.


"Nair..."


"Yaaa..." jawabnya tak kalah lembut.


"Malu..."


"Malu punya suami seperti aku?" Tanya Nair dengan ekspresi terkejut yang di buat-buat.


Naira langsung menatap suaminya. Kepalanya menggeleng pelan. "Bu... bukan seperti itu."


"Ta...pi..."


Nair tersenyum jahil sambil melepaskan rangkulannya, tapi ia beralih dengan menyelipkan jemarinya di jemari istrinya.


Naira makin gugup. "Nair...! Ini rumah sakit," bisiknya pelan.


"Aku tahu," jawab Nair pelan.


"Nair, gak enak di lihat orang."


"Gak ada orang, Nai."


"Nair!" Naira mulai kesal.


"Nai... nurut ya..."


Naira menghembuskan nafas berat. Ia sangat tidak menyangka Nair begitu agresif dan berani. Padahal selama beberapa tahun ini, ia tak pernah mendapati Nair yang kurang ajar atau melewati batas. Nair terlihat bisa menjaga jarak, mata, bahkan bicaranya.


"Jangan kaget. Aku overprotektif, memang!" Bisiknya pelan.


"Nai..."


Keduanya menoleh melihat Umi sudah berdiri diambang pintu. Naira langsung menarik tangannya dan menghembuskan nafas lega.


Alhamdulillah, Umi datang disaat yang tepat. Batinnya.


Nair juga langsung berdiri membantu Umi untuk duduk di kursi roda. "Sudah selesai Umi?" Tanya Nair.


"Sudah. Kalian masuklah! Umi tunggu disini." Naira langsung berdiri dan bersiap masuk bersama Nair.


"Jangan lama-lama Nai. Abi masih butuh istirahat."


Keduanya masuk ke dalam. Naira tersenyum lebar saat pria dengan wajah pucat dan perban di kepala itu menatapnya. Dan balasan senyum kecil ia terima.


"Abi sudah lebih baik, Nai," ucap pria paruh baya itu dengan nada lemah.


Naira tersenyum kecil dan mengangguk. Ia melihat beberapa alat medis terpasang di tubuh Abinya. Ia jelas mengerti alat apa saja itu dan Naira tetap berfikir positif serta menunjukkan wajah cerianya.


"Nai belum tanya, Abi," ucapnya agak manja.


"Abi tau apa yang mau kamu tanyakan, Nak."


"Abi terbaik." Naira merebahkan kepalanya di bahu pria lemah itu. Saat ini ia dan Nair tengah duduk di kursi.


"Nair, maaf merepotkan kamu."


"Tidak apa, Abi." Nair tersenyum kecil. "Kesembuhan Abi dan Umi yang paling utama saat ini."


"Supir Abi?"

__ADS_1


"Abi tenang ya, beliau sudah di tangani dokter."


"Nanti kalau sudah membaik, Nair akan minta supir mengantarkan beliau ke rumahnya."


"Nai, jangan lupa beri sedikit bantuan untuk keluarganya." Abi menempelkan pipinya di pucuk kepala putrinya.


"Iya, Abi..."


"Semua biar kami yang urus."


"Abi fokus pada kesehatan Abi, ya..."


Naira menengakkan duduknya. Ia merapikan selimut hingga ke dada Abi.


"Abi, istriahat ya..."


"Kasihan Umi, menunggu sendirian di luar," tunjuknya kearah luar.


Abi Rahardian mengangguk pelan. "Titip Umi."


"Pasti Abi."


"Nair, tanyakan pada dokter, kapan Abi bisa pindah ruangan."


"Ya, Abi. Setelah semuanya membaik. Abi akan segera dipindahkan."


***


3 Hari kemudian.


"Ayo pulang, Nai..." ajak Nair pada istrinya. Karena sudah beberapa hari mereka tidur di rumah sakit. "Mama papa selalu menanyakan kapan kita akan pulang."


Akhtar dan Lintang merasa kesepian karena Nair satu-satunya anak yang tersisa di rumah itu justru jarang pulang. Mereka pulang hanya untuk mengambil barang-barang yang mereka perlukan.


"Umi gak ada temannya, Nair," tolak Naira lembut. Naira hanya khawatir karena Umi menjaga Abi sendirian di rumah sakit.


"Abi sudah lebih baik, Nai." Abi yang tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit akhirnya bersuara.


"Nair juga pasti pegal-pegal selama ini tidur di sofa, Nai," sambung Umi.


"Umi yakin? Bagaimana kalau Abi mau ke kamar mandi?"


Abi tertawa pelan, "Anak Umi sudah besar, calon dokter, tapi kenapa terlalu kekanakan Umi?" Abi menatap Umi yang duduk di sampingnya.


Umi ikut tertawa. "Padahal dia lihat Abi bisa berjalan sendiri ke kamar mandi, ya Abi?"


"Haha..." Abi tertawa. Naira menunduk malu terlebih saat melihat Nair yang duduk di sofa dengan melipat lengannya tengah mengulum senyum.


Apa aku terlihat begitu bodoh? batin Naira.


"Jangan banyak alasan, Nai."


"Abi tau kamu berusaha menghindar untuk berduaan dengan suamimu." Naira langaung mendelik menatap Abinya. Ia terkejut karena Abi bisa menebak fikirannya.


"Kalian yang setuju untuk segera menikah." Naira seketika kembali menunduk Ia yang tengah duduk di sofa tidak berani menatap Nair yang ada di depannya.


Abi benar.


"Kalian yang saling jatuh cinta."


Iya Abi.


"Kamu sendiri yang ingin dia menjadi imam kamu."


Ya Abi. Naira hanya bisa menjawab dalam hatinya.


"Saat ini, menjadi kewajiban kamu untuk melayani dan mengurusnya." Naira sadar satu hal, dia seorang istri sekarang.


Apa aku sudah menelantarkan suamiku? Maafkan aku Ya Allah, jika selama ini aku belum menjadi istri yang baik.

__ADS_1


"Pulang lah, Nak."


"Besok pagi, Abi sudah boleh pulang. Dan pakde mu yang akan menjemput Abi."


Abi memang pulih lebih cepat. Pria paruhbaya itu tak ingin merepotkan anak menantunya lebih lama lagi. Terlebih sepasang pengantin baru itu masih harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama.


Naira bangkit dari duduknya. Ia sekilas menatap Nair yang juga sedang menatapnya. Naira merapihkan tas dan semua barang bawaannya.


Umi dan Abi tersenyum kecil. Keduanya merasa tenang karena putri cantik mereka perlahan memahami bahwa tugasnya bukan hanya sebagai seorang anak, melainkan juga sebagai seorang istri.


"Umi, Abi..." Naira sudah duduk di ranjang Abi. "Hubungi Nai kalau ada apa-apa!"


Keduanya mengangguk. Naira mencium kening Abi dan Umi. Nair ikut menyalami kedua orang Naira.


"Abi, Kalau ada keluhan apapun, segera hubungi dokter."


"Abi sudah sehat, Nair!" Abi menepuk bahu Nair. "Titip Naira!"


***


Naira dan Nair sedang dalam perjalanan pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Naira menatap kedepan dimana wipper bergerak naik turun menghapus jejak hujan di kaca mobil.


Ia seketika teringat kalimat Umi siang tadi.


"Umi tahu, kamu belum melaksanakan kewajibanmu sebagai istri."


"Nair begitu sabar menunggu, Nai. Kamu beruntung." Naira melirik Abi yang tengah tertidur di ranjangnya.


"Dia mengerti, karena situasi yang sebenarnya tidak terlalu buruk ini membuatnya tidak menuntut haknya darimu."


"Sebenarnya kalian punya waktu tapi kamu menghindar dan dia terlalu sabar."


"Malam ini, pulang lah nak."


"Setidaknya habiskan waktu berdua. Jika kamu belum siap, bicarakan baik-baik. Nair pasti mengerti."


"Tapi Nair tidak keberatan kami menjaga Abi disini, Umi." Naira berusaha menyangkal.


Umi tersenyum kecil. "Alasannya hanya satu, Nai."


"Dia terlalu mencintaimu."


Kalimat singkat yang berhasil mengetuk hati Naira. Ia tahu Nair mencintainya. Dan hal itu menjadi alasan mengapa Nair tidak pernah keberatan menuruti keinginannya.


"Ngelamun, Nai? Mikirin apa?" Naira tersentak saat Nair bertanya sambil mengusap kepalanya.


"Ehm, enggak," jawabnya gugup.


"Mikirin Abi?" tanya Nair. Naira menggeleng pelan.


"Kita putar balik?" tanya Nair lagi.


"Jangan Nair." Naira dan Nair kembali saling diam.


"Maaf belum menjadi istri sempurna untukmu, Nair."


Nair seketika menoleh saat mendengar suara merdu penuh penyesalan itu keluar dari bibir istrinya. Ia melihat mata itu berkaca-kaca.


"Aku mengerti akan hak dan kewajibanku, tapi aku belum melakukan semuanya."


"Siapa bilang?" Nair tersenyum kecil.


"Kamu selalu bersamaku saat sarapan, dan makan malam. Terkadang makan siang juga."


"Kamu mempersiapkan semua pakaianku."


"Bertanya dimana posisiku."


"Bertanya mau makan apa?"

__ADS_1


"Semua itu sudah menunjukkan kalau kamu istri yang baik, Nai..."


Kamu sebaik ini, Nair. Dan aku lupa telah melihatnya sejak bertahun lalu.


__ADS_2