
"Ini terus gimana, Ti." Tanya Nath saat rebusan kulit dan kepala udang yang sudah mendidih.
Tujuan merebus kulit dan kepala udang adalah untuk membuat kaldu udang sebagai kuah tom yam yang akan mereka masak sore ini.
"Sekarang, disaring bang, supaya pisah kulit sama airnya." Ucap Tiara yang tengah duduk di minibar di dapur sambil mengasi suaminya yang tengah berkutat didepan kompor dengan apron yang terpasang rapih ditubuhnya.
Nath mengikuti petunjuk yang Tiara ucapkan. "Terus gimana lagi?" tanya Nath.
"Panaskan minyak dengan wajan, bang!" Nath menuruti apa yang Tiara katakan.
"Tumis bumbu halusnya!"
"Yang di dalam belender ini, Ti?" tunjuk Nath pada tabung blender yang berisi bumbu halus. Bumbu yang ia siapkan beberapa menit lalu.
"Iya... Masukin bang! Minyaknya udah panas tuh!" Tiara bisa melihat uap panas dari tempatnya duduk.
Nath menumis bumbu halus hingga harum. Lalu Tiara menyuruhnya untuk memasukkan 3 batang serai dan 3 cm jahe yang sudah digeprek. Setelahnya Nath memasukkan udang kedalam tumisan.
"Harum banget, Ti."
"Banget! Jago nih abang masaknya." puji Tiara dan berhasil membuat Nath mengembangkan senyum.
"Siapa dulu dong! Chef El Nath Alvarendra, Arsitek ganteng jago masak calon papanya baby bubul tercintaaaahhh." Ucap Nath bangga sambil menepuk dadanya.
"Bang! Awas gosong!" Cibir Tiara yang jengah melihat suami yang terlalu percaya diri. "Masuki kaldunya."
Nath kembali fokus memasak berdasarkan arahan Tiara. Memasukkan potongan cumi, bumbu pelengkap dan mengkoreksi rasa.
"Rasain sayang?" pinta Nath pada istrinya dengan menyodorkan sesendok kuah tom yam.
"Ehhmm... kurang asin bang!"
"Segini?" Nath menunjukkan sepucuk sendok teh garam pada Tiara untuk di masukka ke dalam masakannya.
Tiara mengangguk.
Setelah selesai memasak, keduanya kembali ke kamar untuk segara mandi karena waktu magrib hampir tiba.
Mereka sholat magrib di dalam kamar dan setelahnya, Nath dan Tiara bergantian membaca Al-Qur'an. Hal yang mulai mereka biasakan untuk di perdengarkan pada calon anak dalam kandungan Tiara.
Tiara merasa tenang saat mendengar suara merdu Nath melantunkan tiap ayat suci yang ia baca.
Tiara selalu berdoa dalam hatinya, meminta kelancaran selama proses kehamilan hingga melahirkan. Ia juga memanjatkan doa agar kelak anak mereka menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya.
****
Nath mencium perut Tiara yang sepertinya mulai menunjukkan tanda-tanda akan terus membesar.
"Udah kelihatan nih, Ti." Ucap Nath mengusap perut Tiara. Piyama tidur itu sudah tersibak ke atas mempertontonkan perut putih nan mulus yang mulai terlihat membuncit.
"Masa sih, Bang?" tanya Tiara yang tidak yakin dengan ucapan Nath. Ia belum merasakan perubahan pada perutnya.
"Iya, Sayang." Nath terus mengusap perut istrinya.
"Dede kangen daddy gak sayang?" bisik Nath di perut istrinya.
__ADS_1
"Haaa! Kangen?" Ucap Nath tersentak senang seolah janin kecil itu menjawab pertanyaannya.
"Ih, sama dong! Daddy juga kangen sayang!" lanjut Nath tanpa peduli wajah Tiara mencebik kesal.
"Daddy jenguk ya?" tanyanya pelan.
"Adduuhhh!" Keluhnya saat Tiara tiba-tiba menarik rambut Nath.
"Sakit sayang! Mommy kamu kejam banget, Nak."
"Jangan racuni anakku sama bisikan kamu yang gak berakhlak ya, Bang!"
"Kalau mau, bilang langsung. Jangan jadikan dia alasan!" Omel Tiara pada suaminya.
"Hehehe... ampun Ti."
"Iya... iyaa..." Tiara melepaskan cengkeramannya di rambut Nath.
Nath memeluk Tiara dan menelusupkan kepalanya di leher sang istri. "Kita anu yuk!" Ajak Nath dengan berbisik.
Tiara terkekeh. Semenjak mengetahui kehamilan Istrinya, Aktivitas itu belum pernah mereka lakukan lagi. Nath khawatir akan mengganggu pertumbuhan janin dan juga akan berpengaruh pada kesehatan Tiara karena membuatnya kelelahan.
"Ti..." panggil Nath mesra karena istrinya itu malah tertawa.
"Boleh, but do it slowly," bisikan Tiara seperti perintah karena Nath langsung memulai aksinya. Membuat tubuh keduanya polos dalam sekejap.
"Ahli banget, ya." Entah pujian atau sindiran tapi Nath tetap mengucapkan kata terima kasih.
Malam panjang menjadi panas kala kata slowly malah menjadikan durasi semakin lama.
"Cepat selesaikan, Bang!" Pintanya karena hampir setengah jam Nath tak juga berniat mengakhiri aktivitasnya.
Nath menyeringai. "Dengan senang hati, Baby."
Nath mengabulkan keinginan istrinya dalam hitungan detik karena sebenarnya Nath juga sudah hampir meledakkan benihnya.
"Terima kasih bumil se*xy," bisik Nath memuji istrinya.
Nath membawa tubuh Tiara ke kamar mandi setelah istirahat sekitar 10 menit. Nath membersihakan tubuh istrinya, lalu beralih pada tubuhnya.
"Sekarang kita, bobok nyenyak malam ini." Nath membawa tubuh istrinya keatas ranjang.
***
Reyfan berhenti di sebuah rumah besar milik Cloudy. Malam ini ia sedang mengintai seorang wanita yang membuatnya kacau belakangan ini.
"Apa ku perk*sa saja sekali lagi, supaya dia menjadi istriku!" Reyfan frustasi karena tidak menemukan ide sama sekali untuk melakukan tes DNA terhadap El.
"Astaghfirullah. Aku sudah berjanji untuk berubah!" Reyfan membenturkan kepalanya pelan di setir kemudi.
Reyfan kembali melihat kearah rumah dua lantai yang lumayan besar itu. Ia memperhatikan satu persatu jendela. Dan matanya terfokus pada satu jendela dilantai dua dengan lampu masih menyala di waktu yang sudah sangat larut ini.
"Apa Cloudy lupa mematikan lampunya?" Reyfan bertanya-tanya.
Padahal bukan lupa mematikan lampu, tapi Cloudy dan El yang sama-sama tidak bisa tidur dengan suasana gelap atau temaram.
__ADS_1
Reyfan bersandar pada kursi mobil. "Sampai kapan aku akan bertingkah seperti penguntit begini?"
"Clou, ayolah! Buka hati dan pintu maafmu."
"Kalau kamu tidak ingin menikah denganku, setidaknya beri aku kejelasan tentang ayah dari putramu!" gumam Reyfan.
"Jangan buat aku gila begini! Aku sampai meminjam mobil ayah untuk kesini supaya kamu tidak mengenali mobilku."
Saat tengah melamun, seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya.
"Tok... tok... tok."
Reyfan melihat seorang satpam tengah berdiri disamping mobilnya. Mamp*s! Batinnya kaget.
"Selamat malam," sapa pria muda berwajah sangar padanya saat ia membuka kaca jendela.
"Selamat malam, Pak." Reyfan menjawab dengan tenang. Di penjara, pria berwajah lebih sangar dan seram dari pria ini sudah biasa ia lihat.
Satpam itu melihat kedalam mobil demi memastikan tidak ada hal mencurigakan. "Ada perlu apa, ya pak. Hampir tengah malam begini ada di depan rumah orang!"
Reyfan berfikir sekilas. Mana mungkin ia berhenti disini untuk mengawasi rumah seorang wanita.
"Saya ada janji dengan wanita yang tinggal di rumah ini, pak."
"Janji?" tanya satpam itu tak yakin dengan jawaban Reyfan.
"Janji apa, Pak?" lanjutnya.
Waduh? Janji apa nih? Reyfan berfikir keras. Dan beberapa paket yang terbungkus rapi di kursi belakang menjadi idenya. Itu adalah paket yang akan Rendi kirim kepada pelanggan. Isinya adalah kain yang ia jual di toko yang dipesan secara online oleh pelanggannya.
Paket yang rencananya akan dikirim esok oleh Rendi melalui jasa pengiriman barang.
"Saya mau kirim paket, Pak." tunjuknya di kursi belakang. "Ini nama toko kami, Pak."
Huuuh! Reyfan menyerahkan sebuah selebaran bertuliskan nama toko ayahnya. Brosur yang selalu Rendi berikan pada pelanggan baru demi menarik minat pelanggan untuk kembali berbelanja ke tokonya.
"Paket? Kenapa gak di berikan langsung ke dalam, Pak?" tanya Satpam sambil membaca brosur yang Reyfan berikan.
Astaga! Jawab apa lagi? Nih satpam kenapa kayak polisi diruang penyelidikan, sih?
"Soalnya, saya telpon gak bisa-bisa pak, mungkin orangnya sudah tidur! Dan kebetukan beliau belum bayar pak, Dia minta COD soalnya."
"Jadi...?"
"Jadi saya lebih baik pulang, dulu Pak. Permisi."
Reyfan segera melajukan mobilnya. Ia bernafas lega karena sepertinya Tuhan masih menolongnya malam ini.
Apa jadinya jika Cloudy keluar dan mendapati dirinya sedang berada diluar pagar rumahnya.
"Untung aja tuh satpam gak curiga. Emang ada kurir ngantar barang tengah malam begini?" gumam Reyfan dengan tawa kecil karena menyadari kebohongannya sangat menggelikan.
***
Tinggalkan jejak kalian guys.
__ADS_1