EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 59 Diculik


__ADS_3

Malam ini, rencananya Nath dan Tiara akan jalan-jalan keliling kota bersama Ethan dan Marisa. Namun hujan yang tiba-tiba turun membuat rencana itu gagal.


Tiara yang sudah memoles wajahnya dengan make up tipis terpaksa harus berpuas diri hanya dengan foto studio ala-ala suaminya.


Tiara diminta berpose duduk didepan kain gorden yang pajangnya hampir menyentuh lantai itu.


"Jangan cemberut, Ti." Nath mengarahkan Tiara seperti fotografer profesional.


"Lihat atas, Ti. Ada cicak lagi ngetawain kamu tuh." Tiara mau tak mau jadi tertawa mendengar jokes suaminya yang tidak berbobot.


"Aduh, manis banget sih Barbienya Ken." Pujian yang lagi-lagi membuat Tiara tertawa.


"Manekin butik beda level lah sama barbie." Nath tertawa sendiri mendengar kata-kata aneh yang keluar begitu saja dari mulutnya.


"Huss! Muji istri gak boleh dengan cara dibandingin sama wanita lain, Bang!"


Nath tertawa. "Barbie gak boleh marah, ya cantik. Nanti gambarnya gak bagus."


"Dih, apaan?"


"Bawa tripot bang?" tanya Tiara.


"Bawa."


Nath langsung memasang tripod guna untuk mengambil gambar mereka berdua. "Sini!" Perintah Nath menepuk pahanya. Keduanya mengambil pose yang sama seperti saat di perkebunan. Menyatukan kening, namun posisi Tiara saat ini ada di pangkuan Nath.


"Aku suka engle nya begini." Ucap Nath kembali mengatur posisi tripod.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Hidungku kelihatan banget mancungnya."


"Ck! Selalu ya, percaya dirinya tinggi banget."


****


Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Meski begitu tak mengurangi semangat Nath untuk membuatnya polos bersama Tiara.


"Dingin banget, Bang!" keluh Tiara saat masuk kedalam selimut.


"Aku bisa jadi penghangat," sahut Nath cepat.


"Ck! Kayak rice cooker aja."


"Aku bisa jadi baju buat kamu."


"Yes, baju kulit buaya." Sempat-sempatnya mereka berdebat.


"Jadi mau, gak?" tanya Nath. Dia tidak mungkin memaksa jika Tiara tidak ingin.


"Siapin air panas untuk mandi besok pagi."


"Siiap buk Bos."

__ADS_1


Dan semua terjadi sesuai keinginan Nath. Menghabiskan malam dengan berpeluh ria meski udara diluar sangat dingin.


Tiara berulang kali membisikkan kata cinta yang membuat Nath semakin bersemangat terbakar hasr*t.


Tiara mulai menyadari, dihatinya kini bukan lagi Reyga. Perlahan ia mengerti, perasaanya tumbuh untuk pria yang saat ini tengah mengukungnya.


***


"Ti ..." Bukannya tidur, Nath malah masih sanggup berbicara pada Tiara setelah istrinya itu kelelahan.


"Ehhm..." Tiara menutup matanya.


"Kita tunda punya anak sampai kamu lulus, gimana?"


Tiara langsung membuka matanya dan melihat wajah Nath ada di depan wajahnya. Nath berbaring miring dengan menyangga kepalanya dengan tangan.


"Abang yakin?" tanya Tiara meragukan pertanyaan Nath.


Nath mengangguk. "Kamu masih muda. Aku mau kamu kelarin kuliah dulu, baru kita fokus ke anak."


"Empat tahun lagi, kamu masih 23 dan aku 24. Ideal lah buat punya baby setahun kemudian."


Tiara tidak menduga Nath berfikir sejauh ini. Ia justru mengira Nath ingin segera memiliki anak untuk mengobati rasa kehilangan janin kembar mereka.


"Mama papa gimana?"


"Mereka pasti setuju, Ti. Ini hidup kita, keluarga kita. Kita yang memutuskan berdua."


"Tapi apa selama empat tahun ini kamu mau pakai pengaman terus?" tanya Tiara. Ia hanya takut Nath melampiaskan apa yang tidak bisa Nath lakukan dengannya kepada wanita lain.


"Pulang dari sini kita konsultasi, ya. Kita pilih cara aman dan nyaman."


"Kita nabung dulu. Kamu kelarin dulu cita-cita kamu. Kita sama-sama bangun cinta dan rumah tangga sekaligus kemapanan dari segi finansial."


"Aku mau saat punya anak nanti, kita gak kayak sekarang, Ti. Masih susah, masih mendapat sokongan dari mama papa."


"Aku mau minimal aku punya pekerjaan tetap. Syukur-syukur udah bisa beli rumah sendiri."


"Aku lulus tahun depan, paling cepat. Dan sisanya mudah-mudahan aku bisa punya pekerjaan bagus."


Tiara menangkup pipi Nath dengan kedua telapak tangannya. "Aku mau." Tiara mengangguk.


Nath mengecup kening Tiara. "Bersih-bersih badan dulu, baru lanjut tidur. Besok pagi-pagi banget, kita jalan keliling daerah sini sama Ethan dan Marisa."


"Aku mau ke hutan pinus."


"Boleh. Kasih makan rusa, boleh. Sepedaan di udara, boleh. Everything for you." Nath mengangkat tubuh Tiara ke kamar mandi.


***


Nath dan Tiara bangun sebelum waktu subuh, keduanya mandi dengan air hangat yang memang sudah tersedia dari kran di bath up.


Selesai sholat, Nath kembali bergelung dalam selimut. "Abang jangan tidur lagi, ya."

__ADS_1


Tiara memakai hijab instan dan piyama yang ia doble dengan sweater tebal demi menghalau udara dingin.


"Aku mau buat coklat panas sama roti bakar di dapur." Tiara meninggalkan Nath di kamar.


"Iya, bentar lagi aku susul kamu, Ti," ucap Nath yang masih memeluk guling.


Cukup lama dan Nath nyaris tertidur.


"Braakkk"


"Praaaang."


"Aaaa...."


Suara dari arah dapur yang mengejutkan Nath. Ia segera berlari dan mencari Tiara di dapur. Ia melihat seorang dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah menggendong Tiara yang sepertinya tidak sadarkan diri dari arah pintu belakang.


"Tiara! Tiara!" Nath terus memanggil istrinya.


"Hei... siapa kalian?" Dan dua orang lagi menyerang Nath, menendang Nath di bagian perut dan kaki membuat Nath jatuh terduduk.


"Tiara!" Jerit Nath melihat ketiga pria itu berlari ke arah pekebunan teh.


"Tolong! Tolong!" teriak Nath sambil berlari dengan kaki terseok-seok karna serangan dua pria yang juga memakai penutup wajah itu.


Nath memasuki wilayah perkebunan dan ia kehilangan jejak karena suasana masih sangat gelap. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat beberapa orang ada di villa yang ia tinggali. Ia segera kesana meminta bantuan.


"Ada apa, Mas?" tanya penjaga villa yang kebetulan tinggal di dekat villanya.


Suasana pagi yang masih sunyi membuat suara Nath terdengar di jarak puluhan meter.


"Pak! bantu saya. Cari istri saya!"


"Iya, istri mas kenapa?"


"Tadi ada tiga orang membawa istri saya. Semuanya pakai penutup wajah. Saya gak kenal siapa." Nath panik setengah mati.


"Tolong pak." Nath berlutut karena kakinya sudah terasa sangat sakit.


Penjaga villa meminta bantuan tetangga dan penjaga villa yang lain untuk menyusuri kebun teh dimana tiga orang itu membawa Tiara.


"Saya akan segera lapor polisi."


"Papa!" Nath ingat orang tuanya. Ia tidak mungkin menghadapi ini sendiri.


Nath masuk ke kamarnya dan mencari ponselnya. Ia menempelkan ponselnya di telinga.


"Hallo Nath?"


"Pa!" Tariak Nath dengan suara serak. "Tiara diculik, Pa." Ia terisak.


"Apa? Bagaimana bisa, Nath?" Akhtar sampai berteriak sangking terkejutnya.


"Nath gak tau, Pa. Tiara lagi di dapur dan Nath di kamar. Tiba-tiba ada kegaduhan dan Tiara sudah dibawa pergi. Pelakunya tiga orang, Pa. Pakai penutup wajah."

__ADS_1


"Papa kesana sekarang, Nath."


__ADS_2