EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (9)


__ADS_3

Nair baru saja keluar dari gedung rumah sakit tempatnya magang. Nair berjalan menuju parkiran. Sebuah kemeja dengan celana bahan yang tampak pas di badannya membuat ia selalu menjadi pusat perhatian baik perawat, dokter muda, dokter koas atau bahkan yang masih magang sepertinya.


"Dokter Nair..." panggil seseorang dengan suara lembut.


"Ya..." Nair menghentikan langkah dan berbalik. Nair bisa melihat seorang gadis dengan rambut sedikit bergelombang yang ia biarkan menjuntai didadanya tengah berdiri tegak mengembangkan senyum.


Perlahan gadis yang Nair tahu bernama Kayla itu berjalan mendekat. Kemeja pas badan dan rok span sebatas lututnya serta jas putih khas dokter yang ia sampirkan di lengannya membuat gadis itu terlihat se*xy dan mempesona.


Tapi apalah daya, hati Nair yang terlanjur terpatri nama Naira membuat gadis dihadapannya itu sama sekali tidak menarik baginya.


"Bisa numpang gak? Sampai ujung jalan sana? Mobilku di bengkel itu soalnya." tanya Kayla pada Nair.


Nair bingung harus menjawab apa. Ia memperhatikan rok gadis itu yang tampak sempit dan sesak, lalu bergantian pada motor sportnya yang terparkir di sudut parkiran.


*Baga*imana bisa dia naik motor bersamaku? Roknya begitu, dan motorku juga begitu? Apa gak repot entar?


Ponsel yang berdering di saku celana menjadi penyelamat sementara bagi Nair.


"Sebentar ya Dok."


Nair menggeser icon berwarna hijau lalu meletakkan ponselnya di telinga. Nama yang sempat ia lihat di layar membuatnya tak ingin menunda untuk menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, Nai?" tanya Nair sedikit memalingkan pandangan dari Kayla. Tubuhnya bahkan mengubah arah 90 derajat ke kanan.


Kayla menatap penuh arti pada Nair. Ia mencoba mencari tagu siapa yang menelpon Nair dan mencoba menguping pembicaraan mereka. Namun sayang Kayla tidak bisa mendengar suara lawan bicara Nair.


"Waalaikumsalam Nair. Bisa bertemu di taman dekat rumah sakit?" tanya Naira.


Nair tahu taman yang di maksud adalah taman dekat rumah sakit tempat Naira magang. Sebuah taman kecil yang lumayan ramai jika didatangi sore hari begini.


Nair langsung tersenyum cerah. "Tentu Nai."


"Aku kesana sekarang, ya?" Nair langaung setuju tanpa tahu alasan Naira untuk bertemu dengannya sekarang. Nair hanya terlalu senang karena akan bertemu gadis yang selalu ia sebut namanya di dalam doa itu.


"Iya Nair. Ku tunggu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nair langsung menutup panggilan. Ia menghadap Kayla. "Maaf ya, Dokter Kayla."


"Saya harus menemui seseorang dan kebetulan tidak searah dengan tempat yang Dokter maksud."


"Saya duluan ya, Dok."


"Assalamualaikum."


Nair langsung berjalan menuju tempat dimana sepeda motornya terparkir. Ia segera melajukan motornya ke taman yang Naira maksud.


Nair tiba disana dan penampilan Naira yang dengan mudah ia kenali membuatnya segera berjalan menuju bangku dimana Naira sudah menunggu disana.


"Assalamualaikum, Nai?"


"Waalaikumsalam Nair." Gadis itu mengangkat wajahnya melihat Nair yang sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Boleh aku duduk disini?" tanya Nair menunjuk ruang kosong di bangku yang Naira duduki.


Gadis itu mengangguk. Wajahnya murung dan matanya sembab. Semua itu tak luput dari pandangan Nair. Tapi Nair mencoba berfikir positif.


Nair duduk di sebelah gadis itu dengan menyisakan jarak sekitar setengah meter. Mereka sama-sama duduk di bagian paling ujung bangku itu.


"Ada apa, Nai?" tanya Nair to the poin karena Naira bukan gadis yang suka menyia-nyiakan waktu hanya untuk berduaan dengannya seperti ini.


Naira menatap Nair sekilas lalu ia kembali menunduk. Nair melihat gadis itu meremas jemari tangan dipangkuannya.


"Ada apa, Nai? Kamu kelihatan gak kayak biasanya loh." Nair mencoba mendesak Naira.


"Kamu serius ingin bersama denganku, Nair?" pertanyaan yang membuat Nair sontak mengerutkan keningnya. Ia tak menduga Naira mengajaknya bertemu untuk menanyakan hal ini.


"Tentu." Jawab Nair yakin. "Apa kamu ragu denganku Nai?"


Naira menggeleng pelan dengan pandangan tertuju pada jemari tangannya.


"Kalau begitu, bisakah kamu kirim CV lamaran pada Abi, Nair?"


Nair kembali seperti tersambar petir. Permintaan yang selalu ia nantikan tapi saat Nai sudah mengatakannya entah mengapa dadanya berdegup kencang.


Semenjak beberapa hari lalu, Uminya memberitahu soal rencana Abinya. Naira tak pernah absen Sholat istikharah. Dan jawabannya masih sama.


Wajah Nair yang selalu ada dalam setiap sujudnya. Wajah Nair yang selalu ada dalam mimpinya dan selalu saja Nair yang ada dalam fikirannya.


"Nai? Kenapa tiba-tiba?" tanya Nair tak menyangka.


"Nai... Aku mengenal Abi dan Umimu, dan juga Pakdemu."


"Aku akan memintamu langsung, bukan dengan mengirim CV lamaran seperti kita orang asing yang tidak saling mengenal, Nai."


Memang sebenarnya begitulah proses Ta'aruf. Kalau saling mengenal dengan keluarganya, ada baiknya membicarakan langsung tanpa melalui kiriman CV. Tapi jika tidak saling mengenal atau ingin melakukan ta'aruf melalui perantara atau agen, maka haruslah mengirim CV terlebih dahulu.


"Tapi Abi ada di Jawa, Nair."


"Aku akan kesana, Nai. Aku akan kesana kalau ada jadwal libur."


"Minggu depan."


Naira menatap Nair dengan mata berkaca. Nair langsung panik melihat mata bulat jernih itu hampir kesulitan menampung air mata yang siap jatuh di antara bulu mata bawahnya.


Aku takut tidak ada waktu lagi, Nair.


"Kirim ke email Abi, Nair."


"Kenapa mendadak, Nai? Katakan ada Apa?" Nair dan Naira saling berhadapan. Nair ingin menyeka air mata yang sudah terlanjur terjun ditebing pipi gadis yang ia cintai itu.


Ia heran kenapa Naira seperti dikejar taget dan terkesan terburu-buru.


"Abi... Abi merencanakan perjodohanku dengan anak Kyai pemilik pondok pesantren tempatku belajar dulu."


Duuaaar!

__ADS_1


Langit sore nan cerah itu tak bisa mengubah suasana hati Nair yang sudah terlanjur porak poranda.


"A... Abi?"


Naira mengangguk. "Ku mohon kirimkan Nair. Seenggaknya saat CV lamaranmu sudah sampai pada Abi, aku bisa menolak dengan tegas perjodohan Abi dengan mengatakan bahwa aku ingin bersamamu."


Perasaan Nair campur aduk. Ia sedih dan takut jika Naira dijodohkan dengan putra seorang pemilik pondok pesantren. Tapi dia senang dan bahagia karena Naira benar-benar ingin bersamanya.


*Jika selama ini halangannya hanya waktu, maka kali ini jelas lebih sulit.


Harkat, martabat, status sosial, Ilmu agama, serta latar belakang kini jelas menjadi pembanding antara aku dan pria itu. Dan itu juga pasti menjadi halangan terbesarku.


Ya Allah, kenapa harus sesulit ini*.


Nair melihat gadis dihadapannya berkali kali menyeka air matanya. Nair mengulurkan sapu tangan dari saku kemejanya.


"Pakai ini, masih bersih kok."


Naira menghapus air matanya. Ia kembali menatap Nair yang belum merespon permintaannya.


"Nair..."


"Ssstttt..." Nair meletakkan telunjuk dibibirnya.


"Tanpa kamu minta aku akan berjuang Nai."


"Terima kasih telah mengatakan ingin bersamaku."


"Aku akan menerjang semuanya meski badai sekalipun."


"Aku mohon, tetap tenang dan hormati Abi. Jangan buat hatimu seolah memilih antara aku dan Abi."


Naira mengangguk.


"Abi sudah mengatakan langsung padamu soal perjodohan ini?"


Naira menggeleng. "Baru Umi yang mengatakannya."


"Aku tidak tahu kapan, tapi Abi tidak terduga Nair. Abi bisa datang kapan saja atau menyuruhku pulang kapan saja."


Nair mengangguk pelan. Ia tetap mengembangkan senyum meskipun hatinya tidak baik-baik saja.


Bagaimana bisa aku membuat keputusan diantara dua pilihan.


Naira tetap bersamaku tapi aku harus berhadapan langsung dengan Abinya.


Atau aku merelakannya demi tidak melawan Abinya. Agar ia tidak di cap sebagai anak durhaka.


Bantu kami ya Allah.


****


Makin menyiksa yaaa 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2