
Sesampainya di tempat tujuan, Naura langsung diajak ke salah satu toko, untuk membeli barang yang Naura inginkan.
"Naura minta apa, bang?" tanya Tiara yang berjalan disamping Nath.
"Peralatan melukis," bisik Nath pada Tiara.
Tiara terkejut dengan perlakuan Nath. Hembusan nafas pria itu ditelinganya sukses membuatnya meremang.
"Selalu jahil," gumam Tiara saat Nath sudah pergi dan membawa Naura berkeliling toko.
Satu set alat lukis, mulai dari kanvas dan penyangganya, pallet, cat dan kuas sudah ada di meja kasir.
"Crayonnya gak usah Bang." Naura menunjuk crayon yang boxnya seukuran tas sekolahnya yang kini telah Nath letakkan di meja kasir.
"Kan janjinya udah Naura tukar."
Nath tersenyum mengusak pusuk kepala calon adik iparnya itu. "Gak apa-apa, bonus dari abang."
"Janji belajar yang rajin, ya."
"Oke Abang." Naura terlihat bahagia. Sementara Tiara sedari tadi hanya duduk menunggu Nath dan Naura berkeliling mencari barang yang mereka ingin beli.
Nath berjongkok di depan Tiara yang duduk di kursi plastik. "Capek banget?"
Tiara terkejut. "Eh, enggak."
Nath tertawa. "Lagi ngelamun rupanya." Nath berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Tiara gandeng. "Ayo."
"Udah?" tanya Tiara.
Nath malah tertawa pelan. "Udah, Ti. Tuh, Naura udah nunggu."
Mereka keluar dari toko. Nath menjinjing tas besar berisi barang belanjaan Naura dengan tangan satunya lagi.
Sebelum ke toko perhiasan, Nath membelikan Naura camilan dan minuman cup terlebih dahulu agar bocah 10 tahun itu tidak bosan.
"Naura, duduk sini dulu ya." Nath meminta Naura duduk di kursi yang ada di toko perhiasan. "Jangan kemana mana."
"Iya bang."
Nath dan Tiara bergeser sedikit karena hendak memilih cincin pernikahan. Tiara memandang satu persatu tiap pasang cincin yang terpajang. Semuanya tampak mewah dan pasti harganya mahal.
"Mahal kayaknya Bang," bisik Tiara pada Nath. Membuat pria itu tersenyum kecil. Pemilik toko bahkan ikut tersenyum melihat reaksi Tiara.
Tiara hanya takut hal ini justru membebani Nath dan kedua orang tuanya. Ia tak menginginkan cincin pernikahan dengan harga mahal. Emas dengan kadar rendah pun tidak jadi masalah baginya. Yang penting ada bentuk pengikat antara keduanya.
"Gak apa-apa, pilih yang kamu suka."
Tiara melihat setiap pasang cincin di etalase terbuat dari kaca tebal itu dengan teliti. Ia mencari cincin yang menurutnya pas dan cocok untuknya.
"Mbak, lihat yang itu." Tunjuk Tiara pada sepasang cincin emas putih dengan bentuk yang sederhana namun mencuri perhatiannya.
Sumber : Pexels
__ADS_1
Pelayan toko memberikan cincin itu pada Tiara. "Gimana, Bang? Bagus?"
"Cincinnya simple banget, Ra. Kamu gak mau pilih yang berliannya banyak? Kayak yang itu." Nath menunjuk sepasang cincin dimana cincin untuk wanitanya terdapat banyak berlian, bahkan hampir mengelilingi cincin itu.
"Ini aja, Bang. Lagi pula mau dipake tiap hari, kan?"
Nath mengangguk. "Iya, namanya juga cincin pernikahan, Ra."
"Nah, makanya aku pilih yang ini. Bentuknya sederhana, dan gak takut mengganggu aktivitas, Bang. Gak takut nyangkut dibaju." Tiara tertawa pelan.
Benar juga sih, Tiara ini kan tipe perempuan yang gak bisa diem. Batin Nath.
"Kamu yakin yang ini, Ra? Bukan takut mahal harganya, kan?" tanya Nath sekali lagi, siapa tahu Tiara akan berubah fikiran.
Tiara nyengir. "Enggak. Yakin, ini aja. Tia juga gak tau yang ini harganya berapa."
"Coba pakai, Ra." Tiara memakai cincin yang terlihat pas di jari manisnya. Nath juga memakai cincin yang juga pas di jari manisnya itu.
"Pas banget. Jodoh nih sama cincinnya," canda pelayan toko itu sambil tersenyum.
"Oke, kita mau yang ini, Mbak." Nath melepaskan cincin di jarinya, begitu juga Tiara.
"Aku kesana dulu ya Bang, sama Naura." Tiara menunjuk adiknya yang duduk tenang sambil menyedot minuman yang Nath belikan tadi.
Nath mengangguk. "Jangan kemana-mana. Entar hilang."
"Ck! Iya... iya..."
"Memangnya aku anak kecil apa?" gumam Tiara kesal.
Kalau dia tahu harganya, bisa batalin beli tuh anak. Batin Nath.
Sementara Tiara menemui adiknya. Ia sengaja pergi saat Nath akan membayar. Ia tak ingin mengetahui harganya. Bukan tidak peduli, hanya saja ia takut mengetahui harganya yang tidak murah.
Tiara memang suka cincin sederhana seperti itu. Lagi pula Tiara menduga harganya tidak semahal cincin yang Nath tunjuk yang jumlah berliannya tidak bisa dihitung dengan jari.
"Udah, kak?" tanya Naura saat Tiara berjalan mendekat.
"Belum, abang masih di dalam." Tiara duduk di sebelah adiknya dan meminum minumannya.
"Bang Nath baik ya, Kak." Naura membuat Tiara menautkan alisnya.
"Kamu bilang baik cuma karena dibelikan cat lukis?" tanya Tiara.
"Enggak juga," jawab Naura cepat.
"Jadi?"
"Ya baik aja. Gak tau karena apa. Pokoknya menurut Naura dia baik." Jawaban Naura membuatnya tersenyum simpul.
Dia memang baik, Ra. Cuma kadang ngeselin. Batin Tiara.
Tiara dan Naura saling diam. Keduanya menatap lurus ke depan, melihat orang-orang yang berlalu lalang. Naura sesekali memasukkan camilan kedalam mulutnya sementara Tiara mengingat setiap momen yang ia lewati bersama Nath.
Pertama kali mereka bertemu di rumah baca. Saat itu masih persiapan pembukaan rumah baca. Tiara membantu mendata dan menyusun buku di rak. Sementara Nath, Nair, Rion dan Ethan menata rak diruangan itu.
__ADS_1
Mereka saling berbagi tugas. Ezra juga sesekali kesana. Awalnya mereka tak saling bicara tapi Tiara bisa menilai Nath yang cenderung ramai dan berisik saat berinteraksi dengan teman-temanya. Sedikit berbeda dengan Nair yang lebih banyak diam. Dari sana lah Tiara mulai bisa membedakan karakter keduanya.
Dan pertemuan kedua, Tiara dan Nath mulai menunjukkan taring masing-masing. Tiara tersenyum saat mengingat momen itu.
Flashback on
"Brak!" Nath menjatuhkan dua dus berisi buku yang disumbangkan teman-temannya.
"Rion gak kesini?" tanya Nath pada Tiara yang duduk di kursi.
"Belum." Sahut Tiara singkat karena ia tengah menulis, mendata buku-buku baru. Minggu-minggu awal rumah baca dibuka, sumbangan buku terus berdatangan. Rion juga terus membeli buku baru demi menambah koleksi buku di rumah bacanya.
"Telpon dia, sekarang dong! Suruh cepetan kesini. Banyak buku yang harus di data. Besok-besok gak ada waktu, tugasku banyak." Nath duduk di lantai, di dekat kursi Tiara.
"Minta pulpen."
Tiara mengernyitkan dahi. Dia kuliah gak bawa pulpen?
Mau tak mau, Tiara memberikannya sebuah pulpen yang ia simpan di laci meja. "Jangan hilang."
Nath menatap Tiara dengan menaikan sebelah alisnya. "Iya. Iya."
Sepuluh menit menunggu, Rion tidak juga datang. "Udah ditelpon belum?"
Tiara menoleh kearah Nath. "Belum."
"Astaga! Telpon sekarang, Tiara! Dia tuh suka belok kemana-mana."
Karena malas berdebat lagi, Tiara akhirnya menghubungi Rion. Panggilan diangkat setelah menunggu agak lama. Tiara meloudspeaker ponselnya, agar Nath bisa mendengar suara Rion.
"Bang! Dimana?" tanya Tiara dengan suara pelan.
"Masih di jalan, Ti. Ada apa?"
"Cepat kesini bang! Teman abang yang kayak Upin-Ipin datang. Tapi Tia gak tau ini yang Upin atau Ipin?" Tiara melirik Nath yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Dia nanyain abang terus."
"Siapa Ti? Nath sama Nair?"
"Tia gak tau namaya, Bang. Pokonya ini yang cerewet, banyak omong, usil, tengil..."
"Kalau ngomongin orang jangan pas ada orangnya dong!" sambar Nath cepat.
"Yon, cepat datang! Aku bawa banyak buku baru. Harus segera didata. Besok-besok aku gak sempat," teriak Nath.
"Iya, sabar donk! Aku juga di jalan Nath." Rion dengan mudah menebak orang itu adalah Nath.
"Cepat, Yon. Penunggu Rumah Baca kamu serem. Cuma natap buku doang dari tadi."
"Emangnya Tia setan!" Tiara menatap tajam Nath yang tertawa pelan.
"Iya-iya. Jangan diganggu Nath, lecet sedikit kamu habis sama bang Ezra!" Tawa Rion terdengar jelas.
Flashback off
__ADS_1