EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (3)


__ADS_3

Di rumah, Nair terus menatap nomor ponsel Naira. Setelah sholat magrib Nair berniat mengirimnya pesan chat melalui aplikasi hijau.


Nair sudah mengetikkan kata Assalamualaikum. Tapi kembali ia hapus.


"Aku harus ngetik apa, nih?"


"Iya kali aku basa-basi bilang salam dan nanya lagi apa, Nai? Sibuk gak?"


"Siapa aku, nanya-nanya gitu ke dia?" gumam Nair pelan.


"Huuh!" Nair menghela nafas. Ia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan pada Naira.


"Nanti aja deh, kalau mau ketemuan."


Dua hari kemudian...


Naira


^^^Assalamualaikum, Nai^^^


^^^Ini Nair^^^


^^^Kamu balik jam berapa?^^^


^^^Dan dimana kita bisa bertemu agar aku bisa mengembalikan Al-Qur'an milikmu?^^^


Nair mengirimkan pesan chat pada Naira pada jam istirahat makan siang. Ia tengah ada di kantin dan akan segera ke masjid untuk sholat Zuhur.


Tak butuh waktu lama, Naira langsung membalas chatnya.


Waalaikumsalam, Nair.


Aku sedang menuju masjid untuk Sholat Zuhur.


Bisa kita ketemu disana aja?


Nair tersenyum membaca balasan Naira. Nair langsung membalas dan bergegas ke masjid karena Azan Zuhur akan segera berkumandang.


^^^Baik, Nai. Aku segera kesana.^^^


Dengan senyum mengembang, Nair bersemangat berjalan cepat menuju masjid.


Ia tak sabar untuk kembali bertemu Naira, gadis cantik yang membuatnya sulit tidur selama dua malam terakhir.


Nair mengambil wudhu. Dan setelah selesai ia berniat langsung masuk ke dalam masjid.


Tapi matanya menangkap sosok Naira yang masih berjalan menaiki anak tangga. Ia baru akan masuk ke teras masjid.


"Nai..." panggilnya kuat sehingga membuat semua orang menatapnya.


Astaga! Suaraku!


"Nai...!" Nair berdiri didepan Naira, ia mengambil Al-Qur'an kecil di tasnya.


"Assalamualaikum, Nair."


Nair terkesiap saat Naira mengucapkan salam. Gadis itu seperti memberi tahu Nair bahwa menyapa dengan mengucapkan salam jauh lebih baik.


"Wa... wa'alaikum salam, Nai," jawabnya tergagap karena ia lupa mengucapkan salam pada Naira.


"Ini..." Nair menyerahkan benda milik Naira itu.


Naira menerimanya tanpa menyentuh tangan Nair. Naira bisa menebak, Nair sudah berwudhu dan ia tak ingin Nair kembali berwudhu karena kulit mereka bersentuhan.

__ADS_1


"Terima kasih Nair. Maaf merepotkan kamu."


Nair tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, gak ngerepotin kok."


Bertepatan dengan azan Zuhur berkumandang, Nair dan Naira berpisah di depan masjid.


Nair masuk dari pintu khusus jamaah laki-laki dan Naira masuk dari pintu khusus jamaah perempuan.


Selesai sholat Nair yang duduk di dekat kain pembatas itu, bisa mendengar suara wanita yang selama ini ia cari. Ya, si pembaca Al-Qur'an.


Nair tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia segera keluar dan mengintip dari jendela.


Nair tak percaya dengan apa yang ia lihat. Naira sedang membaca Al-Qur'an yang baru ia kembalikan tadi.


Apa selama ini aku gak mendengar suara ini karena Al-Qur'an itu ada padaku?


Tidak mungkin Naira hanya punya satu. Apa Al-Qur'an itu begitu berharga baginya hingga ia tidak membaca dengan Al-Qur'an yang lain?


Nair segera duduk di teras Masjid sambil memakai sepatunya. Ia takut jika berlama-lama berdiri di depan jendela itu, ia akan ketahuan tengah mengintip.


Nair mengambil ponselnya. Ia mengirimkan satu pesan chat pada Naira.


^^^Suara dan bacaan kamu bagus.^^^


^^^Enak di dengar.^^^


Nair meninggalkan masjid dan kembali ke kelas karena jadwalnya hari ini sampai jam 3 sore.


Malam harinya...


Di dalam kamar, Nair mengutak-atik ponselnya. Berulang kali membuka dan menutup aplikasi chat.


"Galau banget?" tanya Nath yang sedang mengerjakan tugas di meja belajarnya. Sebuah laptop yang terbuka lebih menarik dibanding Nair.


"Biasa aja," jawab Nair singkat.


"Masalah cewek?" tanya Nath yakin. Ia dan Nair adalah saudara kembar, ikatan batin mereka sangat kuat. Jadi, berbohong jiga percuma. Pasti akan tetap ketahuan.


"Enggak, Nath! Kerjain aja deh tugas kamu!"


Nath berbalik menatap kembarannya itu. Menatap penuh telisik wajah yang tak beralih dari benda persegi di tangannya.


"Ketebak banget, Nair! Siapa sih?" Nath memaksa agar Nair mengatakan yang sebenarnya.


"Bukan siapa-siapa Nath!"


Nath tertawa. Kena kan?


"Bukan siapa-siapa berarti ada!" Nair membelalakkan mata menatap Nath. Ia menyadari telah salah bicara dan masuk dalam jebakan betmen kembarannya itu.


"Hahahahah... Kalau mau bohongin aku, semedi dulu di goa tengah hutan, terus puasa 3 bulan."


"Sok sakti!" cibir Nair.


"Bukan sakti Nair, feeling ku aja yang gak pernah salah!"


***


Nair selalu mencari cara untuk mendekati Naira. Tapi sifat dan sikap gadis itu yang seperti menutup diri dari lawan jenis membuat Nair kesulitan untuk menemukan caranya.


Sebulan, hubungan mereka stuck. Hanya sebatas teman dan tidak pernah berkomunikaai lagi setelah Nair mengembalikan Al-Qur'an miliknya.


Nair kembali menatap ponselnya. Gini amat ya kalau mau mendekati gadis berakhlak baik dan punya ilmu agama yang baik juga.

__ADS_1


Ada perasaan ragu, karena takut di kira cuma main-main.


Nair baru pulang dari kampus, tapi Azan Asar membuatnya berhenti di sebuah Masjid yang hanya sekitar tujuh kilometer dari gerbang komplek dimana rumahnya berada.


Sebuah masjid yang sering Naira tulis dalam storynya. Dimana sering diadakan pengajian dan tadarus Al-Qur'an meski bukan saat bulan Ramadhan.


Nair masuk ke dalam Masjid setelah mengambil wudhu. Nair masuk ke dalam dan takjub dengan jumlah jama'ah yang datang. Sangat banyak.


Selesai sholat, Nair duduk di teras samping masjid. Ada perasaan tak rela untuk pergi dari sana. Tanpa sengaja ia mendengar suara lembut yang tak asing lagi baginya.


"Belum, Mas," suara merdu itu sampai ke telinga Nair. Nair mencari sumber suara dan melihat Naira sedang berdiri sambil menundukkan pandangan di depan pria yang memakai kurta yang panjangnya hingga ke lutut.


Nair mengerutkan kening. Itukan pria yang menjadi imam sholat tadi. Nair dengan mudah mengingatnya karena wajah pria itu lumayan tampan.


"Jadi, Pakde kamu belum menyampaikan ini, Nai?"


Naira terlihat menggelengkan kepala.


Pria itu tersenyum. "Padahal aku sudah mengirimkan CV lamaran itu sejak dua pekan lalu loh!"


Nair tercengang, CV lamaran apa?


"Aku berharap setelah CV itu kamu lihat, kamu akan bersedia melakukan proses selanjutnya."


"Kita akan ta'aruf dan InsyaAllah langsung akad pada bulan berikutnya."


Nair terbelalak. Akad? Mereka mau menikah?


"Maaf, Mas Alif." Naira semakin menunduk.


"Sepertinya Pakde baru menyampaikan tentang CV itu pada Abi dan belum sampai padaku."


"Biar bagaimanapun aku masih tanggung jawab Abi. Aku masih semseter satu dan perjalananku masih panjang."


"Aku akan menikah jika Abi mengizinkan dan memintaku untuk menikah."


"Aku permisi dulu, Mas. Assalamualaikum." Pamit Naira dan ia langsung berbalik dan masuk kedalam masjid.


"Waalaikumsalam." jawab pria bernama Alif itu.


Nair merasa ia tengah melihat saingannya sendiri ada di depan matanya. Nair mulai melihat dirinya dan pria itu bergantian.


Kami jauh berbeda. Dia yang ku yakin ilmu agamanya sudah mumpuni saja masih membuat Naira ragu. Lalu bagaimana denganku?


Nair melihat pria itu kembali masuk ke masjid. Pria itu mengambil Al-Qur'an dan duduk dengan tenang untuk membacanya.


Nair perlahan meninggalkan masjid tapi ia tanpa sengaja melihat Naira sedang mengajari beberapa anak kecil mengaji.


Nair merasa kerdil. Ia kecil hati. Apakah mimpiku untuk bersama Naira terlalu tinggi?


Mengirim pesan kepadanya saja nyaliku ciut. Apa lagi datang dan meminangnya?


Pria seperti Alif saja tidak bisa membuat Abinya dan Naira langsung menerimanya. Bagaimana lagi jika pria itu adalah aku?


Mungkin CV lamaran itu langsung di buang ke tong sampah.


Naira, dia masih ingin kuliah dan masih semester satu, sama sepertiku. Jika Naira ingin menikah saat lulus nanti, itu artinya kesempatanku sampai 3 tahun lagi.


Aku harus berubah. Tekadnya dalam hati.


***


Semoga cerita ini masih kalian nantikan. 😊

__ADS_1


__ADS_2