EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 35 Dipingit


__ADS_3

"Mama..." gumam Nath saat ia bisa melihat dengan jelas wanita bergamis Syar'i tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Mata membulat seperti hendak memangsanya.


Tiara langsung duduk menunduk disebelah Nath. Tiara tak bergerak sedikitpun membuat Nath hampir terbahak karena sepertinya Tiara sangat takut pada mamanya.


"Seminggu Nath! Seminggu lagi." Lintang enggan untuk mendekat. Ia tetap berdiri di tempatnya. "Bisa sabar sedikit, gak?"


"Pingit aja, sayang," ucap Akhtar yang baru datang. Saat ini pria itu tengah berdiri disamping istrinya.


Akhtar menatap Nath yang terlihat biasa saja. Sementara Tiara tetap terus menunduk.


"Bener, Mas. Minta dipingit nih berdua."


"Ikut mama!" perintah Lintang.


Nath dan Tiara saling tatap lalu Nath menatap mamanya. Keduanya tidak faham siapa yang Lintang maksud. Apakah dirinya atau Tiara.


"Dua-duanya, Nath, Ra!" Lintang berjalan mendahului mereka. Akhtar mengekor dibelakang istrinya.


Nath dan Tiara turun dari ranjang. "Bang, sorry," ucap Tiara penuh sesal.


Nath tertawa tanpa suara. "Udah, ayo!" Nath mendorong bahu Tiara dan meminta gadis itu jalan lebih dulu.


"Iss! Kok aku yang di depan sih." Tiara berusaha menyingkirkan tangan Nath dari bahunya dan mencoba untuk berjalan di belakang Nath.


"Bang, imam itu di depan loh. Kepala keluarga harusnya di depan, dong!" Protes Tiara. Keduanya sudah keluar dari kamar dengan posisi yang tak berubah. Tetap Tiara yang di depan.


"Kan kamu yang peluk aku, Ti," ucap Nath tanpa tedeng aling-aling. Ia sengaja menguatkan volume suaranya sampai Lintang dan Akhtar yang duduk di ruang keluarga bisa mendengar dengan jelas.


Tiara berhenti dan berbalik, membuat dada Nath membentur wajahnya. "Auuuu!" keluhnya.


Tiara semakin kesal pada Nath karena pria itu malah tertawa. "Untung pendek, kalau tinggi kita sama, kebayang gak apa yang nabrak," bisik Nath jahil.


Inilah Nath yang sebenarnya. Usil, jahil, suka memancing emosi, dan yang paling menyebalkan adalah ia terbahak saat melakukannya.


Nath berjalan mendahului Tiara dan segera duduk di depan mama dan papanya. Tiara segera menyusul dan duduk disampingnya.


"Udah berantemnya?" tanya Akhtar.


Nath mengangguk sementara Tiara menatapnya sebal.


"Tadi pelukan kaya Teletubies, sekarang berantem kayak Tom sama Jerry," cibir Akhtar pada putra dan calon menantunya.

__ADS_1


"Biar seimbang, Pa," kilah Nath.


"Sudah! Sekarang giliran mama yang bicara." Lintang membuat wajah ketiganya berubah serius.


Tiara berdebar, ini pertama kalinya ia melihat Lintang marah. Meski tidak terlihat berlebihan, tapi auranya tetap berbeda dari biasanya. Tiara menyesal memeluk Nath disaat yang tidak tepat hingga timbul kesalah fahaman seperti ini.


"Akad nikah seminggu lagi." Lintang menghela nafas berat. "Dan kejadian barusan bisa saja berujung pada kesalahan yang lalu."


Nath melirik Tiara yang menunduk. Hatinya tergelitik karena mamanya salah menduga. Adegan yang baru saja terjadi bukan karena Nath atau Tiara menginginkan hal 'itu'. Tapi murni hanya bentuk luapan kebahagiaan Tiara.


"Kalian dipingit. Gak boleh ketemu sampai hari H. Demi kebaikan bersama."


"Mama gak tau siapa yang mulai dan siapa yang ingin, tapi lebih baik dicegah dari pada terulang!"


"Satu hal lagi. Nath, Ra, lihat mama!" perintah Lintang. Seketika Nath dan Tiara menatap Lintang.


"Tiara belum boleh hamil sampai 3 bulan pasca keguguran. Jadi, mama harap kalian bisa hati-hati setelah menikah nanti."


Hamil? Hati-hati kenapa? Maksud mama apa? Batin Nath heran.


"Biar aman, saran mama kamu minum pil KB, Ra. Atau Nath pakai pengaman."


Apa harus melakukan hubungan suami istri seperti itu? Apa bang Nath selama ini juga memikirkan hal itu? Batin Tiara.


Apa mungkin kami melakukannya lagi? Apa Tiara gak trauma? Kenapa selama ini aku tidak memikirkan hal seperti itu? Batin Nath.


Akhtar mengulum senyum melihat anak dan calon menantunya yang kebingungan. Keduanya saling pandang dengan ekspresi wajah yang menurut Akhtar sangat lucu.


"Faham Nath? Tiara?" tanya Lintang saat keduanya tak mengatakan apapun.


"Nath? Ra?"


"Eh, iya ma."


"Paham, ma."


Akhtar sampai menutup mulutnya dengan jemari tangan yang mengepal. Mantan duda high class itu tengah menahan tawanya.


Dia pernah muda, tapi tidak semenggemaskan anak dan calon menatunya itu. Kenapa keduanya seperti bocah SD yang disidang dan dipaksa menikah? Batinnya geli sendiri.


****

__ADS_1


Mulai hari ini, Nath dan Tiara tidak akan bertemu sampai minggu depan. Padahal kebaya pernikahan belum diambil di butik Rara. Tapi Lintang mengatakan kebayanya akan dikirim oleh karyawan butik.


Sepulang dari kampus, Nath mampir ke R cafe dimana tiga orang lainnya sudah menunggu. Nath langsung masuk ke ruang kerja Rion.


"Kucel banget tuh muka, Bang?" ejek Ethan saat Nath baru saja masuk ke ruangan ini. Bagaimana tidak kucel, saat tugas kampus menumpuk dan pernikahan semakin dekat.


Ditambah lagi ucapan Lintang yang terus berputar diotaknya. Masalah pil KB, pengaman dan baru boleh hamil tiga bulan pasca keguguran.


Sepanjang malam Nath mulai memikirkan nasip rumah tangganya. Biar bagaimanapun dia pria normal yang punya kebutuhan biologis.


Mungkin dia bisa menahan hasrat di minggu-minggu awal. Tapi seterusnya? Apa mungkin ia bisa menahan diri sementara ada lawan jenis dikamarnya dengan status halal disentuh pula.


Yang membuat Nath semakin kacau adalah bagaimana jika Tiara trauma. Bagaimana jika Tiara enggan disentuh. Apa seumur hidupnya akan terus menahan diri?


Mungkin ini yang ayah Tiara khawatirkan hingga terlintas fikiran rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama.


Nath menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Pesen makan minum Nath!" perintah Rion.


"Udah. Nanti diantar pelayan," jawab Nath.


"Dipingit sehari udah begini, Nath?" tanya Nair membuat Ethan dan Rion saling tatap lalu terbahak.


"Buahahahahahhahah." Nath menatap keduanya bergantian. Dia heran melihat keduanya yang terbahak hanya karena pertanyaan singkat Nair.


"Aduh! Udah Yon! Sakit perut nih."


"Hahaha, sama Than." Keduanya punya pemikiran yang sama.


"Balu cehali babang Nath udah tanen?" ejek Ethan pada Nath menggunakan bahasa anak keci. Ethan juga memasang wajah jenakanya di depan wajah Nath membuat Rion semakin terbahak, sementara Nair hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Nath meletakkan telapak tangannya di wajah Ethan. "Makan tuh kangen." Nath mendorong wajah Ethan sampai siempunya terjungkal kebelakang.


Rion lagi-lagi terbahak. Ia sampai menyeka sudut matanya.


"Calon pengantin gak boleh marah-marah, entar auranya hitam." Rion lagak menasehati.


"Ck! Aura apa? Aura kasih?"


Ethan tertawa. "Mari semua dansa denganku, dekap aku dan hanyutkanku." Ethan malah menyanyikan lagu Mari bercinta sambil meliuk-liukkan tubuhnya.


Nath melemparnya dengan bantal sofa, Rion melemparknya dengan tutup pulpen dan Nair mengucap istighfar berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2