
Jam 20.00 rumah keluarga Alvarendra.
Malam ini, Ethan dan Rion ada disini. Ethan sudah mendengar permasalahan yang Nath hadapi. Ia datang untuk menanyakan kejelasannya. Ia baru saja tiba. Mereka duduk di ruang keluarga bersama Nath dan Nair.
Sedangkan Lintang, Akhtar dan Bintang sedang berada di meja makan. Setelah makan malam, keduanya memilih tetap di sana. Duduk sambil bercerita.
Dua orang tamu yang mengucap salam menyita perhatian mereka semua.
"Mana dia cucuku yang joss?" Setelah mengucap salam, Kakek Rendra-papanya Akhtar masuk kedalam rumah langsung mencari cucunya.
"Papa cari siapa?" tanya Akhtar saat menyambut kedatangan mama dan papanya.
"Nath, perjaka joss." Kakek Rendra terusΒ berjalan masuk dan dia bisa menemukan Nath tengah menonton tv.
"Hallo my bro!" Nath menyambut kedatangan kakeknya dengan melambaikan tangan ke atas.
"Ini dia, perjaka joss. Sekali adon langsing jadi." Kakek Rendra duduk di sebelah Nath, dan cucunya itu nyengir menunjukkan gigi putihnya, lalu langsung mencium punggung tangannya.
Nath juga melakukan hal yang sama pada nenek Riana. "Nenek sehat?" tanyanya.
"Hampir kena serangan jantung, gara-gara kamu." Kakek Rendra menarik telinga Nath.
"Aduuh, Kek. Sakit," keluhnya sambil memegang telinganya yang belum dilepaskan oleh sang kakek.
"Sakit?"
"Sakit, Kek. Pa, Ma, tolongin Nath dong!" pintanya pada kedua orang tuanya. Semua orang malah menertawakannya.
Kakek Rendra melepaskan Nath. "Dulu, papa kamu, 5 tahun menduda. Sampai kakek gak sabar nunggu dia nikah lagi."
"Dan sekarang, sampai di cucu malah kecepetan. Caraka aja belum nikah, Nath!"
Nath menunduk tak sanggup menatap kakeknya yang sedang berkecak pinggang. Caraka usianya setahun lebih muda dari Bintang, sekitar 24 tahun.
"Maklumi dong, Kek. Kalau carger udah ketemu colokannya emang begitu. Kudu nge-cas aja bawaannya," cerocos Ethan yang sedari tadi duduk diam bersama Nair dan Rion.
"Tapi lihat sikon dong!" sambar kakek Rendra. Ia kecewa pada cucunya yang melakukan kesalahan di usia yang baru 20 tahun.
"Kamu mau nikah, Nath?"
Nath mengangguk. "Bagus!"
"Kuliah?"
"Tetap lanjut, Kek."
"Bagus."
"Nath Kek, bukan bagus," protes Nath dan langsung mendapat tatapan tajam dari Akhtar.
"Masih bisa bercanda, Nath?"
"Minta maaf kakek, minta maaf nek." Nath mencium tangan kakek dan neneknya lalu tak lupa ia juga mencium pipi neneknya.
"Jadi, pernikahannya kapan, Tar?" tanya nenek Riana. Saat ini Lintang dan Bintang ikut bergabung.
"Rencananya selepas habis masa nifas Tiara, Ma. Bulan depan."
__ADS_1
Nath mendelik. Ia tak tahu menahu soal tanggal dan waktu pernikahannya.
"Kenapa melotot, Nath?" tanya sang kakek.
"Eh ...."
"Terlalu cepat?" tanya Akhtar. Nath mengangguk.
"Jadi kalau ada bayi dalam kandungannya, kamu juga masih mau menunda pernikahan?"
Nath menggeleng. "Apa gak terlalu cepat kalau bulan depan, Pa? Apa gak nunggu baby Zi sehat dan kak Bi melahirkan?"
"Kenapa mesti nunggu aku lahiran, Nath? Entar keburu Tiara hamil lagi," ejek Bintang kesal. Kenapa harus dirinya menjadi alasan Nath menunda pernikahan.
"Issh." Nath menunjukkan wajah kesalnya.
"Kak Bi benar, Nath. Soalnya sekali kamu khilaf dia langsung hamil. Dan kalau kamu khilaf lagi, bahaya Nath, dia bisa hamil lagi." Ethan tanpa dosa ikut bicara.
Rion, Nath dan Nair menatap tajam kearah Ethan. Membuat Ethan sedikit keheranan. "Kenapa natap aku begitu."
"Karena semua ini gara-gara kamu, Than!" geram Nath.
"Loh. Kok aku?" Ethan memasang wajah tanpa dosanya.
"Karena kejadian itu terjadi gara-gara Tiara mabuk, meminum minuman yang kamu kasih!" teriak Nath.
"Apa!!!" Ethan berdiri dari duduknya. Semua orang menatap Ethan dan Nath bergantian, kecuali Rion dan Nair yang memang sudah tau soal hal itu.
"Stop! Ini maksudnya gimana, Nath? Kakak gak faham." Bintang meminta penjelasan mewakili para orang tua disana.
"Jadi, sore itu, Ethan mengantar Tiara pulang, kak."
"Astagfirullah," ucap mereka kompak.
"Malamnya, Tiara minum minuman kaleng itu. Dia gak baca dan dia gak tau kalau itu mengandung alkohol kak."
"Dia mabuk, dan ... ya beginilah akhirnya."
Ethan kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan kepala berdenyut. Ia ternyata punya andil besar dalam permasalahan Nath.
"Jadi ini salahku?" tanyanya penuh sesal.
Semua diam.
"Gak sepenuhnya salah kamu sih, kalau menurutku." Rion membuat semua orang menatapnya.
"Kenapa gitu, Yon?" tanya papa Akhtar.
"Ya karena Nath kan gak mabuk, Pa. Dia sadar loh melakukannya."
Nath menunduk.
"Benar begitu, Nath?" tanya Akhtar.
Nath mengangguk. "Nath yang gak bisa nahan diri, Pa."
"Apa yang membuatmu tidak bisa menahan diri?" tanya Rion sambil tersenyum.
__ADS_1
Rion tau, Nath bukan tipe pria mata keranjang. Jika karena tubuh Tiara yang terlalu menggiurkan dimatanya. Sudah pasti pacarnya akan berganti tiap minggu, karena antrian gadis pemujanya sepanjang rel kereta api.
Gadis yang menunggu untuk direspon olehnya juga lebih cantik dan s*xy jika dibandingkan oleh Tiara. Dari mana dia tau? Tentu dari Nair.
Nath mulai berfikir. Apa yang mebuatku tak bisa menahan diri? Tubuhnya? Iya. Leher putihnya juga iya. Dan yang paling membuatku hilang akal adalah...
"Dia berulang kali menyebut nama Reyga saat bersamaku. Membuatku geram," jawab Nath tanpa sadar. Jawaban itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Membuat semua orang menatapnya tajam. Nath yang tersadar di tatap delapan pasang mata langsung terkesiap. Ia segera bangun dan hendak pergi.
"Mau kemana Nath?" tanya kakek Rendra.
"Masuk dulu, Kek. Nath capek," jawabnya masih bingung dengan dirinya sendiri.
Kenapa aku marah saat Tiara selalu menyebut nama Reyga? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Ada apa denganku? Sejak kapan aku peduli pada perasaannya terhadap pria lain?
"Baru menyadari perasaanmu, Nath?" teriak Rion. Nath yang berada di tangga berbalik dan menatap Rion?
Perasaan apa?
"Itu namanya cemburu, Nath. Tapi kamu terlalu memegang prinsip anti bucin, hingga kamu tidak menyadari perasaanmu," ucap Rion. Semua orang menatap Nath yang tampak sedang berfikir keras.
Nath meneruskan langkahnya dan masuk ke kamar.
"Kamu yakin, Rion? Dia punya perasaan pada Tiara?" tanya Akhtar.
"Gak terlalu, Pa. Tapi sepertinya begitu."
"Nath bukan tipe pria yang suka main-main dengan wanita, Pa," sambar Nair. "Di kampus, banyak yang mendekatinya, tapi di tolak."
Akhtar, Lintang, kakek dan nenek menatap Nair tak percaya. "Kamu yakin, Nair?"
Nair mengangguk. "Dia dekat cuma dengan Tiara. Ya walaupun lebih didominasi sama berantemnya sih."
Semua diam. "Mungkin karena cuma Tiara yang dekat bukan untuk mengejarnya."
"Jadi dia merasa, Tiara bukan seperti gadis lain yang membuatnya illfeel."
"Bisa jadi, sih, Bi."
"Nath itu kan benci basa basi. Dan cuma sama Tiara dia jadi dirinya sendiri. Pendebat, jahil, suka mancing emosi."
"Iya, bener Yon. Nath banget itu," sambar Bintang membenarkan, karena sejak kecil, ia selalu menjadi korban keusilan Nath dan Rion.
"Kalau memang begitu, mama sedikit lega karena kehidupan rumah tangga mereka nanti tidak akan sesulit yang mama bayangkan," ucap Lintang.
"Mudah-mudahan, Ma," balas Bintang.
Sementara itu, di lantai dua di sebuah kamar tidur, Nath sedang duduk di depan jendela besar. Matanya menatap keluar tapi fikirannya melayang entah kemana.
Perasaan apa yang dimaksud Rion? Cemburu? Apa seperti itu rasanya cemburu?
****
Entah Nath, othor juga gak tau kamu cemburu atau enggak. Berantem mulu sih kerjanya π
Menurut kalian, itu rasa cemburu atau bukan?
__ADS_1
Harap tinggalkan jejak ya kak πππ