
Bintang dan Zoya serta keluarganya sudah berkumpul di rumah Akhtar. Mereka semua memakai gamis berwarna putih dan hijab berwarna senada.
Nair menuruni anak tangga. Ia terlihat berbeda dengan tuxedo yang ia pakai.
"Nair, dasi kupu-kupunya dipake dong!" Kelakar Rion.
"Makin mirip banget sama pelayan resto."
Rion tergelak. "Emang itu tujuan si Nath! Kita disana entar disuruh ngelayani tamu, dorong troly bawa minuman sekalian kutipin gelas kotor."
Ezra tertawa. "Kelakuan emang! Nath selalu bikin orang repot!"
Akhtar ikut tertawa. "Pakai batik kan lebih nyaman. Begini kayak mau nikahan." Akhtar menatap tubuhnya yang berbalut jas berwarna hitam.
"Kamu mau nikah lagi, Mas!" Lintang menatap tajam suaminya.
"Nair dulu, kali Pa." Nair ikut duduk di sofa.
Lintang semakin menatap tajam suaminya. Akhtar hanya bisa menggaruk keningnya. "Mana berani, sayang!"
"Malu sama cucu."
Anak dan menantunya tertawa melihat Akhtar yang seperti SSTI (Suami-suami takut Istri).
"Bagus deh kalau nyadar!" omel Lintang. "Berani kamu nikah lagi, ku masukin lagi Nath sama Nair ke dalam perut."
"Ya Allah, Ma. Nair batal nikah dong?"
Mereka semua tergelak.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Ezra.
Semua setuju, mereka langsung bergerak menuju mobil dan melesat pergi meninggalkan rumah.
Beberapa hari lalu, Nath membuat heboh mereka semua. Mengirim pesan ke setiap orang.
*Pengumuman!
Dengan segenap hati, saya El Nath Alvarendra, pria tampan luar biasa mengundang kalian ke acara wedding anniversarry kami . Pada xx/xx/xxxx di VIP room Arumi Resto di jalan Xx.
Diharapkan d**atang dengan memakai dresscode putih untuk yang perempuan. Dan jas/tuxedo hitam untuk yang pria. Jangan batik! Oke.
Nb: Rahasiakan dari istri tercintaku "Tiara*."
****
Mereka tiba di Arumi Resto. Memasuki ruangan luas yang sudah di dekor sedemikian rupa itu mereka disajikan pemandangan serba putih.
"Berasa kayak bidadari di khayangan ya, Zoy." Bisik Bintang. Wanita hamil yang kesulitan berjalan karena usia kandungan sudah 9 bulan itu terus melangkah karena takjub dengan dekorasi indah ini.
"Ethan!" Panggil Bintang yang sedang duduk di meja mereka pada Ethan yang juga sedang duduk dengan Marisa dan orang tuanya tak jauh dari mejanya.
"Sini." Bintang memintanya datang.
"Apa kak?" tanyanya saat sudah sangat dekat dengan posisi meja mereka.
"Fotoin?" Bintang memberikan ponselnya pada Ethan.
"Apa?" Ethan seperti orang bodoh saat mendengar perintah istri sahabatnya itu. Ia sudah rapi dengan jas hitamnya, malah di suruh fotoin. Pakai ponsel pula.
"Kak, Fotografer banyak kak! Panggil satu, minta fotoin, dijamin keren hasilnya." Ethan bersiap kembali ke kursinya.
"Ethan, plisss!"
"Huuh!" Ethan menghembuskan nafas lewat mulutnya. Ia berbalik dan mengambil ponsel Bintang. Mana tega menolak bumil kesayangan semua orang itu.
"Terima kasih om ganteng!" Bintang tersenyum senang.
__ADS_1
"Sama-sama cantik."
"Gombalin yang lain." Rion menunju lengan Ethan.
"Pelit." Ethan menjulurkan lidahnya mengejek Rion.
****
Di sebuah mobil...
"Kita diundang di acara apa, Bang?" tanya Tiara yang penasaran dengan sebuah acara yang dikatakan suaminya.
Ia tengah memakai gamis polos dan hijab segi empat berwarna putih. Sementara suaminya juga memakai tuxedo hitam.
"Acara rekan bisnis, Ti. Di restonya kak Zoy, kok."
"Iya, tapi kenapa serba putih begini?"
Nath mengangkat bahu. "Perintah dari perusahaan, Ti. Aku mah nurut aja."
Tiara menatap sebal suaminya. Hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang ke 4. Bukannya merayakan dengan makan malam romantis seperti tahun-tahun lalu, ini malah menghadiri pesta rekan bisnisnya.
Mereka tiba sekitar jam 7 malam. Nath masuk ke dalam ruangan luas itu sambil menggandeng tangan istrinya.
Semua tim sudah bersiap. Nath mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Tiara melihat sekitar dan semua memang memakai dress serta gamis putih dan yang pria menggunakan jas hitam.
Klik.
Lampu mati. Semua orang kaget dan membuat ruangan ini seketika ramai seperti suara lebah.
Dan pegangan tangan Nath perlahan terlepas. "Bang!" Tiara meraba sekitar untuk mencari suaminya. "Abang kemana?"
Nath berjalan lurus ke depan, beberapa langkah, tempat yang sudah di setting sedemikian rupa.
Klik.
Tiara menatap suaminya yang berdiri dengan memegang mikrofon dan sebuah bucket bunga mawar putih.
Ia tersenyum menatap Tiara yang terlihat bingung.
"Happy wedding anniversarry yang ke empat, sayang."
Sebaris kalimat yang berhasil meloloskan air mata Tiara. Ia tersadar, ini pesta kejutan untuknya.
"Terima kasih untuk empat tahun terindahnya."
"Terima kasih untuk rasa percaya dan genggaman tangan yang tidak pernah terlepas itu."
"Terima kasih masih berdiri bersamaku hingga titik ini."
Nath berjalan maju memberika bucket bunga pada istrinya. Ia menggandeng tangan Tiara dan membawanya semakin maju ke depan. Lampu sorot terus bergerak mengikuti langkah kaki mereka.
Sampai di satu titik, semua lampu menyala. Tiara menatap ke depan dan terlihat ayah, ibu dan Naura duduk satu meja dengan mama dan papa mertuanya serta Nair.
Keluarga Bintang dan Zoya. Kakek, nenek, uti, kakung, ayah Satya, tante Sora dan semua keluarga ada disini.
"Mommy Titi... " Teriak Queen sambil mengacungkan finger heart yang ia buat dengan ibu jari dan telunjuknya. "Love you."
Tiara membalas Queen, "Love you too baby."
"Selamat malam semuanya." Nath mulai bicara.
Tiara melihat suaminya dan diberi balasan senyuman.
"Terima kasih, sudah berkenan hadir di acara sederhana ini."
__ADS_1
"Di tanggal yang sama, empat tahun lalu, aku dan istriku." Nath menatap Tiara sekilas.
"Kami mengucap janji suci di hadapan Allah."
"Sebuah kalimat kabul yang menjadikan hubungan kami halal di mata Allah dan sah dimata hukum."
"Dia, wanita terhebat setelah mama." Nath menatap Lintang, entah mengapa matanya berkaca.
"Mama selalu punya ruang khusus di hati Nath, Ma."
"Terima kasih untuk perjuangan mama yang tak pernah terukur."
Nath kembali menatap Tiara. "Dia adalah istriku. Wanita yang bisa menerima semua kekuranganku."
"Dia wanita yang dengan sabar belajar mencintaiku."
"Dia wanita yang dengan sabar menghadapi semua tingkahku."
"Dia wanita terbaik yang Allah kirim untuk menggenggam jemariku, mengisi ruang kosong dalam hati dan menjadi alasanku untuk terus melakukan yang terbaik dalam hidupku."
"Dia, bersedia menemaniku meski benar-benar dari titik nol."
"Sampai sejauh ini bersamanya itu seperti mimpi."
"Mengingat bagaimana kisah kami."
"Dua insan masih kekanakan yang berusaha mendewasa meski belum saatnya."
"Jatuh bangun, cekcok dan berdebat, adalah makanan kami sehari-hari." Nath terkekeh kecil dan semua tamu ikut tertawa.
"Bang! Kaos kaki kamu, letakin yang bener!" Nath meniru cara bicara istrinya. Ia tertawa dan Tiara ikut tertawa. "Kadang kaos kaki, kadang tas kuliah dan kadang handuk basah. Ada saja sumber perdebatan kami."
"Tapi aku sadar, ini bumbu pernikahan."
"Ayah, ibu." Nath menatap mertuanya. "Terima kasih telah menghadirkan wanita sehebat ini ke dunia."
"Terima kasih sampai saat ini menerimaku sebagai menantu kalian."
"Dan, Tiara."
"Ada satu hal yang tidak ada dalam pernikahan kita." Tiara menatap penuh tanya pada suaminya.
Semua sudah ada, Bang! Pernikahan kita sempurna. Apakah yang kamu maksud adalah anak? Batin Tiara.
Tiara masih melamun, dan ia terkejut saat dua orang dengan dress putih memasang sesuatu di pinggang Tiara. Ia melihat kebelakang. Sebuah Ekor gaun yang panjangnya lebih dari 3 meter menjuntai ke belakang.
Sebuah selendang panjang dan mahkota dengan mudah di pasang di kepala Tiara. Ia terpukau dengan apa yang ia lihat.
"Yang belum ada dalam pernikahan kita adalah resepsi."
Seketika tirai dibelakang mereka terbuka. Tiara menutup mulutnya tak percaya, air matanya menetes dipipi. Ia memeluk Nath. "Terima kasih."
Sebuah pelaminan dengan dekorasi senada dengan ruangan ini memukau semua tamu yang datang.
Nath melepas pelukannya dan berlutut di depan Tiara.
"Kita tidak memulai dengan cara seperti ini, Ti."
"Tapi insyaallah, kita akan bahagia hingga ke surga."
"Aku mencintaimu."
"Selamanya, jadilah istriku."
"Jadilah raja dan ratu sehari denganku." Nath mencium punggung tangan Tiara. Ia berdiri dan membawa pengantinnya ke pelamainan.
***
__ADS_1
Emak up nya kacau. 😊
Maaf ya 😥