
Nath bersiul memasuki pintu depan rumahnya. Ia berjalan melenggang dengan santai sambil melempar-lemparkan kotak cincin ke udara lalu menangkapnya lagi.
"Senangnya dalam hati, yang bentar lagi mau kaw*in. Oh seperti dunia, dia yang punya."
Langkah kaki Nath terhenti saat seonggok manusia tampan tengah tiduran di sofa depan tv tengah bernyanyi menyindirnya.
Nath mendekat dan menjatuhkan diri di sebelah pria yang merupakan mantan sahabat yang dengan kurang ajarnya berani meminang kakaknya.
"Calon ayah, baringan aja. Dianggurin bini, ya?" ejek Nath.
"Wih... wih... wih... cincin kawin, mas bro!" Bukan menanggapi, Rion malah mengambil posisi duduk dan hendak merebut kotak cincin yang Nath pegang.
Nath menghindar dan menjauhkan kotak cincin itu dari jangkauan ipar rasa rivalnya. "Eeiith... no pegang-pegang, Yon."
"Lihat, Nath! Pelit banget." Nath mengangkat tangannya tinggi-tinggi karena Rion terus mengincar kota cincin itu.
Tapi sia-sia karena Bintang datang dan langsung meraih kotak perhiasan berukuran kecil itu.
"Lihat dong!" Bi duduk di sofa dan perlahan membuka kotak cincin itu. "Waah mahal nih," serunya takjub saat melihat cincin simple pilihan Nath dan Tiara.
Rion yang penasaran langsung berpindah ke sebelah istrinya. "Kok gak ada berliannya, Nath?"
Nath bersandar di sofa dan menatap sepasanf suami istri itu. "Tiara gak mau. Itu juga pilihannya."
"Kamu gak ikut milih, Nath?" tanya Bintang.
"Aku terserah dia aja kak. Aku gak terlalu mengerti soal beginian. Yang penting ukuran pas sama modelnya gak aneh-aneh.
"Nath. Udah beres?" tanya Akhtar yang baru keluar dari ruang kerjanya bersama Lintang. Mereka langsung duduk di Sofa.
"Udah, Pa."
"Mumpung ada Bi disini, ada yang mau papa bahas." Bintang dan Nath menatap Akhtar.
"Kost-kostan di daerah X. Ada sekitar 20 unit, Nath." Nath menunggu Akhtar melanjutkan kalimatnya.
"Mulai sekarang, hasil sewa akan papa berikan untuk kamu selama batas waktu yang belum ditentukan."
Nath menatap Akhtar dan Lintang bergatian, ia terkejut saat papanya mengatakan hal itu.
"Kamu akan menikah dan harus membiayai Tiara, membiayai kebutuhan kalian berdua. Karena setelah ini papa tidak akan memberikanmu uang jajan lagi."
"Biaya kuliah masih papa yang tanggung sampai kamu lulus."
__ADS_1
Nath masih bingung. Ia hanya takut, Akhtar dianggap pilih kasih. "Yang lain dapat apa, Pa? Nath gak mau dianggap anak emas..."
"Kami gak masalah, Nath. Suami kakak udah tajir ini." Rion memeluk perut Bintang. "Zoya udah mapan dari lahir. Hahah." Bi tertawa. "Nair, dia pahamlah tujuan papa. Dia juga udah setuju, gak ada yang keberatan soal keputusan papa dan mama."
"Rencananya Nath mau kuliah sambil-"
"Gak bisa Nath. Kamu harus fokus kuliah. Kamu itu kuliah di Universitas Negeri. Jadi gak bisa sambil main-main Nath."
"Tapi, Pa."
"Nurut Nath! Mama dan papa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu."
Nath tersenyum lebar. Ia memeluk orang tuanya dengan air mata tak terbendung. Terserah jika ia diejek cengeng oleh Bintang dan Rion. Ia hanya ingin menumpahkan rasa bahagia dan haru yang ia rasakan.
"Terima kasih, Pa. Papa udah berkorban banyak untuk Nath. Terima kasih kalian memafkan kesalahanku. Maaf belum bisa membuat kalian bangga. Maaf belum bisa membahagiakan Mama dan Papa." Nath mengurai pelukan setelah beberapa menit.
"Nath janji, Pa, Ma. Akan berubah menjadi Nath yang lebih baik. Nath akan berusaha untuk tidak mengecewakan mama dan papa lagi."
****
Seminggu menjelang pernikahan ....
"Cuma ini, Kak?" tanya Nath pada Zoya yang tengah menggendong baby Zi seperti kangguru. Mereka sedang di rumah Zoya, mengambil barang-barang Tiara yang sudah dibawa dari rumah lama ke rumah baru.
Pakaian Tiara masih utuh di dalam koper. Karena setelah tragedi yang berujung pada rencana pernikahan mereka, Tiara tidak ikut pindah kerumah baru dan barang-barangnya tidak di keluarkan dari koper.
Nath menutup pintu mobil setelah memasukkan koper Tiara. Tiara bukannya membantu, ia malah terus mengintip baby Zi yang tidak tidur dalam gendongan Zoya.
"Kedip lagi, dong sayang," pinta Tiara pada baby Zi. Ia tetawa tiap kali baby Zi mengedipkan matanya dan sesekali membuka mulutnya dan mengerak-gerakkan lidahnya.
"Hahaha... lucu banget cih kamuuuu." Tiara heboh sendiri membuat Zoya ikut tertawa. Nath hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah Tiara.
"Dah baby gantengnya tante... Cepat gede ya, biar bisa tante gendong." Tiara melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil.
Mereka segera menuju rumah Akhtar. "Kenapa buru-buru banget pindahinnya, Bang?"
"Kamu kayak gak tau mama aja. Mama tuh terus-terusan ngomong kalau gak segera di laksanakan."
Ya, saat aqikahan baby Zi, Zoya mengatakan pada Lintang bahwa pakaiaan Tiara ada disini dan belum di pindahkan ke lemari. Zoya juga mengatakan agar tidak dua kali kerja saat akan memindahkan di rumah mamanya nanti.
Sejak itu, Lintang sibuk mempersiapkan kamar untuk Nath dan Tiara karena selama ini Nath dan Nair tidur bersama. Nath memilih satu kamar di lantai bawah. Karena di lantai dua ada kamar Bintang, Zoya dan Nair.
Mereka tidak ingin membongkar dan menjadikan salah satu kamar untuk Nath dan Tiara. Alasannya adalah Bi dan Zoya sesekali pasti akan menginap disana.
__ADS_1
Lintang membeli furniture baru untuk mengisi kamar itu. Tidak terlalu luas, yang penting ada kamar mandi didalamnya.
Nath membuka pintu kamar bernuansa putih itu. Ranjang dan lemari semua berwarna putih. Dindingnya juga putih. Ruangan itu terlihat bersih dan rapi.
Nath menggeret koper dan Tiara ikut masuk. Ia melihat sekeliling. Kamar yang luasnya dua kali lipat dibanding kamarnya yang di rumah.
"Baju kamu susun disana, Ti." tunjuk Nath pada lemari empat pintu yang tingginya lebih dari dua meter itu.
Tiara membuka pintu lemari besar itu. "Baju abang udah disini?" tanya Tiara saat melihat setengah dari lemari sudah terisi baju-baju Nath.
"Iya, kemarin mama yang pindahin." Jawab Nath duduk di ranjang dan mulai mengeluarkan laptopnya dari tas. Ia memang menjemput Tiara selepas pulang dari kampus.
Tiara memasukan bajunya satu persatu. Masih terlipat rapi karena bibi yang bekerja di rumah Zoya menyusunnya dengan baik. "Siapa yang pilih warna, Bang?"
"Aku, tapi mama yang pilih perabot," jawabnya tanpa menoleh. Karena saat ini ia harus menyelesaikan desain sebuah cafe.
Tiara meletakkan pouch make up dan beberapa produk kecantikan di meja rias. "Selesai."
Tiara duduk bersila diatas ranjang, di dekat Nath. "Bang."
"Hem..." Nath menatap Tiara sekilas.
"Kata ayah, Tia harus tetap kuliah." Nath langsung menatap Tiara lekat-lekat. Ia menunggu Tiara melanjutkan ucapannya.
"Karena ayah takut pernikahan ini gak lama." Nath menautkan alisnya. "Siapapun pasti mikir gitu, Bang. Kita kan nikah karena...." Tiara tidak melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kalau suatu saat itu terjadi, Tia seenggaknya punya bekal pendidikan untuk bisa melanjutkan hidup dan mencari pekerjaan."
"Tapi ayah nyuruh Tiara minta izin sama Abang." Tiara menatap Nath. "Karena setelah menikah Tia tanggung jawab Abang, bukan tanggung jawab ayah lagi."
"Tapi soal biaya, ayah yang akan usahain, Bang."
Nath memikirkan setiap ucapan Tiara. Gadis itu ada benarnya. Jika suatu saat hal tidak diinginkan itu terjadi, setidaknya Tiara tidak kesulitan mencari pekerjaan. Karena dia punya pendidikan tinggi.
"Aku gak keberatan, Ti. Asal kamu sanggup menjalaninya."
"Aku gak mau, gara-gara masalah ini kamu jadi gak bisa meraih mimpi-mimpi kamu."
"Aku gak akan melarang kamu. Dan aku gak bisa menjanjikan apapun. Tapi aku berharap pernikahan ini sekali seumur hidupku."
Tiara tersenyum senang. Akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan ayahnya yang berjuang keras agar ia mengenyam pendidikan dibangku kuliah.
"Terima kasih, Bang." Tanpa sadar Tiara memeluk Nath. Membuat Nath terkejut atas perlakuannya.
__ADS_1
"Terima kasih." Nath memeluk punggung Tiara. "Sama-sama, Ti."
"Astagfirullah, Nath!" teriakan seorang wanita terdengar dari arah pintu yang terbuka. Membuat Nath dan Tiara saling menjauhkan tubuh mereka.