
Rumah keluarga Alvarendra.
Bintang masuk ke rumah orang tuanya. Ia baru saja pulang dari kampus bersama suaminya, Rion.
"Assalamualaikum, Ma," teriaknya dari ruang tamu.
"Ma... mama dimana?" Bintang membuka pintu kamar orang tuanya dan tak menemukan mereka disana.
"Mama di belakang, Bi," sahut suara lembut itu dari arah belakang.
Bintang berjalan cepat menuju pintu belakang. "Bi, hati-hati sayang." Rion khawatir melihat istrinya berjalan cepat dengan kondisi perut yang besar itu.
Mereka menemukan mama Lintang duduk di kursi dan papa Akhtar sedang berenang di kolam renang.
"Ck! Anak hilang masih sempat renang, Pa?" tanya Rion duduk di kursi di dekat mama mertuanya. Dan Bintang duduk di sebelah mama Lintang.
"Dia gak hilang, Yon! Dia liburan," balas papa Akhtar yang bersandar di sisi kolam.
"Jadi benar kata Ethan, Ma?" tanya Bi antusias.
Pagi tadi, Ethan datang ke rumah ini karena mama Lintang terus-terusan menghubungi semua orang sebab Nath tidak pulang ke rumah.
Dan Ethan berhasil melacak keberadaan Nath melalu nomor ponselnya. Ponsel Nath terlacak di sebuah hotel di kota Jogja.
"Iya, Bi. Sekitar jam 9 tadi, dia menghubungi mama. Dia gak bohong, dia bilang sedang di Jogja."
"Mama lega," lanjut mama Lintang.
"Tapi kenapa dia tiba-tiba kesana ya, Ma?" Bintang penasaran dengan tingkah adiknya itu.
"Dia butuh liburan, Yang," sambar Rion. "Sebulan lalu, pas sibuk-sibuknya aktivitas kampus, dia tuh kelihatan banget stresnya."
"Jadi, sekarang mungkin dia mau nge-refresh otaknya sebelum kembali masuk kuliah," lanjut Rion.
"Nah, papa setuju sama Rion," sambar papa Akhtar.
"Yang kreatif dong, Pa."
"Malas mikir, Yon."
Rion mengambil ponsel di saku celananya. "Eh bus*t! Seger banget!" teriak Rion menatap layar ponselnya.
"Apa sih Yang?" Bi kaget mendengar teriakan Rion.
"Nih lihat!" Rion menunjukkan layar ponselnya. Tampak story WA yang Nath unggah, foto es dawet yang membuat Bi tiba-tiba menginginkannya.
Bi berdiri dari duduknya. "Ayo, Rion! Kita cari minuman kayak gitu."
Rion ternganga tak percaya. Bi langsung meninggalkannya.
__ADS_1
"Rion!" panggil Akhtar. "Kejar! Awas kalau cucu papa ileran gara-gara kamu!" Ancaman papa Akhtar sukses membuat Rion langsung mengejar istrinya.
****
Hotel Xx, Yogyakarta.
"Ra, habiskan dong esnya. Aku udah capek keliling Malioboro nyari es ini loh!" perintah Nath saat Tiara hanya menghabiskan setengah gelas saja.
Saat Tiara mengatakan ingin minum es dawet, Nath langsung turun dan mencarinya di sekitaran Malioboro. Bukan hal sulit untuk menemukan penjual minuman khas itu disini.
Lagi pula, pagi menjelang siang tadi ia sudah berkeliling. Ia memutuskan untuk membeli beberapa pasang pakaian, mengingat ia tak membawa pakaian ganti.
Jadi, sedikit banyaknya ia sudah memahami daerah di sekitar hotel.
"Aku lapar," keluh Tiara memegangi perutnya.
Astaga! Kenapa dia harus semenyebalkan ini sih? Tadi, kutawari makan, dia minta minum. Dan sekarang dia bilang lapar. Batin Nath kesal.
"Kenapa lihatin aku begitu?" tanya Tiara sambil melotot ke arah Nath membuat pria itu langsung terkesiap.
"Mau makan apa?" tanya Nath pasrah.
"Dari hotel aja. Terserah apa." Tiara berjalan kearah kamar mandi.
"Mau kemana?"
"Pipis. Kenapa? Mau ikut?" Pertanyaan Tiara membuat Nath tercengang. "Mimpi!" sungut Tiara. Dan Nath langsung menyadari itu hanyalah keisengan Tiara saja.
"Mau kemana? Kenapa bawa tas?" cecar Nath pada Tiara.
"Mau ke lobby. Mau cari kamar."
Nath langsung berdiri dari sofa dan menarik Tiara untuk duduk. "Disini aja. Buat apa cari kamar lagi?"
"Ya, buat tidur lah," jawabnya cepat.
"Iya, maksudku, kamu disini aja. Gak usah bayar kamar lagi."
"Kita gak ada hubungan apa-apa, Bang. Kalau keluarga kita tahu, bisa gawat!" Tiara marah pada Nath.
Nath menyentuh kening gadis itu dengan punggung tangannya. "Gak demam dan gak mabuk juga," gumam Nath pelan dan itu berhasil membuat Tiara mencebikkan bibir.
"Tiara, dengar!" perintahnya dengan nada lembut.
"Pertama, bagaimana mungkin tidak ada hubungan apapun antara kita, sementara di rahimmu ada anakku."
Tiara terbelalak. Nath mengulum senyumnya.
"Soal keluarga, kalau mereka tahu dan menikahkan kita. It's okey gak masalah, Ra. Toh, kita memang harus menikah."
__ADS_1
Kata-kata Nath membuat Tiara tersadar akan satu hal. Apapun yang akan dia lakukan, dunianya saat ini akan terus berputar-putar di sekitaran Nath karena mereka belum menyelesaikan masalah keduanya.
"Jadi, aku tetap disini?" tanya Tiara.
Nath tersenyum dan mengangguk. "Kamu tidur di sana," tunjuk Nath pada ranjang besar itu.
"Dan aku tidur si sofa."
"Tapi..." Tiara tampak ragu. Ia menatap ranjang dan sofa bergantian. Jaraknya hanya beberapa meter.
"Kenapa?" tanya Nath.
"Itu..." Tiara menunduk, ia ragu mengatakannya pada Nath.
"Apa? Takut kejadian malam itu terulang lagi?" tanya Nath.
Dan tiara mengangguk pelan.
Nath menghembuskan nafas kasar. "Gak akan terjadi lagi, asal kamu gak mabuk," gumam Nath.
Tiara langsung menatap manik mata Nath. Kilatan amarah jelas terlihat berkobar di mata indah itu. "Jadi kamu nyalahin aku?"
Nath langsung kelabakan. "Ya, ya enggak gitu, Ra."
"Kamu mabuk dan buka... buka baju kamu," ucap Nath terbata-bata. Ia menggaruk pelipisnya
"Tapi kan kamu gak mabuk, bang!" teriak Tiara.
Ini pertama kalinya mereka membahas malam sial itu setelah sekian lama.
"Iya, Tiara, iya." Aduh, Nath bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Tiara.
"Iya apa?" sentak Tiara lagi.
"Aku laki-laki, Ra. Tubuh kamu memancing sesuatu da-," ucapan Nath terhenti seketika karena saat ini Tiara menyerangnya dengan memukul tubuh Nath dengan dua tangan kecilnya.
Nath menyilangkan tangan di wajahnya karena Tiara terus memukulnya. "Ampun, Ra. Ampun! Aduh! Ra, udah dong!"
"Sukurin! Rasain! Dasar mata keranjang! Buaya darat! Kucing garong! Otak mes*m. Gara-gara kamu, aku gak peraw*n lagi. Gara-gara kamu, aku hamil."
"Gara-gara kamu, aku dalam situasi sesulit ini. Gara-gara kamu, aku harus bohong sama ayah, ibu. Gara-gara kamu, harapanku untuk kuliah sudah pupus." Tiara mulai terisak. "Hiks... hiks... hiks... kamu jahat, Bang! Apa salahku sama kamu?"
Tiara mengeluarkan semua kegelisahannya, semua perasaannya yang selama ini ia pendam sendiri. Nath yang menyadari hal itu langsung semakin merasa bersalah.
Pukulannya mulai melemah. Nath memanfaatkan kesempatan itu untuk menangkap kedua pergelangan tangannya. Seketika tubuh Tiara terjerembab dan jatuh di tubuh Nath.
Nath langsung memeluknya. "Maaf, maaf, maaf," bisik Nath penuh sesal. "Maaf, Ra."
Tiara semakin terisak dalam pelukan Nath. "Aku takut."
__ADS_1
"Ssstt! Ada aku, Ra. Kamu gak sendirian. Aku yang akan menyelesaikan semua ini. Aku akan katakan pada mama dan papa. Dan aku juga yang akan mengatakan pada ayah dan ibumu."
Aku harus menanggung semua resiko akibat perbuatanku. Aku sudah merusak masa depannya. Aku sudah menghancurkan cita-citanya. Dan aku tak boleh membiarkan dia dan calon anakku menderita. Tekad Nath dalam hatinya.