
Nath menatap orang tuanya yang membuang muka. Hatinya semakin hancur saat orang tuanya tak lagi sudi menatap wajahnya.
Rasa bersalah semakin menguasai dirinya. Hampir 20 tahun, orang tuanya tak pernah besikap seperti ini. Penyesalan jelas datang diakhir membuat Nath mengutuk dirinya sendiri.
Aku telah menjadi anak durhaka. Ya Allah, bantu aku untuk keluar dari masalah ini. Bantu aku untuk lepas dari akibat dosa besar yang ku perbuat. Batin Nath menangis.
Nath berjalan dengan lututnya dan menangis di kaki orang tua Tiara yang duduk saling bersebelahan.
"Saya minta maaf, Pak, Bu." Nath terisak. "Saya minta maaf." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Orang tua Tiara tak menjawab, keduanya hanya saling rangkul demi untuk menguatkan satu sama lain.
"Ini semua salah saya. Tolong jangan benci Tiara. Jangan marah padanya, jangan jauhi dia. Saya mohon, Pak, Bu." Nath terus bersujud di kaki orang tua Tiara.
Lintang dan Akhtar tak sanggup melihat putra mereka berada pada posisi serendah itu. Akhtar ingin membawa Lintang pulang, tapi ia urungkan karena mereka perlu bicara pada orang tua Tiara.
"Bangun, Nak," perintah bu Nurul. "Bangunlah. Kita bicarakan ini nanti. Yang penting sekarang adalah kondisi putri Ibu."
Nath mencium tangan kedua orang tua Tiara. "Saya minta maaf, Pak, Bu. Saya akan tanggung jawab apapun yang terjadi."
Orang tua Tiara bukan tidak marah pada Nath. Mereka marah, bahkan sangat marah, tapi rasa sayang pada Tiara jauh lebih besar. Tiara tidak mungkin sengaja melakukan perbuatan di luar batas.
Tiara, putri cantik yang mereka didik dalam kesederhanaan dan mereka sayangi dengan sepenuh hati, tidak mungkin melanggar dan sengaja membuat mereka kecewa.
Saat ini keduanya sadar, Tiara butuh support, jika mereka membuat kekacauan dan membuat Nath kesulitan, hal itu ditakutkan akan berakibat buruk pada Tiara.
Orang tua Tiara tidak tahu ada hubungan apa antara Nath dan putri mereka. Apakah saling mencintai atau tidak? Apakah kehamilan Tiara karena paksaan atau kemauan keduanya?
Untuk itu, ayah Tiara memutuskan untuk menunda masalah ini sampai Tiara bisa di ajak bicara.
"Bangunlah, Nak. Kita tunggu Tiara membaik dulu. Bapak hanya memikirkan dia saat ini."
"Nath, bagaimana keadaan-" ucapan Rion terhenti saat melihat Nath yang babak belur dan tengah berlutut di depan orang tua Tiara.
Semua orang menatap Rion yang datang sendirian. Rion segera ke rumah sakit ini setelah bertemu dengan Rizal di rumah.
Rion heran dengan noda darah di baju Rizal. Dan saat Rizal mengatakan Tiara mengalami kecelakaan, Rion langsung pergi ke rumah sakit ini karena letaknya paling dekat dengan rumah baca.
Dan ia langsung masuk saat bertemu Ezra di luar dan mengatakan semua orang ada di dalam.
"Rion, bawa Nath pulang!" perintah Akhtar pada Rion.
Semua orang menatap Akhtar, termasuk Nath yang tak ingin pulang. Ia ingin bertemu Tiara terlebih dahulu.
Rion masih mematung. Ia masih mencerna situasi yang ia lihat sekarang. Ia belum mengerti apa yang telah terjadi.
"Bawa pulang, Yon! Seret dia!" perintah kedua dari mulut Akhtar.
__ADS_1
Lintang hanya diam, ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa dan menurutnya saat ini keputusan Akhtar yang paling benar. Melihat Nath sama saja melihat kekecewaan. Maka, memang lebih baik Nath pulang lebih dulu.
"Nath gak mau pulang, Pa," gumam Nath tertunduk di lantai.
"Pulang sekarang!" perintah Akhtar tegas.
"Dan Rion, pastikan dia tidak keluar lagi dari rumah," ucap Akhtar penuh penekanan.
Akhtar membawa Lintang duduk. Nath langsung beralih pada orang tuanya. Ia berlutut di hadapan mama dan papanya.
"Pa, please. Nath masih mau disini, Pa."
"Pulang, Nath. Mama mohon, pulang sekarang," ucap mama Lintang dengan suara bergetar.
"Maafkan Nath, Ma," isaknya.
Rion masih kebingungan, karena ia tak mengerti sama sekali duduk masalahnya.
"Pulanglah El Nath!" perintah Lintang dengan suara lirih.
Nath langsung menatap wajah mamanya. Saat Lintang menyebut nama El Nath, itu berarti ia tengah marah.
Nath bangkit dan perlahan ia berjalan meski dengan keadaan lemah.
"Saya titip Tiara, Pak, Bu. Sampaikan salam maaf dari saya. Dan katakan saya tidak akan lari dari tanggung jawab meski harus melewati jurang sekalipun," ucap Nath lirih pada kedua orang tua Tiara.
Nath berjalan lebih dulu, dan Rion mengekor dibelakangnya.
"Yon, titip Nath."
"Iya, Ma."
Nath dan Rion masuk ke mobil. Sebelum melaju, Rion mengirim pesan pada istrinya.
Bi (My Wife)
Sayang, kamu minta antar supir ke rumah mama, papa ya. Kita menginap di sana malam ini. Aku gak bisa jemput. Oke sayang.
Rion yakin, Nath perlu bercerita. Dan orang yang ia rasa tepat adalah istrinya, Bintang. Karena Kak Zoya juga sedang dalam masa pemulihan pasca melahirkan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Nath hanya diam dan memejamkan mata. Rion juga tidak berniat mengganggunya.
Mereka terhanyut dalam fikiran masing-masing. Rion dengan kebingungannya, dan Nath dengan kegelisahannya.
Tadi Nath mengatakan tidak akan lari dari tanggung jawab. Apa jangan-jangan Nath menabrak Tiara? Batin Rion.
Separah apa keadaan Tiara sampai Nath sekacau ini? Sampai papa dan mama marah besar?
__ADS_1
Rion tak sabar, ia ingin tau sekarang. "Are you okey, Nath?"
Ck! Pertanyaan tak bermutu. Jelas-jelas dia gak baik-baik aja, Yon. Otak Rion berontak.
Nath tak menjawab. Dia kembali meneteskan air mata.
Lampu merah dan mobil berhenti. Rion membaca pesan balasan dari istrinya.
Bi (My Wife)
Ada masalah apa, Sayang. Sampai kita harus menginap?
But it's okey. Dengan senang hati.
"I have lost them." Kata pertama yang keluar dari bibir Nath.
Kehilangan mereka? Mereka siapa? Batin Rion.
"Mereka? Siapa Nath?" Tanya Rion penasaran.
"Janin kembarku dalam rahim Tiara." Nath menatap lurus kedepan dengan air mata yang mulai turun di pipinya.
Duaar!
Rion terkejut. "Candaan kamu gak lucu, Nath!"
Rion melajukan mobil dan fokus ke jalan raya. "Kalau mau ngeprank kira-kira. Aku memang kepo tapi jangan kasih cerita bohongan. Norak!" Rion marah. Ia tak mungkin percaya.
Cih! Udah mewek masih aja suka iseng. Bagaimana mungkin anaknya ada di rahim Tiara. Sementara mereka kayak air dan api. Dia pikir tuh bibit bisa ditransfer lewat emosi dan pertengkaran apa?
"Aku serius. Janin yang belum ku akui itu udah gak ada, Yon!"
"Aaarrrggghh." Nath memukul dashboard dengan kepalan tangannya.
"Nath! Aduh! Mobilku bukan samsak!" Rion panik saat mobil kesayangannya menjadi sasaran kemarahan Nath.
Rion berusaha memegang tangan Nath. "Kita bicara di rumah ya. Bi pasti bisa bantu kamu."
Mendengar nama Bintang, Nath mulai tenang. Ia tau, ia memang butuh kakaknya yang selalu mendukungnya. Kak Bi pasti mengerti keadaannya, mengerti posisinya.
Dan Rion bisa bernafas lega. Ia segera melajukan mobilnya ke rumah mertuanya. Nath harus segera bertemu Bi.
****
Happy reading dan tinggalkan jejak.
Setelah ini, Apakah Reyfan tetap maju atau mundur ya? Secara, si rahim Tiara udah gak ada lagi anaknya Nath 🤔🤔
__ADS_1