
Beberapa hari berlalu.
Setelah sholat subuh berjamaah, Nath dan Tiara kembali ke kamar. Tiara akan mengambil pakaian kotor mereka dan membawanya ke ruang cuci. Sementara Nath, dia punya rencana.
Rencananya adalah kembali berkeringat setelah sholat subuh. Bergelung dala selimut dan melakukan aktivitas iya-iya.
Nath mengatur nafasnya setelah permainan berakhir. Ia berbaring di sebelah Tiara yang menunjukkan wajah kesalanya.
Hari ini, hari pertama ia kuliah. Dan Nath bisa saja membuatnya terlambat untuk bersiap.
"Tok... Tok... Tok..."
"Nath!" Pintu diketuk dari luar dan suara lembut Lintang memanggil Nath.
"Mama."
"Mama, Bang."
Tiara langsung melompat dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nath segera memakai celan pendek dan kaosnya. "Iya, Ma."
Nath membuka ointu dan Lintang sudah terlihat rapi. "Mau kemana, Ma?"
"Mama mau ke rumah sakit. Kak Bi sepertinya akan melahirkan."
"Kak Bi? Nath ikut!" Pintanya.
"Enggak. Kamu kuliah, antar Tiara ke kampus. Nanti kalau udah melahirkan mama kabari dan kalian bisa segera menyusul."
Nath mengangguk setuju. "Iya ma."
"Nanti usahakan kamu yang jemput Tiara ke kampus. Karena sepertinya supir gak bisa jemput, Nath."
****
Nath dan Tiara bersiap, begitu juga Nair. Ketiganya duduk di meja makan menikmati sarapan yang di masak Bi Imah.
"Nanti ku jemput, Ti."
"Kalau bayinya sudah lahir, kita langsung ke rumah sakit."
Tadi setelah menutup pintu kamar dan Lintang pergi ke rumah sakit. Nath langsung memberi tahu Tiara bahwa kakaknya itu akan melahirkan.
"Iya, Bang."
Sepanjang perjalanan Tiar dan Nath saling diam. Keduanya memilih untuk mengendarai sepeda motor matic milik Bintang.
"Bawa ini aja, Ya. Biar gampang letakin helm kamu juga."
Tiara menurut saja. Setibanya di kampus, Tiara durun dari motor dan memberikan helm nya pada Nath.
"Hati-hati." Tiara meraih tangan Nath dan menciumnya.
"Semangat! Belajar yang bener." Nath mengelus kepala Tiara.
"Jangan ganjen!" Pesan Tiara pada Nath.
__ADS_1
"Gak pernah, tuh."
"Kabari aku kalau udah kelar!" perintah Nath.
Nath meninggalkan Tiara dan menuju kampusnya yang letaknya sangat dekat, hanya butuh waktu 3-5 menit.
****
Tiara menunggu di luar gerbang. Nath sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. "Ojek Neng!" Pria itu tertawa pelan.
Tiara mengulum senyum. "Gratis bang?" Tiara berjalan mendekat dan menerima helm yang Nath berikan.
"Naik sekarang, bayar nanti malam," sahut Nath membuat Tiara mencebikkan bibir.
"Kenapa bibirnya, Neng? Minta di-" ucapannya terpotong saat Tiara sudah mencubit perutnya.
Bukannya kesakitan, Nath malah tertawa membuat Tiara semakin kesal. "Udah dong. Ketawanya. Di lihatin orang tau!"
Nath melajukan sepeda motornya. "Mereka iri sama kamu tuh, karena diboncengin cowok ganteng."
Tiara tertawa. "Narsisnya gak ilang juga ya, Bang."
"Harus dong!"
"Kita kasih apa ke babynya kak Bintang, Bang?"
"Dia udah tajir, Ti. Gak butuh lah hadiah dari kita."
"Ck!" Tiara berdecak. "Hadiah itu bukan dilihat dari harga Bang, tapi dari niat baiknya."
"Lihat-lihat dulu, mbak," ucap Tiara melihat beberapa pakaian dan perlengkapan bayi yang terpajang.
Nath tersenyum melihat Tiara yang berbinar menatap deretan baju untuk bayi perempuan.
"Kita beli konsep ala-ala princess ya, Bang. Siapa tau kak Bi mau pemotretan newborn untuk babynya."
Nath menurut saja. Tiara membeli sebuah gaun berwarna pink dan mahkota kecil serta aksesoris lainnya.
"Konsep apa, Ti."
"Sleeping beauty. Bayi segitu kan emang masih suka tidur, Bang."
Nath tertawa pelan. "Ada aja ide kamu."
***
Di rumah sakit.
Nath dan Tiara masuk ke dalam ruang perawaran Bintang. Sudah ada beberapa orang di dalam. Mereka semua duduk di sofa.
Nath dan Tiara langsung menemui Bintang dan babynya yang di letakkan di boxnya di samping ranjang Bintang.
"Hai baby...." Sapa Tiara pada bayi mungil itu setelah sebelumnya menyapa Bi dan mengucapkan selamat padanya.
__ADS_1
"Shaqueena Aludra Danadyaksa," sahut Bintang saat Tiara tampak bingung memanggil nama bayinya.
"Hai baby Queen?" Tiara tersenyum menatap bayi itu. "Eh, dia bangun kak." Tiara takjub.
Nath terus menatap bayi yang kini tengah mengerakkan tangannya ke udara dan meregangkan tubuhnya. "Ngerti capek juga nih bayi, Kak."
Bintang tersenyum. "Lucu banget kan?"
"Banget, kak."
Bertepatan dengan masuknya pasangan lain, Zoya, Ezra dan Baby Zi. Kedatangan kak Zoya sama sekali tidak Nath hiraukan. Ia memilih fokus pada bayi cantik berpipi gembul yang berada dalam box.
Ah, seandainya saja... Huuuft! Nath membuang fikiran itu jauh-jauh.
Jika kejadian itu tidak pernah terjadi, saat ini mungkin perut Tiara sudah membesar karena kehamilan yang sudah hampir 3 bulan.
"Kak, mirip abang banget!" Ucap Tiara yang berdiri di sebelah Nath. Ia membenarkan topi baby Queen yang tampak miring karena bayi itu beberapa kali menggeliat.
Nath bahagia melihat hal sederhana itu. Tiara tampak telaten dan memiliki jiwa keibuan. Semoga kelak kamu bisa merasakan hal seperti ini, Ti. Doa Nath tulus dalam hatinya.
"Ho'oh Ra. Rion banget mukanya." Sahut Bintang sambil tertawa.
"Gak sia-sia usahaku, kan?" Sahut Rion yang sedang duduk di sofa bersama keluarga yang lain.
"Jangan dekat-dekat Nath! Entar ketularan kamu sablengnya!"
Cih! Dia gak ngaca apa? Dia bahkan lebih sableng dariku. Batin Nath kesal karena ucapan Rion yang mengatainya sableng.
"Dia senang ada aku, Yon. Jarang-jarang loh ditemeni om ganteng," sahut Nath membuat Tiara meliriknya.
"Dia tidur gak tuh?" tanyanya.
"Enggak." Sahut Nath cepat karena bayi cantik itu sedang membuka matanya dengan mulut yang terus bergerak, bahkan sesekali lidahnya menjulur keluar.
Masih kecil aja udah kelihatan kelakuannya mirip si bapak! Hahahah. Batin Nath lagi.
"Bagus deh. Biar dia biasain diri lihat buaya dari sekarang." Dan sindiran Rion di respon baik oleh seisi ruangan ini. Mereka semua tergelak. Bahkan jika vas bunga di atas meja itu bisa tertawa, benda itu akan ikut tertawa.
Bayi kecil itu tersentak dan menangis. "Eehh... sayang!" Ucap Tiara sedikit kaget karena tiba-tiba Queen menangis.
"Owekkk.. owekk....!"
"Sayang-sayang." Nath menepuk tubuhnya yang dibedong kain kecuali tangan dan kepala.
"Nah kan, keluar buayanya! Keponakan nangis dipanggil sayang!" Ejek Rion lagi.
Nath tidak peduli. Ia lebih tertarik melihat Lintang menggendong bayi itu dan meletakkannya di pangkuan Bintang.
"Sana dulu!" Usir Lintang. "Queen mau nen!"
"Ck!" Nath berdecak. Ia masih belum puas menatap bayi itu.
Nath ikut berkumpul di sofa diikuti oleh Tiara. "Kenapa gak lihat? Siapa tau pengen belajar!" bisiiknya pada Tiara.
Nath terkekeh saat mata tajam Tiara membidiknya. Jika yang tajam itu adalah pisau, sudah dipastikan Nath akan berlumur darah. Hah. Lebay ya?
__ADS_1
Tiap malam udah latihan nyusuin bayi besar Buat apa belajar lagi dari kak Bi. Batin Tiara kesal.
Matanya tak henti melirik Nath yang mengulum senyum. Nath pasti faham apa yang ada dalam hati Tiara.