EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 79 Tertular


__ADS_3

"Hoek ... hoek ... hoek...."


Nath menerjapkan matanya. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang tengah memuntahkan isi perutnya. Nath kembali memejamkan mata saat mengira itu hanya perasaannya saja.


"Hoek ... hoek ... hoek."


Mata Nath terbuka sempurna saat mendengar suara itu lagi. Ia mencoba kembali mendengarkan.


"Hoek ... hoek ... hoek..."


"Abaaaang!" suara lemah Tiara terdengar di telinganya.


Nath melihat ke samping dan tidak menemukan istrinya. Nath langsung melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Ia menemukan Tiara sedang berjongkok dengan wajah menghadap wc duduk.


"Ti..." Ucapnya kaget. Nath langsung ikut berjongkok di sebelah Tiara. Ia mengumpulkan rambut istrinya yang hampir menutupi wajah cantik itu.


"Hoek... hoek... hoek..." Tiara kembali merasa mual tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.


"Kamu kenapa, Ti?" Nath terlihat panik. Ia segera berlari mengambil tissu dan memberikannya pada Tiara.


"Kenapa di sini? Kok gak di washtafel aja sayang?" tanya Nath yang heran melihat istrinya malah muntah di wc bukannya di washtafel.


Tiara menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di lengan Nath. "Tia gak sanggup berdiri, Bang! Rasanya muter-muter."


Nath menggendong Tiara dan membawanya kembali ke atas ranjang. Nath mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya ke dada, leher serta hidung Tiara. Ia juga memijat kening dan pelipis Tiara, dengan harapan akan mengurangi rasa pusing yang dirasakan istrinya itu.


"Kamu sini dulu ya, Ti. Aku buatkan teh dulu untuk kamu." Nath segera turun dari ranjang dan keluar dari kamar.


Ranjang yang ikut bergetar karena Nath turun dengan terburu-buru justru menambah rasa pusing yang Tiara rasakan.


Kalau terus tidur di ranjang yang ada aku makin pusing. Batin Tiara


Tiara membawa selimut dan bantal. Ia ingin pindah di sofa saja. Tapi saat melihat karpet berbulu di lantai, ia malah menjatuhkan bantal dan tidur di karpet. Tubuhnya ia lilit dengan selimut karena selain mual dan pusing ia juga merasa kedinginan.


Tiara kembali memejamkan matanya. Jam memang menunjukkan waktu subuh hampir tiba. Tadi, saat terbangun, tiba tiba ia merasa langit-langit kamar seperti berputar dan ia merasa perutnya seperti di aduk-aduk.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka dan Nath membawa secangkir teh dan biskuit. Nath begitu terkejut melihat Tiara meringkuk di lantai.


"Astagfirullah, Sayang!" Nath meletakkan teh dan biskuit yang ia bawa ke meja dan segera menghampiri istrinya.


"Kamu jatuh, Ti?" tanyanya ketakutan. Ia mengira Tiara jatuh dari atas ranjang atau jatuh saat turun dari ranjang.


Tiara menggeleng pelan. Nath hendak mengangkat tubuh Tiara dan istrinya itu menolak. "Jangan, Bang! Biar disini aja."


Nath mengurungkan niatnya. Ia mengambil teh dan biskuit. Ia membantu Tiara duduk. "Bisakan sayang?"


Nath membantu Tiara meminum tehnya. Hanya seteguk dan rasanya perutnya kembali seperti diaduk-aduk.


"Baang!" rengeknya sambil berusaha berdiri. Nath langsung cepat tanggap. Ia segera membawa Tiara ke kamar mandi dengan menggendongnya.

__ADS_1


Tiara kembali muntah, dan saat ini Nath tengah memegangi tubuhnya yang berdiri di depan washtafel.


"Kamu kenapa sih sayang?" Nath membantu memijat tengkuk istrinya yang sudah tampak pucat itu.


"Kamu sakit atau gimana?"


"Aku bingung banget." Nath terlihat khawatir dan kebingungan karena tidak tahu harus melakukan apa.


"Kamu salah makan nih kayaknya." Tiara tidak menanggapi suaminya. Ia merasa tidak makan apapun yang memicu sakitnya ini. Ia hanya makan nasi, sayur dan hidangan seperti biasanya.


"Jangan-jangan kamu tertular penyakitku, Ti." Kalimat yang Nath ucapkan membuat Tiara langsung menatapnya.


"Sekarang aku baik-baik aja, Ti. Dan malah kamu yang mual muntah kayak aku kemarin."


Iya. Kenapa jadi aku yang sakit begini? Batin Tiara bingung.


"Kita ke dokter sekarang," ajak Nath.


Harusnya pagi ini Tiara yang membawa Nath untuk memeriksakan diri ke dokter, tapi keadaan malah berbalik. Malah dia yang harus dibawa ke dokter.


"Nanti aja, Bang. Kalau gak juga membaik, kita ke dokter."


"Ti..."


"Abaaang!"


Oke. Nath kalah. Ia menuruti kemauan istrinya itu.


Jam 7 pagi, Tiara tidak juga membaik. Ia malah memilih duduk di sofa karena di ranjang, ia semakin merasa pusing.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Ti." Ajak Nath kesekian kalinya.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar diketuk. Seorang asisten rumah tangga berusia 35 tahunan masuk dengan membawa bubur untuk Tiara sarapan.


"Makasih, Bik."


"Sama-sama, Pak." Asisten rumah tangga itu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil pakaian kotor di keranjang khusus yang memang di sediakan di dalam.


"Makan dulu, Ti!" perintah Nath dan Tiara malah mengeleng pelan.


"Percuma bang! Nanti keluar lagi."


"Ayolah, Ti. Biar kamu bisa langsung minum obat."


"Bi, tolong ambilin obat masuk angin di dapur, ya..." perintah Nath pada asisten rumah tangganya.


"Untuk siapa, Pak?"


"Ya untuk istriku, Bik," jawab Nath cepat.

__ADS_1


"Jangan dulu, Pak. Takutnya bahaya." Ucap Asisten rumah tangga yang berdiri di dekat Nath.


"Kenapa, Bik? Bahaya apanya?" Nath sedikit marah karena ia ketakutan. Ia tidak tahu apa yang bahaya dari obat masuk angin yang iklannya puluhan kali muncul di tv.


"Karena saya kok mikirnya, apa yang Bu Tiara rasakan ini seperti gejala wanita yang sedang hamil muda, Pak."


Nath dan Tiara menatap asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan mereka lebih dari dua bulan ini.


"Bibik tau dari mana?" tanya Nath heran.


Wanita itu tertawa pelan. "Saya sudah merasakannya dari usia 18 tahun dan sudah 3 kali hamil, Pak."


"Dua kali gejalanya begini."


"Maaf ya, Bu. Saya sudah sebulan lebih gak lihat sampah pembalut saat membuang sampah dari kamar mandi kamar ini."


Tiara dan Nath saling tatap. Kenapa aku gak mikir kesana, ya? Aku terakhir datang bulan sebelum lepas KB Implan. Batin Tiara.


Kenapa aku gak mikir sejauh itu. Sebulan ini aku memang gak pernah libur karena Tiara berhalangan. Ya Allah, mudah-mudahan ini benar. Batin Nath senang.


"Aku terakhir datang bulan pas sebelum lepas KB implan, Bang." Tiara seperti belum percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


"Berarti lebih dari sebulan, Ti."


Tiara memijat keningnya. "Ya Allah, aku kok jadi pelupa begini, ya."


"Jadi gimana, Bang?" tanya Tiara.


"Kita ke dokter!"


"Kalau gak hamil, gimana Bang?" tanyanya lemas. Tiara seketika ingat saat ia melakukan tes dengan tespack di awal pernikahan dulu dan hasilnya negatif.


"Ya gak masalah, Ti. Seenggaknya kamu bisa segera ditangani dokter."


"Saran saya, beli tespack aja dulu, Pak."


"Oke. Bik titip istri saya, ya." Tanpa fikir panjang Nath langsung keluar dari kamar dan membeli tespack. Dulu ia juga pernah membelinya untuk Tiara.


Bedanya hanya satu, yaitu harapan. Dulu Nath berharap semoga hasilnya negatif karena Tiara belum boleh hamil lagi pasca keguguran. Dan sekarang, ia berharap hasilnya positif karena ia memang menginginkan hadirnya bayi dalam pernikahan mereka.


Nath kembali dalam 20 menit. Ia membeli 4 buah tespack dengan merk berbeda.


"Ku bantu, sayang." Nath menuntun Tiara ke kamar mandi.


Asisten rumah tangga mereka sudah kembali melanjutkan pekerjaannya. Wanita yang berusia 35 tahun itu merasa tidak ingin menggangu privasi majikannya.


Tiara menampung urinenya dan segera meletakkan cup kecil itu di atas closet. Ia dan Nath berjongkok dengan dua tespack di tangan mereka masing-masing.


Mereka kompak mencelupkan empat benda pipih itu ke dalam cup berisi urine. Setelah kurang dari sepuluh detik mereka bisa melihat hasil di keempat tespack tersebut.


"Ti..." Nath menatap Tiara yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit di tebak.

__ADS_1


__ADS_2