EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 94 Beban berkurang


__ADS_3

"Kamu benar gak apa-apa kan sayang?" tanya Nath untuk kesekian kalinya saat berada didalam mobil.


Nath bahkan terus mengelus perut Tiara saat berhenti di lampu merah. Kekhawatiran Nath yang berlebihan justru membuat Tiara kesal. Ia berkali-kali mengatakan tidak apa-apa tapi Nath terus saja bertanya.


"Aku takut terulang lagi, Ti." Nath berusaha membagi rasa khawatir dan ketakutannya.


Tiara mengusap lengan atas Nath. Ia tahu suaminya menanti kehamilan ini sejak dulu. "Dede sama mommy baik-baik aja, Daddy."


Nath mengembangkan senyum. "Daddy percaya deh kalau Dede yang bilang." Nath lantas mengelus perut Tiara. Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah.


"Ayo masuk, Daddy!" ajak Tiara tapi sepertinya suaminya salah mengartikan.


"Nanti malam ya sayang, ini masih sore. Biarkan mommy istirahat dulu." Nath mengecup perut yang mulai membuncit itu.


"Issshhh!" Tiara menarik telinga suaminya. "Masih sempat-sempatnya mikir ke sana!" geram Tiara karena Nath memikirkan masuk versi mes*mnya.


"Heheheheh..." Nath malah tertawa. "Iya Mommy Titi tercayaaaang." Nath menggesekkan hidung mereka berdua. "Daddy libur deh seminggu ini, supaya Mommy bisa istirahat." Lalu mengecup singkat bibir merah muda itu.


"Nah, itu baru bener!"


****


Rumah Rion-Bintang.


"Loh, kamu disini, Dek?" tanya Rion yang baru saja pulang dari R Cafe. Ia langsung masuk ke kamar dan mendapati Chiara sedang berada di kamarnya. Gadis 19 tahun itu tengah bermain dengan Prince yang sudah bisa merespon dengan tertawa saat diajak bicara.


"Iya Bang."


"Assalamualaikum dulu, sayang!" protes Bi karena bukannya mengucap salam, Rion langsung berbicara pada Chiara, adiknya.


"Iya... iya... Assalamualaikum Bunda." Rion mengecup kening Bi. Dan Bintang menjawab salam suaminya.


Rion juga melakukan hal yang sama pada Queen yang sedang tiduran di sofa sambil menggambar sesuatu di kertas gambarnya.


Rion segera masuk ke dalam kamar mandi dan tak lama ia keluar dengan pakaian lengkap. Rion terlihat segar. Ia selalu mandi saat pulang bekerja. Karena jika tidak mandi maka Bi akan melarangnya untuk mendekati kedua anak mereka.


"Queen gambar apa sayang?" tanya Rion duduk di dekat putrinya yang berusia 4 tahun itu.


"Gambar ayah, bunda, kakak Queen sama dede Prince!" jawabnya menatap Rion sebentar lalu kembali fokus pada kertas di hadapannya.


"Wah, bagus banget sayang!" puji Rion pada hasil gambar balita itu. Padahal yang ia lihat hanya gambar orang lidi yang sangat kurus. Hanya yang membedakannya adalah ukuran dan rambut di kepala masing-masing gambar.

__ADS_1


Rion selalu melakukan ini. Ia pasti lebih dulu menyapa Queen dibanding Prince agar gadis kecil itu tidak merasa tersingkir karena kehadiran adiknya.


Rion ingin putrinya itu tetap merasa istimewa dan disayangi oleh kedua orang tuanya tanpa dibeda-bedakan.


Rion merasa Queen tetaplah malaikat kecil yang Allah kirim untuk menyempurnakan pernikahannya dan Bintang.


Rion duduk di samping tubuh Prince yang di tidurkan di atas ranjang. Chiara mengalah dan ia memilih duduk di kursi di depan cermin Rias.


"Hai boy!"


"Udah mandi beyum nih jagoan ayah?" tanyanya dengan nada menggemaskan.


Rion mencium pipi putranya membuat bayi yang belum genap dua bulan itu tertawa pelan.


"Ih, dia ketawa, Sayang." Rion menatap Bintang sekilas. "Ganteng banget sih, anak ayah." Rion kembali mencium pipi Prince gemas.


"Oh ya, Chi?" Rion membuat Chiara melihat ke arahnya. "Bang Caraka gimana? Masih maju dia?" tanya Rion.


Chiara mengangkat bahunya. "Semenjak aqiqahan kemarin dia gak pernah hubungin aku lagi."


"Heem!" Rion menyeringai. "Baru dibilang gitu udah nyerah."


Bintang dan Chiara menatap Rion curiga. Mereka menduga Rion bertindak diluar sepengetahuan keduanya.


Diusia ke 28 tahun ini, sebenarnya Caraka sudah bekerja di salah satu rumah sakit sebagai seorang dokter gigi, tapi ternyata sepertinya Caraka masih ingin mengembangkan ilmu dan gelarnya.


"Gak usah lihatin aku begitu! Aku cuma bilang, keburu beruban kalau nunggu Chia."


"Krincing... krincing... krincing...!" Rion menggerakan mainan bersuara khas dengan warna mencolok di depan putranya membuat Prince mengikuti gerak benda itu dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Udah, sayang!" Bi merebut mainan di tangan Rion. "Prince udah main dari tadi, entar dia capek terus malemnya rewel."


Bukannya merespon istri cantiknya yang berusia hampir kepala tiga itu, Rion malah melingkarkan tangannya di tubuh Prince. Ia mendekap putranya tapi tidak terlaru erat.


"Bunda pelit ya sayang?"


"Jangan sedih ya... Nanti kalau udah gede, ayah belikan alat musik yang Prince mau?" bisik Rion di dekat telinga Prince dan sesekali mencium pipinya.


"Prince mau apa sayang? Gitar? Gendang? Atau Drum? Ayah turutin!"


Bi mencubit paha Rion dan berhasil membuat Chiara tertawa. "Ngajarin anak tuh yang bener!"

__ADS_1


"Bilang kek, adek sekolahnya yang pinter ya. Atau kalau gede, masuk universitas di Luar negeri, ya."


"Atau paling mudah, kalau udah gede jadi orang sukses ya Nak."


"Ini malah nawarin yang enggak-enggak."


Rion nyengir kuda menunjukkan gigi putihnya. "Iya bundaaaa...! Prince akan jadi anak pinter dan sukses. Pinter kayak bunda, dan sukses kayak ayah." Rion menggerak-gerakan tangan Putranya.


"Jadi bunda gak sukses?" tanya Bi pura-pura kesal.


Chiara sampai menutup mulutnya menahan tawa.


"Prince, ayah kasih tau ya Nak." Rion tidur tengkurap menghadap kearah Prince. "Jadi lelaki itu serba salah sayang! Gede nanti Prince harus kuat!"


"Karena kadang ada prinsip paling membingungkan yang gak bisa diselesaikan dengan rumus matematika sayang."


"Yaitu prinsip, wanita itu selalu benar!"


***


Di hari berikutnya...


Reyfan datang ke salah satu rumah sakit terbesar di kota. Ia datang dan berkonsultasi pada dokter untuk melakuan tes DNA terhadap anak yang ia duga adalah putranya.


Reyfan menyerahkan beberapa helai rambut El dan rambutnya sendiri di plastik terpisah.


Saat di rumah sakit kemarin, ia sempat menyimpan beberapa helai rambut El di dalam dompet yang menggantung si kunci mobilnya.


Reyfan berharap banyak pada hasil tes ini. Entah mengapa ia berharap El adalah putranya. Ia rela menebus rasa bersalah dan menerima hukuman dari Cloudy atas 4 tahun yang penuh perjuangan bagi wanita hebat itu.


"Apakah tes DNA ini benar-benar akurat, Dok? Terlebih saya hanya akan menggunakan rambut." tanya Reyfan saat ia tengah berkonsultasi pada dokter.


"Tes DNA ini sangat akurat, Pak. Bahkan hasilnya mencapai 99,99 persen. Dan tesnya bisa melalui darah, rambut atau air liur."


Reyfan bernafas lega. "Kapan hasik tes keluar, Dok?"


"Sekitar 1 minggu, Pak."


"Anda bisa datang langsung untuk mengambil hasil tesnya."


Reyfan pulang dari rumah sakit dengan perasaan lega. Ia merasa sepertinya satu persatu beban mulai terangkat. Pertama Tiara dan Nair yang sudah mulai memaafkannya.

__ADS_1


Kedua, seminggu lagi ia akan tahu apakah El benar putranya atau tidak.


__ADS_2