EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 93 Baik-baik saja


__ADS_3

Nath baru saja keluar dari proyek pembangunan rumah impian Cloudy. Sebagai seorang arsitek yang menangani proyek ini, ia lebih sering berada di lapangan dari pada di kantor.


"Balik dulu, pak mandor!" Pamitnya pada pengawas pembangunan proyek ini.


"Oh! Oke. Heheheh... Hati-hati pak Arsitek. Terima kasih untuk hari ini."


Nath mengacungkan jempolnya sambil tertawa kecil. Ia segera masuk ke dalam mobil. Belum sempat menyalakan mesin mobil, ponsel di saku celananya bergetar.


Nath mengambilnya dan melihat nama Cloudy muncul di layar.


"Cloudy?" gumam Nath. Semenjak menjadi kliennya, Cloudy dan Nath beberapa kali saling menghubungi. Bukan untuk kepentingan pribadi, murni untuk urusan pekerjaan.


"Hallo, Clou."


"Nath, ke rumah sakit Xx sekarang!"


"Ada apa, Clou? Kenapa aku harus kesana?" tanya Nath saat Cloudy memberitahunya untuk pergi ke rumah sakit yang tidak terlalu besar di kota.


"Issh... denger dulu, orang masih ngomong juga!" keluh Cloudy.


"Tiara ada disini! Dia butuh kamu, Nath!"


"Tiara? Tiara kenapa Clou? Kok bisa dia sama kamu?" Nath mulai panik saat Cloudy mengatakan Tiara sedang berada di rumah sakit. Otaknya terus memikirkan segala sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi pada istrinya.


"Kamu tenang Nath!" ucap Cloudy sedikit membentak. Ia tahu Nath tengah khawatir, tapi panik justru hanya akan memperburuk suasana.


"Dia baik-baik aja. Kamu kesini sekarang!"


Nath menghembuskan nafas lega. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang Cloudy maksud.


Jemarinya terus mengetuk-ngetuk kemudi saat jalan raya mulai padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor.


Ia terus berdoa dalam hatinya, semoga hal yang pernah terjadi dulu tidak terulang lagi sekarang.


Nath langsung masuk ke dalam dan menemukan Cloudy tengah menggendong putranya yang tampak mengantuk karena terus bersandar di bahunya.


"Clou..." Nath langsung menghampiri Cloudy. Ia sempat melirik Reyfan yang duduk menunduk di kursi lainnya tak jauh dari tempat duduk Cloudy.


"Nath! Tiara ada di dalam." Cloudy menunjuk ruangan dimana Tiara baru saja selesai di tangani dokter.


Nath masuk ke dalam dan melihat Tiara tengah berbaring diatas brankar.


"Ti..."


Tiara kaget karena mendengar suara Nath. "Abang?"


"Abang disini?" tanya Tiara. Ia berusaha untuk duduk tapi Nath menghalangi dan mengisyaratkan padanya untuk tetap berbaring.


"Kamu kenapa, Sayang?" Nath duduk di samping brankar istrinya. Ia menggenggam tangan dan mengusap perut Tiara.


"Tia gak apa-apa, Bang. Kata dokter semua baik-baik aja kok. Babynya kuat, gak ada masalah apapun, Sayang." Tiara membuat Nath merasa tenang.


Hasil pemeriksaan dokter memang tidak menunjukkan ada gangguan apapun pada janin. Rasa kram di awal kehamilan termasuk hal wajar karena perubahan hormon dan ukuran rahim yang membesar.


Dokter masuk ke dalam dan menanyakan keadaan Tiara. Tiara merasa jauh lebih baik karena rasa kram tidak lagi ia rasakan.


"Ibu sudah boleh pulang. Karena tidak ada masalah apapun pada janin."


"Terima kasih dokter."

__ADS_1


"Perbanyak istrirahat, minum air hangat dan hindari aktivitas berat dan usahakan jangan sampai jatuh saat melakukan aktivitas apapun, ya Bu."


"Karena jatuh saat hamil memang sangat beresiko terjadinya keguguran, terlebih saat trisemester pertama seperti ini."


***


"Kalau kamu capek, biar aku yang gendong dia Clou." Pinta Reyfan pada Cloudy yang terus menggendong El yang sepertinya semakin mengantuk.


"Gak perlu, Rey. Aku biasa melakukannya sendiri," ucap Cloudy mengelus kepala El.


Reyfan menghela nafas. Benar! Selama ini Cloudy melakukannya sendiri dan saat ini aku tiba-tiba datang menawarinya bantuan. Lucu sekali aku. Kemana aku selama empat tahun ini yang membiarkan Cloudy menghadapi ini semua sendiri. Dan sekarang aku sadar mengapa sulit sekali ia menerima kehadiranku.


Nath dan Tiara perlahan keluar dari ruangan di depan mereka. Cloudy bernafas lega karena Tiara sepertinya memang tidak perlu di rawat.


Cloudy dan Reyfan berjalan mendekat. Nath sudah tahu mengapa Tiara sampai jatuh tadi. Dan ia memaklumi apa yang Tiara lakukan. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama saat melihat balita dalam bahaya di hadapan kita.


"Nath, sorry!" ucap Cloudy penuh sesal. "Ini diluar kendaliku, Nath." Cloudy merasa tidak enak hati karena telah membuat Tiara dan calon anaknya dalam bahaya akibat kelalaiannya.


"It's okey Clou. Thanks sudah membawa Tiara ke sini dan mengkhawatirkan keadaannya."


"Thanks!" Ucap Nath dingin pada Reyfan yang tengah berdiri dibelakang Cloudy.


Reyfan mengangguk pelan.


"Kak Clou, kak Rey... terima kasih, " ucap Tiara pelan.


"Pulanglah Nath, bawa istrimu. Dia sangat membutuhkan istirahat yang cukup."


Nath dan Tiara berpamitan dan meninggalkan Cloudy dan Reyfan. Tapi Cloudy mengejar saat mereka berjalan beberapa langkah.


*Apa d*ia mau menumpang mobil Nath? Batin Reyfan gelisah. Sedari tadi ia sudah membayangkan akan mengantar keduanya pulang karena Cloudy ikut dengan mobil Reyfan saat ke rumah sakit tadi.


"Kirimkan melalui pesan, kue apa yang kamu beli tadi, Ti. Aku akan mengirimnya ke rumah kamu sebagai ganti kue kamu yang jatuh dan tertinggal di sana tadi."


"Aku maksa!" ucap Cloudy tertawa.


Nath ikut tertawa. "Akan ku kirim Clou, di doble sekalian untukku," Nath menimpali dengan candaan. Keduanya kembali berjalan menuju parkiran.


"Itu sih maunya kamu, Nath!" Cloudy terkekeh. Tidak ada lagi hubungan yang melibatkan perasaan antara Nath dan Cloudy. Ia tahu, El Nathnya jauh lebih luar biasa di banding Nath dewasa yang tengil dan suka bicara blak-blakan.


Cloudy berjalan di belakang mereka, untuk segera pulang. Ia akan menyetop taxi di depan nanti.


Reyfan menyeimbangkan langkahnya dengan Cloudy. "Ku antar Clou!"


Cloudy tersentak. Seketika ia melupakan keberadaan Reyfan. "Gak perlu, Rey. Taxi masih banyak."


"Clou, ayolah. Kasihan putramu." Cloudy berfikir sejenak. Jika ia menunggu di luar belum tentu akan langsung mendapatkan taxi.


Cloudy mengangguk lemah dan berjalan mendahului Reyfan. Sementara di belakang Reyfan menggerakkan tanganya yang mengepal dan mengatakan 'yes' tanpa suara. Ia senang karena Cloudy menerima tawarannya.


Reyfan membuka pintu depan mobil. Cloudy tampak ragu karena itu artinya Reyfan ingin ia duduk di depan, disamping pria yang selalu tersenyum kecil padanya itu.


Cloudy masuk membawa El kecil yang sudah tertidur dalam gendongannya.


Reyfan menutup pintu mobil dan berjalan setengah memutari mobil untuk duduk di balik kursi kemudi.


"Kita langsung ke rumah kamu?" tanya Reyfan karena mungkin saja Cloudy ingin mengambil mobilnya.


"Iya."

__ADS_1


"Mobil kamu?"


"Udah ada orangku yang menangani."


Obrolan yang hanya dijawab sekenanya oleh Cloudy membuat suasana semakin canggung.


Cloudy dan Reyfan saling diam cukup lama. "Aku gak maksa soal El," ucap Reyfan tiba-tiba dan sontak membuat Cloudy menatapnya.


"Selama ini aku tidak pernah memperhatikannya."


"Ah! Salah!"


"Aku bahkan tidak tahu soal kehadirannya."


"Dan aku sadar, saat ini terlalu muluk-muluk untuk aku memeluknya."


"Dia bukan putramu, Rey!" tegas Cloudy.


Reyfan tersenyum miris. "Dia putramu, Clou. Aku tahu itu," ucap Reyfan lemah.


"Ya, dia putraku." Cloudy berucap seolah tengah memasang benteng tinggi agar Reyfan tidak semakin masuk dalam kehidupannya.


"Tapi seorang anak pasti punya ibu dan ayah biologis, Clou."


Cloudy mulai cemas dan hal itu dapat dilihat Reyfan dari ekspresi wajah dan posisi duduk Cloudy yang terlihat tidak nyaman.


"Aku tidak akan mengambilnya darimu, Clou. Meski suatu saat Allah memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa darahku mengalir dalam nadinya."


"Reyfan, cukup!" Geram Cloudy. Ia langsung menatap arah luar jendela. Ia tak sanggup mendengar setiap kalimat Reyfan yang membuatnya bak buah simalakama.


Memberi tahu Reyfan yang sebenarnya, belum bisa ia lakukan karena ia takut Reyfan melakukan kejahatan pada El. Belum lagi Nath dan Tiara yang ia takutkan menjadi ancaman bagi El.


Walaupun ia tahu Nath dan Tiara adalah orang baik, tapi nalurinya sebagai seorang ibu yang selalu ingin melindungi anaknya selalu mendominasi.


Tapi jika tidak memberi tahunya sekarang, sampai kapan ia akan menyembunyikan semuanya. Sampai kapan El tidak akan mengenal ayahnya? El semakin besar dan suatu saat ia pasti akan menanyakan siapa ayahnya.


Cloudy masih dalam situasi yang membingungkan. Ia perlu istirahat dan memikirkan semuanya dengan kepala dingin.


Mobil berhenti di depan rumah Cloudy. Ia tersenyum miring. Ini membuktikan bahwa malam itu memang benar-benar Reyfan yang menguntit di depan rumahnya. karena tanpa ia beri tahu, Reyfan sudah tahu dimana tempat tinggalnnya.


Cloudy bersiap turun dari mobil saat Reyfan sudah membukkan pintu untuknya. "Terima kasih untuk pertolongannya."


"Sama-sama Clou," balas Reyfan dengan senyum kecil.


Cloudy turun dari mobil dan ia kehilangan keseimbangan karena heels yang ia pakai dan juga bobot badan El yang lumayan berat.


"Eh..." ucap Cloudy berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Reyfan menangkap pinggangnya dan membuat keduanya bertemu tatap dalam beberapa detik.


Cloudy terkesiap, ia berdehem dan Reyfan melepaskan pelukannya dipinggang Cloudy. "Lain kali hati-hati, Clou."


Cloudy masuk ke dalam rumah yang pagarnya sudah di buka penjaga rumah. Ia merasakan debaran aneh dan tak terkendali di dadanya.


Aku kenapa?


****


Hai kak...


Aku udah aktifkan tim interaksi nih. Sejenis grup chat gitu.

__ADS_1


Yang mau masuk, monggo! Silahkan! Ada di beranda novel ini akak 😚


ah ya, minta di jejaki dong 😅


__ADS_2