EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap Nair (27)


__ADS_3

Tanpa terasa bulan terus berganti. Tidak ada yang berubah dari pasangan Nair dan Naira. Mereka masih tinggal di kediaman Akhtar, rumah besar dimana Nair dan Nath dilahirkan.


Malam dingin ini, sepasang insan manusia berlebel halal tengah memadu kasih di atas ranjang berbalut bedcover berwarna ocean blue. Lampu temaram menambah suasana menjadi kian romantis.


Kecupan singkat di kening Naira menjadi simbol kata terima kasih yang tak lagi perlu diucapkan dibibir. Sebuah suguhan manis yang selalu Nair rindukan ditengah-tengah kesibukan yang cukup menguras tenaga dan fikiran.


Nair meletakkan kepala istrinya tepat di lengannya. Ia tidur miring demi bisa melihat wajah wanita yang lebih dari 6 bulan menjadi pendampingnya.


"Cantik...!" pujinya seraya mengusap surai hitam yang terurai melewati bahu putih itu.


"Berhenti memujiku, Mas." Naira tersipu malu.


"Terlalu sering kata-kata seperti itu keluar dari bibir kamu," lanjut Naira membelai pipi yang terlihat semakin chubby milik suaminya. Selama menikah, berat badan Nair memang naik hampir 5 kilogram. Mungkin fikirannya tenang karena apa yang ia kejar selama ini sudah ia dapatkan.


"Memuji istri sendiri itu berpahala, loh." Kilahnya sambil tersenyum kecil.


"Tapi kamu gak di kasih bakat ngegombal sama Allah, Mas."


"Kamu itu pria serius yang selalu on point." Naira menusuk hidung Nair membuat siempunya tertawa tanpa suara.


"Setelah ini apa, Nai?" tanya Nair serius. "Internship udah beres. Mau lanjut spesialis, kerja atau urus izin untuk buka praktek mandiri?" Nair menelusuri keindahan tulang selangka istrinya dengan jari telunjuknya.


Naira menatap dalam manik mata suaminya. Apa kebahagian kamu hanya tentang pendidikan dan pekerjaan, Mas?


"Kamu bahagia?" tanya Naira membuat kening Nair berkerut.


Nair mengangguk. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga wanita yang ia cintai itu. "Sangat bahagia."


"Apa harapan dan cita-cita kamu untuk 5 tahun kedepan, Mas?"


Nair memejamkan matanya. Ia menyelami rasa yang muncul dalam hatinya. Sebuah keinginan yang ingin ia raih dalam 5 tahun kedepan. Ia akan menjadi seperti apa? Keluarganya akan jadi seperti apa?


"Lima tahun kedepan, aku ingin hidup mapan dan bahagia bersama kamu, melihat kedua orang tua kita selalu sehat, aku ingin menyelesaikan pendidikan spesialis diwaktu yang tepat..." Nair menjeda sebentar jawabannya.


"Anak?" potong Naira.


Nair seketika membuka matanya. Ia menatap manik hitam milik sang istri. "Anak?" tanyanya.


Naira mengangguk. "Dia gak ada dalam daftar, Mas?"


Nair merengkuh pinggangnya. "Aku hanya ingin dia hadir jika kamu sudah siap."


"Keinginan Abi adalah melihat kamu mendapat gelar dokter spesialis anak sesuai cita-cita kamu."


"Aku takut jika anak yang hadir disaat kamu tidak siap, hanya akan menambah beban kamu, dan membuat Abi sedikit kecewa."


"Aku ingin bekerja dulu, Mas. Dua sampai tiga tahun ke depan. Sekalian aku ingin, kita program." Nair membulatkan matanya.


"Setelah aku selesai ASI ekslusif, aku akan mulai ambil pendidikan spesialis," lanjut Naira.


"Aku ingin mengurus anak kita, dan aku ingin suatu saat nanti, saat aku sibuk dengan pendidikan, setidaknya ada yang bisa Umi dan Abi temui saat ke Jakarta."

__ADS_1


"Cucu yang akan membuat mereka rindu untuk sering berkunjung ke kota ini." Senyum itu merekah. Entahlah, membayangkannya saja begitu terasa indah.


Ia juga membayangkan, Abi menggendong anaknya saat dirinya tengah bekerja. Setidaknya ada yang menghibur kedua orang tuanya.


Nair memeluk erat tubuhnya. "Boleh kan, Mas?" tanyanya sambil menatap wajah sang suami.


Nair mengecu*p keningnya cukup lama. "Terima kasih untuk pengorbanan kamu yang luar biasa."


"Terima kasih untuk rencana kamu yang membuat jutaan bunga mekar bersamaan di dalam hatiku."


"Terima kasih Ibu dari calon anak-anakku."


Naira mencubit pinggangnya. "Aduuuh!" keluhnya.


"Kamu terlalu lurus untuk jadi penggombal, Mas."


"Jangan seperti itu."


"Cukup peluk aku dan bisikkan saja kata Aku mencintaimu." Naira mengeratkan pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu." ucap Nair.


"Sangat..."


"Sangat..."


"Sangat..."


Naira yang memejamkan matanya. Ia bahkan hampir terlelap namun, suara Nair membuatnya kembali membuka mata itu lebar-lebar. "Apa kita bisa program sekarang?"


"Mas... Jangan pakai kode-kodean."


"Yang tadi kan gak diniatkan untuk program, Sayang?"


"Masa suburku udah lewat, Mas."


"Coba diingat lagi, siapa tahu kamu salah hitung sayang."


"Mas..." rengeknya.


"Iya... iyaa..." Nair mengalah. "Tidur yang nyenyak sayang." Naira menggeliat mencari posisi ternyaman dalam dekapan lengan besar itu.


***


"Atur rencana bulan madu, dong Nair." usulan Akhtar saat mereka membahas rencananya untuk setahun kedepan.


Naira masih berada di dalam kamarnya untuk melaksanakan sholat Dhuha yang rutin ia lakukan selama ada waktu.


"Iya Nair. Kalian terlalu sibuk sama pekerjaan. Jangan jadi workaholic seperti Zoya sama Ezra, Nak." Lintang datang dengan membawa dua cangkir kopi ke gazebo dipinggir kolam renang, dimana putra dan suaminya tengah duduk sambil bercerita.


"Rajin boleh, semangat kerja boleh."

__ADS_1


"Tapi, kebahagiaan itu gak hanya diukur dari seberapa banyak uang kamu, bukan dari seberapa banyak gelar di belakang nama kamu."


"Karena dalam hidup, ada waktu yang terlewat dan itu tidak bisa kembali."


"Ada usia yang tak akan mundur menjadi muda lagi."


"Segera kasih mama cucu." Lintang mengusap lengan putranya.


"Semakin lama usia kalian semakin bertambah. Kelak, saat kalian sudah mapan di usia tiga puluhan, bisa saja kesuburan kalian menurun."


"Sulit punya anak. Apa lagi jika kalian ingin punya anak lebih dari satu. Kehamilan diatas tiga puluh lima tahun itu beresiko, Nair."


"Kamu pasti lebih faham akan hal itu."


"Mama setuju kalau kalian memang ingin program tahun ini."


"Bahagialah, Nair. Ajak istrimu bulan madu."


"Iya, Ma. Nair masih atur waktunya."


"Villa kak Zoy, kamu gak minat Nair?" tanya Lintang.


"Jangan!" Larang Akhtar. "Papa gak mau Naira diculik kayak kejadian Tiara dulu, Ma."


Lintang tertawa pelan. "Tiara sama Naira itu beda, Mas."


"Beda pasangan dan beda kisah."


Akhtar menatap Nair penuh ancaman. "Pokoknya jangan kesana, Nair. Papa masih trauma."


"Apa lagi lihat Nath kayak orang gila." Akhtar bergidik ngerih.


"Kalau mau kesana, kita ramai-ramai."


"Pa, bahaya dan musibah itu bisa terjadi kapan aja dan dimana aja."


"Kita sebagai manusia cuma bisa berpasrah, Pa."


"Tuh, dengerin anak kamu, Mas." Sungut Lintang. "Masa kalah bijak sama anak sendiri."


Akhtar berdiri. "Kelak, Nair pasti mengerti apa yang kurasakan, Sayang."


"Saat dia sudah jadi orang tua." Akhtar melangkah pergi meninggalkan anak istrinya.


"Ya... ngambek kan ma?" Nair menahan senyum menatap Lintang dan kepergian Akhtar bergantian.


"Kamu tenang aja. Biar mama yang urus." Lintang menepuk dadanya pelan. "Mama ahlinya." Lintang berdiri dan mengejar suaminya.


"Hahaha... iya deh, iyaaa... Yang udah puluhan tahun jadi pawangnya."


Lintang terkekeh mendengar ucapan putranya.

__ADS_1


***


__ADS_2